DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 226


__ADS_3

Di luar, paman Haki dan Hana merasa khawatir. Apalagi para dokter dengan langkah tergesa masuk ke dalam. Saat keluar dari ruangan pun, dokter tidak menjawab pertanyaan dari paman Haki dan juga Ella.


Mereka hanya berkata. "Silahkan bertanya pada pihak keluarga." tentu saja para dokter tidak membagi apapun yang dilihat dan di dengar di dalam ruangan.


Meskipun itu adalah hasil kesehatan dan keadaan Ella saat ini. Mereka tidak ingin sampai salah bertindak dan berucap. Karena pekerjaan mereka di pertaruhkan. Bahkan juga nyawa mereka dan juga keluarga mereka.


"Apa yang terjadi dengan Ella?" tanya Hana, saat Viki keluar dari dalam ruangan.


"Ella masih belum bisa menerima kenyataan. Jika Vano sudah meninggal." ucap Viki.


"Dokter memberinya obat penenang. Untuk sementara, Ella dapat beristirahat dulu. Entahlah nanti. Setelah dia sadar." ucap Viki, mendaratkan pantatnya di kursi samping Hana duduk.


Ketiganya diam sesaat. Sampai akhirnya, Viki mengeluarkan suaranya kembali. "Apa Denis tidak ada menghubungi kamu?" tanya Viki, merasa aneh.


Hana hanya menggeleng pelan, saat Viki bertanya. Tak ada suara yang keluar dari mulut Hana. Mungkin alasan kenapa Denis belum datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ella.


Viki merasa ada yang di sembunyikan oleh Hana. Karena tidak biasanya Denis seperti ini. "Bagaimana kondisi Oma Yeti?" tanya Paman Haki, melihat kedatangan Reza.


"Masih sama. Tidak ada perubahan." Reza juga mengikuti Viki dan Hana duduk di kursi yang tersedia di depan kamar rawat Ella.


"Ella masih tidak bisa menerima. Dokter memberikan obat penenang. Apalagi Ella habis keguguran. Dia membutuhkan istirahat." jelas Viki, saat Reza menatap ke arahnya.


Paman Haki melihat ke arah ketiganya. "Kalian bisa beristirahat. Biar aku dan mereka yang berjaga di sini." saran Paman Haki, sambil menatap beberapa bawahan Tuan Haris maupun bawahan almarhum Vano.


Reza menyenggol lengan Viki. Dengan pandangan mata mengisyaratkan sesuatu. "Baiklah." gumam Viki.


"Kalau begitu, kami pulang dulu. Jika ada perkembangan mengenai Ella, tolong segera beritahu aku." ucap Viki.


"Ayo." Viki memegang lengan Hana dan menyeretnya pergi.


"Lepas." seru Hana memberontak. "Aku akan tetap di sini." kekeh Hana.


"Setelah elo beristirahat. Elo bisa ke sini lagi." tegas Viki.


"Lepas. Aku tidak akan pergi." kekeh Hana, melepaskan cekalan tangan Viki.


"Jangan buat keributan." desis Viki.


"Elo harus jaga badan elo juga. Elo mau di sini terus. Tanpa makan, tanpa tidur. Yang ada elo sakit. Bodo." Viki menoyor kepala Hana.


"Elo jangan menambahi beban mereka yang ada di dalam." omel Viki, Hana langsung diam.


"Pulang." hardik Viki. Membawa Hana pergi dari rumah sakit.


Reza hanya diam dan melihat kepergian mereka berdua. "Kamu tidak ikut mereka?" tanya Paman Haki, duduk di sebelah Reza.


"Saya akan tetap berjaga di sini paman." ucap Reza, menyenderkan badannya ke tembok. Sembari memejamkan mata.


Paman Haki hanya diam dan memandang ke arah Reza. Membiarkan lelaki tersebut untuk beristirahat, meski hanya sejenak.


"Aku tidak ingin pulang." ucap Hana lirih.


"Ckk,,, lantas kamu mau kemana?" sungut Viki kesal, Hana benar-benar keras kepala.


Viki menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Apa Denis tahu, jika kamu dan Vano,,, emmm. Kalian." tanya Viki lirih, dengan pandangan mata menatap lurus ke depan.


"Aku mengatakan semuanya pada Denis." ucap Hana, mengusap air matanya yang menetes ke pipi.


Viki menghela nafas. Ternyata dugaannya benar. "Aku antar kamu pulang." ucap Viki.


