DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 95


__ADS_3

Semua karyawan berhenti dan sedikit menundukkan kepala saat berpapasan dengan Vano dan Ella.


Mereka mencuri-curi pandang pada Vano dan Ella. Karena ini pertama kalinya Vano datang bersama Ella ke kantor. Apalagi sejak turun dari mobil, tangan Vano tidak lepas menggenggam tangan Ella.


Berbeda dengan Vano yang selalu memasang raut wajah dingin tanpa ekspresi, Ella selalu tersenyum ramah saat berpapasan dengan karyawan di perusahaan Vano.


"Ada apa. Apa kamu begitu kangen sama aku." goda Vano karena Ella memandangnya intens selama berada di dalam lift.


Ella bersedekap, memandang ke arah Vano. "Kenapa bibirmu seperti itu."


Vano memegang bibirnya. "Kenapa. Seksikan." ucapnya angkuh.


"Kenapa bibirmu tidak bergerak sedikitpun. Seperti ini." tangan Ella menarik sudut-sudut bibir Vano.


"Tersenyumlah." geram Ella.


Vano memegang tangan Ella. "Senyumku mahal sayang. Dan kamu perempuan spesial yang dapat melihatnya." ucapnya narsis sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Bola mata Ella melotot sempurna dengan mulut menganga lebar mendengar perkataan sang kekasih. Tak lupa, kepala Ella pun menggeleng. Merasa heran dengan sikap narsis yang di tunjukkan Vano.


Berdebat dengan Vano. Percuma. Pasti akan kalah. Ella memilih menghadap pintu lift dan membungkam mulutnya sendiri.


Vano terkekeh pelan melihat kekasihnya. Mendekatkan tubuhnya pada Ella, tangannya melingkar di pinggang ramping sang model.


"Van,,," seru Ella lirih.


Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka. Ella mencoba melepas tangan Vano yang melingkar di pinggangnya. Dirinya merasa tidak enak dengan tatapan karyawan Vano.


Bukannya melepas, Vano malah semakin posesif dan mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Ella.


"Van... Kamu ih. Kan malu." ucap Ella setelah keduanya berada di dalam ruangan Vano.


"Kenapa harus malu." Vano berdiri di depan Ella dengan memeluk pinggang Ella dari depan.


"Malu saja." ucap Ella manja, menaruh tangannya di depan dada Vano dengan cemberut.


"Emmm,,, Reza kok nggak kelihatan." tanya Ella.


"Kamu itu. Ngapain tanya Reza. Jelas-jelas didepan kamu ada lelaki paling tampan."


"Masa aku tanya kamu di mana. Kan kamu ada di sini. Aneh. Ya iyalah aku tanya Reza. Diakan ekor kamu." ucap Ella sambil mencubit benjolan kecil di dada Vano. Membuat yang di cubit berteriak kecil karena rasa sakit dan kaget.


Ella tertawa melihat Vano mengaduh sambil mengusap-usap dadanya. "Kamu jahil banget sih." Vano menggelitik pinggang Ella.

__ADS_1


"Ampun. Jangan Van,,,, ha ha ha ha,,,," ucap Ella sembari tertawa karena geli dan mencoba menepis tangan Vano.


Keduanya terhenti saat mendengar ketukan pintu. Vano dan Ella menoleh ke sumber suara. "Masuk." seru Vano masih dalam posisi berdiri dan memeluk Ella.


"Aku tunggu di sana." tunjuk Ella seraya mengecup singkat pipi Vano dan berjalan ke arah di mana ada kursi untuk dirinya duduk santai.


Dan Vano berjalan menuju kursi kebesarannya.


Ella memicingkan mata saat melihat sosok yang masuk ke dalam ruangan Vano. Perempuan cantik dan seksi. Dengan pakaian super duper ketat dengan membawa map di tangannya.


"Apa dia sekertaris Vano." batin Ella.


Karena saat dirinya dan Vano sampai di depan ruangan Vano, meja yang seharusnya di tempati Imey kosong. Mungkin sang sekertaris sedang ke belakang atau ada keperluan lain. Sehingga Ella tidak melihatnya.


Ella memperhatikan pakaian yang di pakai olehnya. Pantat yang begitu menonjol di balik rok kerjanya yang sempit dan panjang sangat minim. Dapat di bayangkan. Jika dia menunduk, pastinya akan terlihat jelas dalaman yang dipakainya dari arah belakang.


Kemeja yang di pakainya tak kalah mengganggu pemandangan mata Ella. Kemeja dengan kancing terbuka dua di bagian atas. Sungguh menampakkan belahan dada yang sangat menonjol.


Apalagi ukuran payudara perempuan tersebut sangat besar. Bahkan, bra yang di pakainya sepertinya tidak bisa mencakup semua dua bola yang menempel di dadanya. Membuat sebagian tumpah keluar.


