DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 201


__ADS_3

Keduanya pulang ke rumah selesai sarapan. Itupun harus ada drama. Karena Nyonya Risma menyuruh Ella untuk menginap lagi di rumahnya.


Tapi karena Vano kekeh menginginkan Ella kembali ke rumah bersamanya, akhirnya Nyonya Risma mengalah.


Bukan tanpa alasan Vano ngeyel untuk tetap pulang ke rumah. Dirinya merasa, emosinya akan cepat membuncah. Apalagi di rumah Tuan Danto ada Oma Yeti beserta asistennya.


Apalagi Ella sedang hamil muda. Vano tidak ingin Ella merasa terganggu, dengan mulut Oma Yeti yang biasanya akan sembarangan berkata. Tanpa memikirkan perasaan Ella.


Memang, biasanya Vano akan cuek. Karena Vano merasa istrinya bisa mengatasi masalah Oma Yeti dan Lena. Tapi kali ini berbeda situasi dan kondisi. Ella sedang hamil. Vano tidak ingin Ella emosi dan mempengaruhi kehamilannya.


Vano sudah menghubungi Reza. Memberitahunya jika hari ini dirinya tidak bekerja. Dan meminta dia, untuk pekerjaan kantor semua di selesaikan oleh Reza.


"Mau kemana?" tanya Vano saat Ella berdiri dari tempat duduknya. Saat ini keduanya tengah berada di ruang tengah. Melihat acara talk show di televisi.


"Mau berangkat." ucap Ella.


"Ke dokter." tanya Vano.


"Ke dokternya nanti sore. Sekarang mau kursus memasak." jelas Ella.


"Kursus memasak." ujar Vano dengan penekanan.


Vano berdiri, membawa sang istri duduk kembali. "Sayang, sekarang kamu sedang hamil muda. Lebih baik kamu tidak usah mengikuti kursus tersebut." saran Vano dengan lembut.


"Katanya boleh." ucap Ella dengan bibir cemberut.


"Iya, tapikan sekarang kamu sedang hamil." jelas Vano dengan lembut.


Vano teringat perkataan Nyonya Risma sebelum mereka kembali ke rumah. Jika perempuan hamil itu sangat sensitif. Oleh karena itu, dia harus membiasakan diri mulai sekarang.


Menahan emosi saat menghadapi Ella. Dan harus menjaga emosi sang istri tetap stabil. Jangan sampai stres.


"Tapi aku pengen bisa memasak." rajuk Ella.


Vano menghembuskan nafas. "Ya sudah, bagaimana jika pergi ke dokter dulu. Memeriksakan kandungan kamu. Sekalian bertanya-tanya pada Dokter." ajak Vano mengecup pelan pipi sang istri.


Ella mengangguk lemah. "Ya sudah, sebaiknya kita bersiap." ucap Vano.


Sebelumnya, Vano memberitahu dokter pribadi keluarga. Jika dia dan Ella akan berkunjung ke dokter kandungan.


Dengan segera, dokter keluarga Reyandli tersebut menghubungi dokter kandungan terbaik di rumah sakit milik Oma Yeti.


Memberitahu dokter tersebut jika Tuan muda mereka akan datang bersama istrinya.


"Sudah." tanya Vano melihat Ella tampil cantik memakai dress motif bunga di bawah lutut berlengan panjang.


"Cantik sekali kamu sayang." Vano memeluk sang istri dari belakang.


"Van, kamu pakai parfum apa sih. Menyengat sekali." tanya Ella segera menutup hidungnya, menatap tajam ke arah Vano.


"Sama seperti biasa. Aku tidak pernah berganti parfum." Vano mencium sendiri bau badannya.


"Nggak ada yang salah." batin Vano.


"Sayang, inikan parfum yang kamu pilihkan sendiri waktu itu. Masa kamu lupa." ucap Vano mengingatkan.


"Tapi aku pusing cium baunya Van." rengek Ella.


"Baiklah, tunggu sebentar." Vano melepas pakaiannya dan berganti dengan pakaian lain. Tanpa menyemprotkan parfum ke bajunya.


