
"Sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Ditya dengan ekspresi datar, tak seperti biasanya pada Egi.
Sepulang menghadiri pesta yang diadakan oleh Tuan Mark, Ditya dan Egi memutuskan untuk pergi ke klub malam. Hanya sekedar berbincang.
Sebenarnya Ditya lah tang mengajak Egi. Dirinya merasa penasaran. Dan wajib tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rasa ingin tahu tentang bagaimana Egi mengenal Ella sangat menggelitik hatinya.
Apalagi terlihat jelas, Ella dan Egi berbincang dengan begitu nyaman. Hingga Ditya melihat rasa cemburu di mata Vano. Suami Ella.
"Sudah lama." Egi menyesap wisky yang berada di tangannya.
"Apa kalian bersahabat?"
"Bisa dibilang begitu."
Ditya terdiam. Tangannya menggoyang-goyangkan gelas yang berisi wisky. Tatapan mata Egi beralih memandang Ditya.
"Sejak di pesta kamu terlihat aneh." ucap Egi.
"Apalagi setelah kita bertemu Ella dan Vano." Egi meletakkan gelasnya di atas meja. Merasa Ditya menjadi sosok pendiam di pesta tersebut.
"Jangan bilang, jika perempuan itu,,,, Ella." tatapan tajam Egi arahkan pada Ditya. Teringat saat Ditya bercerita pada dirinya, jika dia sedang menyukai perempuan yang sudah bersuami.
"Tepat." ungkap Ditya jujur dan tersenyum miring. Sontak kedua tangan Egi mengepal sempurna.
"Kamu lihat betapa sempurnanya dia. Seandainya aku bisa berada di dekatnya. Menggantikan suaminya." angan Ditya, tanpa mengetahui jika lelaki di sampingnya, sahabatnya juga pernah mencintai sosok Ella.
Mungkin, bahkan cinta yang di miliki Egi untuk Ella masih ada hingga sekarang. Dan dia mencoba untuk mengubur dalam-dalam. Karena jawaban dari Ella waktu itu.
Sungguh, Egi memilih lebih baik tetap berteman dengan Ella. Dari pada memaksakan cintanya dan kehilangan Ella. Karena Egi masih ingin berbincang, atau sekedar ngobrol saat mereka bertemu.
Dari pada terus mengejar cinta Ella, yang pastinya Egi tahu. Jika jawaban dari Ella tetap sama. TIDAK. Karena cinta yang di miliki Ella, sentuhnya hanya untuk suaminya. Vano.
Egi mengatur emosinya, dirinya tidak ingin sampai Ditya mengetahui jika dia juga mempunyai perasaan pada Ella. "Carilah perempuan lain. Temanku itu sudah bersuami." saran Egi.
Ditya tersenyum mendengar saran sahabatnya. Membuat Egi mengernyitkan alisnya. Sungguh, Egi tidak bisa menebak isi hati dari Ditya.
Egi menepuk pelan pundak Ditya. "Asal kamu tahu, Ella sangat mencintai Vano. Jangan merusak rumah tangga mereka. Bahkan pernikahan mereka belum ada satu bulan." imbuh Egi.
Kali ini bukan senyum yang berada di bibir Ditya, melainkan kekehan. Ditya tertawa dan menengok ke arah Egi. "Tenang. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Ditya menepuk balik pundak Egi.
"Bukannya aku sudah pernah mengatakan. Jika aku sekarang menyukai perempuan yang sudah bersuami." ujar Ditya membuat Vano semakin bingung dengan perkataannya.
"Aku duluan." pamit Ditya meninggalkan Egi sendiri. Loh, dirinya yang mengajak Egi datang ke sini. Malah sekarang Ditya pula yang pergi duluan.
Egi menghembuskan nafas kasar. Menyingsingkan lengan kemejanya. "Aisshhhh." tangannya menonjok kursi empuk yang sekarang di dudukinya.
__ADS_1
Egi tahu betul siapa sahabatnya tersebut. Ditya, lelaki yang semakin dirinya di tolak oleh perempuan. Dia akan semakin gencar untuk mendekatinya. Layaknya singa, dia tidak akan melepaskan mangsa dengan mudah.
Dan yang lebih menjengkelkan, kenapa harus Ella. Egi hanya tidak ingin Ditya akan melakukan hal yang akan membuat Ella sedih atau merasakan sakit.
"Vano." gumam Egi mengingat siapa suami dari perempuan yang di cintanya. Sosok tangguh, angkuh, dan kejam.
"Gue pastikan, elo nggak akan dengan mudah mendapatkan apa yang elo inginkan. Melihat siapa di samping Ella."
"Ell, gue merasa senang melihat elo sekarang. Elo berada di sisi orang yang tepat." Egi tersenyum hambar mengingat bagaimana Vano memperlakukan Ella. Meski di hatinya ada perasaan sakit.
Tapi setidaknya, perempuan yang di cintanya berada di tangan seseorang yang tepat, yang memperlakukan dirinya seperti ratu.
