
Seperti yang di perintahkan Ella. Mereka mengepung rumah target. Entah mereka sadar atau tidak, sekarang Ella sedang menyuruh anak buahnya menyusup ke dalam.
Sementara Vano, terus mengalihkan perhatian mereka. Jangan sampai musuh mengetahui jika Ella sedang beraksi.
Beruntung mereka langsung menyerang malam ini juga. Tanpa membuang-buang waktu. Sehingga mereka juga belum meyiapkan diri secara sempurna.
"Apa sebenarnya maumu?" tanya Vano dengan tenang.
"Mauku. Kamu bertanya apa mauku." ucapnya dengan tertawa. Di belakang dan sekeliling Vano ada anak buah Morgan yang membawa senjata. Siap untuk melepaskan timah panas ke arah Vano.
"Sebenarnya aku tidak mempunyai masalah dengan keluargamu. Tapi sayangnya, papamu yang bodoh itu. Malah berpihak dan membantu musuhku. Haris." geram Morgan, teringat saat Tuan Danto lebih memilih untuk membantu Haris. Dari pada berpihak pada dirinya.
Padahal saat itu dirinya sedang bekerja sama dengan Tuan Danto. Tapi, karena alasan persahabatan. Tuan Danto lebih memilih Tuan Haris. Dan membatalkan kerja sama dengan dirinya.
"Dan kudengar, jika saat ini. Kamu sudah menjadi menantu dari Haris. Pasti sangat menyenangkan. Mempunyai istri cantik dan seksi. Tapi sayang, hanya bermodal tampang dan bentuk tubuh." kekeh Morgan.
Ella yang mendengar dari balik tembok, ingin sekali melepaskan timah panas pada mulut bandot tua tersebut.
"Perempuan seperti mereka hanya akan menjadi penghangat ranjang. Bukan begitu?" tanya Morgan, dengan nada mengejek.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama saja. Bukankah akan lebih menarik dan menguntungkan kita berdua. Jangan menjadi seperti papamu. Bodoh." geram Morgan.
"Aku bisa menyediakan perempuan seperti yang kau inginkan. Dan pasti kamu tahu bisnisku. Kita bisa bekerja sama. Bagaimana?" tawar Morgan masih dengan angkuhnya duduk di kursi depan Vano. Hanya ada meja sebagai pembatas keduanya.
Rahang Vano mengeras mendengar perkataan Morgan. Tapi dia harus menahan emosinya. Salah bertindak, nyawa akan melayang. Sementara, dirinya masih ingin bernafas lebih lama.
Dirinya tidak rela melihat Ella bersanding dengan lelaki lain. Apalagi dia dan Ella belum memiliki keturunan. Mati sekarang, bukan pilihan Vano.
Ponsel Ella bergetar, dengan cepat Ella melihat ke layar ponselnya. Setelah selesai membaca pesan dari seseorang, Ella tersenyum. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.
"Permainan di mulai." gumam Ella pelan.
Boooommmm...
Tiba-tiba dinding samping rumah Morgan hancur berkeping-keping. Karena terhantam sesuatu yang dahsyat dari luar.
Membuat semua orang menengok ke arah suara. Dan juga, Morgan seketika langsung berdiri. Tidak menyia-nyiakan waktu, Vano mengambil kesempatan saat konsentrasi mereka teralihkan.
Mengambil salah satu senjata anak buah Morgan. Dan segera melompati meja didepannya. Langsung memukul wajah Morgan.
Pyar,,,,,,,!!!!
__ADS_1
Dorr,,, dorr,,, dorr,,,
Anak buah Ella memecahkan kaca jendela, dan memberondongi peluru pada anak buah Morgan yang berada di dalam.
Dan ternyata, beberapa anak buah Ella juga sudah berada di dalam rumah Morgan. Tepatnya di atas mereka, di lantai dua. Mereka juga ikut menyerang dari atas.
Sementara seorang bawahan Ella yang mengikuti Vano tadi, segera tengkurap di balik kursi. Menghindari rentetan peluru dari luar. Juga dengan Vano. Tangannya memegang erat dengan menjepit leher Morgan di antara sikunya. Membawanya merunduk untuk menghindari serangan peluru dari luar, dan atas.
Ella memberi isyarat untuk menghentikan tembakannya. Dan menyuruh mereka maju dengan tetap menjaga kewaspadaan mereka.
Sementara yang di lantai dua, mereka tetap berdiri di atas. Mengawasi dari sana.
Dengan tetap mengangkat pistol berada di posisi bersiap, bawahan Ella maju ke depan. Takutnya jika masih ada anak buah Morgan yang masih selamat dari rentetan peluru mereka.
Tidak mendengar suara tembakan, Vano memutuskan untuk berdiri dan mengangkat Morgan. Sementara bawahan Ella yang terkena peluru di kakinya, segera di bawa keluar dan di berikan pertolongan oleh rekannya.
Vano memukul tengkuk Morgan. Membuat kesadaran orang tua itu hilang. Di ikatnya tangan dan kaki Morgan dengan kuat.
