
Ella dan sang papa langsung mendongakkan kepala saat ada seorang perempuan berdiri di samping meja mereka.
Keduanya saling pandang setelah mengetahui siapa yang menghampiri meja mereka. Lalu pandangan keduanya beralih ke mie yang sedang di santap oleh Ella.
"Mama." ucap keduanya tersenyum takut.
Terlihat Nyonya Ane menatap keduanya secara bergantian. Lalu ke arah piring yang berisi mie di depan Ella.
Tuan Haris segera berdiri dan menarik kursi. "Duduk dulu ma." rayu Tuan Haris.
"Mampus gue. Kenapa mama bisa ada di sini." batin Ella mulai memikirkan cara supaya mamanya tidak marah. Apalagi ini di tempat umum.
Maklumlah, seorang ibu tidak akan pandang tempat jika beliau sedang marah.
Ella menggeser kursi untuk mendekat ke kursi sang mama. "Ma, jangan marah. Lihat. Cuma sedikit. Ella lagi pengen ma. Jangan marah ya ma." Ella memegang lengan sang mama, merengek dengan manja.
Pandangan Ella mengarah ke Tuan Haris, meminta pertolongan. Tuan Haris yang peka dengan keinginan sang putri juga mencoba membantu Ella.
"Ma, mie nya cuma sedikit. Tadi Ella pesan setengah porsi." bela Tuan Haris pada putrinya.
Setengah. Mana ada. Tuan Haris berbohong pada istrinya. Memang benar di piring Ella, mienya tersisa sedikit. Tapi bukan karena Ella pesan setengah porsi. Melainkan, Ella sudah menyantap mie nya dengan sangat amat lahap.
"Papa, pinter juga ngelesnya." batin Ella sambil memandang ke arah papanya.
"Papa berbohong juga karena kamu." batin Tuan Haris juga menatap ke arah Ella.
Pandangan Ella beralih ke sang mama dengan tatapan mengiba. "Sudah habiskan. Nanti keburu dingin." ucap Nyonya Ane dengan cuek.
"Ooo,,, my mom. Miss you." Ella mengecup pipi mamanya dan tak lupa menatap sang papa sembari mengerlingkan sebelah matanya.
*
*
Ada apa Han?" tanya Ella pada Hana melalui panggilan telepon yang di lakukan Hana.
"Iya,,, gue nggak lupa. Bye." Ella mematikan sepihak panggilan telepon dari Hana.
Hana memberitahu Ella jika besok dirinya masih ada pemotretan dengan Jo. Dan pemotretan di lakukan di sebuah perbukitan. Yang mengharuskan mereka berangkat sangat pagi.
Ponsel Ella berdering kembali. Membuat Ella mengerucutkan bibir.
"Mengganggu saja." ucap Ella saat kegiatan yoganya terganggu kembali.
"Vano." Ella mengacuhkan panggilan telepon darinya.
"Iiissshhh." Ella akhirnya mengangkat telepon dari Vano. Karena ponselnya terus berbunyi tak mau berhenti.
"Ada apa?" tanya Ella sewot pada Vano di ujung ponselnya.
"Sayang, apa besok kamu ada pemotretan?"
"Hemmm." jawab Ella.
"Kemana?"
"Maaf, saya tidak perlu memberitahu anda, karena anda bukan siapa-siapa saya." jawab Ella jutek.
"Kamu bilang mau kasih saya kesempatan."
"Idiii kapan. Perasaan saya nggak pernah ngomong kayak gitu." kekeh Ella.
"Ayolah Ell, beri saya kesempatan." bujuk Vano berbicara di seberang ponsel.
"Tuan Vano, ada gelas di samping anda."
__ADS_1
"Ada." jawab Vano bingung.
"Angkat lalu lempar ke lantai."
"Sudah." ucap Vano.
"Bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana Ella sayang?"
"Pecahkan gelasnya."
"Tidak." ucap Vano.
"Kok tidak." ucap Ella heran.
"Bagaimana mau pecah sayang, yang aku lempar gelas plastik."
"Vanoooooo." teriak Ella kesal.
Ella memutuskan sepihak panggilan telepon dari Vano. "Sabar Ella, sabar." Ella mengelus dada. Merasa kesal dengan ucapan Vano.
"Gelas plastik. Yang benar saja." geramnya.
Akhirnya Ella menon-aktifkan ponselnya. "Lebih baik seperi ini." Ella todak ingin kegiatan yoganya terganggu kembali.
"Aaaa,,, ini gara-gara Vano." sungut Ella saat dirinya tidak bisa berkonsentrasi melanjutkan yoga.
Di tempatnya Vano tertawa terbahak-bahak. Dia membayangkan ekspresi kesal dari Ella. "Pasti sekarang kamu sangat kesal Ell. Jadi pengen ketemu. Pengen lihat bibir kamu yang monyong." gumam Vano.
"Tuan." ucap Reza saat dirinya masuk ke dalam apartemen Vano.
"Bagaimana?"
"Besok Nona Ella akan melakukan pemotretan di daerah perbukitan. Dan kemungkinan akan berangkat pagi, sekitar pukul setengah 6." jelas Reza.
"Jonathan." tebak Vano.
"Benar." Reza melihat Tuannya tidak berekspresi atau berkata seperti dugaannya. Vano hanya terdiam.
"Lalu, bagaiman dengan adiknya Vera?"
