DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 07


__ADS_3

"Gue di mana." manik matanya kembali menatap ke arah Vano. Di ucek-ucek kedua matanya.


Ella tampak masih bingung. Apalagi dia bangun menggunakan baju handuk. Dan di tempat yang benar-benar asing untuknya.


"Apa yang kamu lakukan semalam." Vano mendekat ke arah Ella.


"Ini nyata." Ella memegang wajah tampan Vano.


"Aawww." tubuh Ella berada di bawah Vano.


"Kamu selamat. Karena saat ini aku sedang terburu-buru." Vano mencium singkat bibir Ella.


"Jangan pernah ulangi lagi." Vano meninggalkan Ella dalam rasa bingung.


"Masuklah." Vano menyuruh Hana yang sedang berdiri di depan pintu kamar Ella.


"Elll..." teriak Hana saat masuk ke dalam.


"Astaga, kamu tahu. Kamu membuat ku kehilangan akal. Apa yang sedang kamu lakukan baby. Oh my ghost,,, Sungguh. Kamu membuatku sangat sibuk pagi ini." cerocos Hana.


Hana harus mengatur ulang jadwal Ella untuk pagi ini. Beruntung Ella kekasih dari Tuan Muda Vano. Dan pastinya anak dari Tuan Haris. Jika tidak, pasti akan sangat sulit. Meskipun Ella adalah model kelas atas yang profesional dan terkenal dalam dunia modeling.


"Ella..." seru Hana geram.


Ella hanya diam mendengarkan omelan dari Hana dan memperhatikan gerakan Hana yang sudah seperti setrika.


"Sebenarnya ada apa sih?" Ella bertanya dengan wajah polos dan lucu dengan duduk bersila di atas ranjang.


Di dalam mobilnya, Vano tertawa lepas. Dia memandang ke layar gawainya. Ternyata secara diam-diam dia meletakkan kamera pengintai di dalam kamar hotel tempat Ella menginap. Kamera tersebut terhubung dengan gawai miliknya.


Sopir yang berada di balik kemudi mengintip dari balik kaca spion. Tapi dengan segera dia mengalihkan pandangannya lagi ke depan.


"Kamu lucu banget sih sayang." ucap Vano gemas melihat ekspresi Ella saat Hana mengeluarkan unek-uneknya.


Vano ingin mengetahui, kenapa Ella melakukan hal tersebut. Tidur di hotel tanpa memberi tahu siapapun.


"Oooohhhh,,, sabar Hana, sabar." Hana menarik nafasnya dan mengelus dadanya sendiri.


"Tuan Putri Ella. Kenapa Tuan Putri menghilang begitu saja tadi malam. Dan tiba-tiba berada di kamar hotel." Hana bersedekap dengan wajah serius.


"Pengen saja. Emang nggak boleh."


"Elll."


"Sudahlah, aku ingin membersihkan badan dulu." Ella meninggalkan tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Bagaimana Vano bisa tahu jika aku berada di sini." gumam Ella di dalam kamar mandi sambil melepas baju handuk yang dipakainya.


"Dia memang hebat. Ella, kamu lupa siapa kekasihmu. Dia seperti tahu apa saja yang kau lakukan."


"Kamu mengengkangku. Sementara kamu selalu menolak menikahiku. Sebenarnya apa mau mu."


"Han,, apa kau membawakan ku baju ganti." Ella keluar dengan melilitkan handuk di badannya.


"Sudah ada. Kelihatannya sudah disiapkan." pandangan mata Hana menuju ke paper bag di atas meja.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa masuk tanpa menggunakan identitas mu Ell?" Hana berdiri di samping Ella yang sedang merapikan rambutnya.


"Ada orang baik yang membantuku." jawab Ella seenaknya.


"Oke. Selesai. Hana cantik kenapa. Mau di sini terus. Ya sudah, aku tinggal ya. Bye bye."


Ella melenggang pergi keluar kamar meninggalkan Hana yang sedang menatapnya.


"Ella...! Tunggu." Hana segera berlari kecil mengejar Ella.


Di dalam mobil, Vano mematikan layar ponselnya. Usahanya menaruh kamera pengintai tidak membuahkan hasil. Rasa penasaran di hatinya belum bisa terobati.


Perempuan yang dikenal sebagai kekasihnya selama ini ternyata cukup pandai juga. Bibirnya tersenyum samar. Ada sedikit perasaan senang di hatinya. Tapi ada juga rasa takut. Khawatir jika suatu hari Ella menjadi pembangkang.


"Tidak akan pernah terjadi. Selamanya, kau akan menjadi my baby yang penurut. Ella." Vano memejamkan mata dengan badan menyandar di sandaran kursi mobil.


Didepan perusahaan Tuan Egi, Reza menunggu kedatangan Tuannya. Dia menunggunya di dalam mobil. Karena hari ini kedua pebisnis muda dan sukses tersebut mengadakan pertemuan untuk membahas kerja sama mereka.


"Shitt." Reza memukul kemudinya.


