DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 133


__ADS_3

Suara lenguhan keduanya terus menggema di kamar miliknya. Beruntung kamar Ella kedap suara. Bayangkan saja jika suara keduanya terdengar hingga keluar ruangan. Pasti akan terjadi hal ajaib.


Tubuh keduanya menegang dengan sempurna saat pusaka milik Vano menyemburkan cairan hangat ke dalam sarangnya. Seolah rahim Ella seperti tersiram air hangat yang sangat menyejukkan.


Keringat membanjiri tubuh keduanya. Udara dingin di vila seakan tak mampu mendinginkan badan mereka.


Aisssh... padahal ini masih siang hari. Bisa-bisanya mereka melakukan semua itu.


Vano mencabut pusakanya secara perlahan dan membersihkan cairan sisa percintaan mereka.


"Sayang, segera hadir di rahim mama mu ya." Vano mengelus dan mencium perut rata milik sang istri.


Ella tersenyum melihat Vano melakukan semuanya. "Semoga." batin Ella.


"Capek?" tanya Vano di jawab gelengan oleh Ella. Vano mencubit gemas hidung Ella.


"Kenapa?" tanya Vano melihat Ella menatap dirinya dengan tatapan yang aneh.


Vano tertawa. Sepertinya dia tahu apa yang ada di dalam pikiran istrinya.


Memang biasanya Vano akan meminta Ella melayaninya sampai dirinya puas. Bahkan sampai Vano melakukan pelepasan beberapa kali. Dan membuat sang model kewalahan dan terlihat sangat capek.


"Aku yakin jika kamu capek, kan habis berkuda." Vano menyatukan hidung mereka.


"Sekarang kita istirahat, nanti lanjut lagi. Memulihkan tenaga. Biar lebih strong." Vano menggosok-gosok hidungnya ke hidung milik Ella.


Sekarang Vano benar-benar mencintai Ella. Bukan hanya menggunakan Ella sebagai alat pemuas nafsunya.


Wajah Ella terbenam di dada bidang milik suaminya. Vano memeluk tubuhnya seperti guling. Tangannya mengelus lembut rambut wangi dan indah milik sang istri dan mencium berkali-kali pucuk kepalanya.


Vano menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Ella yang sedang toples tanpa pakaian. Lalu memejamkan mata. Hingga keduanya terbawa ke alam mimpi.


Baru beberapa menit mereka terlelap, dering ponsel mengganggu Vano. Dengan hati-hati, Vano sedikit menyingkirkan badan Ella pada tubuhnya. Dirinya tidak ingin sampai istrinya terbangun.


Vano mengambil ponsel. Ternyata sang papa memberitahu jika Oma Yeti sudah siuman. Dan mencari dirinya.


"Baik pa. Vano akan mengaturnya." Vano menaruh kembali ponselnya. Mengusap wajahnya dengan kasar. Memandang wajah tenang sang istri yang sedang terlelap dalam tidurnya.


Vano kembali membaringkan badannya ke samping Ella dan kembali mengeratkan pelukannya. Seolah dirinya tidak ingin menjauh lagi dari sang istri.


Dirinya tidak ingin menjauh dari Ella. Tapi dia juga harus menengok Omanya. Biar bagaimanapun, Oma Yeti adalah ibu kandung dari sang mama. Tidak mungkin Vano acuh terhadap beliau.


Apalagi sewaktu kecil, beliau juga sangat menyayangi Vano. Bahkan sampai sekarang. Hanya saja caranya yang salah.

__ADS_1


"Apa sebaiknya aku mengajak Ella." batin Vano. Teringat jika sang istri sedang santai. Dirinya tidak akan menerima pekerjaan beberapa hari ke depan.


"Itung-itung jalan-jalan dan bulan madu." Vano tersenyum dan mencium pucuk kepala Ella berkali-kali.


******


"Bagaimana pa?" tanya Nyonya Risma.


"Vano akan datang. Mama tenang saja." ujar Tuan Danto membuat lega istrinya.


Sebenarnya Nyonya Risma juga merasa kasihan terhadap putranya. Bagaimanapun, Vano dan Ella baru saja menikah. Di mana seharusnya mereka saling memadu kasih.


"Semua karena Ella. Pasti Ella yang menyuruh Vano untuk meninggalkan Oma." celetuk Lena dengan sinis.


Lena bermaksud mempengaruhi kedua orang tua Vano. Membuat nama Ella terlihat buruk di mata mereka.


Tuan Danto memegang pundak sang istri yang terlihat kesal dengan ucapan Lena. Ingin sekali Nyonya Risma membungkam mulut Lena dengan sebuah tamparan. Tapi beliau menahannya. Karena tidak ingin terjadi keributan di rumah sakit.


"Ma, papa ada pekerjaan. Tidak apa-apakan jika papa tinggal sebentar." pamit Tuan Danto pada sang istri.


