
"Kita kepung mereka. Jangan sampai ada yang lolos." Reza memerintahkan bawahannya untuk menyerang lawan.
Reza di beri tugas oleh Vano untuk memantau jual beli senjata ilegal dengan rekan bisnisnya. Tetapi Reza tidak langsung ikut terlibat. Dia hanya memantau saja.
Dan ternyata dugaan Vano benar, mereka berbuat curang. Ingin memiliki senjata tanpa memberikan sepeserpun uang untuk senjata tersebut.
Reza dan beberapa bawahannya yang di tugaskan Vano untuk memantau jalannya jual beli langsung mengambil tindakan. Di bawah pimpinan Reza, mereka melakukan perlawanan. Dan pastinya Reza berkomunikasi terlebih dahulu dengan Vano.
"Bos, ada beberapa yang lari ke arah bukit." lapornya pada Reza.
"Kalian berdua ikut saya. Yang lain tetap di sini. Cari mereka sampai dapat. Kalian tahukan apa yang harus kalian lakukan."
"Baik bos." ucap mereka serempak.
Reza dengan dua orang bawahannya berlari menuju bukit dengan pistol di tangan masing-masing.
"Berpencar." Reza memerintahkan kepada kedua bawahannya yang mengikuti dirinya naik ke bukit.
Di perusahaan, Vano tampak tidak tenang. Reza tidak bisa dihubungi. Begitupun dengan Ella. Vano menyuruh bawahannya untuk mencari Ella.
"Pasti di sana tidak ada sinyal." Vano berniat untuk menyusul Reza. Tapi dering ponsel menghentikan langkahnya.
''Baik Oma."
"Kenapa Oma menelpon di saat seperti ini."
Vano melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat mamanya di rawat dengan rasa kesal.
"Vano sebentar lagi akan datang." Oma Yeti datang ke rumah sakit bersama Lena.
Tuan Danto dan Nyonya Risma hanya diam melihat Oma Yeti. Entah dari mana Oma Yeti mengetahui jika Santi telah di pecat oleh Vano.
"Ma, bagaiman keadaan mama." tanya Vano setelah sampai di ruangan tempat Nyonya Risma di rawat.
"Besok mama mu sudah di perbolehkan pulang." jawab Tuan Danto.
Karena terlihat, Nyonya Risma masih marah dan enggan membuka mulutnya untuk sekedar berbicara dengan Vano.
"Ada apa Oma?" tanya Vano.
"Tempatkan Lena sebagai sekretaris kamu." sontak semua yang ada di ruangan menatap ke arah Oma Yeti.
"Kenapa, apa kamu keberatan." sarkas Oma Yeti.
"Datang saja besok ke perusahaan." ujar Vano.
"Tapi Oma..." kata Lena.
"Ini perintah." Oma Yeti memotong perkataan Lena.
"Baik Oma." Lena berkata sambil menundukkan kepala dan melirik ke arah Vano yang terlihat tidak menyukai dirinya.
__ADS_1
Kedua orang tua Vano hanya diam. Mereka tidak mau ikut campur tentang masalah perusahaan Vano.
"Ke mana calon istrimu. Mertua sedang sakit. Apa tidak ada niat untuk menjenguk." Oma Yeti menatap Nyonya Risma yang sedang berbaring.
"Dia sedang sibuk ma. Maklum, Ella model kelas atas yang terkenal." Nyonya Risma berbohong. Padahal beliau tidak tahu jadwal kegiatan Ella.
"Sibuk. Vano tidak cocok dengan perempuan seperti itu. Bagaimana mereka akan berumah tangga. Keduanya terlalu sibuk. Cari perempuan yang bisa mengatur waktunya. Dan pastinya lebih mementingkan keluarga. Jangan sampai kau menyesal setelah menikah dengannya." ujar Oma Yeti.
Nyonya Risma memandang Vano dengan tatapan sinis. Tuan Danto mengelus lengan tangan istrinya dengan pelan.
Diluar, kedua orang tua Ella mendengar perkataan Oma Yeti. Niat hati ingin menjenguk Nyonya Risma, malah mendengar perkataan yang menusuk indra pendengaran mereka.
Tuan Haris memegang pundak istrinya. Menyuruh Nyonya Ane untuk bersabar. Nyonya Ane memandang ke arah suaminya, Tuan Haris tersenyum sembari mengangguk.
"Selamat sore semua, maaf kami baru tahu jika Nyonya Risma di rawat." Nyonya Ane langsung menghampiri calon besannya dan memeluknya.
"Maaf, Ella tidak bisa datang. Dia ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal." ucap Nyonya Ane berbohong.
Padahal sedari tadi kedua orang tua Ella mencoba menghubungi Ella dan Hana. Tapi ponsel keduanya berada di luar jangkauan. Bahkan saat ini, Tuan Haris menyuruh bawahannya untuk mencari keduanya.
"Tidak apa-apa. Saya hanya kecapekan jeng. Besok juga sudah pulang." ujar Nyonya Risma.
"Apa kabar om, tante." sapa Vano pada kedua orang tua Ella.
