DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 14


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Tuan Bara pada sang putra.


"Terlalu ringan. Jika Lyra di masukkan ke dalam penjara." jawab Denis tersenyum licik.


Tuan Bara menaruh map berisi berkas-berkas di atas meja. Dan tentunya berkas tersebut sangat berguna untuk Denis. "Papa serahkan semuanya pada kamu. Lakukan yang terbaik demi calon menantu papa." ucap Tuan Bara menepuk lengan bagian atas milik Denis.


"Papa akan kembali ke rumah sakit. Selesaikan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kamu." ujar Tuan Bara, sebelum meninggalkan Denis bersama Miko.


Denis menatap tajam ke depan. Dengan tangan terkepal kuat. "Lakukan tahap awal." seringai Denis.


"Baik." segera Miko menelpon seseorang. Menyuruhnya melakukan suatu hal yang akan membuat dunia bisnis gempar.


Setelah selesai menghubungi seseorang, segera Miko menyalakan televisi di ruangan Denis. Dengan Denis duduk di kursi single. Menatap ke layar televisi.


Baru beberapa detik layar televisi menyala, sudah terdapat berita akan perusahaan papanya Lyra yang sekarang sudah berganti kepemilikan.


Gulung tikar. Menjadi penyebab utama perusahaan tersebut di jual. Tapi dalam berita tersebut, tidak di sebutkan alasan perusahaan mengalami kebangkrutan. Dan siapa pemilik perusahaan sekarang.


Sehingga menyebabkan berbagai spekulasi atas pemikiran masyarakat tentang semau ini.


Bukan hanya satu saluran televisi yang menyiarkan hal tersebut. Tapi seluruh saluran televisi. "Aku menginginkan berita ini bertahan paling tidak dua jam. Setelah itu, lakukan hal selanjutnya." perintah Denis.


"Baik Tuan." segera Miko kembali menyalakan ponselnya dan menghubungi seseorang.


Belum reda keterkejutan semua orang dengan perusahaan papa Lyra yang sudah terjual dan berganti nama kepemilikan.


Seperti yang di inginkan Denis, dua jam setelah menyebar kabar berita bergantinya kepemilikan perusahaan papa Lyra, sekarang tersiar kabar yang lebih mengejutkan.


Sang pengusaha yang gemar bermain judi. Hingga gemar mengoleksi perempuan cantik dan seksi.


Itulah sekarang yang sedang menjadi trending topik setelah perusahaannya gulung tikar. Apalagi juga terdapat berbagai bukti.


Seperti foto saat papa Lyra sedang bermesraan bersama beberapa perempuan. Beserta video kemesraan mereka. Foto di mana sang pengusaha sedang duduk sembari bermain judi dengan beberapa lelaki.


Namun semua wajah di sekitar papa Lyra di buramkan atau di samarkan. Sehingga mereka hanya bisa menebak siapa teman dari sang pengusaha tersebut.


Hingga bukti transaksi. Transaksi pembayaran hotel dengan perempuan-perempuan tersebut. Transaksi transfer uang untuk sang perempuan.


Hingga transaksi kekalahan maupun kemenangan di setiap sang pengusaha bermain judi. Semua bukti sangat lengkap. Sehingga tidak ada tempat untuk mengelak.


Boomm.... seakan bom yang sudah meledak. Dan menghancurkan segalanya. Hancur tak dapat di benahi lagi.

__ADS_1


Denis dan Miko meninggalkan perusahaan. Dan kembali ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kondisi Hana. "Biarkan berita ini terus bergulir hingga besok pagi. Setelah itu, kamu tambah lagi bumbu-bumbunya." perintah Denis.


"Baik Tuan." ucap Miko, seakan tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Di kediaman keluarga Lyra terjadi pertengkaran besar antara sang papa dan sang mama. Mama Lyra hanya mengetahui jika suaminya gulung tikar. Namun dia tidak mengetahui alasan pastinya.


Setahu mama Lyra, suaminya gulung tikar karena kalah dengan saingan bisnis. Ternyata semuanya tidak seperti perkataan dari mulut manis papa Lyra.


Lyra yang melihat pertengkaran tersebut meninggalkan rumahnya. Dan pergi ke apartemen miliknya. Niat hati pulang ke rumah ingin memberi kabar baik. Malah dirinya yang di berikan hadiah yang tidak terduga.


Ya, Lyra pulang. Ingin mengatakan jika dirinya sebentar lagi akan menjadi Nyonya Denis. Karena dirinya merasa jika sudah berhasil menyingkirkan Hana. Ternyata semua menjadi kacau.


"Aaaa...!!!!" teriak Lyra. "Kenapa bisa menjadi seperti ini." kesalnya.


"Papa, tidak mungkin." Lyra menggelengkan kepalanya. Sebab, Lyra mengenal sang papa selama ini. Dia adalah seorang lelaki yang sangat menyayangi keluarganya.


"Bisa jadi itu fitnah." ucap Lyra menduga. "Tapi, perusahaan. Di jual. Tidak mungkin." Lyra kembali menggeleng pelan.


Lyra berjuang mendapatkan Denis. Bukan hanya untuk dirinya. Namun juga untuk perusahaan sang papa yang sudah di ambang kebangkrutan. "Tunggu. Jika benar di jual. Pada siapa." gumam Lyra kecewa dengan sang papa.


"Padahal aku sudah berhasil menyingkirkan Hana. Kenapa...?!" teriak Lyra, meluapkan emosinya.