"Sudah?" tanya Vano pada Ella. Dengan cepat Ella mengangguk dan memeluk suaminya.


"Setelah periksa ke dokter, kita pergi berbelanja. Kamu pilih sendiri sabun, parfum, dan yang lainnya. Supaya kamu dan bayi kita nyaman." saran Vano.


"Kenapa?" tanya Vano, karena Ella malah menatap ke arahnya


"Sama siapa?" tanya Ella.


"Maksudnya?" Vano bertanya kembali, lantaran bingung dengan pertanyaan Ella.


"Aku berbelanja sama siapa?" tanya Ella.


"Sama akulah sayang." jawab Vano mencium pipi Ella dengan gemas.


"Ya sudah, kita berangkat." ajak Vano.


"Dokternya?"

__ADS_1


"Sudah aku hubungi. Kita periksa di rumah sakit milik Oma Yeti." jelas Vano.


"Iya." jawab Ella singkat.


"Sayang, kamu baik-baik sajakan?" tanya Vano saat mereka berada di dalam mobil.


Saat ini Vano tidak menyetir sendiri. Dia meminta Rio untuk mengantarnya pergi bersama Ella.


"Ell,, sayang." Vano memeluk Ella dari samping. Karena Ella hanya diam dan menatap ke depan.


"Baik, cuma sedikit pusing." ucap Ella menyandarkan kepala di pundak sang suami. Vano mengelus dengan lembut rambut Ella.


"Huffttt,,, nggak peka banget sih. Padahal di sini ada gue." batin Rio melihat keuwuan mereka dari kaca spion.


"Rio..!!" seru Vano saat Rio menghentikan mobilnya mendadak.


"Ada apa?" tanya Ella, menegakkan badannya. Melihat ke depan lewat kaca.


"Sepertinya saya menabrak seseorang Tuan. Tapi,,," ucap Rio dengan perkataan menggantung.


"Periksa. Berhati-hatilah." pinta Vano.


"Baik." ucap Rio. Dirinya merasa aneh. Kendaraan tersebut melaju dari belakanganya dan langsung berada di depannya. Alhasil, dia tertabrak oleh Rio.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Vano khawatir dengan Ella. Sang istri hanya mengangguk dengan pandangan mata mengarah ke depan. Melihat Rio.


"Sayang, apapun yang terjadi kamu harus tetap di dalam. Jangan keluar." pinta Vano. Ella mengangguk dengan mata tetap memandang ke depan.


"Hey..!!" teriak Rio dengan gesit menghindar dari serangan seseorang yang terkapar di depan mobil mereka. Yang tiba-tiba terbangun saat Rio hendak memeriksanya.


Ternyata benar perkiraan Vano. Orang tersebut hanya berpura-pura mengalami kecelakaan, dengan tertabrak dan terkapar di depan mobil mereka.


Vano dan Ella hanya diam dan menyaksikan dari dalam mobil. Mereka yakin jika Rio bisa menyelesaikannya sendiri. Tanpa bantuan dari Vano.


Terlihat, jika Rio dengan mudah mengalahkan lelaki tersebut. "Van." panggil Ella dengan mata mengarah ke arah lain.


Ada empat orang lelaki yang sedang menaiki dua sepeda motor dengan berboncengan, melaju ke arah mereka.


Rio membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan. Denan kaki menginjak tubuh lelaki tersebut. Tatapan matanya memandang ke arah empat orang lelaki yang menuju ke arahnya.


Tanpa banyak berkata, keempatnya turun dari motor dan langsung menyerang Rio. Tapi sayang, meskipun jumlah mereka lebih banyak dari Rio yang hanya seorang diri. Rio dengan mudah mengalahkan mereka.


Hingga keempatnya tersungkur di atas aspal, dengan memegang bagian anggota tubuh mereka yang sakit karena pukulan dari Rio.


"Maaf Tuan, apa perlu kita bawa ke markas?" tanya Rio dari luar mobil.


"Tidak perlu, mereka hanya tikus got." bukan Vano yang menjawab pertanyaan Rio, melainkan Ella.