"Kami baik sayang." kata Nyonya Ane dengan tulus.
"Baik." imbuh Tuan Haris terseyum.
"Sikap mereka masih seperti biasa. Berarti, Ella belum memberi tahu mereka. Apa kalian akan tetap seperti ini jika mengetahui putri kalian di sakiti oleh Vano." batin Nyonya Risma.
"Kita turun. Cari sinyal. Kita harus menghubungi seseorang dan minta bantuan." Ella mengambil pistol di dalam bagasi dan menaruhnya di pinggang.
"Ell, apa yang kamu lakukan." Hana melihat Ella mengambil sesuatu.
"Sudah, kamu tenang saja. Kita akan baik-baik saja." Ella juga mengambil pisau lipat untuk berjaga-jaga.
"Ell." Hana takut, karena sedari tadi terdengar beberapa tembakan.
"Ayo." Ella dan Hana mulai turun dari bukit.
Baru beberapa langkah, Ella melihat ada sekelebatan orang sedang berlari. Ella segera menarik tangan Hana dan bersembunyi di balik pohon.
"Husst." Ella menaruh telapak tangannya di depan mulut Hana.
Hana diam, badannya berkeringat karena ketakutan. Ella hendak berdiri, tapi Hana menahan ujung baju Ella.
"Elo disini. Gue mau lihat keadaan. Apapun yang terjadi, elo harus tetap di sini. Paham." bisik Ella pada Hana.
Hana hanya mengangguk. Ella mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya. Hana yang melihat apa yang di keluarkan Ella sedikit syok dan juga merasa takut.
"Ella. Hati-hati." Hana membuka mulut tanpa mengeluarkan suara. Ella mengangguk.
__ADS_1
Cahaya matahari masih nampak, meskipun semakin samar.
"Jangan bergerak." seseorang menodongkan pistol di belakang kepala Ella. Hana yang melihat dari balik pohon hanya diam dan menahan suara. Badannya terasa lemas karena rasa takut.
"Papa. Ella anak Tuan Haris Subagyo. Anak satu-satunya bersama Nyonya Ane. Mellanie putri kalian yang kuat dan hebat. Papa, mama. Mellanie sayang kalian." batin Ella.
Ella memejamkan mata, kedua tangannya di angkat ke atas. Tapi sebelumnya, ia menyelipkan pistol ke dalam celana bagian depan.
Dengan hati-hati dan pelan, Ella membalikkan badan. Pistol tepat berada di dahi Ella.
"Siapa kamu." ucap orang tersebut sambil meneliti wajah Ella.
"Cantik. Kenapa bisa ada di tempat seperti ini." pistol lelaki tersebut menjauh dari kepala Ella.
Dengan gerakan cepat dan gesit, Ella menendang perutnya. Tanpa membuang waktu, Ella menendang tangannya yang memegang pistol. Pistol terlepas dari tangan lelaki tersebut.
"Kau." dia membalas tendangan Ella tepat di perut Ella. Ella terjatuh dan memegangi perutnya yang sakit.
Saat lelaki tersebut ingin mengambil pistolnya kembali, Ella segera mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan menembakkan di kaki lelaki tersebut.
Doorr....
"Aaa." lelaki tersebut tumbang dengan tangan memegang ke arah kakinya yang terkena tembakan.
Tangan Ella bergetar setelah melepaskan tembakan. Hana menutup telinganya dan menangis tanpa suara di balik pohon.
Ella memundurkan badannya yang sedang duduk di tanah. Matanya masih memandang pada lelaki yang kesakitan karena kakinya tertembak oleh dirinya.
Lelaki tersebut menyeret tubuhnya ke arah pistolnya yang tergeletak di tanah.
Doorrrr....
Ella kembali menembak kaki lelaki tersebut.
"Aaaa,,,,aaaa." terdengar suara kesakitan dari lelaki tersebut.
Segera Ella berdiri dan mengambil pistol lelaki tadi. Ella memasukkan pistolnya ke dalam tas dengan tangan bergetar. Pistol lelaki tersebut tetap di pegang oleh Ella untuk berjaga-jaga.
"Ayo Han, kita harus segera pergi." Ella menghampiri Hana yang duduk lemas karena takut.
Mereka berdua berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan takut. Ella berjalan di depan dengan pandangan mata memindai setiap arah. Hana berjalan di belakang Ella memegang ujung baju Ella bagian belakang.
"Dua suara tembakan." Reza bergegas pergi ke arah tembakan terdengar.
Seorang lelaki sedang terkapar sekarat dengan dua tembakan di kakinya. Reza menggeledah badannya, tapi tidak di temukan senjata pada badannya.
"Siap yang melakukan. Jawab." Reza bertanya pada lelaki tersebut.
"Se,,se,,seorr,,rang,,perr,,,peremmm."
"Sial."
__ADS_1
Lelaki tersebut tampak tak sadarkan diri sebelum menyelesaikan kalimatnya. Reza meninggalkannya begitu saja. Dia melangkahkan kakinya untuk lebih naik ke bukit lagi.
"Itu..." Reza melihat sesuatu yang familiar untuk dirinya.