DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 176


__ADS_3

"Van,, sebaiknya kamu bersihkan badan dulu." Ella keluar dengan handuk melilit di badannya, dan juga rambutnya.


Vano tersenyum melihat sang istri sudah keluar dari kamar mandi. Segera di tutupnya telepon dai Reza. Dan pastinya, di seberang telepon Reza sedang memaki dirinya.


Dengan seenaknya, Vano mengakhiri percakapan mereka, setelah mendengar suara Ella. Padahal Reza masih ingin membicarakan sesuatu.


"Mandi gih." Ella berdiri di depan cermin.


"Van, mandi dulu. Kamu kotor." Ella melepas tangan Vano yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mencium pundaknya.


"Aaawwww,,,,, iiiissshhhh." desis Vano dengan wajah kesakitan.


"Tuh kan, pasti kesenggol aku." omel Ella meniup luka di pundak Vano. Vano tersenyum samar. Pasti ini hanya akal-akalan Vano saja. Supaya Ella lebih perhatian padanya. Dan menuruti kemauannya.


"Sana gih, mandi." Ella mendorong pelan tubuh sang suami, untuk menjauh darinya.


"Bagaimana mau mandi. Ini masih terasa ngilu untuk di gerakkan Ell." rajuk Vano, mencari alasan.


"Tadi kamu sudah bisa melepas baju sendiri loww." ucap Ella, melihat Vano sudah bertelanjang dada. Padahal, sewaktu Ella belum masuk ke kamar mandi, Vano masih menggunakan pakaian lengkap.


Tapi bukan Vano namanya jika kehilangan akal. "Tadi tidak begitu sakit. Tapi setelah tidak sengaja tersentuh kamu, jadi nyeri lagi." ucapnya dengan wajah seperti menahan rasa sakit.


"Kapan aku menyentuh." bela Ella pada dirinya sendiri. Karena seingat Ella, dirinya tidak menyentuh pundak Vano.


"Ya sudah, aku mandi sendiri saja. Semoga bisa." Vano meninggalkan Ella menuju kamar mandi dengan langkah gontai.


"Ayo sayang, susul aku." batin Vano. Karena ini senjata terakhir Vano untuk bisa berdua dengan Ella di kamar mandi.


Ella memandang ke arah suaminya dengan tatapan iba. Akhirnya Ella melangkahkan kaki, menghampiri Vano. "Ya sudah ayo, aku bantu mandi." ucap Ella berjalan mendahului Vano.


Mata Vano berbinar seketika. Spontan dia melonjak. Tatapi segera dia menetralkan perasaan dan ekspresinya. Jangan sampai ketahuan oleh Ella. "Makasih sayang." ucap Vano dengan wajah lembut.


"Kamu kok masih pakai handuk?" tanya Vano saat keduanya berada di kamar mandi.


"Aku sudah mandi Van." ucap Ella dengan tangan membuka ikat pinggang yang melingkar di pinggang suaminya.


"Ayo, angkat kakimu." suruh Ella saat dirinya ingin melepas celana panjang milik Vano.


"Astaga Van." Ella mendongakkan kepala saat melihat pusaka Vano sudah dalam keadaan on. Sementara Vano hanya membuang muka, seolah tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh istrinya.


Dengan pelan, Ella menurunkan ****** ***** milik Vano. "Selesai, sekarang kamu mandi." Ella berdiri hendak meninggalkan Vano sendiri.

__ADS_1


"Sayang, aku mandi sendiri?" tanya Vano dengan wajah memelas. Pintar sekali kamu berakting Vano. Kenapa tidak jadi aktor saja.


"Iyalah, kamu maunya gimana. Sudah bisakan mandi sendiri. Celananya kan sudah aku lepas." ujar Ella.


"Lagian aku sudah mandi Van." imbuh Ella.


"Kamu tega. Lihat. Tanganku masih sakit hanya untuk sekedar bergerak." keluh Vano.


"Terus."


"Tolong, bantu aku mandi. Masa kamu tega sih. Lagian kamu masih pakai handuk." rayu Vano dengan ekspresi wajah memelas.


Ella menghembuskan nafas dengan kasar. "Huffttt,,, baiklah." ucap Ella, mulai membuka perban di pundak Vano.


Vano tersenyum penuh kemenangan. Dan akan menjadikan kamar mandi ini tempat bercintanya dengan sang istri pagi ini.


Ella menyiram seluruh tubuh Vano dengan hati-hati. Meninggalkan pundaknya yang masih sakit, supaya tidak terkena air.


Dengan telaten, Ella memberi sabun pada tubuh Vano. Membuat Vano memejamkan mata. "Van, jangan berpikir macam-macam." ucap Ella mengingatkan, jika dirinya masih dalam keadaan sakit.


Vano memegang tangan Ella, saat tangan Ella sedang memberi sabun pada junior miliknya. Menggerak-gerakkan tangan Ella maju dan mundur


"Sayang, ini sangat nikmat." ucap Vano mendessah dengan mata terpejam.


