DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 103


__ADS_3

Viki bangun dengan kedua tangan memegang kepalanya yang terasa sakit.


Ella menyerahkan segelas teh hangat pada Viki. "Minum dulu." ucap Ella.


Viki meminum sampai habis teh yang di berikan Ella. "Sumpah, kepala gue sakit banget. Serasa mau pecah." kata Viki.


"Denis keluar, belikan kamu obat." jelas Ella.


"Obat." Viki memandang ke arah Ella.


"Cckkk,,, semalam elo mabok. Bikin susah saja. Sampai Denis marah-marah." omel Ella.


"Kok bisa?"


"Elo nggak ingat. Elo minum minuman yang di kasih seorang perempuan."


"Astaga."


"Mana kita baru saja duduk. Elo udah teler. Makanya Denis marah-marah." dumel Ella.


Terdengar suara pintu terbuka. "Ini minum." Denis menaruh obat di atas meja depan Viki.


Tangan Viki mengambilnya, tapi ekor matanya melirik ke arah Denis. "Maaf." ucap Viki merasa bersalah pada kedua temannya.


"Minum saja dulu. Ada yang ingin kita tanyakan." ucap Denis dengan tidak sabar.


"Ada apa?" tanya Viki.


"A..."


"Dennn, biarkan Viki mandi dulu. Kita juga harus membersihkan badan. Gue juga belum mandi." Ella memotong perkataan Denis.


Tanpa berkata apapun, Denis melenggang pergi meninggalkan keduanya. Membuat Viki merasa tidak enak. Dirinya berpikir jika Denis marah karena Viki yang mabuk. Menjadikan mereka segera pulang, dan mengurusi dirinya.


"Sudahlah, bukankah Denis memang begitu. Nanti juga kembali seperti biasa. Sebaiknya elo minum obat dulu. Gue mau mandi. Gerah." Ella tersenyum dan meninggalkan Viki sendirian.


Selesai membersihkan badan, mereka kembali ke ruang tamu. "Apa yang ingin elo katakan Den?" tanya Viki.


"Soal semalem, sorry. Gue yang salah. Gue ceroboh." ucapnya.


"Bukan soal itu." Denis berkata tanpa memandang ke arah Viki. Membuat Viki bingung, karena biasanya Denis akan menatapnya saat berbicara dengan dirinya.


"Ada apa?" Viki merasa penasaran.


Denis menghembuskan nafasnya. Memandang ke arah Viki. "Kita ingin kami berbicara jujur." ucapnya.


"Jujur. Tentang apa?" tanya Viki semakin bingung.

__ADS_1


Sedangkan Ella masih diam, memperhatikan kedua sahabatnya.


Denis menatap tajam ke arah Viki. "Kita bukan sekedar teman Vik. Lebih dari itu. Kita sudah seperti saudara." ucap Denis.


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan. Jangan berbelit-belit." ucap Viki kesal.


"Apa elo normal?" tanya Denis lirih. Ella melihat ke arah Viki. Menunggu apa yang akan Viki ucapkan sari mulutnya.


"Normal. Normal bagaimana? Lihat." Viki berdiri memutar badannya. "Apa elo pikir gue gila." Viki mengarahkan jari telunjuknya tepat di keningnya.


"Bukan soal itu?" ekor mata Denis melirik ke arah Ella. Seperti meminta Ella untuk membuka mulutnya. Karena sebenarnya, Denis tidak sanggup menanyakan pertanyaan seperti itu pada sahabatnya. Viki.


Ella mengerti isyarat yang di berikan Denis. "Khemmm,,, Vik. Saat elo mabuk, elo meracau. Mengatakan banyak hal yang kami tidak mengerti. Sehingga kami menyimpulkan sendiri." jelas Ella.


Viki kembali duduk dan mendengarkan perkataan Ella. "Gue tahu, tidak seharusnya kita bertanya tentang ini sama elo. Karena ini adalah masalah pribadi elo. Jika elo memang tidak ingin menjawab pertanyaan gue, itu hak elo. Dan setelah ini, kita anggap saja semua tidak pernah terjadi. Kita akan berteman seperti biasa." ucap Ella panjang lebar.


"Apa elo gay?" tanya Ella.


Degggg,,,, pasokan oksigen ke dalam tubuh Viki seperti tersumbat oleh pertanyaan Ella. Apalagi Denis dan Ella menatapnya dengan pandangan mata sedih. Dengan pandangan mata seolah mereka menginginkan jawaban yang bisa membuat mereka tersenyum lega.


Viki membuang pandangan ke arah lain. "Apa kalian akan menjauhi ku jika apa yang ada di benak kalian ternyata benar." ucapnya menyeka air mata yang telah membasahi pipinya.


Ella dan Denis segera memeluk Viki. Ella menangis terisak. Sementara Denis menahan air matanya. Dia tidak ingin menunjukkan jika dia menangis. Karena dirinya seorang lelaki. Tidak pantas jika harus mengeluarkan air mata.


Mereka melepaskan pelukan. Viki mengusap air mata di pipi Ella. "Jangan menangis." ucap Viki.


