DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 127


__ADS_3

Di sinilah sekarang Ella berada. Di jalanan. Mengikuti ajang balap motor liar para pemuda saat tengah malam. Bahkan sekarang sudah hampir pukul 2 dini hari.


Setelah kepergian Vano membawa Oma Yeti ke rumah sakit. Ella masih menunggu Vano. Membersihkan badan dan bersiap menyambut kedatangan suaminya dengan semangat.


Satu jam lebih Ella menunggu. Vano belum datang juga. "Sial, kenapa gue harus menunggu dia. Mungkin dia akan menginap di rumah sakit." batin Ella dongkol. Merasa jika Vano menjadikan dirinya bahan mainan.


Menikahinya dan meninggalkan di malam pertama. Memang benar, mungkin ini bukan yang pertama untuk Ella dan Vano melakukan hubungan suami istri, tapi setidaknya Ella menginginkan malam pertama sebagai pasangan suami istri menjadi malam dimana dirinya dan Vano saling merasakan kesenangan.


Mungkin bagi Ella tidak masalah jika tidak terjadi apapun di malam ini, tapi dirinya menginginkan berada di dekapan suaminya saat dia memejamkan mata.


Pasti rasanya berbeda. Tidur bersama sebelum dan sesudah menikah. Itulah yang ada di pikiran Ella. Ternyata,,, kenyataan tidak sesuai keinginan.


Mungkin keinginan Ella terdengar egois. Apalagi Oma Yeti sedang berbaring di rumah sakit. Entahlah, sakit sungguhan atau hanya berpura-pura. Dan Ella tidak peduli.


Dan sekarang, Ella tak mau memikirkan hal tersebut. "Baiklah. Lebih baik gue cari kesenangan sendiri." Ella berdiri dan berganti pakaian.


Tidak ingin memikirkan sesuatu yang membuatnya pusing. Meninggalkan hotel tanpa di ketahui siapapun. Bahkan tidak izin pada Vano yang notabennya sekarang adalah suaminya. Massaa bodo.


Ella menelpon seseorang dan menyuruhnya mengantarkan motor ke tempatnya berada. Dengan memakai jaket kulit besar dan helm tertutup, tidak ada yang menyangka jika ternyata dia adalah seorang perempuan cantik dan seksi.


Apalagi jika di lihat, Ella tampak macho dengan penampilannya. Bahkan, perempuan-perempuan di pinggir jalan selalu berteriak padanya.


Brummmmmmm........suara bising kendaraan menandakan balapan sudah di mulai. Teriakan penyemangat keluar dari mulut-mulut penonton.


Ciiiiitttttt...... "Hoooeeeee......Huuu...." beberapa orang mengerumuni sang juara balap. Siapa lagi kalau bukan Ella.


Ella mengambil uang taruhannya. Setengah dia masukkan ke dalam sakunya, setengah lagi dia bagi-bagikan pada penonton.


"Makasih ganteng." ucap beberapa perempuan dengan tangan meraba lengan Ella sekilas.


"Jadikan aku pacarmu sayang...!!!" dan masih banyak lagi celetukan dari mereka untuk Ella.


"Sepertinya kita bisa berteman. Sesama cowok ganteng. Pasti akan seru." ucap seorang remaja lelaki dengan narsis. Padahal jika dilihat, dia sama sekali tidak tampan.


Ella tersenyum dalam helmnya. "Teriakan ini yang bisa bikin gue lupa dengan perasaan hati gue yang amburadul gaes." batin Ella, melajukan motornya meninggalkan tempat balapan.

__ADS_1


Dua sepeda motor mengikutinya dari belakang. Dan Ella menyadarinya. "Gue sedang badmood. Jangan salahin gue jika kalian kenapa-napa."


Ternyata diantara mereka, ada Marcell yang juga ikut menyaksikan balapan tersebut.


Apakah Marcell tidak menghadiri acara pernikahan Vano dan Ella? Menghadiri.


Marcell hadir bersama dengan sang mama. Tante Dewi. Tapi Marcell hanya menampakkan batang hidungnya sebentar, kemudian meninggalkan sang mama di tempat pesta. Dan malah lari ke tempat ini.


"Berhenti!!!" dua orang berboncengan menyalip dan berhenti tepat di depan motor Ella. Sementara dua orang yang berboncengan lainnya berhenti di samping Ella.


Sekarang Ella di kepung oleh empat orang remaja lelaki. "Sebaiknya kalian menyingkir." ucap Ella membuat semuanya terkejut.


"Gila. Ternyata perempuan." ucapnya mendengar suara Ella.


"Hoee,,, brow. Elo dikalahkan oleh perempuan." ucapnya meledek pada temannya yang tadi juga sempat ikut lomba. Namun kalah dari Ella.


