DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 68


__ADS_3

Dengan telaten Reza mengobati wajah Vano yang babak belur karena berkelahi dengan Egi.


"Pelan-pelan!" bentak Vano saat Reza tidak sengaja menekan bagian yang sakit.


"Sudah. Nanti malah lebih parah." Vano menepis tangan Reza yang berada di wajahnya.


Sebenarnya Reza ingin tertawa melihat wajah tampan bosnya menjadi lucu. Tapi dia menahannya. Mana berani Reza tertawa, bisa-bisa wajahnya akan mengikuti wajah bosnya. Babak belur.


"Semua ini gara-gara Egi." geramnya.


"Kenapa bisa karena Tuan Egi?" tanya Reza yang membuat Vano semakin meradang.


"Maaf." ucap Reza saat mata Vano memandang tajam pada dirinya.


"Berani-beraninya dia mencium Ella."


"Hanya mencium saja. Tidak lebih."


"Tetap saja. Dia terlalu berani."


"Tapi Nona Ella kan bukan kekasih Tuan lagi."


"Tetap saja aku tidak rela. Sampai kapanpun Ella akan tetap menjadi milikku."


"Tapi Nona Ella sudah memutuskan hubungan dengan Tuan."


"Tapi aku tidak." kekeh Vano.


"Bagaimana kalau Nona Ella juga mempunyai perasan dengan Tuan Egi?"


"Kau ini. Sebenarnya siapa yang membayar mu." seru Vano.


"Tuan Vano."


"Kenapa dari tadi kau selalu menyudutkan ku."


"Maaf."


"Menyudutkan. Menyudutkan bagaimana, perasaan gue cuma bertanya." batin Reza.


"Tuan." panggil Reza lirih.


"Apa!"


"Kenapa Tuan harus repot dengan Tuan Egi."


"Ckkk, karena dia mendekati Ella." geram Vano.


"Tuan. Diluar sana masih banyak lelaki yang mendekati Nona Ella. Tidak hanya Tuan Egi."


Mendengar perkataan Reza, Vano spontan memandang ke arah Reza.


"Apa Tuan akan berurusan dengan mereka satu-persatu?" tanya Reza.


"Bila perlu."


"Tuan, sebaiknya Tuan fokus saja pada Nona Ella. Tidak perlu repot mengurusi yang lain. Apalagi lelaki yang ingin mendekati Nona Ella."


"Maksud kamu."


"Kenapa anda jadi bodoh jika soal perasaan dan perempuan. Mungkin karena selama ini Tuan Vano tidak pernah merasakan di tolak perempuan." batin Reza.


"Reza,,, jawab." ucap Vano saat mendapati Reza malah terdiam dan hanya memandangi dirinya.


"Tuan sebaiknya fokus untuk mendapatkan Nona Ella. Jika Tuan berurusan dengan setiap lelaki yang mendekati Nona Ella, kapan Tuan akan bisa mendapatkan hati Nona Ella." ucap Reza.


"Tuan ingat, bagaiman dulu Nona Ella begitu patuh pada Tuan. Bahkan Nona sendiri yang membatasi pergaulannya. Itu karena Nona takut kehilangan Tuan. Sekarang, Tuan harus mendapatkan kembali hati Nona. Saya yakin, jika Non Ella mencintai Tuan lagi, maka Non Ella akan seperti dulu."


"Apa gelas yang sudah pecah dapat kembali seperti semula?" tanya Vano memandang lurus ke depan.

__ADS_1


"Ella pasti sangat kecewa, bodohnya saya. Padahal Ella perempuan sempurna. Kenapa saya begitu bodoh."


"Semangat Tuan. Semangat berjuang mendapatkan Non Ella kembali." batin Reza sedikit iba melihat Tuannya.


*


*


Ciiiittt..... terdengar suara rem mobil.


Viki secara mendadak menghentikan mobilnya. Membuat Denis dan Ella terkejut. Beruntung Denis memakai sabuk pengaman.


Tidak dengan Ella. Badannya sedikit terpelanting ke depan. "Gila elo." seru Ella terkejut.


"Vikkkkk." geram Denis tak kalah geram.


"Ulangi perkataan elo Ell." bukannya minta maaf, Viki malah menyuruh Ella mengulangi perkataannya.


"Elo kesambet." Denis memegang dahi Viki.


Dengan kasar, Viki menepis tangan Denis. "Ell." panggil Viki.


Ella menghiraukan panggilan Viki. Dirinya masih sibuk mengelus lengannya yang terasa sakit karena terkena tempat duduk di depannya.


"Elll." seru Viki.


"Apa." teriak Ella dengan mata melotot pada Viki.


"Elo lihat. Sakit tahu." Ella menunjukkan lengannya yang terlihat memar.


Viki segera tersadar dan meminta maaf. "Sorry, gue reflek. Sumpah. Sorry Ell, Dennn." ucapnya Viki merasa bersalah.


Viki melepas sabuk pengamannya dan menghadap ke belakang. Tepat ke arah Ella berada. Denis hanya diam dan memperhatikan sahabatnya tersebut.


"Elo tadi menyebut nama Jonathan. Model kita yang berkiprah di Paris." tanya Viki dengan antusias.


Sejenak, Ella dan Denis saling memandang. "Kenapa, elo kenal?" tanya Ella.


