
Krekkk... Viki menoleh ke arah pintu. Dimana pintu di buka dari luar dengan pelan. "Tante." segera Viki berdiri begitu melihat siapa sosok di balik pintu. Segera Viki menghampiri Nyonya Ane. Dan menuntut beliau duduk di kursi yang sempat Viki duduki.
Nyonya Ane menatap nanar ke arah sang putri. Yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. "Ella sudah melewati masa kritis. Dia akan segera sadar tante." ucap Viki, menaruh kedua tangannya di pundak Nyonya Ane.
Nyonya Ane memegang tangan Viki di pundaknya. "Dia perempuan yang kuat. Tante yakin, Ella akan segera bangun dari tidurnya." ucap Nyonya Ane, sembari menghapus air matanya.
"Pergilah jika kamu ingin pergi." ucap Nyonya Ane.
"Mungkin kamu ingin melihat pemakaman Vano." Nyonya Ane menutup mulutnya. Menahan suara tangisnya. Mengingat kembali jika menantunya telah pergi selamanya. Meninggalkan sang putri yang sangat di sayangnya.
Viki sedikit berjongkok. Menjadikan lututnya sebagai penopang tubuhnya. Memeluk Nyonya Ane dari samping.
"Tante, kita harus kuat. Untuk Ella." ucap Viki.
"Iya." ucap Nyonya Ane dengan nada parau, tangannya mengelus lembut rambut Viki.
Viki mengurai pelukannya. "Viki akan tetap di sini tan. Menemani tante dan Ella." ujar Viki.
Viki mendapat perintah dari Tuan Haris untuk menjaga Ella. Dan Viki tidak akan meninggalkan ruangan ini.
Lagi pula Viki akan khawatir dan cemas, jika pergi meninggalkan Ella, berdua. Hanya bersama Nyonya Ane. Meskipun di depan ruangan ada beberapa anak buah Tuan Haris yang berjaga.
Bahkan, di beberapa sudut rumah sakit, juga tersebar anak buah Tuan Haris. Sungguh, Tuan Haris tidak ingin kecolongan.
Cukup di kehilangan menantu dan juga calon cucunya. Beliau tidak ingin ingin kehilangan putri yang sangat disayangnya.
Tapi tetap saja, Viki mengkhawatirkan jika ada musuh yang menggunakan keadaan Ella seperti ini untuk mencelakai Ella. Dan Viki, tidak akan membiarkannya.
"Terimakasih sayang." ucap Nyonya Ane, mengelus pelan telapak tangan Viki yang berada di pangkuannya.
"Sebaiknya tante istirahat saja. Ella, biar Viki yang menjaga." saran Viki.
"Tante sudah cukup istirahatnya Vik." tolak Nyonya Ane.
Nyonya Ane duduk di kursi dekat ranjang Ella. Dan Viki, dia duduk di kursi empuk dan panjang yang terdapat di ruang rawat Ella.
Sementara, di tempat lain. Anak buah Paman Haki masuk ke dalam ruang rawat Hana. "Nona Hana." gumamnya, melihat Hana sudah membuka kedua matanya. Tapi hanya diam dan menangis.
Segera dia berlari memanggil dokter. "Apa ada keluarga pasien?" tanya Dokter.
"Keluarga pasien?" tanyanya dengan nada rendah.
"Sebentar. Saya akan panggilkan keluarga Tuan Haris." ucapnya segera berlari keluar ruangan.
Dokter tersebut bernafas panjang. "Hari ini benar-benar hari yang luar biasa. Sungguh melelahkan." gumam sang dokter.
Bagaimana tidak, sejak beberapa jam yang lalu, semua dokter di rumah sakit seakan memiliki penyakit jantung. Nyawa mereka seperti di ujung tanduk.
Dari mulai Ella keguguran. Kematian Vano. Ella mengalami koma. Dan sekarang Oma Yeti tengah anfal.
"Dua keluarga berkuasa yang tertimpa masalah. Semua pasti terkena imbasnya." gumam sang dokter.
Memang benar apa yang di ucapkan dokter tersebut. Jika saat ini rumah sakit tempatnya bekerja sedang bekerja dengan sangat baik untuk melayani mereka.
Dan pasti nanti, para pebisnis yang akan merasakan dampaknya. Entah itu berdampak baik, atau buruk.