Tanpa Lyra sadari hal besar akan terjadi padanya. Dan Lyra sama sekali tidak mengetahuinya. Karena memang, selama ini Lyra bekerja sendirian. Hanya dengan sang mama Lyra merencanakan semuanya.


"Operasinya berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu Hana tersadar." jelas Tuan Bara di depan ruang rawat Hana, bersama dengan Nyonya Monic.


Denis bernafas lega mendengar perkataan sang papa. "Masuklah. Di dalam ada ibu Hana bersama Nyonya Ane." pungkas Tuan Bara.


"Papa sama mama pulang dulu. Jangan lupa, jaga kesehatan kamu." Tuan Bara menepuk pundak sang anak, sebelum meninggalkan rumah sakit.


Sepeninggal kedua orang tuanya, Denis masuk ke dalam ruang rawat Hana. Nampak Bu Ningsih duduk di samping ranjang Hana. Dengan menggenggam telapak tangan Hana.


Sementara Nyonya Ane sedang berdiri di depan jendela. Menatap keluar sembari menelpon seseorang.


Denis duduk berjongkok di depan Bu Ningsih. "Maafkan Denis." ucap Denis lirih.


Bu Ningsih hanya menatap Denis dengan pandangan nanar. "Maafkan Denis." ucap Denis lagi.


"Jika sampai sore Hana tidak sadar. Dia akan aku bawa ke rumah sakit lain." ucap Nyonya Ane begitu berdiri di belakang Bu Ningsih.


Nyonya Ane masih merasa trauma kan kehilangan seseorang. Cukup menantunya yang meninggalkannya. Jangan sampai ada yang lain lagi.

__ADS_1


"Nyonya..." sahut Bu Ningsih pelan. Mendongakkan kepalanya untuk menatap Nyonya Ane.


"Aku juga ibunya Hana. Mana mungkin membiarkan anak perempuanku berbaring tak berdaya seperti ini." tegas Nyonya Ane. Mengelus dengan lembut


"Baik tante. Denis akan ikut, kemanapun Hana pergi." timpal Denis.


"Tidak perlu. Selesaikan masalah kamu dulu." saran Nyonya Ane.


Segera Denis menggeleng. "Tidak. Saya akan ikut kemanapun Hana pergi." kekeh Denis.


"Ada apa pa?" tanya Nyonya Monic penasaran, sebab Tuan Bara mengatakan jika ingin membicarakan hal yang penting dengannya.


Tanpa basa basi, Tuan Bara memberikan beberapa rekaman sikap dan ucapan Lyra di rumah. Yang tersimpan di dalam ponselnya. Yang semua itu di ambil secara sembunyi-sembunyi oleh kepala pelayan di rumah mereka.


"Ini..." Nyonya Monic terdiam melihat dan mendengarkan rekaman tersebut.


Tidak hanya di satu tempat dan satu waktu. Melainkan beberapa tempat dan waktu. Di mana dalam video tersebut, Lyra selalu mengumpat dan menyumpahi Nyonya Monic.


Bahkan terdapat video yang menampilkan saat Lyra mengatakan akan menyingkirkan Nyonya Monic, jika dirinya sudah menjadi istri dari Denis.


Nyonya Monic membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya. Sebab tangan kirinya sedang memegang ponsel Tuan Bara. "Pa...!!" ucap Nyonya Monic terkejut.


Nyonya Monic duduk di kursi empuk dengan tatapan mata tak percaya bercampur kesal. "Lyra. Ternyata dia begitu jahat." gumam Nyonya Monic.


Tuan Bara memegang pundak sang istri. "Mama ingin tahu, kenapa Lyra mendekati putra kita?" tanya Tuan Bara.


Nyonya Monic hanya diam tanpa berkata apapun. "Perusahaan papanya di ambang kebangkrutan. Dan dia membidik perusahaan kita untuk menyelamatkan perusahaan papanya. Bukan karena Lyra mencintai Denis." papar Tuan Bara.


"Astaga." ucap Nyonya Monic kembali terkejut. "Jadi, Lyra tidak mencintai putra kita?" tanya Nyonya Monic.


"Hanya Hana. Hanya dia perempuan yang mencintai dan di cintai oleh putra kita. Ma, kita tidak memerlukan besan yang kaya raya. Kita tidak memerlukan besan seperti Tuan Haris. Yang kita perlukan, seorang perempuan yang benar-benar mencintai putra kita. Keluarga kita sudah kuat tanpa sokongan dari siapapun." tegas Tuan Bara.


"Satu lagi. Lyra yang sudah membuat Hana menjadi seperti ini." ungkap Tuan Bara.


"Pa..." kata Nyonya Monic dengan bibir gemetar.


"Papa mengatakan yang sebenarnya. Semua bukti sudah ada di tangan Denis. Tapi putra belum memberikan bukti tersebut pada polisi. Entahlah, papa juga tidak tahu. Apa yang sedang di pikirkan oleh Denis." papar Tuan Bara.


"Tuhan. Maafkan saya. Sungguh,,, Lyra. Pembunuh." ucap Nyonya Monic dengan raut wajah ketakutan.


Tuan Bara segera memeluk sang istri, untuk menenangkannya. Tuan Bara tahu, jika sang istri sejatinya bukan perempuan jahat.

__ADS_1


Namun, Nyonya Monic hanya termakan omongan yang selama ini berada di lingkup pergaulannya. Jika semua orang yang tidak mampu, atau orang miskin itu semuanya matre. Mereka mendekati lelaki kaya hanya demi uang.


"Mama sekarang sadar. Jangan pernah melihat seseorang dari penampilan dan juga kekayaan mereka." ucap Tuan Bara pelan.


__ADS_2