"Tinggalkan tempat ini. Biarkan saja mereka." pinta Vano.


Segera Rio melajukan kembali mobilnya ke tujuan semula. Rumah sakit.


"Setelah ini, kamu urus mereka." ucap Vano.


"Tidak perlu, bukankah sudah aku bilang mereka hanya tikus got. Pasti yang menyuruhnya hanya tikus kampung." cicit Ella.


"Tetap saja, mereka perlu di beri hadiah." kekeh Vano.


"Lebih baik kamu segera menyelesaikan masalah Jo." ucap Ella mengingatkan Vano.


"Kamu tenang saja, bawahan ku sudah menemukan sesuatu." ucap Vano memberitahu Ella.


"Baguslah." kata Ella kembali menyandarkan kepalanya di pundak Vano.


Ella dan Vano sudah bisa menebak siapa dalang di balik penyerangan yang baru saja mereka alami, yang membuat mereka mengulur waktu untuk pergi ke rumah sakit.


Bisa dilihat dari cara mereka menyerang mobil yang di dalamnya ada Vano dan Ella, tampak mereka menggunakan cara preman jalanan.


Menghentikan mobil, seolah-olah mobil menabrak pengendara jalan lain. Yang membuat si pengendara mau tak mau harus keluar dari mobil.


Dari cara mereka bertarungpun, bisa di lihat jika mereka hanya preman jalanan. Yang tidak mempunyai keahlian khusus. Hanya bermodal tampang sangar dan badan kekar.


Terbukti dengan satu dua kali sentuhan manja dari Rio, mereka langsung tepar di atas aspal.


"Bagaimana Tuan?" tanya Rio menanyakan perintah pasti dari Tuannya.


"Lakukan. Seperti kata istriku. Mereka hanya tikus got. Tidak perlu berlebihan. Dan jangan lupa, beri hadiah juga untuk tikus kampungnya." Vano tersenyum jahat dengan tangan menepuk pelan pundak sang istri yang sedang di rangkulnya.

__ADS_1


"Baik." ucap Rio.


"Sepertinya Tuan dan Nyonya sudah bisa menebak siapa orang yang menyuruh mereka." batin Rio, melihat ketenangan dari majikannya.


Sampai di rumah sakit, Rio menunggu majikannya di kantin. Mengisi perutnya, karena penghuni perut mulai melakukan demo bersama.


"Silahkan Nyonya." ucap dokter menyuruh Ella berbaring di atas ranjang.


Perawat yang membantu dokterpun mempersilahkan Ella untuk berbaring di atas ranjang dengan sopan. Karena Ella memakai dress, perawat memakaikan selimut untuk menutupi tubuh Ella bagian bawah.


Karena dress akan di sibakkan ke atas hingga memperlihatkan perut bagian bawah Ella yang masih rata.


"Maaf Nyonya, bajunya." ucap perawat. Ella yang mengerti langsung menaikkan sendiri dress yang di pakainya.


Vano berdiri di samping tubuh Ella dengan tangan memegang telapak tangan sang istri.


"Kita mulai ya Nyonya." ucap sang dokter dengan senyum manisnya. Perawat menuangkan cairan di atas perut Ella.


"Apa itu?" tanya Vano yang memang masih pertama kali melihatnya.


"Untuk melakukan USG, gel ini dioleskan di atas perut guna mencegah terjadinya gesekan antara kulit dan transduser."


"Ini adalah gel khusus yang berfungsi untuk mempermudah pengiriman gelombang suara kedalam tubuh." jelas sang dokter.


"Saya mulai ya Nyonya. Rileks saja." ucap dokter. Mulai menggerakkan transduser di atas perut Ella dengan pelan dan lembut.


Dokter beberapa kali memutar transduser, gerakan ini di perlukan agar gelombang suara yang dikirim mampu memantulkan kembali dan menghasilkan gambar yang baik.


"Lihat Tuan, Nyonya. Ini adalah janin yang sudah ada di dalam rahim Nyonya." ucap Dokter, menunjukkan sebuah titik di latar USG.


