
Ella mengacak rambutnya pelan. "Kenapa sangat sulit. Kenapa. Kenapa gue selalu,,, ahhhh." geram Ella.
"Vano, kenapa elo seperti api buat gue. Apa yang harus gue lakukan. Kenapa malah gue yang masuk dalam permainan Vano." Ella menghempaskan badannya ke kasur empuk miliknya.
Pikiran Ella benar-benar kacau. Dirinya seperti tidak bisa memikirkan apa-apa lagi sekarang. Ella duduk dan mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang harus gue lakukan. Gue nggak mau jadi budak ranjangnya Vano lagi. Tapi kenapa sulit. Kenapa gue nggak bisa menolak setiap sentuhan yang Vano berikan."
Ella berdiri dan berjalan mondar mandir. Seperti sedang memikirkan atau tepatnya merencanakan sesuatu.
"Iihhhh. Apa yang harus gue lakukan." Ella duduk di lantai dengan lemas.
Pikirannya seperti kosong. Tidak ada lampu yang menyala di atas kepalanya seperti yang ada di film-film. 🤭🤭
"Siapapun. Bantu gue. Gue nggak mau menerima Vano begitu saja. Sebelum gue benar-benar yakin. Tidak ada perempuan lain selain gue di hidup Vano."
Ya ela Ellll,,, selain elo memang ada perempuan lain di hidup Vano. Elo pikir Vano lahir dari batu. Mak Vano perempuan Ell... Pikun elo.
"Maksud gue bukan itu author. Kalau mak nya sih gue juga sudah tahu. Perempuan yang di cintai Vano. Satu-satunya perempuan yang berada di atas ranjang Vano. Elo ngerti nggak sih. Kalau elo nggak ngerti, mending elo diam author. Berisik!"
Oke. sekreeeet... 🤐🤐
Ella mengambil jaket dan kunci motor miliknya.
"Mau kemana Non?" tanya pembantu di rumah Tuan Haris saat Ella berjalan keluar sembari memakai jaket sambil berjalan.
"Cari angin." jawab Ella seenaknya tanpa memandang ke arah orang yang bertanya.
"Hati-hati Non!" teriak pak satpam.
Tanpa menoleh dan menyahut ke arah pak satpam, Ella melajukan motornya.
Ella melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dengan memakai jaket kulit dan rambut di gelung ke atas tertutup helm. Siapa yang akan mengira jika di balik helm tersebut adalah seorang perempuan. Ella.
Saat ini dia hanya ingin berjalan-jalan saja. Tidak ada tempat yang dia tuju. Melepas perasaan yang campur aduk di dalam hati dan pikirannya.
"Lumayan, untuk menyalurkan emosi." Ella melihat di depannya ada beberapa anak yang berseragam SMA dan beberapa preman.
Tanpa bersuara, Ella turun dari motornya dan berdiri di dekat mereka.
"Elo nggak usah jadi pahlawan. Mending elo pergi." bentak salah satu preman.
Ella memperhatikan dari balik helmnya. Beberapa anak berseragam SMA, 2 cowok dan 1 cewek. Tampak kedua cowoknya sudah sedikit lebam di pipi mereka. Bahkan di sudut bibir juga terdapat warna merah.
Beberapa preman tersebut membawa pisau di setiap tangannya. Ella menunjuk dengan jarinya ke preman-preman di depannya tanpa bersuara. Seperti sedang berhitung.
satu, dua, tiga, empat, lima, enam.
Ella menggerakkan ke empat jari di tangan kanannya yang telah di angkat. Seperti memberitahu sebuah isyarat pada para preman.
Sini. Serang aku.
Ella mengeluarkan tangan kirinya yang berada di saku jaketnya, dan bersiap melepaskan emosi karena Vano.
Dan tentu saja. Cara ini lah yang Ella pilih. Bisa melepas emosi di tambah menolong orang. Bermanfaat bukan.
"Jangan salahkan aku. Kalian sendiri. Kenapa cari masalah di depanku."
__ADS_1
Satu persatu, preman tersebut Ella jatuhkan. Bahkan Ella menginjak dan terus menginjak preman yang sudah terkapar di aspal.
"Awas." teriak salah satu pelajar SMA tersebut.
Dengan sigap Ella membalikkan badan dan memegang tangan preman yang hendak menusuknya dari belakang.
"Kamu." geram Ella saat melihat pisau tersebut mengenai lengannya.
Dengan satu pukulan preman tersebut tersungkur di aspal. Dan lagi, Ella menendang perut preman tersebut sampai Ella puas.
"Kita harus membantunya." ujar salah satu pelajar SMA saat melihat preman lain hendak menyerang Ella.
Ella mengambil pisau di tangan preman yang terkapar di aspal. "Huuuhh." Ella manarik nafasnya dan berdiri.
