DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 187


__ADS_3

Di apartemen, ponsel Vano tidak berhenti berdering. Membuat Vano ingin sekali menghancurkan benda kecil pipih tersebut.


"Ada apa!!" geramnya saat dirinya sudah mengangkat panggilan telepon dari asistennya. Reza.


Vano mematikan panggilan telepon dari Reza. Membaca berita yang menjadi topik utama pagi ini.


"****... Siapa yang berani bermain sama gue." Vano meremas penuh amarah ponsel miliknya.


"Segera cari tahu siapa pelakunya. Dan bawa kehadapanku." ucap Vano pada Reza melalui ponselnya.


Semala saat di bar........


Tanpa Vano sadari, ada seseorang yang mengabadikan di mana dirinya berkunjung ke tempat tesebut.


Mulai dari seorang perempuan yang duduk di samping Vano. Menempelkan dua bongkahan besar di dadanya pada lengan kekar Vano. Hingga saat perempuan tersebut duduk di pangkuan Vano.


Terlihat di foto jika Vano dan perempuan tersebut nampak sedang berciuman dengan panas dan mesra. Padahal saat itu Vano sedang mencekik leher sang perempuan.


Begitupun dengan Ella, ponsel yang terus berdering membuat kepalanya pusing.


"Mama." gumam Ella melihat di layar ponselnya. Kiranya siapa yang terus menghubungi dirinya.


"Iya ma, ada apa?" tanya Ella dengan suara serak. Khas orang baru bangun tidur.


"Kamu baik-baik sajakan sayang?" tanya Nyonya Ane di balik telepon dengan suara cemas.


"Baik ma." jawab Ella. Memang karena Ella belum mengetahui skandal yang buat oleh sang suami.


"Vano mana sayang?" tanya sang mama.


"Vano sudah berangkat ke kantor ma." jawab Ella berbohong pada sang mama. Tidak mungkin dirinya berkata jujur. Mengatakan jika semalam Vano tidak berada di rumah.


"Ma ,sudah dulu ya. Ella sedang sibuk." tanpa mendengar perkataan dari mama, Ella mematikan panggilan telepon dari sang mama secara sepihak.


Saat hendak menaruh kembali ponsel miliknya, Ella tanpa sengaja membaca sebuah judul laman di layar ponselnya.


BARU MENIKAH BEBERAPA HARI, PENGUSAHA MUDA SUDAH TERTANGKAP BERMAIN PEREMPUAN DI BAR.


"Vano." gumam Ella melihat beberapa gambar Vano bersama dengan perempuan berpakaian seksi.


PENGUSAHA MUDA KEMBALI MENJADI CASANOVA.


SEORANG MODEL KELAS ATAS TAK LANTAS BISA MENJADI PELABUHAN TERAKHIRNYA.


Masih banyak lagi judul dari berita, yang memuat foto Vano bersama perempuan di bar tersebut.


"Aaa...!!!" Ella membanting ponselnya kasar di atas kasur. Ponselnya kembali berdering. Namun Ella hanya melihat, dirinya enggan untuk mengangkat. Siapa lagi kiranya yang menghubungi dirinya.


Dengan keadaan kacau, Ella masuk ke dalam kamar mandi


Pyarrrr..... dengan sekuat tenaga Ella meluapkan amarahnya. Menghantam dengan keras kaca yang berada di depannya. Hingga pecah berserakan di lantai.


Tampak darah menetes di tangan Ella. Seperti tidak merasakan sakit sama sekali, Ella kembali menghantam tembok di samping kaca tersebut. Darah di tangan Ella muncrat ke mana-mana.

__ADS_1


"Gue butuh pelampiasan. Gue bisa gila jika seperti ini." erang Ella.


Ella menyalakan shower. Membiarkan air shower membasahi seluruh tubuhnya yang masih terbungkus dengan pakaian tidur lengkap.


"Apa yang elo mau Van. Apaaa!!" teriak Ella.


Air mata Ella jatuh ke pipi, bersama dengan air dari shower yang membasahi seluruh badannya.


Hingga air yang mengalir berwarna merah muda, bercampur dengan darah Ella yang terus mengalir dari tangannya yang terluka.


Ella melepaskan semua pakaian yang menempel pada tubuhnya. Mengeringkan dengan handuk. Segera Ella memakai pakaian.


Membiarkan tangannya yang terluka terlihat jelas. Meski sudah tidak mengeluarkan darah, tangan Ella nampak masih merah, dan berbekas. Bahkan terlihat bengkak.


Ella keluar dari kamar mandi. Menuju ruang makan. Semua pembantu mencuri pandang ke arah Ella. Masih terlihat jelas bekas cengkeraman tangan Vano di rahang Ella. Dan juga di lengan Ella.


Mereka jelas mengetahui berita Vano pagi ini. Berita yang langsung menjadi tranding topik di berbagai media sosial.


"Nyonya." ucap Bibik pelan. Ella hanya diam tak menyahut apapun.


"Biar bibik obati lukanya." tawar bibik dengan nada lembut.


"Tidak perlu." ucap Ella datar. Mengisi piring dengan beberapa makanan.


"Suruh mereka menyiapkan motor." pinta Ella.


"Baik Nyonya." segera Bibik pergi dan memberitahu sopir, jika sang Nyonya akan keluar dengan mengendarai motor.


Selesai makan, Ella langsung memakai jaket yang di bawanya. Meninggalkan rumah, entah kemana Ella melajukan motornya.


"Sebenarnya apa yang terjadi. Padahal kemarin mereka masih terlihat bahagia." ucap yang lain.


"Kurang apa Nyonya. Cantik dan baik."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nyonya Ane langsung menghubungi putri tercinta saat membaca laman berita mengenai Vano.