Temannya semakin tidak terima saat mengetahui jika lawannya adalah seorang perempuan. Dan yang lebih memalukan, dirinya kalah. Eladalhahhh....


Tak jauh dari mereka, Marcel yang hendak melajukan mobilnya berhenti. Dan mencoba mengamati dari dalam. Dirinya tidak ingin mengambil tindakan yang gegabah.


Keempat pemuda di hadapan Ella terpesona saat melihat wajah cantik di dalam helm tersebut. Ella melemparkan helmnya ke arah mereka. Dan.... helm jatuh ke bawah bersama kedua pemuda tersebut.


Dengan gerakan cepat, Ella menyerang kedua pemuda yang masih terbengong. Seperti memikirkan sesuatu. "Gue kira kalian hebat, ternyata. Sumpah. Mengecewakan." sungut Ella.


Keempatnya terkapar di aspal dengan tangan memegang perut mereka, kesakitan. Ella mendekat dan menendang mereka. "Astaga....!!!" teriak Ella merasa kesal karena mereka mudah di kalahkan. Bahkan tidak melawan.


Seorang pemuda berdiri dan hendak meninju ke arah Ella. Tapi tangannya seakan berhenti di udara saat Ella menatapnya dengan tajam.


"Cupu. Lemah!!!" teriak Ella.


Ya,,, mereka hanya sekelompok anak SMA yang hanya bisa bersenang-senang menggunakan fasilitas orang tua.


Tanpa mengambil helmnya, Ella kembali menaiki motornya dan meninggalkan keempat pemuda tadi.


"Tidak mungkin." Marcell dari jarak lumayan jauh melihat perempuan tersebut. "Seperti dia." gumamnya.

__ADS_1


Segera diinjaknya gas menuju ke empat pemuda yang sedang kesakitan, setelah memastikan perempuan tadi menjauh.


Marcell turun dari mobilnya dengan memegang ponsel di tangannya. "Apa dia perempuan tadi?" tanyanya, menunjukkan sebuah gambar di ponselnya. Dengan satu tangan mencengkeram jaket pemuda tersebut.


"I-iya." jawabnya dengan takut. Karena keempatnya tahu siapa Marcell. Karena sebelumnya Marcell adalah kakak kelas mereka saat SMA. Tapi sekarang Marcell baru beberapa bulan masuk universitas.


Mata Marcell melihat ke arah helm Ella yang teronggok, ditinggalkan oleh pemiliknya. Marcell mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mobil bersama dengan tubuhnya.


"Bagaimana bisa?" Marcell menggeleng pelan.


Dirinya berpikir jika Ella baru saja melangsungkan pesta pernikahan dengan saudaranya. Dan tentu saja, seharusnya mereka sedang di dalam kamar. Berduaan. Bermesraan. Dan melakukan hal yang panas.


Tapi Ella, malah berkeliaran di jalan. Dengan waktu seperti ini. Larut malam. "Kemana Vano?" tanya Marcell pada dirinya sendiri.


Marcell menghentikan laju mobilnya, dan menepi di pinggi jalan. "Aa...!!!" Marcell memukul kemudi di depannya.


"Kenapa bayangan dia seperti menari-nari di kepalaku." Marcell menatap helm yang dia pungut di jalan. Yang di yakininya milik Ella.


Marcell teringat perempuan yang pernah menolongnya dengan beberapa temannya. "Gaya bertarungnya juga sama. Mungkinkan orang yang sama."


Tangan Marcell mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah benda kecil, seperti assesoris. Yang si jatuhkan perempuan tersebut saat menolongnya.


Marcell memejamkan mata. Mengingat bagaimana gahar dan garangnya Ella berada si atas motor sport. "Seandainya gue yang jadi motornya." gumam Marcell tersenyum.


"Aaa,,, come on Marcell. Jangan gila. Dia istri Vano. Saudara elo. Astaga." Marcell memukul sendiri dahinya.


Sementara di kamar hotel, ponsel Ella terus berdering. Sedangkan pemiliknya dengan santai melajukan motor membelah kota yang sepi. Karena waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari.


Tiba di kamar hotel, Ella membersihkan badannya. Berganti pakaian tidur. Dirinya seperti tuli, dan acuh mendengar ponselnya terus mengeluarkan suara.


"Aaa.... ngantuknya." Ella memejamkan mata dan terlelap.


Persetan dengan Vano yang berada di rumah sakit memikirkan dirinya. Masa bodo dengan pandangan dan pikiran keluarga Vano pada dirinya.


Ella benar-benar tidak peduli.

__ADS_1


__ADS_2