"Bagaimana?" tanya Viki membuyarkan lamunan sang dokter.
Ternyata anak buah paman Haki memberitahu Nyonya Ane. Tapi beliau tidak bisa meninggalkan Ella sendirian. Alhasil, Vikilah yang menemui sang dokter. Di ruangan Hana.
"Sepertinya Nona Hana merasa tertekan. Ada baiknya, jika dia menceritakan masalahnya pada orang lain."
"Apa bisa membuat dia menjadi lebih baik?" tanya Viki.
"Setidaknya Nona Hana merasa, beban yang dipikulnya akan berkurang. Dan itu dapat membuatnya lebih baik." jelas sang dokter.
Viki memandang Hana yang masih terdiam dan menangis di atas ranjang. "Saya permisi." ucap sang dokter.
__ADS_1
"Sebentar." kata Viki, menghentikan langkah sang dokter. "Apa bisa infusnya di cabut?" tanya Viki.
"Baiklah, lagipula keadaan Nona Hana sudah membaik. Hanya butuh seseorang di sampingnya. Saya akan panggilkan perawat dulu."
"Ckkkk,,,, tidak perlu memanggil perawat. Kenapa tidak anda saja yang melakukannya. Jangan membuang-buang waktu." ucap Viki menohok.
"Baik Tuan." ucap sang dokter pasrah.
Selesai selang infus dicabut dari tangannya, Viki menaruh Hana di kursi roda. Dan membawa Hana menuju ke ruangan dimana Ella dan Nyonya Ane berada.
"Hana..." ucap Nyonya Ane, saat melihat Viki datang membawa Hana menggunakan kursi roda.
"Mama..." ucap Hana lemah.
Segera tante Ane berdiri dan menghampiri sahabat dari putrinya, yang sudah di anggap sebagai anak olehnya.
Hana melihat ke arah Ella. Air matanya kembali menetes. "Kamu jangan khawatir. Ella akan membuka matanya sebentar lagi." ucap Nyonya Ane.
"Benarkah?" tanya Hana.
"Iya." jawab Nyonya Ane, tersenyum hambar.
Hana berdiri dari kursi rodanya. Dengan siaga, Viki merangkul tubuh lemah Hana. "Sebaiknya kamu tetap di kursi roda." pinta Viki. Namun Hana hanya menggeleng pelan.
Mau tak mau, Hana di bantu Viki berjalan mendekati ranjang tempat Ella berbaring. Dengan Nyonya Ane berjalan di samping mereka.
"Maafkan aku Elll,,, semua ini karena aku. Seharusnya aku yang berada di sana. Seharusnya, sekarang akulah yang terkubur di tanah. Bukan Vano. Maafkan aku Ell.. Maaf...." Hana menangis meraung-raung di dekat Ella.
Nyonya Ane dan Viki saling tatap. Mereka merasa heran bercampur bingung mendengar perkataan dari Hana.
Viki mendekat ke arah Nyonya Ane. "Dokter mengatakan jika kondisi Hana sedang tidak baik. Dia merasa tertekan. Kemungkinan besar, Hana menyimpan masalah besar seorang diri." ucap Viki lirih di samping Nyonya Ane.
Nyonya Ane mengangguk ke arah Viki. "Han, kita duduk di sana saja. Jangan mengganggu Ella. Biarkan dia istirahat." ucap Viki, merangkul Hana. Dan membawanya duduk di sofa.
Nyonya Ane memandang ke arah sang anak. Setelahnya mengikuti Hana dan Viki. "Sudah jangan menangis. Ella akan sedih, jika melihat kamu seperti ini." ucap Nyonya Ane.
Hana memeluk erat tubuh Nyonya Ane. Tangan Nyonya Ane menepuk pelan bahu Hana berkali-kali.
Ting,,,, terdengar suara ponsel berbunyi. Dan itu adalah ponsel milik Viki. "Sebentar tante." ucap Viki. Segera keluar dari dalam kamar Ella.
"Katakan sayang. Ada apa?" tanya Nyonya Ane.
Hana masih diam. Sesekali terdengar suara isak kecil dari nafas Hana. "Ma,, ini semua karena Hana." ucap Hana lirih.
Dirinya berniat menceritakan semuanya pada Nyonya Ane. Entahlah, apa yang akan terjadi pada dirinya. Hana sudah siap, meskipun keluarga Ella akan membencinya.
