
Di sinilah sekarang Nyonya Ane berada. Di dalam kamar Ella. Setelah makan malam, beliau menepati janjinya untuk datang ke kamar putri semata wayangnya.
Nyonya Ane duduk, dengan Ella berbaring menggunakan paha sang mama sebagai bantal.
"Kamu pasti capek." dengan lembut Nyonya Ane membelai rambut Ella.
"Ma." panggil Ela lirih.
"Hemmm."
"Apa mama percaya, jika Vano bisa berubah."
"Kenapa sayang."
"Akhir-akhir ini sikap Vano berubah pada Ella ma. Dia lebih lembut dan perhatian pada Ella. Tidak seperti dulu." ucap Ella memeluk perut sang mama. Membenamkan wajahnya di depan perut Nyonya Ane.
Ella yakin jika sang mama sudah tahu mengenai Vano yang bermain dengan perempuan lain meski dirinya tidak pernah bercerita pada sang mama.
"Ma, menurut mama bagaimana?"
"Sayang. Apapun keputusan kamu, mama akan selalu mendukung. Tapi..." Nyonya Ane menggantung perkataannya.
Ella melepaskan pelukannya dan mendongak ke atas. Memandang ke arah sang mama.
"Kamu jangan menikah dulu dengan Vano. Kamu lihat dulu perubahannya. Mama takut, kamu akan tersakiti lagi." sambung Nyonya Ane merasa khawatir.
"Ella sudah memutuskan hubungan dengan Vano."
Nyonya Ane tampak sedikit tercengang. Tidak terbesit di benaknya sedikitpun, putrinya yang begitu mencintai sosok Vano mengambil tindakan tersebut.
"Benar ma. Ella nggak bohong." imbuh Ella saat sang mama menatap ke arah Ella dengan ekspresi tidak percaya.
"Serius." tanya Nyonya Ane.
"Iya, Ella capek, selalu Ella yang mengejar dan mengharap cinta Vano. Ella yang selalu mengerti dan perhatian. Ella juga ingin merasakannya ma." ucap Ella dengan sedih.
"Merasakan perhatian dari pasangan, merasakan di manja. Di sayang. Dan merasakan, rasanya di cintai."
Nyonya Ane menatap iba pada putrinya. "Kenapa kamu seperti ini sayang. Kamu cantik. Vano tidak pantas mempermainkan cinta kamu." batinnya.
"Lalu?"
"Mama tahukan betapa keras kepalanya Vano. Dia kekeh tidak mau mengakhiri hubungan kita. Malahan, sekarang dia berubah. Seperti kata Ella tadi." jawab Ella.
"Apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya?" tanya Nyonya Ane penasaran.
"Menguji Vano." jawab Ella dengan pasti sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ella akan lihat, sampai di mana Vano akan memperjuangkan Ella."
"Mama ingin bertanya. Apa kamu masih cinta sama Vano?"
Ella menggeleng pelan. "Sudah tidak cinta." tebak sang mama.
__ADS_1
"Tidak tahu." ucap Ella.
Nyonya Ane mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari Ella. "Ella tidak tahu, Ella masih cinta sama Vano apa tidak." imbuh Ella.
"Saat Vano menunjukkan sisi lembutnya, dan perhatiannya, hati Ella merasakan hal yang biasa ma. Tidak ada desiran apapun. Tapi, Ella merasa senang. Dan mungkin sedikit nyaman." jelas Ella.
"Itu artinya Ella masih cinta sama Vano apa tidak?" tanya Ella.
Nyonya Ane mencubit gemas pipi Ella. "Berarti kamu masih memiliki rasa cinta sama Vano. Meskipun sedikit." Nyonya Ane menyatukan jempol dan jari telunjuknya.
Ella tersenyum mendengar perkataan sang mama. "Jika kamu ingin menguji Vano. Dan ingin melihat perjuangan Vano untuk mendekati kamu. Terus Vano tiba-tiba menyerah, bagaimana. Padahal kamu masih ada rasa dengan dia?" tanya sang mama.
Ella terdiam sesaat. Berpikir tentang perkataan yang baru saja di dengar dari sang mama. Membenarkan perkataan dari sang mama. Seandainya Vano benar-benar meninggalkan dirinya.
"Dengan senang hati Ella akan melepaskan Vano ma. Bukankah selama bertahun-tahun Ella yang selalu berjuang. Jika Vano yang baru saja berjuang sudah merasa lelah, berarti memang Vano tidak benar-benar menginginkan Ella." jelas Ella dengan sungguh-sungguh.
Nyonya Ane terharu dengan perkataan Ella. "Sayangnya mama dan papa. Ternyata sudah dewasa." ucapnya dengan membawa tubuh Ella ke dalam pelukannya.
"Makasih ma, sudah mau menjadi ember untuk Ella."
"Ember." ucap Nyonya Ane merasa bingung.
"Ember. Tempat Ella menampung keluh kesah."
"Astaga. Sayang." Nyonya Ane lagi-lagi mencubit gemas kedua pipi Ella.
*
*
Di dalam pikirannya, hanya ada Ella, Ella, dan Ella. Entah kenapa, sejak pulang dari apartemen Denis, Egi menjadi kepikiran tentang Ella dan Vano.
Apalagi Egi merasa Ella sangat mencintai Vano. Terlihat jelas di mata Egi, saat Vano memberi perhatiaan pada Ella, Ella tersenyum. Meski samar.