"Iya. Mama nggak apa-apa." ucap Nyonya Risma dengan lembut.


"Hati-hati pa." Tuan Danto mencium kening sang istri dan pergi meninggalkan Nyonya Risma.


"Khem,, Len. Kamu belikan saya makanan. Saya lapar." ucap Nyonya Risma.


"Semoga saja dia kesasar." batin Nyonya Risma melihat Lena pergi dengan menampilkan wajah juteknya.


Dan pastinya Nyonya Risma tahu jika asisten abal-abal dari sang mama saat ini sedang mengumpat. Dan tidak ikhlas melakukan perintahnya. Memang Nyonya Risma peduli. Sama sekali tidak.


Bagaimana Lena tidak merasa kesal. Karena baru beberapa langkah mereka turun dari pesawat, Nyonya Risma sudah menyuruh dirinya untuk mengerjakan sesuatu.


Padahal, selama menjadi asisten Oma Yeti, membawakan tas Oma saja Lena tidak pernah. Karena selain Lena, Oma Yeti juga mempunyai seorang perempuan sebagai asistennya.


"Sial, dengan seenaknya dia menyuruhku. Dia pikir aku ini pembantunya. Kenapa Oma pake sakit segal. Lihat, gue jadi susah." omelnya sambil berjalan.


"Oma nggak boleh mati sebelum gue mendapatkan sesuatu. Gila saja. Masa gue harus kembali kere lagi. Nggak akan." gumamnya.


******


Bagaimana? Kamu mau kan?" bujuk Vano sambil memeluk tubuh Ella dari belakang.


Vano memberitahu pada Ella jika papanya menghubungi dirinya dan menyuruhnya untuk menemui Oma Yeti. Karena beliau sudah siuman dan mencari Vano.

__ADS_1


Dan Vano bermaksud mengajak sang istri. Dia tidak ingin meninggalkan Ella. Apalagi menjauh dari mantan kekasihnya yang sekarang sudah menjadi istrinya.


Ella tersenyum samar. Membalikkan badannya dan memeluk perut roti sobek milik suaminya. Pandangan mata Ella menatap wajah tampan Vano.


Tampak jelas di raut wajah Vano, dia menginginkan Ella ikut bersama dengan dirinya.


"Sayang, jika aku tetap berada di sini. Apa kamu marah." Ella menundukkan wajahnya.


Vano memegang dagu sang istri dan mengangkatnya.. Melihat ke arah mata Ella. "Kenapa mesti marah. Hemmm. Malam ini aku akan pergi menjenguk Oma." Vano membelai lembut rambut indah milik sang istri.


"Tidak perlu risau. Besok aku sudah ada di sini." Vano menghirup wangi rambut Ella.


"Apa kamu tidak capek?"


"Tidak, lagi pula di sana tidak ada kegiatan. Bukankah lebih baik di sini. Menemani kamu. Istriku yang paling cantik."


Senyum Ella mengembang sempurna. Dirinya hanya ingin melihat sikap Vano, jika dia tidak mengikuti keinginannya. Ternyata Vano sama sekali tidak marah.


Ella melepas pelukan dari Vano dan duduk di kursi. "Kamu kenapa senyum-senyum terus." tanya Vano


"Apa Ella begitu senang aku tinggalkan." batin Vano sembari duduk di samping Ella.


Bukannya menjawab, Ella malah tertawa. Membuat Vano menatap heran. "Mana mungkin aku membiarkan kamu pergi sendirian." jari Ella bermain di dada bidang Vano.


Vano memicingkan sebelah matanya. Sementara Ella terus tersenyum polos, tanpa dosa.


"Stop,,,, geli....Vanoooo...stooop!!!" teriak Ella dengan tertawa saat jari Vano menggelitik pinggangnya.


"Berani sekali kamu menipuku. Hemmmm.... Awas kamu ya." Vano menjepit leher Ella di bawah ketiaknya.


"Akan aku beri hukuman."


"Lepas Van.... haaaa.... lepas....!!!" teriak Ella saat tangan Vano memukul gemas bokong milik sang model.


"Sakit...." ucap Ella dengan mimik muka melas dan nada manja setelah Vano melepaskan tubuhnya.


"Nakal. Siapa yang mengajarimu. Hemmm." Vano memencet-mencet hidung Ella gemas.


"Apa aku sudah pantas jika merambah ke dunia akting."


"Tidak akan aku izinkan." Vano memegang dagu Ella.


"Untuk yang satu itu, tidak akan berubah. Peraturannya akan tetap sama. Seperti sebelum kita menikah." Vano mencium bibir Ella.

__ADS_1


Segera Ella mengalungkan tangannya di leher Vano. Membalas ciuman dari Vano.


Hahhh,,,,,hahhh.... "Mana mungkin aku rela tubuh seksi ini di sentuh lelaki lain.


__ADS_2