
"Ternyata kamu suka bermain dengan yang lain." Egi tersenyum melihat Vera dengan tenang dan santai memasuki mobil Vano.
Setelah pertemuannya dengan Ella di butik mamanya, Egi langsung mencari tahu tentang Ella.
MELLANIE PUTRI SUBAGYO. Anak semata wayang dari Tuan Haris Subagyo dan Nyonya Ane Bagaskara. Seorang model terkenal dengan usia yang masih terbilang muda. Kekasih dari pengusaha muda sukses dan terkenal. Vano Reyandli.
"Ella." gumam Reza melihat Vera masuk ke dalam mobil Vano.
"Seandainya aku bisa berada di atas Tuan Vano. Pasti,,, mustahil." Reza tersenyum sendu.
Taksi yang di tumpangi oleh Reza masih berada di dekat restoran. Dirinya memang sengaja berhenti terlebih dahulu untuk memastikan sesuatu. Saat dirinya melihat Vera masuk ke dalam mobil Vano, dia teringat dengan Ella.
Perempuan yang selama ini dia cari. Perempuan yang sangat mencintai Tuannya. Dan juga perempuan yang berada di dalam hatinya, meski hanya bertemu sekali saja.
"Baru beberapa hari tidak bertemu. Kamu makin menggoda." jari jemari Vera berada di atas paha milik Vano.
Vano mengambil tangan Vera dengan tangan kirinya dan memasukkan jari Vera ke dalam mulutnya. Sementara tangan kanannya masih berada di kemudi mobilnya.
"Bermainlah dengan cantik dan sabar Vera. Kamu pasti akan mendapatkan semuanya. Vano, kekayaan, dan kekuasaan." batin Vera dengan menggigit bibir bagian bawahnya.
"Antar aku ke rumahku." Vera menarik jarinya dari dalam mulut Vano.
"Bukan apartemen. Tapi rumah. Aku akan buat kamu sering bermain ke rumahku." batin Vera.
"Aku hanya tinggal dengan pembantu. Orang tuaku di luar negeri." jelas Vera saat melihat Vano seperti enggan masuk ke dalam rumah Vera.
"Ayo." Vera mengajak Vano masuk ke dalam kamarnya.
"Pasti kamu gerah. Siang-siang begini pasti panaskan." Vera melepas jas yang Vano kenakan. Dan pastinya membuka kancing kemeja milik Vano.
"Badan kamu candu buat aku." Vera meraba dada dan perut Vano.
Tangan Vano menurunkan tali gaun kecil yang berada di kedua pundak Vera. Bibirnya mencium pundak Vera.
Vera melepas sendiri **********. Dia ingin agar Vano leluasa memainkan goa miliknya.
Vera menuntun Vano berjalan mundur dan mendorong tubuh Vano ke atas ranjang. Vera langsung naik ke perut Vano dan menyingkap gaun yang ia kenakan.
Goa miliknya bersentuhan langsung dengan perut Vano. Vera menggerakkan bokongnya ke depan dan belakang. Membuat perut Vano basah karena terkena cairan dari goa milik Vera.
Vano memejamkan mata merasakan geleyar di bagian perutnya. Tangan Vera beralih ke belakang badannya. Membuka ikat pinggang Vano dan menurunkan resleting celana Vano.
Vera mencium seluruh badan Vano. Vano hanya bisa merasakan nikmat dan memejamkan kedua matanya.
Vera membuka gaun yang ia pakai. Menyisakan bra yang masih melekat pada tubuhnya.
Tangan Vera menarik celana dan dalaman Vano. Sambil memainkan lidahnya di sekitar pusaka milik Vano. Vera kembali duduk di atas tubuh Vano dan menempelkan bibirnya di bibir Vano.
Mata Vano terbuka dan menjauhkan bibirnya.
__ADS_1
"Sa,,,yaaannggg." Vera memanggil Vano dengan suaranya yang sudah terbakar gairah.
"Kamu bisa memakai pengaman, semua akan baik-baik saja." Vano tersenyum samar pada Vera.
Vano membalikkan tubuh Vera untuk berada di bawahnya. Tangan kanan Vano meremas gundukan di dada Vera. Dengan mulut sudah penuh oleh buah ceri yang berada di dada Vera.
Tangan kiri Vano menerobos masuk ke dalam goa milik Vera. Mengobrak-abrik semua yang ada di dalamnya. Sehingga membuat pemilik goa menggeliat tak karuan merasakan kenikmatan karena permainan jari Vano.
Vano menggesek-gesekkan pusakanya di perut Vera. Bibir Vano beralih bermain di perut Vera dengan kedua tangan berada di atas gundukan dada Vera.
"Bawah Van... baww-wahhh." Vera berharap lebih dengan permainan lidah Vano. Dia menginginkan lidah Vano bermain di goa miliknya.
Vano menghentikan semua aktifitasnya. Dan segera memasukkan pusakanya ke dalam mulut Vera yang tengah berbaring di bawahnya. Vera yang sudah terbakar gairah, memainkan pusaka Vano dengan lidahnya secara lihai.
Hingga Vano mengeluarkan suara erangan dari dalam mulutnya, dan cairan keluar dari dalam pusakanya. Dia menjatuhkan badannya di samping Vera dengan mata terpejam.
Vera mengambil tisu dan membersihkan cairan milik Vano yang tersembur di dalam mulutnya.
"Brengsek. Lagi-lagi elo mempermainkan gue." batin Vera dengan senyum palsu memandang ke arah Vano yang memejamkan kedua matanya.
