DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 134


__ADS_3

Sesuai rencana, Vano dan Ella pergi untuk menjenguk Oma Yeti. Keduanya naik pesawat pribadi milik Vano.


Tapi sebelumnya, Ella menghubungi sang mama dan memberitahu jika dirinya bersama dengan suami menjenguk Oma Yeti.


"Kamu ikut?" tanya Vano ketika mereka sudah di dalam kamar hotel yang akan mereka tempati selama berada di sini.


"Oma kamu bisa anfal lagi jika melihatku." ucap Ella sembari terkekeh.


"Kamu ada-ada saja." Vano mencubit gemas pipi Ella.


"Salam untuk papa dan mama. Maaf nggak bisa ikut."


"Iya. Jangan kelayapan." Vano mencium singkat bibir Ella dan meninggalkannya.


Ella memilih untuk tidak ikut dengan Vano. Dirinya merasa ini keputusan terbaik. Dari pada menjenguk Oma, pasti Oma akan emosi melihat kedatangan cucu mantunya.


Bisa-bisa Oma akan sakit lagi. Dan pastinya Ella akan di salahkan. Apalagi di sana ada anak lampir. Lena. Yang akan membuat Ella badmood saat melihat wajahnya.


Ella berdiri di depan cermin. "Kenapa Oma sangat tidak menyukaiku. Lihat diri kamu Ella. Kamu cantik. Smart. Terkenal. Keluarga kamu kaya." ucap Ella dengan jari telunjuk menunjuk ke arah cermin. Di mana ada pantulan dirinya di sana.


Ella menghempaskan dirinya di atas kasur empuk. Memikirkan kembali saat dia dan Oma bertemu. "Pertama gue ketemu Oma. Terlihat sekali jika Oma sudah tidak menyukaiku. Kenapa ya."


"Aduhhh,,,, ngapain gue harus mikirin Oma. Terserah dia. Mau suka sama aku kek. Mau nggak suka sama aku kek. Nggak ngaruh juga di kehidupanku." Ella mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.


"Tapi aneh juga sih. Perasaan gue nggak pernah punya masalah sama Oma." gumam Ella merasa heran dan penasaran. Pasti ada sebabnya Oma tidak menyukai dirinya. Tidak mungkin jika tiba-tiba Oma Yeti langsung tidak menyukainya.


"Bodo.... Terserah kalian." seru Ella.


Ella melihat ponsel miliknya yang teronggok di sampingnya. "Setelah gue nikah, Hana nggak pernah telepon gue. Nanya kabar gue. Ke mana itu anak." batin Ella teringat asistennya.


******


Di sinilah sekarang Hana berada. Duduk berdua dengan mama Denis di sebuah restoran.


Hana mendatangi restoran tanpa sepengetahuan Denis. Dirinya tiba-tiba di telepon seorang wanita. Mengajaknya untuk bertemu. Dan beliau adalah mama dari kekasihnya. Denis.


"Hana." ucapnya dengan tegas.


"Iya tante." ucap Hana dengan jantung berdebar tak karuan.


Didepannya duduk seorang wanita dengan penampilan yang elegan. Dan bisa di lihat pasti beliau orang yang mempunyai kekuasaan.


"Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan anak saya?"


"Beberapa bulan terakhir ini tante." Hana sesekali memandang wajah wanita di depannya, dan menunduk lagi.


Tatapan mata mama Denis seperti sebuah anak panah bagi Hana. Lebih baik tidak usah terlalu lama bertatapan langsung, dari pada membuat Hana melakukan kesalahan.


"Denis, Denis." beliau mengambil segelas air di depannya dan menyeruputnya.

__ADS_1


"Sebenarnya saya tidak pernah melarang Denis menjalin hubungan dengan siapapun. Kami sebagai orang tua tidak terlalu mengekang anak kami. Tapi jika mereka keluar dari jalur yang kami berikan. Pasti kami akan menegurnya."


"Saya tidak menyuruh kamu untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungan kamu dengan Denis." ujarnya seperti sebuah kata-kata bijak. Namun di dalamnya ada sesuatu yang akan menyakitkan hati Hana.


Deggg.... nafas Hana seperti terhenti sejenak. Sepertinya dirinya tahu kemana arah perkataan mama Denis.


"Tapi kamu harus memikirkan matang-matang jika ingin melanjutkan hubungan kalian. Saya sebagai mamanya hanya menginginkan anak saya akan tetap berdiri tegak dengan kepala menghadap ke depan, di hadapan semua orang."


"Fotographer hanyalah hobi dari Denis. Dia adalah pewaris tunggal perusahaan kami. Dan pastinya kamu tahu hal itukan, Hana." ujarnya seperti ingin mengatakan sekat antara Denis dan Hana.


Mata Hana memerah. Sebisa mungkin Hana menahan air matanya di dalam pelupuknya.