Viki juga tidak bertanya alasan Hana mengatakan hal yang sebenarnya pada Denis. Padahal, Hana bisa menyembunyikan kejadian tersebut dari Denis.


Sungguh Viki tidak akan mencampuri urusan atau masalah antara Hana dan Denis. Setidaknya, Viki akan memberi saran pada Denis. Itupun jika Denis datang dan bercerita padanya.


"Turun." perintah Viki, saat mereka tiba di depan rumah Hana.


"Ckkk..." decak Viki, segera Viki turun lebih dulu. Dan menyeret Hana untuk turun dari mobilnya.


Arik, adik Hana langsung berteriak memanggil ibunya. Begitu melihat sang kakak yang pulang di antar oleh sahabat Ella. Viki.


"Bu,,, kak Hana pulang!!" teriak Arik di ambang pintu.


Segera Bu Ningsih berlari dari belakang. Dan menghampiri sang anak. Arik dan Bu Ningsih yang awalnya akan mencecar pertanyaan pada Hana, saat Hana pulang langsung terurungkan. Melihat wajah sembab Hana.


"Bu, Hana belum makan sedari tadi." ucap Viki. Bu Ningsih hanya mengangguk dan segera menghapus air matanya. Mengajak sang anak masuk ke dalam.

__ADS_1


"Jangan biarkan kakakmu keluar dari rumah. Jagalah dia." ucap Viki pada Arik.


"Terimakasih kak." ucap Arik. Viki menepuk pundak Arik dan meninggalkan kediaman Hana.


Di rumah sakit.


"Pulanglah. Istirahatlah di rumah. Biar Ella kami yang menunggu." ucap Tuan Haris.


"Tidak, kami juga akan tetap di sini. Sampai Ella bisa menerima semuanya." ujar Tuan Danto.


Nyonya Risma dan Nyonya Ane bersandar di kursi. Sembari memejamkan kedua matanya. Berbeda dengan Tuan Haris dan Tuan Danto. Keduanya duduk dengan laptop di hadapan masing-masing.


Meski keadaan sedang daam duka, namun baik Tuan Danto maupun Tuan Haris tetap harus menjalankan kewajiban mereka sebagai pimpinan perusahaan.


"Katakan saja, jika perusahaan Vano membutuhkan sesuatu." ucap Tuan Haris.


"Ya, terimakasih." ucap Tuan Danto. Karena mulai saat ini, perusahan almarhum di ambil alih oleh Tuan Danto. Sementara waktu.


Karena Tuan Danto bermaksud akan menyerahkan semua aset kekayaan Vano pada Ella. Dan membiarkan Ella untuk meneruskan kepemimpinan akan perusahaan Vano.


Tuan Danto yakin, jika Ella sanggup mengemban tugas tersebut. Karena Ella termasuk mahasiswi dengan nilai terbaik di bidangnya. Dan lulus dengan nilai terbaik juga.


Bahkan Ella mendapat beasiswa. Tapi, karena Ella merasa keluarganya mampu untuk membayar biaya pendidikannya, Ella menyuruh pihak kampus untuk memberikan pada mahasiswa berprestasi lainnya. Yang kekurangan biaya. Sehingga mereka dapat meneruskan kuliah mereka.


Selang beberapa jam, Ella tersadar kembali. Dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya. "Ma, Ella bangun." ucap Tuan Danto.


Segera Tuan Danto dan Tuan Haris menutup laptop mereka. Begitu juga dengan Nyonya Risma dan Nyonya Ane. Keduanya segera membuka mata. Dan menghampiri ranjang Ella.


"Sayang." ucap Nyonya Ane.


"Apa mama yakin, jika jasad yang di masukkan ke dalam liang lahat adalah jasad Vano?" tanya Ella pertama kali saat membuka mata.


"Iya sayang. Mama yakin." jawab Nyonya Risma.


"Mama yang mengandung dia, mama yang melahirkan dan merawat dia. Mama mengenali putra mama. Mama yakin, dia adalah Vano." jelas Nyonya Risma.


"Ell, ikhlaskan. Supaya Vano juga tenang di sana." ujar Tuan Danto.


Ella berbicara tanpa memandang siapapun. Pandangan mata Ella fokus ke atas. Ke arah langit-langit kamar.


"Reza." jawan Tuan Haris. Karena memang, mereka semua mengetahuinya dari Reza.


