DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 164


__ADS_3

"Maaf Paman, Ella telat." ucap Ella merasa tidak enak dengan Paman Haki. Lantaran dirinya telat hampir lima belas menit dari janjian. Karena biasanya Ella selalu tepat waktu.


"Santai saja. Minum dulu." paman Haki menyodorkan air botol mineral kemasan pada Ella.


"Maaf Non, motornya kenapa?" tanya bawahan Paman Haki yang melihat motor belakang milik Ella rusak.


"Tadi ada bocah yang naik mobil ugal-ugalan. Tapi nggak apa-apa. Semua baik." jelasnya tersenyum.


"Kamu terluka?" tanya Paman Haki khawatir.


"Nggak Paman. Ella baik kok." Ella merentangkan tangannya. Menandakan dirinya baik-baik saja.


"Apa perlu di perbaiki?" tanya bawahan Paman Haki.


"Kenapa pakai tanya. Lakukan saja." bentak Paman Haki.


"Baik Paman." ujarnya.


"Tunggu, ini uangnya."


"Tidak perlu Nona, kami bisa memperbaikinya." ucapnya saat Ella akan mengeluarkan kartu dari dalam dompet. Lantaran uang milik Ella semua yang berada di dalam dompet ia taruh di atas mobil Selin.


"Baiklah, terimakasih." ucap Ella.


"Bagaimana Paman. Apa ada sesuatu yang Paman temukan?" tanya Ella setelah mereka tinggal berdua di dalam ruangan.


Paman Haki menyerahkan beberapa lembar kertas pada Ella. Dengan seksama Ella membacanya satu persatu. "Jadi, mobil itu mobil sewaan." ucap Ella.


"Tapi mereka begitu ceroboh." senyum smirk Ella terukir di bibir seksinya.


Seketika Ella teringat pada Reza. "Apa Reza sudah menemukan petunjuknya juga?" tanya Ella tanpa memandang ke arah Paman Haki. Melainkan tetap melihat ke lembaran kertas di tangannya.


"Sepertinya sudah Nona." jawab Paman Haki.


"Kita harus memancingnya untuk untuk keluar paman. Selama dia berada di balik layar, akan sangat sulit untuk kita menyentuhnya." jelas Ella.


"Kenapa kita tidak langsung mendatangi markasnya Nona?" saran paman Haki yang sudah tidak sabar.


"Pasti kita akan kehilangan banyak orang."


"Mereka juga pasti sama Nona." kekeh paman Haki.

__ADS_1


"Aku tidak ingin menghilangkan banyak nyawa dengan sia-sia paman. Apalagi hanya untuk nyawa satu orang bajing-an seperti pak tua itu. Kita harus membuat rencana. Dan kita butuh umpan untuk memancingnya keluar dari sarang." tutur Ella.


"Selama ini dia hanya mencari seseorang yang dijadikan bonekanya. Seperti pemain, yang menjalankan mainannya dengan remot kontrol dari tempat tersembunyi. Tua bangka keparat." umpat Ella.


"Selama kita belum menangkapnya, akan banyak lagi boneka-boneka mainannya yang bermunculan paman."


"Lantas apa yang harus kita lakukan Nona. Apalagi Paman tidak mungkin menghubungi Tuan Haris. Bukankah beliau sedang berada di luar negeri." timpal paman Haris.


"Vanesa." gumam Ella.


"Vanesa, siapa dia Nona?" tanya Paman Haki yang masih asing mendengar nama tersebut.


Ella mengambil ponselnya. Mencari gambar Vanesa si media sosial. Lalu mengirimkannya pada paman Haki. "Selidiki perempuan ini. Jika perlu pantau pergerakannya. Dan yang lebih penting, paman harus berhati-hati. Perempuan ini seperti Ella. Dia pemain di dunia hiburan." jelas Ella.


"Baik Nona."


"Kalau begitu, Ella pergi dulu. Ada hal lain yang harus Ella selesaikan." Ella berdiri, berjabat tangan dengan paman Haki.


"Oh iya paman. Cari tahu siapa saja yang pernah berinteraksi dengan lelaki tua tersebut. Bahkan jika itu jaman dulu, saat dia masih muda."


"Baik Nona."


Ella meninggalkan rumah paman Haki dengan menggunakan salah satu mobil milik paman Haki. Lantaran motornya masih di perbaiki.


Beruntung Ella langsung membelokkan stir. Sehingga pipinya hanya seperti tergores. Tapi tetap mengeluarkan darah. Ella menghentikan mobilnya. Mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.


Manik matanya memindai sekitar mobil. Tampak.sepi dan lenggang. "Itu dia." batin Ella melihat bayangan seseorang di balik pohon.


Tangan Ella mengusap darah yang keluar dari luka di pipinya. Meski darahnya sedikit, tapi itu sangat mengganggu.