"Katakan pada mama. Apa yang sebenarnya terjadi. Jangan kamu memendam sendiri." ucap Nyonya Ane. Beliau melihat ada rasa tertekan dan juga rasa takut pada diri Hana.
"Ella dan Vano kecelakaan karena Hana. Semua yang menimpa mereka, karena Hana." ucap Hana, kembali menangis.
"Maksud kamu apa sayang? Mama tidak mengerti." ujar Nyonya Ane.
"Ma, Hana akan bercerita semuanya. Setelah itu, Hana rela. Jika mama akan membenci Hana." ucap Hana, mengurai pelukannya dari Nyonya Ane.
"Hana tidak sanggup menahan beban ini. Kepala Hana terasa mau meledak setiap memikirkannya. Hana ikhlas, jika mama tidak mau lagi menemui Hana." imbuh Hana.
Tangan Nyonya Ane mengusap air mata di pipi Hana. "Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian." batin Nyonya Hana, memandang ke arah Ella. Dan seketika, pandangannya beralih menatap Hana.
Ada rasa kasihan terhadap Hana. Bahkan mata Hana sudah sangat sembab. Melebihi dirinya. "Katakan. Jangan pernah memendam sendiri. Jika biasanya ada Ella, yang selalu ada untuk kamu. Sekarang ada mama. Jangan pernah takut." ucap Nyonya Ane.
"Ma.. Hana penyebab semua ini. Hana yang menyebabkan kejadian ini." ucap Hana.
Tanpa Hana dan Nyonya Ane sadari ada seseorang yang tengah mendengarkan pembicaraan keduanya. Viki telah masuk ke dalam ruangan.
Tapi langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Hana. Membuat Viki mengurungkan niatnya untuk menghampiri keduanya. Dan lebih memilih berdiri di balik tembok. Mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Hana.
"Sayang, jangan buat mama bingung. Ceritakan semuanya." ucap Nyonya Ane.
__ADS_1
"Ella mengetahui kejadian. Yang selama ini Vano dan Hana sembunyikan." ucap Hana lirih, sembari menundukkan kepalanya.
"Kejadian apa?" tanya Nyonya Ane. Apalagi Hana mengatakan jika kejadian tersebut harus di sembunyikan dari Ella. Dan membawa nama Vano.
Hana memejamkan mata, mengatur nafasnya. "Sekitar seminggu sebelum Ella dan Vano menikah, Vano... Vano dan Hana... Kami..." ucap Hana sembari memejamkan mata.
"Kalian kenapa?" tanya Nyonya Ane.
"Kami tidur bersama." ucap Hana lirih. Sontak Nyonya Ane menutup mulutnya dengan telapak tangan. Menggelengkan kepala. Seakan tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Hana.
Di balik tembok, Viki menggenggam erat telapak tangannya. Viki hendak menghampiri Hana, tapi berhenti saat Hana kembali membuka mulutnya.
"Vano memperkosa Hana." ucap Hana lirih, kembali menangis dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Nyonya Ane menyenderkan badannya di kursi. Air matanya menetes. Beliau terdiam. Seolah mulutnya terkunci rapat. Beliau juga bingung, harus bagaimana dan berbuat apa.
Dan Viki, nafasnya memburu, saat mendengar perkataan Hana. Jika dirinya dipaksa oleh Vano. Viki menggeduk-ngedukkan kepala bagian belakangnya ke tembok secara pelan, dengan mata terpejam. Ekspresi wajahnya menahan emosi yang siap meledak.
Hana kembali melanjutkan perkataannya. "Malam itu, Hana tidur di apartemen Ella. Karena Ella berkata, akan tinggal di apartemen milik Vano. Tapi, siapa sangka. Saat tengah malam, Vano datang. Dia datang dengan keadaan tidak baik-baik saja." jelas Hana dengan air mata kembali menetes di pipi.
"Vano bahkan tidak mengenali Hana. Dia terus meracau, menyebutkan nama Ella. Hana sudah berusaha melawan Vano. Tapi,, tapi Hana tidak sanggup mengalahkan kekuatan Vano." ucap Hana.