"Apa dia yang menelpon Vano tadi. Pantas, Vano betah." batin Ella.


Pandangan mata perempuan tersebut berfokus pada Vano. Mungkin saja dia juga tidak menyadari jika ada perempuan yang jauh lebih cantik dan seksi dari pada dirinya sedang duduk mengamati semua yang melekat pada tubuhnya.


"Letakkan di meja. Kamu boleh keluar." ucap Vano tanpa melihat ke arah Imey.


"Sial. Kenapa dia malah mengusirku tanpa melihat ke arahku." kesal Imey.


"Khemm,,,, Tuan. Anda harus menandatangani sekarang. Setelah itu saya akan langsung membawanya keluar." ucap Imey mencari alasan.


Vano segera membubuhkan tanda tangannya. "Keluarlah." Vano menyerahkan map pada Imey.


"Tuan." ucap Imey dengan nada menggoda.


"Keluar." ucap Vano dengan tatapan mata tajam. Membuat Imey seketika menunduk karena takut. Membalikkan badan dan berniat meninggalkan ruangan Vano.


Tapi suara Ella menghentikan langkahnya. "Sayang, kok kamu usir sih. Kasihan kan mbaknya." Ella berdiri dan berjalan menuju meja Vano.


Vano menatap hangat ke arah Ella yang berjalan ke arahnya. Langkah Ella terhenti di depan meja Vano. Menatap Imey dengan bersedekap. "Kamu sekertaris Vano?" tanya Ella.


"Iya." jawab Imey dengan raut wajah datar.


Imey pastinya sudah tahu jika yang tengah berdiri di hadapannya adalah sang model terkenal sekaligus kekasih dari bosnya.

__ADS_1


"Mbak bisa bernafas?" tanya Ella membuat Imey mengerutkan dahi.


"Maksudnya?"


"Pasti sesak banget. Lihat. Sangat sempit. Seperti tidak ada jalan untuk keluar masuk udara." celetuk Ella dengan jari menunjuk tepat ke arah dada Imey.


Membuat sekertaris Vano tampak menahan malu sekaligus marah.


Nyaris Vano tertawa dengan celetukan Ella. Tapi tentu saja dia menahannya. Dirinya masih penasaran dengan apa yang akan Ella ucapkan.


Ella memang seorang model profesional. Tapi untuk urusan pakaian, dirinya bisa menyesuaikan tempat di mana dirinya sedang berada.


Bahkan, pakaian sehari-hari Ella meskipun pas di badan, tapi tidak memperlihatkan bagian tubuhnya yang menurutnya tidak pantas.


Ella hanya akan menggunakan pakaian seksi saat berada di panggung. Atau saat pemotretan. Itupun Ella pasti akan memilih sebelumnya. Dirinya akan menolak bahkan rela kehilangan pekerjaan jika pakaian yang akan di gunakan terlalu seksi menurutnya.


"Kamu iri dengan saya." ucap Imey dengan berani.


"Iri. Bagian mana yang harus membuat saya iri dengan anda." sindir Ella.


"Dada saya. Asli. Entah situ. Pantat saya,,, asli. Situ asli nggak. Hati-hati low mbak. Bukannya apa-apa. Takutnya meledak. Karena terlalu over size." ledek Ella dengan tersenyum.


"Kamu." geram Imey dengan tangan terkepal sempurna.


Ella membalikkan badan menghadap Vano. "Kamu tertarik?" tanya Ella.


Vano berdiri dan menghampiri kekasihnya. "Aku lebih suka yang asli dan terawat." Vano tersenyum dengan tangan memegang dagu Ella.


"Kamu dengarkan. Bos mu tidak tertarik. Jadi, jangan menyiksa diri dengan berpakaian seperti itu. Akan merusak organ tubuh. Karena organ dalam tubuhmu akan kesulitan bekerja. Terlalu sempit." ejek Ella.


Ella paham betul maksud Imey memakai pakaian seperti itu. Dan tujuannya hanya satu. Menggoda Vano.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Imey meninggalkan ruangan Vano dengan perasan kesal.


"Kamu jahil banget sih sayang." ucap Vano memeluk sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ella.


"Kenapa?" Vano menghentikan gerakannya saat menyadari Ella sedang ngambek.


"Pantesan. Kami betah banget di kantor. Montok banget. Pasti sangat puas." celetuk Ella dengan muka masam.


"Sayang,,,, sumpah. Aku tertarik dengan Imey. Oke, dulu aku sempat khilaf. Tapi dulu. Aku janji, tidak akan terulang lagi." ucap Vano dengan sungguh-sungguh.


Ella tersenyum dan memeluk tubuh Vano. Dengan tangan Vano membelai lembut rambut panjang sang model dan menghirup wangi sampo.

__ADS_1


__ADS_2