"Sudah ma. Mereka sudah dewasa. Biarkan Ella menyelesaikan sendiri masalahnya." Tuan Haris membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"Mama menyesal mengizinkan Vano menikahi Ella." ucap Nyonya Ane dengan suara serak, karena tangisnya.


"Husstt. Mama tidak boleh berkata seperti itu." Tuan Haris mencoba menenangkan emosi sang istri.


"Jika Ella bilang dia sedang baik-baik saja. Biarkanlah ma. Percayalah apa putri kita. Mungkin Ella ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita hanya bisa mendukungnya." imbuh Tuan Haris.


Tuan Haris memijat keningnya yang terasa berdenyut. Belum selesai masalah Jo, sekarang Vano membuat ulah.


"Pa, kirim orang untuk mengawasi Ella. Mama khawatir,,," Nyonya Ane menunduk, tidak melanjutkan perkataannya.


"Sudah papa lakukan." ucap Tuan Haris membuat nafas sang istri terasa berjalan kembali.


"Tapi aku tidak yakin. Jika orangku mampu mengawasi Ella." batin Tuan Haris. Beliau merasa putrinya yang sekarang tidak bisa di sentuh. Bahkan bayangannya sekalipun.

__ADS_1


"Terimakasih pa." ucap Nyonya Ane memeluk kembali tubuh sang suami. "Papa tidak ke kantor?" Nyonya Ane mengurai pelukannya.


"Setelah berganti pakaian." ucap Tuan Haris tersenyum penuh cinta pada sang istri.


"Maaf." cicit Nyonya Ane melihat ke arah Tuan Haris. Di mana baju Tuan Haris terlihat kusut dan juga basah terkena air mata karena dirinya. Padahal Tuan Haris sudah rapi dengan pakaiannya, dan siap pergi ke kantor.


"Tidak apa-apa." Tuan Haris mengecup pelan dahi sang istri.


"Ell, padahal dari dulu mama selalu berdo'a. Supaya kamu mendapatkan suami seperti papamu. Bahkan, jika bisa melebihi papamu. Dia sangat menyayangi mama. Tidak pernah membuat mama menangis. Selalu memperlakukan mama seperti ratu." batin Nyonya Ane memandang sang suami yang tengah berganti pakaian.


Di tempat lain, Hana terus mencoba menghubungi Ella. Meskipun panggilan teleponnya tidak di angkat, dirinya tidak lantas menyerah.


"Angkat Ell." geram Hana. Karena Ella tak kunjung menerima panggilan telepon darinya.


"Vanooo!!!" seru Hana yang sekarang masih berada di rumah, sendirian. Karena Bu Ningsih, ibu Hana sudah pergi ke pasar. Dan Arik, adik Hana baru saja berangkat kuliah.


"Bajingan. Brengsek." tubuh Hana merosot ke lantai. Air matanya luruh. Seketika teringat saat dirinya dan Vano yang pernah menghabiskan malam panas bersama.


"Ella." Hana memeluk erat kakinya.


"Maafkan aku." ucapnya dalam tangis yang semakin terisak.


"Ella." Hana seakan teringat keadaan Ella kembali. Tangannya meraih ponsel, dan mencoba menghubungi atasan sekaligus sahabatnya tersebut.


"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang." gumam Hana. Teringat jika dulu, Ella selalu bekerja dengan gila saat dirinya sedang ada masalah.


Tapi sekarang, Ella sedang tidak ada kegiatan. Dan juga sendiri.


Ingin rasanya Hana pergi ke rumah Ella. Tapi masih ada rasa takut saat bertemu dengan Vano. Apalagi sekarang Ella sudah menempati rumah barunya bersama dengan Vano.


Bukan hanya Hana. Bahkan Nyonya Risma dan beberapa media yang memang mempunyai nomor pribadi dari model tersebut terus menerus mencoba menghubungi nomor Ella.


Di belahan dunia lain, Nyonya Risma tampak murka. Bagaimana bisa putranya kedapatan tengah berada di bar bersama dengan ******.


"Anak itu. Tidak bisa di atur." kesal Nyonya Risma.


"Jika Ella meminta cerai dari Vano, mama akan mendukungnya. Pasti." geram sang mama.


"Ma, redam emosi mama. Ingat di sini kita sedang menunggu orang sakit. Apalagi kondisi Oma juga sudah membaik." ucap Tuan Danto lirih, beliau takut jika mertuanya bangun.


"Anak itu. Sudah di beri kesempatan. Malah semakin bertingkah." geram Nyonya Risma.


"Coba papa telpon Vano. Mungkin kalau papa yang menelpon akan di angkat." saran Nyonya Risma.


"Sama, Vano juga tidak mengangkat panggilan telepon dari papa." ucap Tuan Danto.


Meski Vano adalah putranya, tapi sang mama sangat tidak menyukai sifat dari anaknya tersebut. Apalagi sekarang Vano telah beristri.


"Pa, Tuan Haris tidak menelpon papa?" tanya Nyonya Risma, Tuan Danto hanya menggeleng pelan.


Nyonya Risma ingin sekali menghubungi besannya. Nyonya Ane. Tapi beliau tidak mempunyai keberanian sebesar itu. Ada perasaan bersalah pada dirinya.


"Beruntung kita tidak mempunyai penyakit jantung." celetuk Nyonya Risma. Dan Tuan Danto tetap berada di samping sang istri. Mencoba menenangkan sang istri.

__ADS_1


Begitupun dengan Viki dan Denis. Mereka juga mencoba menghubungi nomor Ella. Tapi tidak satupun dari mereka yang memperoleh hasil.


__ADS_2