DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 147


__ADS_3

Tanpa mereka sadari, Ella mendengarkan percakapan keduanya.


"Hubungi boss, bilang padanya jika paket berada di jalan." ucap lelaki yang sedang mengemudi mobil tersebut.


"Sial. Paket. Mereka pikir gue barang." batin Ella mengumpat mendengar perkataan mereka.


Ella bisa saja menghabisi mereka di sini. Sekarang juga. Tapi menurutnya, permainannya jadi tidak seru. Dan yang paling Ella ingin tahu, siapa dalang di balik penculikan dirinya.


Rasa penasarannya kian membuncah. Apalagi dirinya baru sebentar di sini. Bahkan masih beberapa hari. Ella merasa tidak pernah menyakiti seseorang selama dia berada disini.


Sempat berpikir jika musuh papanya dan Vano yang melakukan. Tapi itu mustahil. Mereka pasti sudah tahu siapa Ella. Dan pastinya tidak akan menggunakan trik secerdas sekarang ini. Sungguh permainan anak-anak.


"Boss sudah menunggu di tempat." ucapnya.


"****. Sebenarnya bisa nyetir nggak sih. Dari tadi nggak sampai-sampai. Lelet banget. Beruntung nggak kerja sama gue. Langsung gue singkirkan." batin Ella mendumal, dirinya merasa bosan terus berpura-pura pingsan.


Kakinya sudah tidak sabar menendang ataupun menginjak sesuatu. Dan tangannya sudah gatal ingin memecahkan kepala orang dengan pistol miliknya. Ataupun menyayat dengan pisau lipatnya.


Seorang lelaki di sebelah pengemudi menoleh ke belakang. Melihat ke arah Ella dan tersenyum menjijikkan. Tapi mendapat respon yang berbeda dari rekannya. "Jangan berpikir macam-macam. Kita sudah di bayar. Lebih baik kita selesaikan segera." tegur rekannya.


"Ckkk... Aku mengerti. Tapi lihatlah. Dia sangat seksi." ucapnya berpikir liar tentang Ella.


"Jauhkan pikiran mesummu. Atau boss akan menggantung kita hidup-hidup." ucapnya.


"Dasar, elo tadi udah pegang tubuh gue brengsek." batin Ella mengingat jika keduanya membopong Ella.


"Lihat saja nanti, kalian akan menerima hadiah dariku." batin Ella.


"Sebentar saja. Boss juga nggak akan tahu." rengeknya.


"Sebaiknya kau diam. Kau lupa, ini mobil siapa?" ucapnya lirih, mengingatkan rekan kerjanya.


"Maaf, lupa." ucapnya membalikkan badan ke depan, seperti semula.


"Ternyata benar. Seperti dugaan gue. Mobil ini ada alat pengintainya." batin Ella.


Ella merasa jika mobil yang membawanya sedikit melambat. "Pasti ini tempatnya." batin Ella merasa lega.


Ella merasakan mobil berhenti. Dan tak lama, terdengar suara pintu mobil terbuka dan juga tertutup.


"Dia ada di dalam. Dibelakang."


Kali ini tubuh Ella kembali diangkat untuk di keluarkan dari dalam mobil. Tapi Ella merasa jika tubuhnya di angkat oleh orang yang berbeda.


"Kelihatannya mereka banyak." batin Ella seperti anjing pelacak yang mengendus bau untuk memastikan sesuatu. Karena tak mungkin Ella membuka sedikit matanya. Dia takut ketahuan.


Lagi pula indera penciumannya tak kalah tajam dari indera penglihatannya. Apalagi Ella mempunyai insting yang sangat tajam.


"Bawa masuk." perintah seorang perempuan.

__ADS_1


"Perempuan." batin Ella mendengar adanya suara perempuan. Dengan suara yang pernah dia dengar akhir-akhir ini. Tapi siapa, Ella mencoba kembali mengingat suara tersebut.


"Kalian jaga di luar. Ingat, jangan biarkan siapapun masuk. Paham." tegasnya.


"Paham boss." ucap mereka serempak.


Ella merasa jika dirinya di taruh di atas kasur empuk.


"Kenapa dia belum sadar!!" teriaknya membuat gendang telinga Ella seakan hampir pecah.


"Apa perlu kita bangunkan boss."


"Tidak perlu repot-repot, aku bisa bangun sendiri." Ella membuka matanya dan duduk dengan santai, tidak lupa seringai terbit dari bibirnya.


Nampak di depan Ella ada seorang perempuan sebaya dengan dirinya. Dan wajahnya sangat familiar sekali. Di samping perempuan tersebut, ada dua lelaki yang sepertinya adalah bawahannya.


"Sudah gue duga. Ternyata elo." batin Ella tersentum samar.


*


*


*


Vano yang sedang duduk di kursi ruang rawat Oma Yeti mengernyitkan keningnya, melihat keberadaan sang istri.


"Apa ada yang salah. Bukankah seharusnya Ella ada di hotel. Tapi kenapa,,," batin Vano.