Dengan hati-hati, Ella merangkak pergi ke kursi belakang. Dengan matanya yang jeli, Ella kembali mengamati sekitar mobil tersebut. "Sial, ternyata bukan hanya satu orang."


Segera Ella menghubungi paman Haki. Menceritakan keadaan di sekitarnya. Terutama posisi para penembak. Dan Ella melihat ada enam orang di balik pohon dengan tempat berbeda.


Ella memencet sebuah tombol di dalam mobil paman Haki. Dengan tiba-tiba, setiap kaca di mobil yang di tumpangi Ella keluar kaca lainnya dari bawah. Dan sekarang Ella merasa aman. Karena kaca tersebut tidak akan pecah meski tertembak.


"Kalau gue keluar. Pasti gue akan di berondong peluru." Ella membuka sedikit kaca mobilnya bagian atas. Mengeluarkan pucuk senapannya. Dia berniat menembak mereka. Dari pada diam saat menunggu bala bantuan. Dan tidak melakukan apapun.


"Aaa... Menganggu." ujar Ella dengan kesal, membiarkan ponselnya terus berdering. Ternyata Vano yang menelponnya. Vano melihat keberadaan Ella dari ponsel miliknya. Dan Ella diam di satu tempat.


Membuat Vano khawatir. Apalagi Ella berdiam diri di tengah jalan. Itulah yang membuat sang suami khawatir. "Reza..." teriaknya menggelegar.

__ADS_1


Terdengar sampai ke meja Imey. Segera Imey menghubungi Reza dan memberitahunya.


"Iya Tuan." Reza datang dengan cepat.


Tanpa berkata apapun, Vano berdiri. Berjalan dengan tergesa. Segera Reza menyuruh seseorang untuk menyiapkan mobil.


"Kita ke tempat Ella." Vano menyodorkan ponsel yang sudah menyala pada Reza. Tanpa banyak bertanya, Reza segera melajukan kendaraannya.


Dorrr,,,, sayang, bidikan Ella meleset. Karena target berada di balik pohon. Ella bermaksud menembak sedikit tubuh target yang terlihat oleh matanya.


Takk,,, tak,,, Beberapa peluru mengenai kaca mobil Ella. Tapi karena Ella sudah mengaktifkan kaca tahan peluru, alhasil peluru tersebut terpental kembali.


"Baiklah, jika kalian ingin bermain-main. Dengan senang hati akan aku temani." Ella kembali duduk di belakang kemudi.


Tangan kanan memegang stir mobil, sementara tangan kiri memegang senjata api.


Ciitttzzzz......Ella menginjak rem mobil secara mendadak, memutar stir ke kiri. Saat mobil masih dalam keadaan berputar, Ella membuka kaca mobil dengan cepat.


Doorr... doorr...


Peluru mengenai dua target sekaligus yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon. Dengan cepat Ella kembali menutup kaca mobil. Melajukan ke tempat yang lain.


Dorr.....terdengar bunyi tembakan yang di arahkan ke mobil Ella. Tidak lama kemudian, mobil yang Ella kemudikan seperti oleng.


"Mereka menembak ban mobil gue, brengsek." maki Ella memukul stir.


Ella membuka sedikit pintu mobil. Bermaksud keluar dari dalam mobil. Dan itu pasti akan sangat berbahaya. Begitu Ella keluar, pasti mereka akan mengarahkan senjata mereka tepat ke tubuh Ella.


Tapi Ella tidak punya pilihan. Dari pada mati di dalam mobil karena kecelakaan. Lebih baik berusaha menyelamatkan diri. Entah apa yang nanti terjadi.


Sebelum Ella keluar dari mobil, Ella mencari senjata yang mungkin paman Haki simpan di dalam mobil.


"Ini dia." tangan Ella mengambil sebuah pistol di bawah kursi pengemudi.


Dengan masing-masing tangan memegang senjata api. Segera Ella mengeluarkan dirinya dari dalam mobil. Sebelum mobil melaju tanpa kendali dan menabrak pembatas jalan.


Badan Ella terguling-guling di aspal. Hingga tubuh Ella berhenti di aspal yang paling tepi. Segera Ella berdiri, menghindari rentetan peluru yang menargetkan dirinya.


Dengan nafas tersengal, Ella berdiri di balik pohon. Mencoba berlindung di balik pohon. Nampak jaket dan celana Ella robek. "Kemana mereka. Kenapa belum sampai." gerak Ella, karena paman Haki dan bawahannya belum sampai.


Apalagi Ella merasa ngilu di bagian siku tangannya. Ella memejamkan mata. Mencoba menenangkan pikirannya. "Sial. Ternyata mereka lebih dari enam orang." gumam Ella.

__ADS_1


"Bagaimana mereka bisa mengetahui gue lewat sini. Padahal gue naik mobil Paman Haki." batin Ella, merasa ada penghianat yang telah dia beri makan dan tempat tinggal.


__ADS_2