"Jangan sampai perempuan itu adalah Nona Ella. Iya,, bisa saja dia adalah sahabat dari Non Ella." pikirannya terus menuju pada foto di kamar apartemen milik Ella.


"Aku akan mencari tahu dulu."


Perempuan yang menyelamatkannya yang membuat Reza menjadi seperti ini. Kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat semangat Reza muncul.


Reza segera keluar dari mobil saat melihat mobil Vano tiba di area parkiran. Dengan cekatan Reza menghampiri mobil yang di naiki Vano dan membuka pintu untuk Tuannya.


"Silahkan Tuan Vano. Tuan Egi sudah menunggu kedatangan anda." asisten Tuan Egi menyambut kedatangan mereka di pintu masuk.


"Huh,, baru lihat gue udah panas. Apalagi megang."


"Beruntung banget Ella. Sumpah,, perfect."


"Seandainya milik gue. Gue kurung di rumah."


"Jika yang di sampingnya itu gue. Pasti gue akan sombong."


Sayup-sayup terdengar cuitan dari para karyawan kantor. Tanpa menghiraukan, mereka tetap berjalan. Mungkin hal seperti ini sudah biasa bagi Vano.


"Sekarang kita ke mana?" Ella bertanya pada Hana yang sedang fokus menyetir.


"Sarapan. Aku belum sarapan."


"Oh iya, aku juga belum sarapan. Tapi perutku memang terasa nggak enak." Ella memegang perutnya yang terasa aneh.


"Itu karena kamu terlalu banyak minum."


Ella hanya menganggukkan kepalanya. Hana menghentikan mobil di depan restoran.


"Makan-makan." Ella nylonong masuk tanpa menunggu Hana.


"Mau pesan apa?" tanya Hana.


"Samakan saja." Ella memainkan ponselnya.

__ADS_1


Hana duduk di depan Ella setelah memesan makanan untuk mereka sarapan setengah makan siang. Soalnya sekarang sudah jam 10.17.


"Terimakasih." ucap Hana dan Ella pada karyawan yang mengantarkan makanan untuk mereka.


"Sekarang elo cerita. Kenapa elo tadi malam." Hana menyendok makanan ke dalam mulutnya.


"Selesai makan malam, Vano nganter Oma. Dan ya,,, elo bisa tebak lah. Dia nggak kembali. Bahkan nggak hubungi gue." Ella memainkan makanan di atas piringnya.


"Sekarang elo makan. Nanti elo malah sakit." pinta Hana.


"Semalem Oma juga tanya kapan kita akan menikah. Tapi Vano hanya diam. Sebenarnya apa sih maunya. Di ajak tunangan dulu nggak mau. Alasannya semua orang sudah tahu hubungan kita." Ella merasa jengkel sendiri.


"Apa aku hanya di permainan saja. Di jadikan alat pelampiasan nafsunya saja." ucap Ella lirih.


"Hush. Ella, jaga bicaramu. Sudah, kamu makan dulu. Perutmu harus di isi. Setelah ini kita ada pemotretan dari majalah." Hana juga merasa kasihan pada Ella. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Maaf Nona, bisa saya berfoto dengan anda. Saya adalah penggemar anda." ucap seorang perempuan Ella.


"Baiklah." Ella berdiri dan berfoto bersama dengannya.


"Terimakasih banyak." ucapnya dengan tersenyum senang.


"Terimakasih juga, makasih sudah menjadi penggemar saya." kata Ella dengan tulus.


Selesai makan, mereka segera pergi ke tempat pemotretan.


"Hari ini jadwal mu cukup padat Nona." Hana memberitahu Ella sambil menyetir.


"Bukankah lebih baik." ucap Ella menyandarkan kepalanya di jendela mobil.


"Semangat Tuan Putri,,, hamba akan selalu setia berada di samping Tuan Putri." Hana berkata sembari tersenyum.


"Lebay. Paling kalau gue nggak terkenal elo bakal tinggalin gue." celetuk Ella.


"Astaga,,, jahat banget sih elo Ell. Berprasangka buruk sama aqiiuuuuu." kata Hana sembari memonyongkan mulutnya.


"Iiihhhh gemes adek bang." Ella tertawa sambil menarik mulut Hana.


"Elo makan apa sih Ell. Bau banget tangan elo." ujar Hana.


"Apaan sih." Ella mencium sendiri jari-jari tangannya.


"Kampret elo. Wangi kayak gini, elo bilang bau." Ella menepuk pundak Hana.


*****


"Selamat datang Tuan Vano." Egi mengulurkan tangannya.


"Panggil saja Vano. Bukankah kita seumuran." Vano menyambut uluran tangan Egi.


"Baiklah. Egi dan Vano." ujar Egi dengan tersenyum.


Mereka membicarakan kerja sama yang akan mereka lakukan bersama sampai mendapatkan kata sepakat.


"Oke. Berarti semuanya sudah beres. Tinggal mencari modelnya saja." kata Egi.

__ADS_1


"Kenapa tidak memakai Nona Ella saja." celetuk sekertaris Egi.


__ADS_2