"Ternyata tidur." Vera mendengar suara dengkuran halus dari Vano. Diambil ponsel miliknya.
"Serasi." Vera memotret dirinya dan Vano yang berada di atas ranjang dengan beberapa potretan tanpa pakaian dan tanpa selimut di atasnya. Benar-benar tanpa benang sehelai pun.
"Aku harus bersabar, bila menginginkan ikan yang besar." batin Vera memakaikan selimut ke tubuh Vano.
Vera pun juga memasukkan badannya di bawah selimut bersama dengan Vano.
Di tempat berbeda, Ella bersama dengan Hana dan Nyonya Tiwi melakukan gladi bersih bersama dengan model yang lainnya di tempat acara akan di selenggarakan. Setelah selesai, Nyonya Tiwi mengajak Ella dan Hana untuk mampir ke butik miliknya.
"Peragaan busananya akan di tampilkan besok malam. Nak Ella." panggil Nyonya Tiwi.
Sejak tadi Ella seperti tidak konsentrasi saat melakukan pembicaraan dengan Nyonya Tiwi. Pandangan matanya terus mengarah ke layar ponsel miliknya.
"Iya tante. Kami akan melakukan yang terbaik dalam acara tersebut." Hana menyenggol lengan Ella.
Ella yang tersadar segera tersenyum canggung pada Nyonya Tiwi.
"Kelihatannya nak Ella sedang ada masalah."
"Tidak tante, maaf." Ella merasa tidak enak dengan Nyonya Tiwi.
"Elo pasti laper ya." celetuk Hana mencoba mencari alasan. Ella segera memandang Hana dan melotot padanya.
"Astaga, maaf. Tante saking senangnya ngobrol sama kalian sampai lupa. Maaf ya, kita melewatkan jam makan siang."
"Nggak apa-apa kok tante. Hana cuma bercanda." kata Ella.
"Sebentar ya." pamit Nyonya Tiwi keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Elo kenapa?" tanya Hana setelah Nyonya Tiwi meninggalkan ruangan tersebut.
"Apa?" bukannya menjawab, Ella malah balik tanya.
"Elo mikirin apa sih. Vano." tebak Hana.
"Tadi pagi dia telpon gue. Katanya mau nemuin gue. Sekarang kirim pesan aja nggak." Ella memandang kembali ke layar ponselnya.
"Susah memang berhadapan dengan orang yang sudah terlanjur cinta." gumam Han masih di dengar oleh Ella. Ella menatap ke arah Hana dengan bibir cemberut.
"Elo cantik. Elo kaya. Elo punya segalanya. Buat Vano yang mengejar-ngejar elo."
"Caranya." Ella bertanya dengan raut wajah polos.
"Jauhi dia."
"Jauhi dia. Yang ada dia beneran menjauh. Bagaimana dong." ucap Ella ragu dengan rencana Hana.
"Elll,, sudahlah terserah elo saja. Gue pusing lama-lama mikirin hubungan elo dan Vano. Elo lihat. Apa selama ini Vano peduli sama elo. Dia menghubungi kamu jika dia butuh kamu Ell. Dan kamu selalu menuruti semua, semua, semua apa yang di ucapkan Vano."
"Jangan keras-keras." Ella membungkam mulut Hana dengan telapak tangannya.
"Biar. Biar semua dengar dan tahu betapa bodohnya Mellanie Putri Subagyo. Elo bahkan sampai rela membatalkan pemotretan dengan model lelaki. Padahal pemotretannya nggak ada sentuhan fisik sama sekali. Dan itupun menggunakan pakaian tertutup. Dan gara-gara itu, elo harus bayar denda sampai milyaran." Hana bicara dengan menggebu-gebu.
"Selama ini, elo nggak pernah berinteraksi dengan lelaki selain Vano. Sedangkan Vano. Gue yakin di luar sana, dia banyak teman perempuannya. Bahkan mungkin berhubungan lebih. Misal. Santi."
"Apa elo pernah melakukan, atau,,, mengambil job pemotretan dengan lawan jenis. Nggak pernah Ell. Dan itu karena Vano. Dia Ell, dia melarang kamu. Mengekang kamu. Siapa dia Ell, siapa."
"Cukup Hana. Cukup." teriak Ella memandang tajam ke arah Hana.
"Gue bayar elo buat jadi asisten gue. Tidak lebih." Ella menyambar tasnya dan keluar dari ruangan Nyonya Tiwi.
Betapa kagetnya Ella saat dia membuka pintu, seseorang sudah berada di depannya. Ella hanya diam memandang orang tersebut dan berlalu meninggalkannya tanpa menyapa.
"Ell." Hana ikut berlari mengejar Ella.
Hana juga tak kalah kaget saat melihat seseorang berdiri di depan pintu ruangan milik Nyonya Tiwi.
"Maaf." Hana menundukkan kepalanya dan segera mengejar Ella.
*****
Vano,, jijik banget author sama kamu. Iiiuuuu....
Dan juga kamu. Ella. Haduh,,, gedek banget tahu nggak author sama si Ella. Jujur saja nich, author nggak suka sama sekali sama kebucinan Ella. Sebel banget author.
Hana ayoo,,, buat Ella sadar. Author akan selalu dukung kamu. Jangan bosan-bosan.
Kayak kalian semua gaesss....
__ADS_1
Jangan bosan-bosan untuk selalu meninggalkan jejak setelah membaca. 😘😘