DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 56


__ADS_3

Egi tersenyum sembari menatap Ella. Sedangkan Ella, jangan tanyakan lagi. Dia makan dengan lahap hidangan yang tersaji di depannya. Sembari beberapa kali manggut-manggut. Entah karena dia lapar, atau masakan yang di buat Egi terlalu nikmat di mulutnya.


Egi mengisi kembali piring Ella yang hampir kosong dengan mie buatannya kembali. Atau orang kaya biasa menyebutnya dengan shepageti. Membuat pemilik piring tersebut menghentikan makannya dan menatap ke arah Egi.


Ella meletakkan sendok dan garpunya. Menatap horor ke arah Egi. Bukannya marah, Egi malah tertawa. "Ingin membuatku gendut." ucap Ella.


"Jika sampai kamu pingsan karena kelaparan. Bukankah akan lebih menakutkan."


Ella mengerjapkan matanya. "Tapi ini terlalu banyak." keluhnya.


"Apa perutmu sudah kenyang?"


Ella mengelus perutnya. "Sudah. Sedikit. Tapi ini terlalu enak." dengan menatap iba ke arah piring, Ella melanjutkan makannya.


Egi di buat tertawa kembali karena perkataan konyol dari Ella. "Seandainya." gumam Egi.


"Apa?" tanya Ella mengangkat kepalanya, menatap ke arah Egi, merasa sepertinya Egi berbicara sesuatu pada dirinya.


"Tidak. Makan yang banyak. Biar tumbuh sehat."


"Kamu pikir aku nggak sehat. Lihat, badanku saja sangat soeksi." Ella berdiri dan memutar tubuhnya. Tak lupa dia juga berkacak pinggang. Membuat dadanya sedikit membusung ke depan.


Segera Egi mengalihkan pandangannya. "Iya. Cepat makan. Nanti keburu dingin." Egi segera mengalihkan arah pembicaraan.


"Kamu, nggak makan."


"Masih kenyang."


"Astaga. Jangan diet Tuan. Lihat badan anda. Kecil sekali." Ella mengangkat tangannya dan mempertemukan ibu jari dengan jari telunjuk sembari menyipitkan sebelah matanya.


"Kecil." Egi berdiri, tersenyum aneh dan mendekat ke arah Ella.


"Mau apa dia." batin Ella, waspada.


Egi mengambil tangan Ella dan meletakkan di perutnya. Ella hanya diam dan menurut. "Sekarang kamu bisa mengukurnya. Sekecil apa badanku." bisik Egi membuat kulit Ella meremang karena hembusan nafas Egi terasa sampai lehernya.


Segera Ella menarik tangannya. "Akan aku bawa ini ke dapur." Ella segera berdiri dan membawa piringnya ke dapur.


"Sangat berbahaya. Jangan main-main Elll." gumam Ella sembari mencuci piring kotor bekas ia makan.


Ella teringat kembali ancaman Vano.


AKAN KU BUNUH. SIAPAPUN ITU.


"Biarkan saja. Lebih baik kita ke depan." Egi sudah berada di belakang Ella.


Ella mencuci tangannya dan berjalan mengekor di belakang Egi. Sampainya di ruang tengah, Ella segera mengambil ponsel miliknya dan mengabarkan pada sang mama bahwa dia sedang berada di rumah teman.


"Teman yang mana Ell?" tanya sang mama dari balik ponsel.


"Ya teman Ella ma, sudah ya ma. Nanti kalau hujan reda, Ella segera pulang." Ella mengakhiri panggilannya pada sang mama.


Ella menoleh ke arah Egi yang berada tepat di sebelahnya. "Maaf." ucap Ella.


"Untuk?"


"Kebohongan tadi."


"Kebohongan. Kebohongan yang mana?"


Lelaki di sampingnya masih menatap dengan intens ke wajah cantik milik Ella. Sementara, Ella masih sedikit berpikir.


"Iya ya, aku kan nggak bohong." ujar Ella tersenyum manis.


"Jangan tersenyum Ell."

__ADS_1


Senyum Ella seketika memudar mendengar perkataan dari Egi. Ella berdiri dan berlari ke sebuah cermin yang digunakan untuk hiasan yang terpasang di dinding.


"Nggak ada." gumam Ella dengan meringis, memeriksa deretan giginya yang putih dan rapi. Dirinya takut jika ada sesuatu yang tertinggal di giginya. Mungkin saja sisa makanan.


Di kursi, Egi tertawa terbahak-bahak sembari memegang perut, menyaksikan tingkah Ella. Niat hati ingin romantis, malah jadi bahan lelucon.


Seolah Egi melupakan perasaan yang baru saja dia rasakan karena terbakar rasa cemburu. Padahal baru saja Egi meledak-ledak karena emosinya memuncak. Dan sekarang, seolah senyum tak ingin menghilang dari bibirnya.


Ella berjalan kembali menuju tempat di mana Egi duduk sambil tertawa. Di ambilnya bantal kursi yan tergeletak di lantai. Dan,,,,


"A,,, wo wo wo..." seru Egi di saat Ella dengan semangat memukul-mukulkan bantal tersebut ke tubuh Egi. Membuat sang pemilik apartemen spontan berteriak sembari menghalaunya. Supaya tidak terkena ke badannya.


Egi memegang ujung bantal. "Sudah Ell. Hentikan. Stop" ujar Egi.


Ella melepas bantal yang ada di tangannya. Mendaratkan pan**tnya di sofa empuk di samping Egi.


Ekor matanya melirik tajam ke arah Egi dengan bibir cemberut.