Dan juga. Egi bisa melihat, dari pandangan mata Ella, bahwa Ella sangat mencintai Vano. Entah bagaimana Vano memperlakukan dirinya.
Itulah kesimpulan dari pemikiran Egi terhadap Ella. Sepertinya saat ini Egi sedang dalam persimpangan dan dilema.
Ingin sekali dirinya tetap merangsek maju untuk mendapatkan Ella. Tapi setelah melihat perasaan Ella pada Vano, ada rasa takut di hati Egi.
Dirinya takut jika kecewa karena terlalu berharap. Takut jika merasakan sakit hati karena tidak bisa mendapatkan Ella.
"Kenapa gue jadi bimbang." keluh Egi.
"****. Mereka belum resmi menikah. Itu artinya masih ada kesempatan. Yang sudah menikah saja banyak yang selingkuh."
"Persetan dengan hasilnya. Yang terpenting gue akan tetap mendekati Ella. Gue yakin jika memang dia jodoh gue, maka Tuhan akan memberi jalan. Jika bukan jodoh gue..." ucap Egi menggantung.
"Jika Ella bukan jodoh gue,,, pokoknya Ella harus menjadi milik gue. Ayolah Egi, berjuanglah. Elo belum melakukan apapun. Masa sudah mundur. Bego banget jadi orang." kata Egi pada dirinya sendiri.
"Lagi pula Vano dan gue itu sama. Yang membedakan, sekarang dia berstatus sebagai kekasih Ella, sementara gue,,,, orang yang akan berjuang mendapatkan hati Ella." gumam Egi.
"Tunggu, bukankah waktu di apartemen Denis, Ella bilang mantan. Tapi Vano, sikapnya masih seperti mereka sedang berpacaran. Apa mungkin sekarang hubungan mereka sedang bermasalah." ucap Egi sembari menerka-nerka sendiri.
__ADS_1
*
*
"Non, bangun." ucap pembantu di rumah Tuan Haris saat membangunkan Ella dari tidurnya. Karena saat ini matahari sudah mulai menyemburkan cahaya.
Suara lenguhan keluar dari bibir Ella. Bukannya bangun, Ella malah menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Hingga tidak terlihat anggota tubuhnya.
Pembantu tersebut hanya menggelengkan kepala dan berjalan meninggalkan kamar Nona mudanya. Seperti biasa. Jika Ella tidak segera bangun, atau sulit di bangunkan. Maka mereka akan mengatakannya pada Nyonya Ane. Dan Nyonya Ane lah yang akan bertindak.
"Tuan." ucapnya sedikit terkejut saat membuka pintu dari dalam kamar Ella, dirinya mendapati Vano berdiri di balik pintu. Hendak masuk ke dalam kamar Ella.
"Biar saya yang membangunkan Ella. Saya sudah izin sama Nyonya kamu." ucap Vano.
"Silahkan Tuan." ucap pembantu pada Vano sembari menyisih dari depan pintu. Memberi jalan masuk untuk Vano. Setelah Vano masuk, segera ditutupnya pintu kamar Ella.
Tampak Vano sudah memakai pakaian kerja. Kemeja biru muda dengan di balut jas navi di luar, dengan dasi bermotif garis melingkar di lehernya. Membuat lelaki berkharisma tersebut makin menawan.
Vano mendaratkan pantatnya di sisi ranjang. Tangannya terulur membuka selimut Ella. Membuat wanita di dalam selimut tergeliat. Namun dengan mata masih tertutup.
"Mbok, hari ini Ella ada pemotretan. Tapi siang." gumamnya dengan mata masih terpejam.
Vano tersenyum mendengar Ella memanggil dirinya dengan sebutan 'mbok'.
Di sisihkan beberapa rambut yang menutupi wajah Ella. Di ciumnya sekilas dengan lembut pipi mulus sang model.
Ella merasakan ada yang menempel di pipi, telapak tangannya mengusap-usap pipi bekas ciuman Vano.
Vano tersenyum, Ella masih terpejam. Sepertinya Ella masih enggan untuk membuka mata.
"Bangun sayang." bisik Vano di telinga Ella. Membuat sang model sedikit bergerak karena geli.
Kali ini Vano menempelkan sekilas bibirnya yang basah pada bibir seksi milik Ella.
"Emmmhhh." Ella mengusap bibirnya dan meregangkan otot. Merasa tidurnya terusik, matanya terbuka perlahan.
Baru bangun tidur, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah lelaki dengan wajah tampan. Rahang sempurna dengan hidung mancung. Bibir tebal seksi dan mata indah yang juga sedang memandang dirinya.
Beberapa kali Ella mengerjap-ngerjapkan matanya. Sepertinya dirinya masih berusaha mengumpulkan kesadaran karena baru saja keluar dari mimpi indahnya.
Merasa ada yang aneh dengan pandangannya, Ella kembali memejamkan matanya sesaat. Lalu membukanya kembali. Membuat Vano tersenyum simpul dengan tingkahnya.
"Morning honey." ucap Vano seraya mencium dahi Ella.
*****
Apa Vano bisa benar-benar merubah kebiasaannya?
Apa Egi tidak akan berubah pikiran?
Lantas, apa yang akan Ella lakukan. Melihat Vano berada di dalam kamarnya. Membangunkan dirinya dari mimpi.
Kalau othorrr sih, tarik langsung saja Vano ke dalam selimut. Buat nemani tidur...
__ADS_1
Teman tidur saja low ya.. nggak lebih.
Jadi teman-teman jangan berpikir macam-macam 😋😋