DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 167


__ADS_3

"Dia perempuan Van." ucap Ella saat Vano sudah mengeluarkan ponsel dari dalam saku miliknya. Ingin menghubungi dokter pribadi keluarganya. Dan pastinya perempuan.


"Perempuan." gumam Vano. Memandang Ella dan bawahan Ella secara bergantian. Dan Ella hanya mengangguk pelan.


"Buka jaketmu." perintah Ella.


Segera dirinya membuka jaket yang ia kenakan pada tubuhnya. Tanpa membuka masker sebagai penutup wajahnya. Terlihat jelas dadanya yang besar. Karena dia hanya memakai tengtop.


"Pakai lagi." pinta Ella.


Setelah ia memakai jaketnya, segera dia memeriksa dan mengobati luka yang berada di beberapa bagian anggota tubuh Ella. Terlihat Vano hanya diam dan memperhatikan setiap gerakannya. Entah apa yang terlintas di benak Vano.


Selesai mengolesi beberapa bagian tubuh Ella yang terluka dan memar dengan salep. Dan juga mengecek kondisi Ella, dia segera keluar.


"Hana." gumam Ella saat layar ponselnya menampilkan tulisan HANA.


"Iya Han, ada apa?" tanya Ella.


………


"Untuk satu minggu ke depan aku tidak ingin mengambil pekerjaan Han. Bilang saja pada mereka, jika aku sedang tidak enak badan."


………


"Iya, aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir." Ella mematikan panggilan telepon dari Hana. Ternyata Hana memberitahu Ella jika ada perusahaan yang ingin memakai jasa Ella.


Saat mendengar Ella menyebut nama Hana, selalu ada desiran takut di hati Vano. Bagaimana pun juga, Vano tidak ingin semua terungkap.


Sungguh, Vano tidak ingin kehilangan permatanya. Ella. "Ada apa Van?" tanya Ella melihat ada Vano seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak ada. Apa tidak sebaiknya kamu pulang?" ajak Vano, mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku akan disini dulu. Sebaiknya kamu kembali bekerja. Aku tidak apa-apa. Lagian di luar ada anak buah kamu."


"Maaf, aku harus kembali. Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan." Vano mendekat ke arah Ella, mencium keningnya.


Ella memandang ke arah Vano yang pergi keluar dari kamarnya. "Sepertinya Vano punya rahasia yang di sembunyikan dariku." batin Ella.


Ella berdiri. Memandangi wajahnya di depan cermin. Melihat ke arah pipinya. "Beruntung salep ajaib itu masih ada." gumam Ella.


Salep ajaib, salep kecil yang berharga mahal. Pernah Ella pakai untuk mengobati goresan di kulitnya. Dan sangat ampuh menghilangkan bekas luka di kulit.


"Kenapa semua menjadi kacau." Ella merebahkan badannya di kasur berukuran sedang di dalam kamarnya. Memejamkan mata, berusaha tidur. Mengistirahatkan pikirannya, meski hanya sejenak.


Sebelum nanti dirinya akan di sibukkan oleh penemuan bawahannya yang sedang bekerja.


*


*

__ADS_1


*


"Bagaimana Han, kamu maukan?" tanya Denis mengajak Hana untuk ikut bersama dirinya ke dalam acara makan malam keluarganya.


Sesungguhnya Hana sangat ingin berkata iya. Namun ada sedikit rasa takut di hati kecilnya. Dirinya takut jika keluarga Denis tidak menerima dirinya. Apalagi pasti di sana ada mama Denis.


"Han,,," panggil Denis, melihat Hana hanya diam dan termenung tanpa menjawab ajakannya.


"Apa" ucap Hana.


"Kamu mau kan." ucap Denis dengan lembut. Hana mengangguk pelan. Dirinya tidak ingin mengecewakan kekasihnya tersebut.


Denis berkali-kali mencium punggung tangan Hana. "Terimakasih sayang." ucap Denis bahagia.


"Baiklah, kita selesaikan makan siang kita. Setelah ini, aku antar kamu pulang." ujar Denis dengan bibir tersenyum senang.


"Tidak perlu. Aku akan naik taksi saja. Lebih baik kamu kembali ke kantor saja." Hana tidak ingin terlalu merepotkan Denis, mengingat jalan mereka berbeda arah.


"Tidak masalah, aku sungguh tidak keberatan." ucap Denis.


"Ella, apa yang harus aku lakukan." batin Hana. Ingin sekali Hana menghubungi Ella dan memberitahu kekhawatirkannya.


Namun Hana yang baru saja menelpon Ella, dan sepertinya Ella juga sedang ada masalah, membuat Hana mengurungkan niat untuk memberitahu Ella.


"Semoga nanti malam berjalan lancar." batin Hana.


Sungguh, Hana perlu waktu sendiri. Mencoba menguatkan hatinya. "Pak, berhenti." Hana meminta sopir taksi menghentikan mobilnya di dekat taman.


Hana duduk sendiri di taman. Menyaksikan anak-anak yang berlari kesana kemari. "Hufffttt,,, kalian tahu. Menjadi dewasa itu, sungguh tidak enak, sangat ribet dan melelahkan." gumamnya.