Denis menepuk pundak Viki. Memberi semangat dan kekuatan pada sahabatnya tersebut.


"Apa kalian tidak malu?" tanya Viki lirih.


Ella kembali memeluk Viki. "Kita bersahabat. Kita akan terus bersama. Kita akan mencari cara supaya kamu bisa sembuh." ucap Ella.


"Terimakasih." Viki merasa beruntung di pertemuan dengan dua orang yang kini menjadi sahabatnya.


Sejak saat itu, mereka bertiga berhubungan layaknya saudara. Meski berbagai cara di lakukan Ella dan Denis untuk menyembuhkan Viki tidak berhasil, tetapi mereka tidak pernah menjauhi bahkan meninggalkan Viki.


Dan pastinya hingga saat ini, mereka tetap menjalin hubungan baik.


……kembali ke studio foto Denis……


Ella terus membujuk Vano supaya sang kekasih mengizinkannya untuk menjalankan rencananya. "Katanya ingin cepat menikah. Jika masalah ini terus berlarut-larut, kapan kita akan menikah." rayu Ella.


Vano memegang kedua pundak Ella. "Aku tidak rela sayang. Apalagi terlihat jelas, dia sangat menginginkan dan mendambakan kamu. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan mu begitu saja." kekeh Vano.


"Ini hanya sandiwara. Bukan nyata." ucap Ella meninggikan nada bicaranya, mulai kehilangan kesabaran.


Ella membutuhkan izin dari Vano. Karena dia tahu, jika Vano tidak mengizinkannya, dapat di pastikan Vano pasti akan menggagalkan rencananya. Ella sangat paham betul bagaimana sifat dari kekasihnya tersebut.

__ADS_1


Denis dan Hana duduk di kursi masing-masing. Membantu Ella membujuk Vano. Rasanya tidak mungkin. Mana mungkin bujukan mereka akan membuat seorang Vano meleleh. Es krim kaleee meleleh.


Yang ada Vano akan semakin menggila jika mereka berdua ikut campur.


"Aku tidak peduli. Entah itu sandiwara atau nyata. Aku tetap tidak rela jika tubuhmu di jamah lelaki lain." seru Vano.


"Astaga, lagi pula mana mungkin aku membiarkan Jo menjamah tubuh ku. Paling hanya memegang bagian yang terlihat saja. Misal tangan, apa wajah." jelas Ella.


"Dan aku tidak peduli. Sekali tidak. Tetap tidak." kekeh Vano.


Kesabaran Ella menghilang sudah. "Aku bukan perempuan murahan Vano. Aku bukan perempuan gampangan yang akan membiarkan para lelaki menemui ku dan dengan leluasa menjamah diriku. Aku bukan seperti perempuan yang dengan rela naik ke atas ranjang, seperti perempuan di luar sana. Yang dengan senang hati merangkak di atas ranjangmu." teriak Ella dengan menggebu-gebu.


Hana segera berdiri dan menenangkan Ella. "Ell,,,, sudah." ucap Hana.


Vano memandang ke arah Ella. "Bukankah aku sudah meminta maaf. Kenapa kamu terus mengungkitnya sayang." ucap Vano dengan nada melemah.


"Terserah" Ella membuang muka dan bersedekap.


Vano mengusap wajahnya dengan kasar. "Baiklah, lakukan rencanamu." putus Vano dengan nada rendah.


Ella spontan memandang ke arah Vano. "Terimakasih." Ella berhambur memeluk Vano.


"Tapi aku akan memantau. Kita akan menyembunyikan kamera di sekitar kamu." Vano mengeratkan pelukannya.


"Iya." ucap Ella masih dalam pelukan Vano.


"Tapi jika ada adegan yang aku tidak suka, aku tidak segan-segan untuk membuatnya kehilangan nyawa saat itu juga." ucap Vano terdengar mengerikan.


Ella melepaskan pelukannya. Menangkup kedua pipi Vano. "Tenang sayang, aku dapat menjaga diri." Ella mengecup singkat bibir Vano.


"Hoooeeeee,,, kalian pikir di ruang ini tidak orang, selain kalian." celetuk Denis.


"Idiiiiihhhh,,, suka-suka kita. Lagi pula ada Hana. Sana Han, dekati calon suami kamu. Ngambek tuh." ejek Ella.


"Kapan kamu akan menjalankan rencananya?" tanya Vano membawa Ella duduk di pangkuannya.


"Besok." ucap Ella dengan pasti.


"Kita mulai besok." ucapnya lagi dengan tersenyum.


"Jo bukan orang sembarangan, kita harus melakukannya sebaik mungkin. Serapi mungkin. Senatural mungkin. Jangan sampai dia curiga." jelas Denis.


"Tenang saja. Meski profesi gue model, akting gue nggak kalah sama artis di luar sana." ucap Ella sombong.


"Dan yang terpenting, kamu harus hati-hati." ucap Vano mengingatkan.


"Kan ada kamu."

__ADS_1


Vano menciumi wangi sampo yang tertempel di rambut Ella.


__ADS_2