"Masih dalam penyelidikan."
"Lambat sekali kerjamu." cibir Vano.
"Maaf."
Vano mengibaskan tangannya, mengisyaratkan untuk Reza meninggalkan kamarnya.
"Jonathan. Model dari paris."
Keesokan hari, kediaman rumah Tuan Haris terlihat sepi. Tidak seperti hari sebelumnya. Di mana terdengar teriakan Nyonya rumah membangunkan anak semata wayangnya yang sangat sulit keluar dari gulungan selimut.
"Jika setiap hari seperti ini, pasti mama akan awet muda." sindir Nyonya Ane di meja makan.
"Papa belum bangun. Kalah deh." ucap Ella sombong karena dirinya bangun terlebih dahulu.
"Kata siapa papamu belum bangun. Sekarang ada di kamar, lagi siap-siap. Bangun pagi sekali saja, dasar." omel sang mama dengan tangan menjewer pelan telinga Ella.
"Nggak sarapan di rumah saja?" tanya Nyonya Ane memasukkan bekal ke dalam rantang untuk sarapan Ella.
"Malas ma, masih terlalu pagi." Ella melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan.
"Lihat, masih pagi kan. Kamu itu sebenarnya bisa lo bangun pagi. Kenapa mesti membuat mama kesal setiap pagi hanya untuk membangunkan kamu. Mama itu sibuk."
__ADS_1
"Ma banyakin. Ntar di sana ada yang mau. Masa Ella nggak nawarin." pinta Ella untuk melebihkan bekalnya.
"Mama tahu. Kamu pikir mama pelit."
"Sudah belum sih ma. Lama banget."
"Astaga ini anak. Kalau mau cepet kamu bantu. Bukannya malah duduk kayak mandor." sebal Nyonya Ane.
"Salah mama sendiri. Tadi mbok nawarin mau bantu, malah mama tolak. Sekarang ngomel."
"Di belakang banyak pekerjaan Ell."
"Pembantu kan banyak ma."
"Kamu itu. Nanti, kalau kamu sudah berumah tangga kamu urus sendiri suami dan anak kamu. Jangan apa-apa panggil pembantu. Kamu rasakan nanti. Mengurus suami dan anak dengan tangan kita sendiri itu beda rasanya. Seperti ada perasaan bangga."
Di tengah obrolan keduanya, datang seorang lelaki dengan pakaian rapi. "Pagi ma, Ell." sapanya.
"Vano." ucap mama.
"Iya ma, mau mengantar Ella pemotretan." Vano mendekat ke arah Nyonya Ane dan bersalaman.
Nyonya Ane merasa heran saat beliau mendengar Vano memanggilnya dengan panggilan yang sama dengan Ella. Mama. Tapi beliau tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Ella memandang Vano dengan tatapan menyelidik. "Dari mana dia tahu. Jangan-jangan Hana nggak jemput gue lagi." batin Ella.
"Van, kamu sarapan dulu." tawar Nyonya Ane.
Belum sempat Vano mengatakan sesuatu, Ella berbicara terlebih dahulu. "Sudah kan ma. Ella mau berangkat. Nanti kesiangan." pamit Ella pada sang mama. Mengacuhkan Vano, seolah dia tidak ada.
Vano mengambil rantang yang hendak di ambil Ella. "Biar aku yang bawa."
"Ma, kami berangkat dulu." pamit Vano
"Iya, nggak usah ngebut." ucap Nyonya Ane.
Sampai di teras rumah, Ella menghentikan langkahnya. "Ada apa sayang?" tanya Vano.
Ella terdiam. Matanya memandang ke arah salah satu sopir di rumahnya. Tangan Ella melambai, memanggil salah satu dari mereka. "Pak, antar Ella ya." pinta Ella.
"Baik Non." ucapnya.
"Tidak perlu pak. Biar Ella, saya yang antar." ujar Vano. Membuat bingung sang sopir.
"Bapak boleh pergi." suruh Vano.
"Baik Tuan Muda."
Vano menghela nafas. "Nanti keburu siang Ell. Ayo." tangan kanan Vano menggandeng tangan Ella. Membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Setelah Vano menaruh rantang berisi makanan di kursi belakang, dia kemudian duduk di depan kemudi. Melajukan mobil ke tempat pemotretan.
Ella menyandarkan kepala ke kursi. Pandangan matanya lurus ke depan. "Ell, sebaiknya kamu selalu berhati-hati. Orang-orang ku belum menemukan siapa orang di belakang adiknya Vera."
"Iya." jawab Ella singkat.
"Bukankah di foto ada seorang lelaki bersama adiknya Vera di beberapa kesempatan. Bagaimana?" tanya Ella.
"Sedang dalam pencarian. Kita sudah menemukan siapa dia. Tapi percuma jika hanya tahu identitasnya. Kita harus bertemu langsung dengan orangnya." jelas Vano.
Vano tersenyum. Setidaknya Ella sudah mau membuka mulutnya untuk berbicara dengannya. Meski topiknya mengenai orang yang telah menyerangnya.
"Fokus nyetir. Nggak usah *****-*****." sinis Ella melepas tangannya yang baru saja di pegang oleh Vano.
Niat hati ingin menggenggam tangan Ella supaya lebih dekat dan romantis. Malah kena omel.
__ADS_1
"Iya." Vano mengalihkan tangannya ke stir mobil.