"Bawa dia ke markas. Jangan sampai lepas." perintah Ella pada bawahannya.
"Jika dia sampai lepas, kalian semua yang akan menggantikannya." ancam Ella.
"Beberapa dari kalian segera bersihkan tempat ini. Buat seperti semula. Jangan lupa, lakukan seperti sebelumnya." ucap Ella tersenyum misterius, menyuruh anak buahnya melakukan sesuatu.
Segera Ella membawa Vano ke rumah sakit. Karena pasti suaminya banyak mengeluarkan darah. Apalagi terlihat wajah Vano sedikit pucat.
"Sebaiknya kita pulang." ajak Vano, tapi sayangnya tidak di gubris oleh Ella.
"Bawa ke rumah sakit terdekat terdekat. Cepat." hardik Ella.
"Jika tidak bisa mengemudi sebaiknya kau turun." bentak Ella pada bawahannya yang sedang mengemudi. Ella merasa dia mengemudi seperti siput saja. Segera bawahan Ella menaikkan kecepatan mobilnya.
"Ell, akan panjang urusannya jika kita ke rumah sakit." ucap Vano.
"Sebaiknya kamu diam. Hemat tenaga." celetuk Ella.
Segera Ella menghubungi seseorang. Dan memintanya untuk datang ke rumah sakit sekarang juga. Tak lupa, Ella melepaskan wig yang terpasang di kepalanya.
Tiba di rumah sakit, ada dua orang berpakaian perawat yang sudah siap membawa kursi roda untuk Vano.
"Duduk." suruh Ella. Vano hanya diam dan mengikuti perintah dari istrinya.
__ADS_1
"Kalian, jaga di sekitar rumah sakit." perintah Ella.
"Baik." ucap mereka. Segera Ella bergegas menyusul sang suami.
"Bagaimana?" tanya Ella pada dokter.
"Beruntung kamu datang tepat waktu. Suamimu kehilangan banyak darah." ucap Dokter tersebut.
Ella melihat ke arah Vano yang sedang terlelap. Karena pengaruh dari obat bius . "Makasih." ucap Ella menepuk pundak temannya dan berlalu menuju ke arah ranjang Vano.
Pantas saja Ella bersikukuh membawa Vano ke rumah sakit. Padahal suaminya terluka karena sebutir timah panas bersarang di pundaknya.
Ternyata pemilik sekaligus dokter yang menangani Vano adalah teman Ella. Dan dia juga sama seperti Ella. Berkecimpung di dunia bawah tanah. Tapi hanya untuk pasokan alat medis di negara ini.
Keduanya kenal sejak masih mengenyam pendidikan di sebuah fakultas negeri. Dan bertemu kembali beberapa bulan yang lalu, saat keduanya terlibat kerja sama.
Awalnya Ella menolak bertemu dengannya. Karena Ella tetap ingin merahasiakan jati dirinya pada rekan bisnis ilegalnya.
Tapi dia bersikukuh ingin bertemu dengan Ella, bahkan dirinya memberikan kartu nama pribadinya pada Paman Haki. Dari situlah, keduanya kembali bertemu.
"Ell, aku pamit dulu. Pasti istriku sedang cemberut." ucapnya.
"Sampaikan maaf ku pada istrimu." ucap Ella dengan tulus.
Ella menghubunginya, dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit. Menceritakan jika suaminya terkena peluru. Dan rumah sakit miliknya adalah rumah sakit terdekat yang dapat Ella jangkau malam ini.
Ella merebahkan badannya di kursi empuk dan panjang yang berada di dalam ruang rawat Vano. Rasanya, Ella juga sangat lelah dan mengantuk. Bahkan, kebiasaan Ella untuk membersihkan wajahnya sebelum tidur tidak dilakukan. Lantaran Ella sudah ingin memejamkan mata.
*
*
*
"Keluarkan aku...!!!!" teriak Morgan dari balik jeruji besi di ruang bawah tanah, di markas Ella.
"Brengsek." makinya menggoyang besi yang berdiri rapat didepannya. Tapi sayang, bahkan besi tersebut tidak bergoyang sedikitpun.
Morgan teringat suara perempuan di rumahnya saat Vano menyerang. Setelah Vano memukul tengkuknya, dirinya perlahan tidak sadarkan diri.
Namun Morgan masih samar-samar mendengar suara perempuan. Padahal, di antara mereka tidak ada perempuan. "Tidak mungkin aku sedang berhalusinasi." Morgan berjalan ke arah tembok, menyenderkan badannya ke tembok tersebut.
__ADS_1
"Tapi tidak ada perempuan yang masuk." ucap Morgan, mengingat satu persatu wajah yang berada di depannya. Tapi tetap saja, dia tidak melihat seorang perempuan.
Apalagi, Ella berada di samping Vano setelah masuk ke dalam rumah Morgan. Membuatnya tidak sempat menatap wajahnya. Apalagi Ella bersuara setelah Vano memukul tengkuk Morgan. Menjadikan Morgan yang sudah hampir tidak sadarkan diri seperti mendengar suara perempuan.