Ella tersenyum dan menggelengkan kepala. "Kamu masih sakit." ingat Ella.


Vano membuka matanya. Tampak pandangannya sudah di penuhi kabut gairah. "Ini akan menjadi obat yang mujarab Ell..." ucap Vano dengan suara serak, menahan sesuatu di dalam tubuhnya.


Segera Vano menarik tubuh Ella yang sedang berjongkok di depannya. Menyatukan bibir mereka. Menciumnya dengan rakus.


"Luka kamu." Ella sedikit mendorong tubuh Vano. Mengingatkan luka di pundaknya. Bukannya menjawab perkataan Ella, Vano kembali menyerang bibir Ella menciumnya dengan rakus.


Bahkan tangannya tak lupa menarik handuk yang melilit di tubuh sang istri. Begitu juga handuk yang bertengger di kepala Ella. Vano membuang kedua handuk tersebut ke lantai yang basah.


Membawa tubuh Ella untuk bersandar di dinding. Tangan Vano meraih dan menyalakan kran air. Membuat keduanya berada di bawah guyuran air.


Keinginan Vano untuk menyatukan tubuh dengan sang istri di kamar mandi terlaksana sudah. Di dalam kamar mandi yang berukuran besar, keduanya melakukan olahraga pagi yang sangat mereka nikmati.


Bahkan Vano tidak melepaskan Ella begitu saja. Setelah pelepasan pertamanya, Vano kembali menggiring tubuh seksi sang istri ke dalam bak mandi. Mengulangi kegiatan mereka di dalam bak kamar mandi.


Suara air gemericik dari shower yang dibiarkan tetap menyala, dan suara air di dalam bak kamar mandi yang bergema karena aktifitas keduanya di dalam air bersahutan dengan suara yang keluar dari mulut keduanya.

__ADS_1


"Terimakasih." ucap Vano mengecup dahi Ella, setelah mendapat pelepasan yang kedua.


Ella menatap tajam ke arah Vano. "Kenapa, masih ingin mengulang kembali. Dengan senang hati saya akan melayani Tuan Putri." goda Vano, dengan meremas bongkahan besar di dada Ella. Membuat mata Ella melotot pada Vano


Vano mengerti jika Ella pasti sedang kesal karena telah dia bohongi dengan menggunakan luka kecil di pundaknya.


"Kamu juga menikmatinya." jari jemari Vano bermain di dua bongkahan besar di dada Ella yang terekspos di depan Vano. Ella memeluk tubuh Vano. Matanya melihat ke arah pundak Vano yang baik-baik saja.


Vano terkekeh saat cubitan kecil mendarat di perutnya. Di lepaskannya tangan Ella yang melingkar di pinggangnya.


Vano berdiri dan membasuh badannya di bawah shower, mengambil handuk yang masih kering di gantungan. Melilitkannya di tubuhnya yang berotot. Ella hanya memandang sang suami yang nampak menggoda dengan tubuh telanjangnya.


"Berdiri." ucap Vano yang sudah berdiri di depan sang istri. "Kenapa, mau lagi?" goda Vano saat Ella masih duduk di dalam bak mandi. Dengan cepat, Ella menggeleng. Membuat Vano tersenyum.


"Lapar." ucap Ella.


"Makanya berdiri. Setelah itu kita sarapan." ucap Vano. Ella berdiri. Seperti Vano, dirinya juga membersihkan badannya di bawah guyuran air dari shower.


"Sini." ucap Vano dengan tangan memegang handuk kecil. Ella mematikan air di shower dan mendekat ke arah Vano.


Dengan lembut dan pelan, Vano mengeringkan rambut Ella dengan handuk. Lalu mengambil handuk berukuran besar. "Kenapa kamu tidak berhenti saja menjadi model?" tanya Vano sambil melilitkan handuk di badan Ella.


"Van." rajuk Ella.


"Asal kamu tidak memakai pakaian terbuka. Aku tidak suka." Vano mencium kedua pundak Ella bergantian.


"Iya." jawab Ella pelan dengan tersenyum.


Mana mungkin Ella begitu saja meninggalkan hobinya sebagai model. Ella akan mengurangi pekerjaannya, dan akan mengambil beberapa job yang dikiranya dapat dia atur dengan keadaannya yang sekarang.


Karena Ella juga paham benar, bahwa sekarang dia adalah seorang ibu rumah tangga. Statusnya berubah menjadi Nyonya Vano Reyandli.


Dengan sekali gerakan, Vano mengangkat tubuh Ella untuk di gendong di depan. "Luka kamu." seru Ella khawatir pada Vano.


"Kamu pikir suamimu selemah itu. Hemmm." Vano mencium kening Ella.


Segera Ella mengalungkan tangannya di leher sang suami. "Suamiku seperti tarzan. Kuat." kekeh Ella.


Dengan tetap berada di gendongannya, Vano membawa Ella keluar dari dalam kamar mandi.


Pyaaarrrrr.........

__ADS_1


__ADS_2