Segera Vano menghubungi Ella, tapi tidak di angkat oleh pemilik ponselnya. "Kamu kemana sayang." batin Vano.


"Ada apa Van?" tanya sang papa melihat Vano khawatir.


Vano memperlihatkan ponselnya pada sang papa. "Ella." ucap Vano lirih. Dan sepertinya Tuan Danto mengerti maksud putranya.


"Aku pergi dulu pa." bisik Vano, karena semua sudah terlelap dalam tidurnya.


"Perlu bantuan?" tanya Tuan Danto, Vano menggeleng dengan cepat.


"Hati-hati." pesan sang papa. Vano dengan pelan membuka pintu dan meninggalkan ruang rawat Oma Yeti. Pergi ke tempat di mana istrinya sekarang berada.


Vano melajukan mobilnya dengan cepat. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sana.sayang." gumam Vano, mengingat waktu sudah cukup larut.


Di belahan dunia lain, dua sepasang kekasih sedang berbincang di taman.


"Han... Sayang." Denis menepuk pelan paha Hana, menyadarkan Hana dari lamunannya.


"Ehhh..." ucap Hana.


"Katanya mau bicara, mau bicara apa?" tanya Denis dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Emmm,,,,, seandainya. Kamu... Aku.... Emmm." Hana meremas jari-jarinya. Perasaan gugup tiba-tiba menghampiri.


Padahal Hana sudah bertekad akan memberitahu Denis. Terlepas dari apa yang akan menjadi keputusan Denis, Hana akan menerima dengan lapang dada.


Lapang dada, semudah itu. Pasti tidak bisa. Lain di mulut, lain di hati. Mulut bisa berucap apapun. Tapi hati, akan merasakan sakitnya dan senangnya. Dan hati tidak bisa berbohong.


Hana membuang nafasnya perlahan. Memejamkan mata. "Aku sudah tidak perawan." ucap Hana lirih dengan menundukkan kepala dan mata masih terpejam. Seolah dirinya takut untuk memandang Denis.


Hening......


"Haaaa,,,,,, ha,,,,,,,," seketika Hana membuka matanya mendengar Denis tertawa.


"Aku serius Den, aku tidak bercanda." ucap Hana dengan mata berkaca-kaca melihat ke arah Denis yang sedang tertawa.


Hana mengira Denis tertawa karena Denis berpikir jika dirinya bercanda melontarkan kalimat tersebut.


"Den,,, aku serius." Hana menggoyang-goyang lengan sang kekasih. Membuat Denis menghentikan tawanya dan menatap Hana.


"Lantas, apa yang kamu inginkan?" tanya Denis dengan santai.


Hana mengalihkan pandangannya. Memutus kontak mata dengan Denis. Memandang lurus ke depan. "Sekarang, terserah kamu. Aku ikhlas jika kamu menyudahi hubungan kita sampai di sini. Aku hanya ingin jujur. Aku tidak ingin membuat kamu menyesal nantinya. Memilih perempuan seperti aku." jelas Hana dengan tatapan sedih.


Denis merangkul pundak Hana. Dan membisikkan sesuatu yang membuat Hana melongo dan menoleh ke arah Denis. "Aku juga sudah tidak perjaka." bisiknya.


Hana mengernyitkan keningnya sembari mengerjap-ngerjapkan matanya dengan lucu. Denis yang melihatnya menarik gemas hidung Hana.


"Iihh." Hana menggosok pelan hidungnya yang sedikit terasa sakit karena Denis.


"Cuma mau bilang itu." Denis mencium singkat bibir Hana.


"Den, ini tempat umum." sungut Hana, karena saat ini mereka berada di taman.


"Kamu,,,," Hana menghentikan kalimatnya dengan mata menatap ke arah junior Denis.


"Lihat apa sayang?" goda Denis.


"Nggak ada." Hana segera memalingkan wajahnya, malu karena ketahuan oleh Denis.


"Mesum." umpatnya lirih.


"Tapi aku pastikan, aku hanya berhubungan dengan satu perempuan. Mantan kekasihku saat aku sedang berada di luar negeri." jelas Denis.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Denis, karena raut wajah Hana tampak masih bingung. Hana langsung mengangguk dan tersenyum.


"Bagaimana dengan kamu? Apa juga mantan kekasih kamu?" tanya Denis membuat nafas Hana seolah tercekat di leher. Lagi-lagi Hana segera mengangguk.


"Setiap orang mempunyai masa lalu. Dan aku berjanji, akan menerima masa lalu kamu. Jadi,,, kamu maukan berjanji juga. Terima masa lalu aku." pinta Denis memegang kedua telapak tangan Ella.


Dan Hana kembali tersenyum dan menganggukkan kepala. "Bagaimana jika kamu tahu, semua itu bukan masa lalu aku. Tapi semua terjadi saat kita menjalin hubungan. Dan dengan seseorang yang kamu kenal." batin Hana.

__ADS_1


__ADS_2