"Tapi kamu jangan gegabah mengambil keputusan. Kamu bisa mencoba untuk tetap berada di samping Denis beberapa bulan ke depan." mama Denis menaruh beberapa lembar uang di atas meja.


"Belakangan ini Denis akan sangat sibuk. Karena dia mulai menjalankan perusahaan papanya. Dan pastinya dia juga akan banyak menghadiri acara-acara penting."


"Jika Denis mengajak kamu, kamu boleh ikut dengannya. Mungkin sekalian Denis bisa memperkenalkan kamu sebagai kekasihnya. Tapi ingat satu hal." ujarnya dengan senyum mengejek.


Mama Denis yang sudah berdiri sedikit membungkukkan badan. "Jangan mempermalukan dia. Kasihan Denis." ucapnya lirih namun dengan penuh penekanan.


"Padahal sudah di beritahu. Dekati anak Tuan Haris. Malah mendekati asistennya." gumamnya masih bisa di dengar Hana. Dan sepertinya memang di sengaja oleh mama Denis.


Air mata Hana luruh saat mama Denis sudah meninggalkan dirinya sendiri. Hana segera mengambil tasnya dan pergi. Dia tidak mau jika sampai di lihat banyak orang jika dirinya sedang menangis.


"Ella... apa yang harus aku lakukan." Hana menangis sendiri di dalam mobil.


"Seandainya kamu ada di sini. Pasti sekarang aku bisa menangis di pelukanmu."


"Ella." gumam Hana.


"Pasti kamu merasa aku sedang tidak baik-baik saja." Hana tersenyum melihat layar ponselnya. Dimana tertera nama Ella di layar ponselnya.


Hana menarik nafasnya, mencoba lebih tenang. Tidak ingin jika Ella sampai tahu jika dirinya sedang menangis.


@@@@@@@@


Halo Ell


^^^Kangen^^^


^^^(ucap Ella manja)^^^


Di sanakan sudah ada Vano.


^^^Apa kamu baik-baik saja Han.^^^


Baik.


^^^Jangan bohong.^^^

__ADS_1


Kenapa aku mesti bohong.


Aku sedang menikmati hidup.


Rasanya sangat bebas.


Tanpa mendengar teriakan darimu.


(ucap Hana sambil tertawa)


^^^Jahat. Padahal aku lagi kesepian.^^^


^^^Vano sedang pergi.^^^


^^^Coba saja kamu ada di sini.^^^


Sudah dulu ya Ell,,


Aku lagi antri sesuatu.


^^^Baiklah.^^^


^^^Jika ada apa-apa telepon aku.^^^


Pasti.


@@@@@@@@@


Hana langsung mematikan panggilan telepon dari Ella. Dirinya sudah tidak bisa menahan tangis. Tapi dalam tangisnya, Hana tersenyum.


Saat ini dirinya sedang datang bulan. Berarti dalam rahimnya tidak tertanam benih dari Vano. "Tuhan masih menyayangi kita Ell." gumam Hana.


Membayangkan jika dirinya sampai hamil anaknya Vano. Pasti Ella akan menjauh darinya. Dan Hana tidak sanggup harus kehilangan sahabat seperti Ella.


"Ell,,, semoga kamu bisa bantu aku meluluhkan hati orang tua Denis." gumamnya kembali menangis.


Hana benar-benar bingung. Ini pertama kalinya Hana berhubungan dengan seorang lelaki. Dan mencintainya. "Seandainya hidup gue seperti Ella, pasti orang tua Denis sudah merestui hubungan kami." Hana teringat perkataan terakhir mama Denis.


Menunggu kedatangan Vano, membuat Ella tertidur di atas ranjang empuk. Hingga dirinya merasa cacing-cacing dalam perutnya bergerak tak karuan karena lapar.


Ella bangun dan membersihkan muka, juga menggosok gigi. "Lebih baik gue cari makan." ucap Ella berganti pakaian.


Ella memutuskan mencari tempat makan terdekat dari hotel. Dia tak bisa menunggu Vano lagi. Karena rasanya perutnya sudah todak bisa di ajak kompromi.


Sebenarnya Ella bisa saja memesan makanan lewat hotel. Tapi dia malas. Dirinya ingin makan dengan pemandangan lain.


Sambil berjalan, Ella memberitahu Vano jika dirinya keluar untuk mencari makan lewat pesan tertulis.


"Maaf." karena terlalu fokus dengan layar ponsel, Ella menabrak seseorang di depannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." ucapnya tersenyum.


"Cantik dan seksi. Bukankah dia yang kemarin. Berkuda di dekat perkebunan. Kenapa dia bisa ada di hotel ini." ucapnya dengan mata masih memandang tubuh Ella yang berjalan semakin menjauh.


__ADS_2