"Panggilkan Reza." pinta Ella dengan ekspresi datar. Tuan Danto dan Tuan Haris saling menatap dan mengangguk. Segera Tuan Haris memanggil Reza, untuk masuk ke dalam ruangan.


"Ceritakan." perintah Ella, setelah Reza berdiri di samping ranjang Ella.


"Setelah Nyonya meninggalkan cafe, Tuan datang. Dan bermaksud mengikuti Nyonya." ucap Reza. Meski Reza tidak tahu pastinya. Karena Hana yang bercerita pada Reza.


Reza melanjutkan perkataannya. "Saya tidak tahu pastinya. Saat tiba di tempat kejadian, saya melihat Tuan Vano sudah tersungkur di atas aspal. Dengan beberapa luka tembak. Dan Nyonya, tak sadarkan diri di dalam mobil." jelas Reza.


"Saat itu, nadi Tuan masih berdenyut. Kami segera membawa ke rumah sakit. Begitu juga dengan Nyonya." imbuh Reza.


"Cukup." ucap Ella.


"Sayang." ujar Nyonya Risma dan Nyonya Ane bersamaan. Saat Ella hendak duduk. Mereka membantu Ella untuk duduk dengan nyaman di atas ranjang.


"Kalian. Masuk." perintah Ella.


Membuat semua orang di ruangan bingung dan saling menatap dengan perkataan Ella. Karena mereka tidak paham dan mengerti, untuk siapa perintah yang Ella keluarkan dari mulutnya.


Jendela ruangan Ella terbuka dari luar, tanpa mengeluarkan suara. "Siapa kalian??!!" teriak Nyonya Ane terkejut, karena beliau pertama kali melihat mereka.


Sontak semua mata memandang ke arah jendela. Berdiri empat orang dengan berpakaian tertutup. Hanya memperlihatkan mata mereka.


"Tenang ma." ucap Tuan Haris, memegang pundak sang istri yang merasa ketakutan. Begitu juga dengan Tuan Danto, beliau segera merangkul pundak sang istri. Karena Nyonya Risma sama seperti Nyonya Ane. Beliau juga tampak takut.


Tapi tidak dengan ketiga lelaki di ruangan Ella. Mereka kenal siapa mereka. Tapi yang membuat mereka terkejut adalah kehadiran mereka.


Apalagi setelah Ella memberi perintah, keempatnya masuk ke dalam ruangan Ella begitu saja. Seolah mereka memang sudah berada di sekitar Ella.


Tuan Haris, Tuan Danto, dan Reza saling pandang. Seolah apa yang mereka pikirkan oleh ketiganya sama.


"Kenapa Ella dengan mudah bisa memerintah keempatnya. Padahal mereka adalah orang-orang dengan kemampuan khusus."


"Dari mana Ella mengenal mereka. Padahal, hanya orang yang beruntung yang bisa melihatnya. Itupun, karena dua hal. Orang tersebut akan mati. Atau orang tersebut menyewa jasa mereka."

__ADS_1


"Apa Ella menyewa jasa keempat orang tersebut. Tapi kapan. Lagi pula, biayanya tidak main-main."


"Kalian, lakukan yang seharusnya kalian lakukan." perintah Ella dengan dingin, menatap keempatnya. Mereka hanya mengangguk.


Salah satu dari mereka maju ke depan. Berbisik kepada Ella. Kemudian segera mundur kembali. Berdiri bersama rekan-rekannya.


Ella menatapnya dengan tatapan tajam. Seperti pisau yang siap mengoyak jantung lawan. "Apa kau ingin mati?" desis Ella.


"Lakukan dengan cepat dan bersih." perintah Ella.


"Cabut sampai akarnya. Aku tidak ingin, kelak akan tumbuh lagi tunasnya."


"Singkirkan. Sampai jalanku, benar-benar bersih." imbuh Ella dengan tenang.


Segera keempatnya pergi melewati jendela. Seperti kedatangan mereka. Nyonya Ane dan Nyonya Risma saling pandang. Dan segera bergegas melihat mereka. Saat keempatnya tidak terlihat.


"Mereka lewat mana?" tanya Nyonya Risma lirih, memandang ke arah Nyonya Ane, yang sekarang berada di sampingnya.


Keduanya berada di depan jendela. Membuka jendela. Padahal saat ini Ella ada di lantai lima. Keduanya melihat ke arah bawah.


