
Denis dan Viki di tugaskan Ella untuk menunggu kedatangan Vano dan mengantarkannya ke tempat Ella berada. Tapi keduanya mendumal tak jelas karena yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Apalagi mereka sudah menunggu lima belas menit lamanya.
Baru juga lima belas menit. Coba jika sampai berbulan-bulan. Seperti othor yang menunggu kepastian si anu,,,,,, upsss 🤭🤭 Maaf, malah kebablasan curhat.
Padahal pihak penyelenggara acara sudah menyiapkan orang untuk menunggu dan mengantar mempelai lelaki untuk bertemu mempelai wanita. Tapi Ella menolak dengan alasan yang tidak masuk akal.
Alhasil, Denis dan Vikilah yang menjadi tumbalnya, di tugaskan Ella untuk menunggu dan mengantar Vano. Membuat keduanya melakukan perkataan Ella dengan setengah hati.
Ella, apa dia memang sengaja mengerjai kedua sahabatnya. Usil banget. Ada-ada saja Ella ini.
"Akhirnya elo datang juga, kita bisa jadi patung kalau elo nggak datang-datang." oceh Denis saat dirinya melihat kedatangan Vano.
Vano terlihat cuek, tidak menghiraukan keberadaan kedua sahabat calon istrinya yang sudah menunggu kedatangannya sejak lima belas menit yang lalu.
"Ehhhh,,, sudahlah. Biarkan saja." Reza menghentikan Denis saat tangan Denis ingin melayangkan sepatu yang sudah dilepaskannya dari kakinya pada Vano.
"Aiisshhh. Beruntung dia tampan dan kaya. Jika tidak pasti sudah banyak hetersnya." Viki memandang tubuh Vano yang berjalan semakin jauh dari mereka.
"Makanya dia seperti itu. Coba kalau jelek dan miskin. Apa bisa bertingkah." omel Denis kembali memakaikan sepatu di kakinya.
Reza menggeleng mendengar omelan dari kedua sahabat Ella. "Itung-itung sebagai hadiah, karena hari ini hari pernikahannya." ujarnya.
"Heee,,, kamu pikir kami tidak memberi mereka amplop berisi uang dengan lembaran yang banyak." seru Viki.
"Mungkin saja isinya lembaran uang seribuan semua." gumam Reza meninggalkan Denis dan Viki.
"Haha... ternyata. Tidak bossnya, tidak anak buahnya. Sama-sama menjengkelkan." geram Denis mengikuti langkah kaki Reza.
"Tidak masalah jika lembarannya dolar." imbuh Viki mengikuti langkah mereka dari belakang.
"Sayang,,, " Vano langsung menghampiri Ella dan menatap calon istrinya dengan penuh cinta begitu memasuki kamar di mana Ella di rias.
"Kami sangat cantik."
"Emmm,,, berarti hari-hari sebelumnya tidak cantik."
"Cantik juga. Apalagi.." Vano mendekatkan bibirnya ke samping telinga Vano. "Kamu lebih cantik dan seksi jika kamu di atas ranjang." bisiknya.
"Awww." seru Vano mendapat cubitan kecil dari Ella tepat di lengan kekarnya.
"Mesum." ucap Ella lirih sambil melotot.
__ADS_1
Hana sedikit menjauh dari mereka. Entah mengapa ada sedikit rasa nyeri di hati Hana saat dirinya berdekatan dengan Vano.
Tidak dapat dipungkiri, Hana masih mengingat kejadian malam itu dengan jelas. Dan mungkin masih menyisakan rasa trauma di sudut hati Hana.
"Gue harus bisa menghapus ingatan itu. Harus. Gue nggak mau terbayang-bayang seperti ini." batin Hana.
Hana tahu, melupakan kejadian malam itu memang sulit. Apalagi dirinya sering bertemu dengan Vano.
Sementara Vano dirinya hanya acuh. Memandang Hanapun tidak. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Ella dan Ella.
Entahlah, apa malam itu Vano tidak merasa bersalah sedikitpun dengan Hana. Karena Vano melakukannya secara tidak sengaja. Di bawah pengaruh obat.
Atau, apa karena Vano sudah terbiasa bermain dengan banyak perempuan. Jadi dia merasa biasa-biasa saja.
"Kamu begitu cantik." Vano mengecup pundak Ella yang terekspos.
"Bibirnya nanti saja, ketika di depan." bisik Vano langsung mendapat tatapan horor dari Ella.
Vano meraih pinggang Ella. "Aku tahu, kamu pasti bertanya dalam hati. Kenapa aku menciummu di pundak." ujar Vano sok tahu.
Ella mengerutkan dahinya mendengar perkataan Vano yang tak jelas. "Sama sekali tidak Tuan." ucap Ella dengan tangan berada di dagu Vano.