Viki terdiam di tempatnya. Dapat Viki simpulkan, jika Vano pasti masuk ke dalam jebakan musuh. Dan sialnya, Hana lah yang menjadi pelampiasan. Karena mengira dia adalah Ella. Lantaran Hana tidur di apartemen Ella.
Nyonya Ane langsung memeluk tubuh Hana. "Sudah, jangan diteruskan." ucap Nyonya Ane, mencoba menenangkan Hana.
"Bukan salah kamu. Semua bukan salah kamu. Mama yakin, Ella tidak akan marah. Jangan hukum diri kamu sendiri." ucap Nyonya Ane.
Nyonya Ane benar-benar merasa terkejut dengan pernyataan Hana. "Kenapa kamu tidak bercerita dari awal." gumam Nyonya Ane.
"Bagaimana kamu bisa menjalani hari-harimu. Kamu perempuan kuat. Kamu dan Ella. Kalian anak-anak mama yang kuat dan hebat." ucap Nyonya Ane lirih, masih memeluk Hana.
Sungguh Nyonya Ane tidak bisa membayangkan saat Hana terpuruk. Seorang diri. Tidak ada seseorang di sampingnya.
Dan Nyonya Ane bisa menebak, jika ibunya Hana juga tidak mengetahui semua ini. Karena Hana sangat menyayangi sang ibu. Dan pastinya, Hana tidak ingin membuat ibunya sedih.
"Astaga... Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Katakanlah semua pada mama. Kamu juga anak mama. Kami juga sangat menyayangi kamu." ucap Nyonya Ane.
"Ella marah pada Hana ma. Ella....." ucap Hana dengan nada parai dan terisak dalam tangisnya.
"Ella tidak marah sayang. Dia tidak akan marah. Mama kenal siapa anak mama." Nyonya Ane mengurai pelukannya.
Menatap Hana dengan rasa iba dan sedih. Tangan beliau terulur menghapus air mata di wajah Hana. "Ella hanya kecewa. Dia kecewa pada kalian. Ella kecewa karena merasa dipermainkan oleh kalian, dengan sebuah kebohongan." ucap Nyonya Ane.
"Terlepas apapun itu, alasan dari kebohongan kalian. Dia hanya kecewa. Dan mungkin, Ella tidak tahu harus berbuat apa."
"Disisi lain, Vano sudah menjadi suaminya. Dan saat itu, dia sedang mengandung benih dari Vano. Sementara kamu. Kamu adalah asisten, sahabat, sekaligus saudara bagi Ella."
"Apalagi Ella tahu, jika kalian melakukannya dengan keadaan terpaksa dan tanpa sadar. Mungkin, jika kamu dan Vano melakukannya dengan sadar. Dan sama-sama menginginkan semuanya. Itu jauh lebih mudah untuk Ella, untuk mengambil sikap." jelas Nyonya Ane.
"Kamu mengerti maksud mama." ucap Nyonya Ane dengan lembut.
"Terimakasih ma." Hana kembali memeluk erat tubuh Nyonya Ane.
Hana sungguh tidak menyangka, jika Nyonya Ane tidak menjadikan dirinya sebagai tersangka. Justru Nyonya Ane memeluk dirinya dengan hangat.
"Kelak, jika terjadi sesuatu dengan kamu. Kamu tidak boleh memendam sendiri. Berbagilah dengan orang lain tentang perasaan kamu. Entah sedih, maupun bahagia." saran Nyonya Ane.
"Terimakasih ma." ucap Hana lagi.
"Kamu bukan Ella. Yang dengan mudah menghadapi segalanya. Kamu bukan Ella, dengan segala keberaniannya, bisa membuat orang lain tunduk padanya." ucap Nyonya Ane.
Nyonya Ane mengurai pelukannya pada tubuh Hana. "Dari kecil, Ella memang sudah dilatih untuk menjadi kuat oleh papa Haris. Kamu paham kan maksud mama." ucap Nyonya Ane, di jawab anggukan dari Hana.
"Bukannya mama membandingkan kamu dengan Ella. Tapi kamu harus tahu, ada batasan seseorang. Dan saat dia sudah tidak kuat, dia sebaiknya beristirahat. Bukan menyerah."
Di balik tembok, Viki menatap ke arah ranjang Ella. Membayangkan perasaan Ella, saat pertama mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
"Kamu benar-benar perempuan hebat Ell." ucap Viki lirih.