"Mana, tidak terlihat." ucap Vano dengan menajamkan penglihatannya ke arah layar. Membuat sang dokter tersenyum.


"Janinnya masih berbentuk seperti kecebong, Tuan." jelas Dokter, membuat Vano mengalihkan pandangannya ke arah sang dokter. Begitu juga dengan Ella.


Perawat mulai membersihkan gel yang berada di atas perut Ella menggunakan tisu. Menurunkan dress Ella hingga menutupi perutnya kembali. Dia juga membantu Ella untuk duduk dan turun dari ranjang.


"Terimakasih." ucap Ella, di sambut senyuman hangat dari perawat.


Vano menarik kursi ke belakang, membuat Ella lebih mudah untuk duduk. Perhatian kecil untuk Ella dari Vano membuat dokter dan perawat tersenyum.


Karena selama ini, yang mereka lihat adalah sosok Vano yang datar dan dingin. Bahkan terkesan cuek pada orang lain. Dan sombong.


Tapi mereka berkata wajar dengan semua sikap dan sifat Vano. Lantaran Vano mempunyai paket lengkap. Dari wajah tampan, badan kekar yang proporsional, dan harta berlimpah.


Tapi dokter dan perawat tidak menyangka jika Vano bisa bersikap manis dan begitu perhatian pada sang istri. Ella.


Berbeda dengan Vano. Ella di kenal sebagai model kelas atas. Dan juga putri dari pengusaha kaya. Dengan sifat lembut, humble, dan pastinya baik hati, dan murah senyum.


Perbedaan sifat dan sikap istri dan suami, bagaikan langit dan bumi. Itulah menurut pandangan mata orang umum. Karena mereka hanya bisa menilai semua dari cangkangnya saja. Tanpa bisa menebak apa yang terisi di balik cangkang tersebut.


Setelah Vano dan Ella duduk dengan nyaman, Dokter mulai menjelaskan kondisi kandungan Ella.


"Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir. Janin yang ada di dalam rahim Nyonya berkembang dengan baik dan sehat." jelas sang dokter.


Vano menggenggam telapak tangan tangan Ella, mengelus punggung telapak tangannya dengan lembut.


"Usia kehamilan Nyonya berusia lima minggu. Dan untuk janin dengan usia tersebut, janin sudah berkembang hingga sebesar biji apel."


"Sistem saraf janin dan organ-organ utama mulai terbentuk. Seperti jantung. Dan Neural tube yang kemudian akan berkembang menjadi saraf tulang belakang dan otak." jelas dokter.


Ella dan Vano dengan tenang dan sabar mendengarkan penjelasan sang dokter.


"Apakah Nyonya mengalami mual dan muntah, atau keluhan lain?" tanya sang Dokter.


"Saya mual dan muntah jika mencium bau yang tidak saya sukai. Tapi terkadang kepala saya pusing." jelas Ella.


"Itu wajar Nyonya. Untuk kehamilan di tri semester pertama, biasanya perempuan hamil akan mengalami hal tersebut. Untuk mencegahnya, lebih baik Nyonya jangan menggunakan produk untuk sehari-hari yang dapat memicunya." ucap dokter.


"Bagaimana dengan aktifitas seharinya Dok?" tanya Vano.


"Kondisi janin baik. Tapi ada baiknya, jika Nyonya cukup beristirahat dan jangan melakukan pekerjaan berat, atau melakukan aktifitas yang menguras tenaga. Karena kehamilan di usia seperti ini masih sangat rentan." jelas dokter.


"Tentang oleh raga di atas ranjang, bagaimana dok?" tanya Vano dengan santai.


Ella yang mendengar Vano bertanya hal tersebut pada Dokter, seketika langsung menoleh ke arah Vano. "Bisa-bisanya." batin Ella.


"Tidak apa-apa Tuan. Asal melakukannya dengan pelan dan lembut. Jangan sampai mengganggu kehadiran janin di dalam rajin. Karena dia masih sangat rawan, meskipun kondisi janin baik." jelas dokter.

__ADS_1


__ADS_2