"Benar-benar seperti hantu." ucap Nyonya Ane, segera kembali ke samping sang suami.


"Ella ingin istirahat. Tinggalkan Ella sendiri. Ella tidak ingin di ganggu." ucap Ella, dengan gerak pelan membaringkan kembali badannya. Dan memejamkan mata.


Semuanya hanya terdiam. "Tuan dan Nyonya, silahkan beristirahat. Biarkan saya yang menunggu Nyonya Ella." ucap Reza.


"Sayang, kami pulang sebentar. Nanti akan kesini lagi." ucap Nyonya Ane. Mencium kening sang putri.


Setelah perintah yang di berikan oleh Ella, kini dunia bisnis di gemparkan dengan berita meninggalnya satu keluarga pengusaha yang sebelumnya telah bangkrut setelah kematian Vano.


"Ternyata putrimu benar-benar luar biasa." ucap Tuan Danto.


Sekitar seminggu Ella di rawat di rumah sakit. Dan hari ini, dia diperbolehkan pulang. Ella tidak pulang ke rumahnya, melainkan ke rumah Tuan Haris.


Semenjak kejadian tersebut, kini sifat Ella berubah. Ella menjadi seorang yang sangat pendiam. Bahkan, jika tidak di tanya, Ella tidak akan mengeluarkan suara. Itupun, Ella hanya menjawab dengan singkat.


Ella lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar, ketimbang di luar. "Van, kenapa kamu meninggalkan aku. Apa kata cinta yang selalu kamu ucapkan hanya sebuah kebohongan." ucap Ella lirih, dengan air mata yang audah meluncur ke pipi mulusnya.


tok,, tok,, tok,, "Non, ada Non Hana!" ucap Bibik dari luar kamar. Sedikit berteriak.


Ella segera menghapus air matanya. "Hana." gumam Ella. Saking masih terbalut sedih di hatinya akan meninggalnya sang suami dan calon anaknya, bahkan Ella sampai lupa tentang kejadian tersebut.


"Dimana?" tanya Ella, setelah membuka pintu.


"Di bawah Non." ucap Bibik.


Dengan langkah pasti, Ella menemui Hana. "Elll..." ucap Hana lirih, memandang ke arah Ella yang sedang mendaratkan pantatnya di kursi.


"Aku datang untuk minta maaf. Kamu boleh menghukum ku. Dengan senang hati. Akan aku terima." ucap Hana. Masih dengan posisi berdiri di depan Ella.


Segera Ella berdiri dan memeluk Hana. "Kamu juga tidak salah Han. Saat itu, aku hanya kecewa dengan kenyataan." ujar Ella. Ya, Ella memaafkan Hana.


Beberapa hari kemudian Ella berpamitan pada kedua orang tuanya, beserta kedua orang tua Vano. Dirinya ingin menenangkan diri untuk sementara waktu.


"Kamu yakin?" tanya Nyonya Ane.


"Yakin. Ella pasti akan kembali, jika hati Ella sudah tenang. Kalian tidak perlu khawatir." jelas Ella.


"Baiklah."


Mereka terpaksa mengikuti kemauan Ella untuk pergi meninggalkan negara ini. Ella butuh ketenangan. Dan mereka mengerti.


Apalagi Ella berjanji akan kembali. Itulah alasan yang mereka pegang, untuk melepaskan sang anak saat ini.


Sebelum pergi, Ella singgah dulu ke makam sang suami. Berpamitan pada Vano. "Kamu tenang saja. Aku akan terus menjalani hidup dengan baik. Dan semoga, kamu dapat tenang di sana." ucap Ella, sembari menitikkan air mata.


Ella benar-benar pergi. Bagai hilang dan lenyap tanpa jejak. Denis dan Viki, bahkan menyewa orang yang ahli di bidang IT mencari keberadaannya. Tapi sayang mereka tidak bisa menemukannya.


Apalagi pihak keluarga diam dan bungkam. Seolah mereka juga menyembunyikan keberadaan Ella.


"Biarlah Ella menenangkan diri." perkataan yang selalu menjadi jawaban dari keluarga Ella saat ada pertanyaan dari siapapun.


Sementara untuk Lena. Nyonya Risma membawa Lena ke rumah sakit jiwa. Beliau tidak mau menanggung kehidupan seseorang seperti Lena.


Dan Oma Yeti. Beliau masih tertidur pulas, dengan banyak alat medis yang menempel di badannya.

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2