Denis yang penasaran sedikit menjulurkan lehernya. Mengintip layar ponsel Viki.


"Ya, dia." ucap Ella setelah melihat layar ponsel Viki.


Jonathan, model pendatang di negara mereka. Tapi dia sudah terkenal di Paris. Karena dia merintis karirnya di mulai dari negara mode tersebut.


"Jangan bilang dia...." Ella melihat ke arah Viki.


"Darling, kenapa dia nggak ngasih tahu gue. Jahat banget. Atau dia mau membuat surprise buat gue. Iya, pasti." ucap Viki dengan senang.


Denis menepuk jidatnya sendiri. "Elo harus bermain rapi. Jangan sampai tercium publik. Bisa tamat riwayat elo." timpal Denis.


Viki dan Jonathan, mereka adalah sepasang kekasih. Mereka sudah berpacaran beberapa tahun terakhir.


"Tenang saja bestie." Viki memeluk Denis.


"Lepas. Gue jadi ngeri deket elo. Turun." suruh Denis.


Viki tercengang mendengar perkataan Denis yang menyuruhnya turun dari mobil. "Biar gue yang nyetir. Gue masih sayang sama nyawa gue." ujar Denis.


"Oke. Gue pikir elo ngusir gue." ucap Viki.


Ella memijat keningnya. "Bagaimana mereka melakukan kikuk kikuk. Viki dan Jonathan. Timun sama terong. Sama-sama lonjong." batin Ella.


"Tapi kenapa Jo nggak ngabarin gue." ucap Viki lirih, tapi masih bisa di dengar kedua sahabatnya.


"Sudah bosan sama elo." ucap Denis.


"Sudah lupa sama elo. Sudah ada yang lebih fresh." timpal Ella.


"Sumpah. Bukannya menghibur atau nenangin gue. Jahat banget kalian." ujar Viki.

__ADS_1


"Bodo." ucap Ella dan Denis bersama. Keduanya masih kesal dengan Viki karena menghentikan mobil dengan ekstrim.


Sampai di parkiran perusahaan ATE.


"Elo yakin, mau ikut?" tanya Ella pada Viki.


"Iya lah. Denis saja ikut."


"Gue fotographernya tolol." timpal Denis dengan sengit.


"Jonathan belum ada. Gue kesini cuma sama Denis. Dia belum datang dari Paris. Mungkin besok."


"Kok elo tahu Ell." tanya Viki dengan tatapan menyelidik.


"Pihak perusahaan yang ngasih tahu." ucap Ella jengkel.


"Sorry." Viki memegang dagu Ella dengan gemas.


"Jaga sikap. Jangan sampai kehidupan elo hancur." ingat Ella pada Viki.


"Pasti. Makasih ya, kalian berdua emang sahabat yang T.O.P. pake banget."


Ketiganya melangkah masuk ke dalam perusahaan dengan tenang, dan mencuri perhatian dari para karyawan.


Berjalan beriringan dengan Ella berada di tengah. "Biar gue yang tanya resepsionis dulu." ucap Denis.


"Gimana?" tanya Ella setelah Denis kembali.


"Tunggu sebentar lagi."


"Mari, biar saya antar. Tuan Ibra sudah menunggu di ruangannya." ucap seorang pegawai.


Terdengar bisik-bisik dari pada karyawan yang sebenarnya mengganggu indra pendengaran mereka.


Tapi mereka hanya acuh dan tidak menanggapinya.


"Itu Ella kan. Dan selingkuhannya."


"Berita sebesar itu, bisa hilang dalam hitungan jam."


"Memang benar sih, nggak kalah tampan dari Vano."


"Namanya juga model terkenal. Pasti slintutannya banyak."


Ketiganya melangkahkan kaki ke ruangan dengan seorang pegawai mengantar mereka.


"Silahkan masuk, Tuan Ibra sudah menunggu di dalam." ucapnya.


"Terimakasih." jawab ketiganya serempak.


Ibra menyambut mereka dengan sopan. "Silahkan duduk." sambut Ibra.


"Terimakasih Tuan." ucap Ella dan Denis.


"Maaf, dia teman saya. Dari pada menunggu di mobil sendirian. Kami mengajaknya masuk ke sini." ucap Denis.


"Tidak apa-apa. Bukankah anda Tuan Viki." tanya Ibra.


"Panggil saja Viki."


"Baiklah kalau begitu, Ibra. Tanpa embel-embel lain." ucap Ibra dengan senyum.


Selama membicarakan tentang pekerjaan yang akan Ella dan Denis lakukan, mata Ibra selalu mencuri pandang pada Ella. Dan itu tidak luput dari pengamatan kedua sahabatnya. Denis dan Viki.


"Maaf Nona..."


"Panggil saja Ella." potong Ella saat Ibra berbicara.


"Baiklah, biasanya anda dengan asisten anda. Jika boleh tahu, kenapa anda sendirian?"

__ADS_1


"Hana, dia kekasih saya. Kebetulan sedang tidak enak badan." jawab Denis.


Ella dan Viki mengerutkan dahinya mendengar perkataan Denis. "Yang di tanya siapa, yang jawab siapa. Pake ngaku kekasih. Kapan jadian. Belum apa-apa udah bucin." gumam Viki masih bisa di dengar oleh Ella. Karena keduanya duduk bersebelahan.


__ADS_2