Ketiga lelaki yang mengikuti langkah Vano, kini sudah berada di ambang pintu. Tapi mata Denis menatap pada sosok Hana yang terus memperhatikan interaksi Ella dan Vano.
"Apa kamu juga pengen seperti mereka?" bisik Denis pada Hana.
Entah sejak kapan Denis sudah berada di belakang Hana, sampai Hana tidak menyadarinya. Karena dirinya terlalu fokus dengan dua calon mempelai di depannya. Atau karena dirinya sedang memikirkan nasibnya ke depan.
Hana sedikit terperanjat karena kaget dengan kehadiran Denis yang tiba-tiba berada di belakangnya.
Dengan posesif, Denis mengeratkan tangannya di perut Hana dari belakang. "Jangan khawatir, aku akan segera melamarmu." ucap Denis lirih di samping telinga Hana.
Hana segera melepas tangan Denis di perutnya. "Jangan ngawur. Ini acara mereka. Lihat, mereka sangat bahagia." ucap Hana.
"Iya, setelah mereka. Akan tiba giliran kita." Denis membawa telapak tangan Hana dan menciumnya.
Dulu, jika Denis berkata demikian. Hana akan sangat antusias dan menyambut bahagia. Meskipun sampai sekarang, Denis belum memperkenalkan dirinya pada kedua orang tuanya.
Tapi sekarang, Hana merasa tidak pantas berada di samping Denis karena kejadian malam itu. "Sudahlah, biarkan semua berjalan mengalir dulu. Sekarang, saatnya tersenyum." Hana kembali memandang ke arah sahabatnya yang sedang berbincang dengan Vano.
"Tuan, sudah saatnya anda dan Nona menuju ke depan." ucap Reza baru saja memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Sepertinya ada seseorang yang menghubungi Reza dan menyuruhnya memberi tahu Vano dan Ella.
__ADS_1
"Ayo honey." Vano mengulurkan tangannya. Dan di sambut dengan bahagia oleh Ella.
Ella dan Vano berjalan beriringan paling depan. Di belakang ada Reza, Viki, Denis, dan Hana. Tapi sampai di ruangan acara berlangsung, mereka membiarkan Ella dan Vano berjalan berdua.
Sementara mereka berempat duduk ke tempat yang sudah di sediakan untuk mereka.
"Syukurlah, akhirnya kita menjadi besan." ucap Nyonya Risma menggenggam erat telapak tangan Nyonya Ane.
"Mereka sangat serasi. Cantik dan tampan." ujar Nyonya Ane dijawab anggukan oleh besannya. Nyonya Risma.
Semua mata memandang ke arah Vano dan Ella. Mereka benar-benar menjadi pasangan sangat serasi malam ini.
Semua kamera yang ada bagaikan kilatan petir. Tidak henti-hentinya mengambil gambar keduanya dalam momen apapun.
Selesai Vano mengucapkan janji pernikahan di depan para saksi. Kini Ella secara agama dan negara sah menjadi istrinya.
Bahkan Tuan Danto dan Tuan Haris saling berpelukan dan saling berucap selamat disertai senyum bahagia.
"Baiklah, sekarang saatnya mempelai memakaikan cincin pada pasangan." ucap pembawa acara.
Reza segera naik ke depan untuk menyerahkan cincin yang di titipkan Vano padanya dalam mobil saat berangkat ke tempat acara tadi.
Vano memakaikan cincin pada jari manis Ella, begitupun sebaliknya.
"Cium,,, cium,,, cium,,," teriak teman-teman model Ella.
Ella menoleh ke arah sumber suara dan melotot, tetapi bibirnya tetap tersenyum malu.
Tidak menunggu lama, tangan kiri Vano menarik pinggang Ella untuk lebih merapatkan tubuh Ella pada dirinya. Dan tangan kanannya memegang dagu Ella.
Vano mengerlingkan mata dan Ella menahan senyum melihat genitnya Vano.
Cup.... Vano menempelkan dengan sempurna bibirnya pada bibir milik sang model. Saat Ella hendak menarik diri, Vano malah memperdalam ciumannya.
Suara tepuk tangan di sertai teriakan tamu undangan memenuhi gedung. Bahkan ada yang berdiri sambil berjingkrak-jingkrak. Dan ada yang menutup mata, malu-malu kucing.
Tapi tidak semuanya merasa bahagia dengan penyatuan mereka berdua sebagai suami istri. Apalagi perempuan-perempuan yang pernah singgah di ranjang Vano. Bahkan mereka tidak menampakkan senyum.
Di tempat depan ada Oma Yeti dan Lena yang tidak menampakkan senyum sedikitpun.
Kalian senang ataupun tidak dengan pernikahan Vano dan Ella, sama sekali tidak berpengaruh pada mereka.
__ADS_1
😏😏