"Bahkan sekarang, aku ingin menjadi seperti kalian lagi. Tidak perlu berpikir. Hanya bermain, dan tertawa puas." ucap Hana lirih.


"Pasti kalian berpikir menjadi orang dewasa itu sangat hebat. Kalian salah, lihatlah. Haahh,,,,, banyak sekali masalah." ucap Hana.


"Anda waras." celetuk seorang pemuda yang berdiri di samping Hana, dan mendengar Hana berbicara sendiri.


Seketika Hana mendongakkan wajahnya. Seorang pemuda, yang bahkan umurnya masih di bawah adik Hana.


Hana membuang muka. Seolah tidak merespon atau terganggu dengan kehadirannya yang tiba-tiba. "Tunggu." batin Hana. Sepertinya mata Hana menangkap sesuatu.


Segera Hana kembali melihat ke arah pemuda tersebut. Melihat ke tas yang di taruh di bahunya. "Benar, bukankah itu asesoris milik Ella yang hilang." batin Hana, melihat asesoris milik sahabatnya tergantung di kepala resleting tas pemuda tersebut.


"Tunggu, mau ke mana kamu." Hana segera berdiri, menarik tas yang terpasang di bahu lelaki tersebut. Membuat lelaki tersebut menghentikan langkahnya.


"Apasih." serunya.


"Itu." jari Hana menunjuk ke arah tas yang di gendong lelaki tersebut.


"Apa." ucapnya tak kalah garang. Hana segera mendorongnya, membuatnya membalikkan badan. Dengan gerakan yang cepat, Hana menarik asesoris yang di yakini milik Ella tersebut.

__ADS_1


"Heh,, apa yang kamu lakukan. Jangan kurang ajar." serunya melihat Hana mengambil sesuatu dari gantungan tas miliknya.


"Heh, kamu dapat dari mana ini." Hana memegang asesoris milik Ella.


"Kembalikan." ucap pemuda tadi, tapi Hana segera menghindar. Membuatnya tak bisa mendapatkan barang yang diinginkannya.


"Kembalikan. Ini bukan milik kamu." tegas Hana.


Pemuda tadi tersenyum miring. "Sepertinya dia tahu, barang itu milik siapa." batinnya.


"Jika bukan milikku, lantas milik siapa Nona. Milik kamu?" tanyanya, memancing Hana.


"Bukan." segah Hana, membuat pemuda tadi mengernyitkan dahinya.


"Oke, bukan milik kamu. Berarti sekarang. Kembalikan." ucapnya.


"Tidak akan." kekeh Hana.


"Kamu tahu, barang ini milik teman saya. Ini hadiah dari suaminya. Dan saya harus mengembalikannya. Paham." ucap Hana menggenggam erat asesoris milik Ella.


"Baiklah. Aku akan mengembalikan, jika kamu punya bukti. Jika tidak, kembalikan padaku." Marcell menengadahkan telapak tangannya di depan Hana.


"Asesoris ini hanya ada dua puluh lima di dunia." jelas Hana.


"Dan saya harus percaya ucapan anda." ujar Marcell terkekeh.


Hana dan Marcell, keduanya memang belum pernah bertemu. Tidak heran jika keduanya belum saling mengenal.


"Oke. Sebentar." Hana mengambil ponsel miliknya. Entah apa yang di cari di dalam ponsel miliknya.


"Dapat juga, sebentar lagi gue akan tahu. Siapa perempuan yang sudah nolong gue waktu itu. Apa benar Ella, atau bukan." batinnya menyeringai, memandang Hana yang tengah sibuk mencari sesuatu di ponselnya.


"Lihat." Hana memperlihatkan foto asesoris tersebut di layar ponselnya. Marcell memandang Hana, karena Hana memperbesar hanya di bagian asesorisnya.


"Biar aku lihat sendiri."


"Hehhhh." seru Hana saat Marcell mengambil ponsel miliknya.


"Ella." batin Marcell melihat foto di layar ponsel milik perempuan di depannya.


"Baiklah." Marcell pergi dengan tenang. Sementara Hana merasa senang, karena menemukan asesoris Ella yang di berikan oleh Vano sudah ia temukan.


"Ell, ketemu." Hana teringat saat dirinya dan Ella mengobrak-abrik apartemen dan kamar Ella, hanya untuk mencari benda tersebut.


Dan Marcell, tersenyum puas. Karena ternyata apa yang berada di dalam benaknya, terjawab sudah. Tebakannya benar, jika Ella yang sudah menolongnya.


Pemuda tersebut sepertinya tertarik dengan sosok Ella. Astaga, bahkan anak seusia Marcell juga menginginkan istri dari Tuan Vano.


Entah karena kepribadian Ella. Atau karena kecantikan yang di miliki oleh Ella. Atau mungkin, Marcell melihat jika Ella tidak seperti perempuan pada umumnya. Piawai dalam bela diri dan juga berkendara.

__ADS_1


__ADS_2