"Semoga elo menjauh Ditya. Elo nggak tahu, seberapa berbahayanya seorang Vano." Egi teringat seorang pengusaha muda, Deon yang tiba-tiba menghilang. Dan perusahaannya bangkrut. Padahal saat itu perusahaan Deon sedang stabil. Sedang baik-baik saja.
Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu keberadaan Deon. Bahkan keluarganya hanya bungkam. Seolah mereka tidak mempunyai anggota keluarga bernama Deon, yang telah menghilang.
Egi yakin jika semua dilakukan oleh Vano. Hanya karena Deon mengejek asistennya, Reza.
"Untuk membela asistennya saja, Vano dapat melakukan hal yang mengerikan. Apalagi jika ada seseorang yang dengan berani menyentuh wanitanya." Egi bergidik membayangkannya.
Egi segera beranjak meninggalkan tempat tersebut. Tapi tubuhnya kembali terhuyung ke belakang saat seorang perempuan tiba-tiba memeluknya. "Tolong, biarkan seperti ini. Sebentar saja Tuan." mohonnya dengan wajah bersembunyi di dada bidang Egi.
Egi melihat ada beberapa lelaki berpakaian rapi memakai jas. Mata mereka seperti sedang mencari sesuatu.
Egi melihat ke arah perempuan yang sedang memeluknya erat. Dari pakaiannya, Egi bisa menilai jika perempuan ini bukan perempuan biasa.
"Tuan....!!! teriaknya memanggil Egi yang sudah menjauh. Tapi Egi terus melangkahkan kakinya.
"Jas anda." gumam perempuan tersebut melihat jas milik Egi masih menyampir di badannya.
*
*
*
Ditya mencengkeram erat kemudinya. Matanya merah dengan tulang rahang mengeras. Teringat bagaimana Vano memperlakukan Ella. Ada rasa tidak rela saat Vano menyentuh Ella.
Segera dirinya menghubungi seseorang dan memberinya perintah. "Cari tahu, siapa Vano Reyandli. Kehidupan pribadinya. Paham." ucapnya dengan seseorang di balik ponsel.
Yang Ditya tahu tentang Vano hanyalah jika Vano adalah pengusaha sukses. Dan tidak ada yang bisa menyentuhnya.
"Gila. Kamu benar-benar membuatku gila Mellanie,,," Ditya merasakan juniornya menegang hanya membayangkan senyum Ella.
Segera Ditya melajukan mobilnya untuk mencari perempuan yang bisa membantunya menenangkan juniornya, membantunya menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
"****....!!!! hanya membayangkan saja sudah membuat juniorku menegang." gumam Ditya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara di tempat lain. Denis sedang menyakinkan Hana. Jika perempuan yang datang ke acara bisnis bersamanya hanyalah seorang teman.
Mereka tidak sengaja bertemu di depan dan berjalan masuk berdua ke dalam gedung.
"Iya, aku percaya." ucap Hana saat Denis dengan sabar menjelaskan jika mereka tidak ada hubungan apapun.
Denis membawa Hana ke dalam pelukannya. "Terimakasih." ucap Denis mencium pucuk kepala Hana berkali-kali.
Mata Hana memerah. Teringat perkataan mama Denis. Dan sekarang, setelah Hana melihat Denis pergi ke sebuah acara bersama seorang perempuan, meski hanya melihatnya dari berita. Sudah mampu membuat Hana merasakan nyeri di dada.
"Kenapa?" tanya Denis saat dirinya ingin melepaskan pelukannya, tapi Hana malah semakin mengeratkannya.
"Baiklah." Denis menepuk pelan bahu Hana, merasa sang kekasih masih ingin berlama-lama berada di dalam pelukannya.
"Andai aku terlahir seperti kamu Ell, semua pasti akan sangat mudah di jalani." batin Hana membayangkan jika dia terlahir dari keluarga kaya.
"Dan kamu Den, kenapa kamu tidak memberitahuku jika ingin pergi ke acara sebesar itu. Apa kamu takut jika aku akan ikut. Apa kamu malu, jika seandainya aku ikut datang bersamamu." batin Hana.
Segera Hana menghapus air mata yang terlanjur mengalir di pipinya. Hana melepaskan pelukannya. Dan tersenyum pada Denis. Memberi kecupan singkat di pipi sang kekasih.
"Den,,," ucap Hana.
"Ada apa?" Denis menatap Hana dengan pandangan penuh cinta.
"Katakan." ujar Denis lembut, melihat Hana malah bungkam dan menatap intens ke arahnya.
"Apa?" Denis mengelus pipi Hana.
Hana membawa tangan kiri Denis, menggenggamnya erat. "Aku ingin jujur tentang sesuatu." ucap Hana lirih dengan kepala menunduk.
"Katakan." Denis memegang dagu Hana dan mengarahkan wajahnya pada dirinya.
**********
Apa yang akan di lakukan Ditya pada Ella. Jangan bertingkah macam-macam Dit, Vano memang kejam. Tapi istrinya juga tak kalah sadis dari suaminya.
Ella terlihat lemah lembut, tapi dia bisa menjadi iblis saat dia menginginkannya.
Hana,,,,,,,.....!!!!!
Mau jujur tentang apa sama Denis...
Bisikin othor dong...
__ADS_1
Kepo nih...