
Ketukan pintu membangunkan Ella dari tidur lelapnya. "Sebentar." teriak Ella.
Ella menggelung asal rambutnya. Dan membuka pintu kamar. Masih menggunakan kaos kebesaran dengan celana pendek. "Ada apa?" tanya Ella dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur.
"Semua sudah selesai Nona." ucapnya.
Ella kembali masuk ke dalam kamar, mengambil pistol dan pisau lipat. Menyelipkan di pinggangnya. Tanpa mengganti pakaian, Ella menemui bawahannya.
Ella, beruntung di sini tidak ada Vano. Jika Vano tahu, pasti dia akan marah. Terlebih Ella keluar dari kamar masih menggunakan kaos kebesaran dengan celana pendek. Bahkan, celananya nyaris tidak kelihatan.
"Bagaimana?" tanya Ella setelah sampai di dalam ruangan. Semua bawahan Ella yang berada di sana terhipnotis dengan tampilan bossnya tersebut.
Biasanya Ella akan tampil garang di depan mereka, kini malah terkesan seksi dan santai. Tanpa riasan make-up sama sekali. Karena sebelum tidur, Ella selalu membersihkan wajahnya dari make-up.
Tapi mereka sadar, siapa yang sedang duduk di kursi depan mereka. Perempuan berparas malaikat, yang sekejap bisa menjadi malaikat pencabut nyawa, bagi siapapun.
Seorang bawahan menyodorkan selembar kertas pada Ella. Dengan teliti dan seksama, Ella membacanya. "Bagaimana dengan keempat penghianat itu?" tanya Ella.
"……………" bisiknya pada Ella. Membuat Ella paham, bagaimana siasat mereka untuk melumpuhkan orang-orang Ella.
Beberapa orang yang berpakaian misterius tadi memang tidak di perbolehkan oleh Ella untuk mengeluarkan suara, saat mereka di depan anak buah Ella. Atau saat mereka memakai pakaian tertutup seperti saat datang kesini.
Ella tidak ingin ada yang tahu identitas mereka. Satupun. Bahkan paman Hakipun tidak tahu. Bukan Ella tidak percaya dengan para bawahannya. Termasuk Paman Haki.
Namun Ella hanya ingin berjaga-jaga. Ular pun suatu saat akan mematuk majikannya saat majikannya lengah. Tidak mungkin dengan mereka, manusia. Yang membutuhkan sesuatu untuk bertahan hidup. Seperti uang, misalnya. Atau kedudukan.
Dan terbukti. Sekarang ada pengkhianat yang rela menusuk Ella dari belakang. Hanya karena uang. Padahal selama ini Ella sudah memberi mereka cukup uang. Bahkan, Ella juga selalu memikirkan keluarga mereka.
"Kalian, yang berada di rumah paman Haki. Sementara akan dirawat di rumah sakit. Milik teman saya." ucap Ella, membuat mereka semua tidak mengerti. Kenapa mereka harus di rawat. Padahal mereka sehat. Dan tidak merasakan sakit, meski hanya sekedar batuk biasa.
"Ada racun di dalam tubuh kalian." jelas Ella. Seketika mata mereka memandang penuh tanya pada bossnya tersebut. Antara percaya dan tidak percaya dengan perkataan Ell.
"Keempat penghianat yang telah saya tembak kakinya. Mereka setiap hari mencampurkan racun ke dalam makanan dan minuman kalian." ucap Ella, membuat wajah mereka menjadi pias dan pucat.
"Racun." gumam mereka saling pandang.
"Racun ini tidak akan langsung membunuh. Tapi merongrong tubuh kalian. Bahkan kalian tidak sadar jika tubuh kalian sudah terinfeksi racun." ucap Ella.
"Lama kelamaan tubuh kalian akan terasa lemas. Dan sangat enggan untuk beraktifitas. Keinginan terbesar kalian hanya tidur dan tidur."
__ADS_1
"Jika sudah sampai tahap tersebut, kalian akan mengalami strok ringan. Dan kalian pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Dengan mudah mereka masuk ke dalam organisasi kita. Dan dengan mudah pula mereka melenyapkan kita." ucap Ella.
"Paman Haki." ucap salah satu dari mereka. Lantaran makanan dan minuman yang di konsumsi oleh paman Haki, sama seperti apa yang di masukkan ke dalam mulut mereka.
"Sekarang paman Haki sedang menjalankan tugas dari saya. Setelah tugas selesai, paman Haki akan langsung di periksa."
"Jika ditemukan kadar racun di dalam tubuh paman Haki, sesegera mungkin beliau akan mengikuti kalian untuk tahap penghilangan racun."