Dua anak SMA melawan empat preman. Ella mendekat dan membantu. Entah bagaiman cara Ella, kini dia sudah memiting salah satu preman dan membisikkan sesuatu.
"Aaaaa...." teriaknya saat pisau yang berada di tangan Ella sudah beralih tertancap di paha miliknya.
Ella melepaskan tubuh preman tersebut. Tubuhnya langsung merosot ke bawah. "Kita pergi. Bawa yang lain." ucapnya dengan memandang ke arah Ella.
"Tapi."
"Cepat. Ambil mereka. Kita pergi sekarang." ucapnya pada teman-temannya.
Dengan tertatih, mereka pergi meninggalkan tempat tersebut. Entah apa yang Ella bisikkan pada salah satu preman tersebut. Hingga dia begitu ketakutan dan memilih pergi.
"Terimakasih kak." ucap siswi SMA tersebut mendekat ke arah Ella.
"Kenalkan.." ujarnya sembari menyodorkan telapak tangannya.
"Aku tidak tertarik dengan perempuan." ucap Ella memotong perkataan siswi tersebut.
"Gue pikir laki."
"Sama."
"Gila."
Ella berjalan menuju motornya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ya sudah, kita pergi. Dari pada mereka kembali lagi." ajaknya pada kedua temannya.
Salah satu siswa melihat ada benda asing yang tergeletak di aspal. Dia mendekat dan memungutnya. Tanpa sepengetahuan temannya dia memasukkan benda tersebut ke saku celananya.
Selain itu, dia juga melihat plat nopol milik Ella. Dan menghapalkannya. "Siapa tahu bertemu lagi." batinnya.
Ella melepas helm di kepalanya saat berada di tepi jalan. Di sinilah Ella sekarang berada. Di tempat yang jauh dari keramaian kota. Jauh dari pemukiman.
Di depan Ella, hanya ada hamparan rumput. Ella duduk berselonjor dan melepas jaketnya. Memeriksa luka yang dia dapatkan barusan.
"Ternyata."
Luka yang Ella dapatkan tidak seberapa. Hanya goresan ringan dari pisau tersebut. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Bahkan darah yang keluar hanya sebatas merembes.
"Guna juga elo." Ella memandang ke arah jaket yang diletakkan di sampingnya.
"Beruntung banget gue ada mereka. Jadi gue bisa lampiaskan amarah gue. Coba kalau nggak ada mereka. Bisa terus berputar-putar naik motor seharian gue." gumam Ella.
__ADS_1
Ella merasa lebih baik. Dia dapat menyalurkan amarah pada para preman tersebut.
Untung buat Ella. Buntung buat para preman.
Semilir angin siang membuat rasa panas menyengat dari sang surya tampak sedikit berkurang.
Kalau kata author sih,, panas silir-silir. 🤭🤭
"Ell,, elo berteduh gih. Ntar gosong low."
"Elo bisa diem nggak thor. Ngrecokin gue mulu. Kulit-kulit gue. Kenapa elo yang bingung."
"Gue cuma ngingetin Ell. Kan Hana sedang nggak ada di samping elo."
(Author sedih nih. Padahal niat author baik)
"Lagian jadi model nggak perlu putih. Yang penting seksi, cantik, dan juga pinter. Dan bisa jalan. Udah sana elo pergi."
"Ya eyalah bisa jalan. Emang apaan yang nggak bisa jalan."
*****
"Bawa masuk berkasnya." pinta Vano melalui sambungan telepon di ruangannya.
"Permisi Tuan. Ini berkas yang perlu anda tanda tangani." Imey menyerahkan beberapa map yang berisi berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangan Vano.
"Kamu bisa keluar. Nanti aku panggil jika sudah selesai." ucap Vano sambil membaca kembali berkas yang hendak ia tanda tangani.
"Khem, jika Tuan membutuhkan bantuan, saya siap." ucap Imey berharap.
"Tidak perlu."
"Benar Tuan?" tanya Imey lirih sambil mencondongkan badannya ke depan.
Vano mengangkat kepala. Behhhh.... Pandangan mata Vano langsung di suguhkan dengan dua bukit kembar milik Imey yang meronta ingin di keluarkan dari sarangnya.
"Saya bilang, keluar." Vano memandang dingin ke arah Imey.
"Baik." nyali Imey yang semula seperti kobaran api, sekarang menciut mendapat tatapan dingin dari Vano.
"****." Vano melonggarkan dasi yang berada di lehernya.
*****
Imeyyyy..... love you buat kamu sayang.
Goda terus Vano. Author pengen lihat.
Sampai di mana, Vano ingin memperbaiki diri.
Vano.....yakin. Nggak bakal tergoda.
Body Imey cihuyhuy lowwww....
Author pantau nih.... 😎😎
Untuk teman-teman makasih ya,,, udah sejauh ini selalu mendukung dan setia ama author.
__ADS_1
Makasih dan makasih...
🥰🥰