Egi tergelitik untuk menggoda Ella. Dipegangnya bibir Ella yang cemberut. "Sepertinya kamu juga cocok jadi model bibir dower Ell." goda Egi sembari menarik kembali tangannya dari bibir Ella.


Ella memukul-mukul lengan Egi. "Ell." Egi terkekeh sembari menangkap tangan Ella.


Pandangan mereka saling bertemu. Dannnnn,,,,


Cuppp.....


Egi dengan lembut mencium kening Ella. Dan yang lebih mengherankan, Ella tidak menolak. Sang model lebih memilih memejamkan mata. Seakan menikmati bibir kenyal dan basah milik Egi yang menempel di dahinya.


Egi memundurkan wajahnya beberapa centi dari Ella. Jarinya terangkat, mengelus dengan lembut pipi Ella.


Nafas Ella tersengal, seolah oksigen di dalam tubuhnya berkurang. Jantungnya berdetak lebih kencang.


Dengan Vano, Ella tidak pernah merasakannya. Bukannya tidak pernah merasakan jantungnya yang berdetak lebih kencang. Dan bukannya tidak pernah merasakan seolah oksigen di dalam tubuhnya berkurang drastis.


Vano tidak pernah memperlakukan dirinya dengan lembut. Tidak pernah mendapatkan perhatian lebih dari Vano. Karena selama ini Ella yang selalu memperhatikan dan menuruti setiap, setiap permintaan dan kemauan dari Vano.


Mungkin karena itulah, Ella merasakan hal yang aneh di dalam hatinya saat Egi memperlakukannya dengan lembut. Ada sedikit rasa nyaman dan aman di hati Ella.


Egi dengan intens terus menatap wajah ayu dari sang model. Sedikit demi sedikit Egi memajukan wajahnya. Bibir seksi milik Ella seperti memanggil nalurinya sebagai seorang lelaki normal.


Apalagi Egi memang benar-benar mengharapkan Ella menjadi pengisi ruang hatinya yang sudah lama tidak terisi, atau kosong.


*


*


"Bagaimana, apa kamu sudah berbicara dengan Ella?" tanya Nyonya Risma pada putranya.


"Van." suara bariton Tuan Danto mengalihkan pandangan Vano dari layar ponselnya.


Vano menyimpan ponselnya ke dalam saku. "Belum." jawabnya.


Sang mama menghembuskan nafas kasar mendengar perkataan yang keluar dari dalam mulut Vano.


"Sampai kapan kamu akan memperlambatnya. Ingat, di luar sana banyak lelaki yang menginginkan anak perempuan dari Tuan Haris untuk di jadikan pendamping."


"Kelihatannya putra Nyonya Tiwi juga tertarik pada Ella." imbuh Nyonya Risma.


"Ella tidak akan bisa lepas dari Vano. Mama tenang saja. Vano pastikan, Ella akan menjadi Nyonya Muda keluarga Reyandli." ucap Vano sombong dan penuh percaya diri.


"Jangan terlalu percaya diri son. Jika mama jadi Ella, mungkin sekarang mama sudah cari pengganti kamu. Ella bisa mendapatkan yang lebih dari pada kamu. Ingat."


"Ma, sebenarnya anak mama itu siapa?" tanya Vano.


"Istri Tuan Danto Reyandli." jawab sang mama melenceng.

__ADS_1


"Dukung Vano, jika mama ingin Ella menjadi menantu di rumah ini." pinta Vano.


"Dukungan apa yang kamu harapkan dari kami?" tanya Tuan Danto datar.


"Dukungan kamu mengundang sekertaris seksi lagi di dalam ruangan kamu." imbuh Tuan Danto.


"Ckk. Ini karena Reza." gumam Vano.


"Jangan menyalahkan orang lain karena kesalahan yang kamu buat sendiri." ucap sang papa.


"Papa tidak akan melakukan apapun untuk membawa putri dari sahabat sekaligus rekan kerja papa menjadi menantu di rumah ini. Papa akan menyerahkan semua keputusan pada Ella." jelas Tuan Danto.


"Papa tenang saja. Vano tidak akan pernah meminta bantuan apapun dari papa tentang Ella yang akan menjadi menantu di rumah ini."


"Perasaan tadi mama dengar ada yang minta dukungan." sindir sang mama.


Vano yang merasa kesal dengan kedua orang tuanya memilih meninggalkan mereka dan pergi.


"Van, mau ke mana kamu?" tanya Nyonya Risma melihat sang putra berjalan keluar rumah. Padahal baru beberapa jam yang lalu Vano datang.


"Lihat anak papa. Keras kepalanya itu lo. Keturunan siapa sih. Sulit banget di bilangin."


"Bukannya mama yang melahirkan. Kenapa tanya papa." celetuk Tuan Danto.


"Eh eh eh. Kalau nggak ada papa mana mungkin mama bisa hamil. Pa..." seru Nyonya Risma saat suaminya juga meninggalkannya.


*****


Egi,,, kamu mau apain Ella.


Author penisiran, eh penasaran.


Jangan-jangan kamu mau ehem-ehem Ella 🙈🙈


Pengen lihat dong.... 😜😜


Dan untuk kamu Vano......!!!?


Kurangi kadar pede kamu.


Rasa pede kamu terlalu boros.


Author takut nanti kalau habisssss, cari di mana coba.


Canda pede borosss.... ✌️✌️


*****


Daaaannnnnnn untuk teman-teman...


Author nggak akan pernah bosan untuk ngucapin.


TERIMAKASIH dan TERIMAKASIH.


Jangan lupa ya man-teman tinggalin jejak setelah baca.


like like like


favorit favorit favorit


komentar komentar komentar


Dannnn.... author minta hadiah dong. 🌹🌹


Maaf... permintaan author terlalu banyak.. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2