"Kalian tenang saja. Beruntung racun dalam tubuh kalian masih terbilang pasif. Karena mungkin, mereka masih menjalankan rencananya masih selama seminggu. Sementara, racun seperti di tubuh kalian akan bekerja jika kalian mengkonsumsinya selama satu bulan berturut-tirut."
"Ganti baju kalian. Dan ikut mereka." ucap Ella pada beberapa anak buahnya yang positif terdeteksi racun dalam tubuhnya.
"Baik Nona." ucap mereka serempak. Pasti ada rasa takut di benak mereka. Karena itulah Ella memberi semangat dan motivasi pada mereka.
Bahwasannya racun di dalam tubuh mereka akan di sembuhkan. Dan Ella sendiri juga tidak tahu, sampai kapan mereka akan di rawat.
Yang berarti, Ella akan kehilangan beberapa anak buah dalam sementara waktu yang tidak bisa di tentukan.
"Dari mana mereka mendapatkan racun seperti itu." batin Ella.
"Pergi ke rumah paman Haki. Cari sesuatu yang mencurigakan. Termasuk di kamar paman Haki. Sendiri." ucap Ella lirih.
"Baik Nona." ucapnya segera melakukan perintah dari Ella.
"……………" bisik seorang bawahan berpakaian tertutup lada Ella.
"Kalian jaga di sekitar markas. Di luar sudah ada beberapa anak buah Vano. Kalian bisa bergabung." perintah Ella.
"Satu lagi. Tingkatkan kewaspadaan kalian. Jumlah anggota kita berkurang." imbuh Ella, karena sebagian sudah berangkat ke rumah sakit untuk pengobatan.
Semuanya meninggalkan tempat, berjaga di tempat yang seharusnya mereka tempati.
Ella dan seorang yang berpakaian tertutup masuk ke dalam ruangan. Tepatnya, di ruangan tersebut nampak ada banyak komputer yang tengah menyala.
"Kalian keluar sebentar." ucap Ella menyuruh beberapa bawahannya yang berada di ruangan tersebut untuk keluar, meninggalkan Ella dan seorang saja.
"Lihat ini." ucapnya. Dan dari suaranya, dia adalah seorang laki-laki. Memperlihatkan CCTV di dalam rumah Paman Haki.
__ADS_1
Seseorang yang dengan leluasa memasang beberapa kamera pengintai di setiap sudut ruangan rumah paman Haki. Termasuk kamar pribadi paman Haki. Dan dia adalah salah satu bawahan Ella yang berkhianat.
"Kenapa paman Haki sampai tidak menyadarinya?" gumam Ella masih terdengar oleh orang di sebelahnya.
"Mungkin karena Paman Haki sudah begitu percaya pada mereka. Apalagi mereka sudah ikut dengan beliau sudah lama." jelasnya.
Itulah kenapa Ella tidak pernah percaya pada siapapun di dunia bawah tanah. Selain papanya. Tuan Haris.
"Paman Haki. Beliau dalam bahaya." ucap Ella. Mengingat mereka pasti tahu kemana Paman Haki akan pergi, lewat kamera pengintai.
Segera tangan lincah milik Ella bergerak di atas keyboard. Mencoba melacak keberadaan paman Haki lewat mobil yang di tumpangi paman Haki.
Setelah mendapatkan titik temu keberadaan mobil yang di kendarai oleh Paman Haki, Ella segera menyuruh anak buahnya untuk secepatnya bergerak.
"Kalian tahukan apa yang harus kalian lakukan?" ucap Ella.
"Baik, Nona." segera mereka menuju ke tempat di mana paman Haki di duga berada di sana.
"Pantau terus lewat layar. Jika ada yang sesuatu, segera beri tahu aku." ujar Ella.
"Baik Nona." beberapa anak buah Ella, segera duduk di depan layar komputer.
Dan Ella, pergi ke ruang bawah tanah. Di mana ke empat pengkhianat tersebut di letakkan.
*********
Di kantor, Vano tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya tetap tertuju pada Ella. Apalagi Ella tadi belum menjawab perihal masalah yang sedang dia hadapi.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Vano pada Reza.
"Tuan, masalah ini tidak sesederhana yang kita pikirkan. Sepertinya ada sesuatu yang belum saya pahami di sini." ucap Reza.
"Sewaktu saya berada di rumah paman Haki. Saya merasa di awasi oleh seseorang. Tapi tidak ada siapapun di sekitar saya. Pertama kali, ada beberapa video yang menghilang dari rekaman CCTV. Tapi saya dapat mengembalikannya."
"Lalu?"
"Terlalu mudah untuk mengembalikan video yang hilang dari putarannya. Jika memang di hilangkan, pasti saya akan sedikit kesulitan saat mengembalikannya, tapi ini tidak Tuan."
Reza dan Vano saling pandang. Mereka mencoba mengutak-utik sendiri masalah dalam organisasi milik Ella.
__ADS_1