DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 19


__ADS_3

"Silahkan Nyonya." Reza membuka pintu mobil bagian belakang.


"Ayo sayang." ajak Nyonya Risma pada Ella supaya masuk ke dalam mobil bersama dirinya.


"Tante, Ella ikut dari belakang saja. Itu mobil Ella. Lagi pula, Ella tidak mau menjadi nyamuk." Ella beralih memandang Tuan Danto.


"Kamu ini, ada-ada saja." ucap Nyonya Risma. Tuan Danto hanya tersenyum mendengat perkataan Ella.


"Silahkan Tuan." Ella sedikit membungkukkan badannya di hadapan Tuan Danto. Sontak Tuan Danto tertawa lepas dan mengacak rambut Ella.


Pemandangan yang sangat langka. Di mana Tuan Danto bisa tertawa lepas selain bersama dengan istrinya. Nyonya Risma yang sudah berada di dalam mobil pun ikut tertawa.


"Da-da. Ella ikut dari belakang." teriak Ella segera berjalan ke arah mobilnya berada. Di mana Hana sudah berada di dalamnya. Tapi tangan Vano menghentikan langkah Ella. Sejenak mereka berdua saling memandang.


"Tahan Ella, tahan. Jangan kau tunjukkan lagi sisi lemah mu. Kamu pasti bisa." batin Ella memerangi sendiri gejolak batin dan perasaannya.


Hingga panggilan dari Oma Yeti mengalihkan pandangan Vano pada Ella.


"Van, ayo. Sini." panggil Oma Yeti.


"Tuan Vano, Oma tersayang dan asisten pribadinya sudah menunggu anda." Ella melepaskan tangan Vano pada dirinya. Dan berjalan menuju mobilnya tanpa membalikkan badan lagi. Karena Ella tidak mau jika Vano melihat air mata di pipi Ella yang sudah Ella tahan sejak tadi.


Reza yang melihatnya segera masuk ke dalam mobil miliknya dan segera menjalankannya.


"Ell." Hana memandang ke arah Ella.


"Fine. Gue baik-baik saja. Gue pasti bisa. Jalan Han."


"Yakin, kita ke sana. Di sana elo akan bertemu dengan Vano lagi."


"Gue terlalu lemah Han." Ella hanya mengangguk.


"Jangan nangis Ell, simpan air mata elo. Jangan sampai Vano lihat." Hana mengambil tisu dan memberikannya pada Ella.


"Gue terlalu cinta sama dia. Dan sekarang gue nggak tahu harus berbuat apa."


"Gue yakin. Elo, perempuan kuat. Elo anak dari Tuan Haris Subagyo. Masa elo kayak gini sih Ell."


"Cinta Han, cinta. Gue seperti orang tolol. Gue lihat perempuan itu, dia ruangan Vano dengan, dengan, dengan baju dan penampilan berantakan. Dan. Vano. Vano, dia, dia." Ella seperti tidak kuat meneruskan kalimat yang akan di keluarkan dari dalam mulutnya.


"Sudah Ell sudah. Bentar lagi kita sampai. Jangan sampai mata elo sembab, ntar Vano tahu kalau elo habis nangis." Ella memejamkan mata dan mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Oke. Ella. Apapun yang elo rasakan. Jangan sampai nangis. Tahan emosi dan perasaan elo. Elo pasti bisa." Ella berbicara pada dirinya sendiri.


"Bisa lah Ell. Buktinya tadi di rumah sakit."


"Elo nggak tahu Han. Gue nggak berani natap Vano. Waktu gue nyamperin dia, huft,,, rasanya jantung gue berdetak kencang banget. Gue tahan air mata supaya nggak jatuh. Gue tahan mulut gue, supaya gue nggak ngucapin kata-kata yang salah."


"Padahal, gue pengen banget tanya pada dia. Kenapa dia nglakuin itu sama gue. Gue pengen tanya, apa salah gue. Gue pengen tanya."


"Sudah Ell, sudah cukup. Jangan elo terusin." Hana tidak mau Ella menangis. Apalagi sebentar lagi mereka sampai di kediaman Tuan Danto.


"Ini." Hana menyerahkan kotak make up pada Ella dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegang kemudi mobil.


"Apa gue kurang cantik ya." Ella menatap wajahnya di cermin kecil yang menjadi satu dengan bedak.


"Ell, please."


Ella bukannya memakai make up lagi. Kali ini, dia malah membersihkan seluruh make up di wajahnya. Hanya menyamarkan make up di sekitar matanya.


"Van, apa kamu yakin. Mau menikahi perempuan seperti itu. Oma tidak suka." Lena tersenyum samar mendengar perkataan Oma Yeti.


"Vano. Kamu cari perempuan lain saja. Harta tidak masalah buat Oma. Kita bukan dari keluarga kekurangan. Yang Oma inginkan, perempuan yang benar-benar menyayangi kamu. Dan juga keluarga kita." imbuh Oma Yeti.


"Oma tidak perlu ikut campur masalah itu. Soal siapa yang akan menjadi istri Vano, biar Vano sendiri yang menentukan." ucap Vano datar.


"Vano tahu apa yang terbaik untuk Vano." Oma Yeti terdiam mendapat jawaban dari Vano. Hatinya sedikit mencelos.


"Gue pikir dia selalu nurutin semua ucapan Oma. Ternyata." batin Lena mencebik.


"Akhirnya, mama bisa tidur lagi di kasur mama nanti malam." ucap Nyonya Risma setelah sampai di rumahnya.


"Bilang saja mama kangen papa peluk sambil tidur." bisik Tuan Danto. Nyonya Risma hanya bisa melotot mendengar bisikan Tuan Danto.


"Lebih baik kamu istirahat Ris." ucap Oma Yeti.


"Nanti malam kamu makan di sini ya sayang." Nyonya Risma malah menatap ke arah Ella.


"Bagaimana ya tante, mama."


"Kalau tidak mau ya sudah. Jangan di paksa." ucap Oma memotong perkataan Ella.


"Maaf tante, Ella sudah janji sama mama." Ella berjongkok di depan Nyonya Risma dengan memegang telapak tangan Nyonya Risma.

__ADS_1


"Lagi pula kita kan sering makan bersama. Mama ini, kayak nggak pernah makan bersama Ella saja." kata Tuan Danto.


"Papa." rajuk Nyonya Risma.


"Tante istirahat ya, Ella antar ke atas. Sesudah itu Ella pulang." Nyonya Risma mengangguk dan tersenyum.


Pelayan di rumah Tuan Danto segera berlari menuju ke lift yang berada di dalam rumah. Dan di pencet tombolnya.


"Silahkan Nyonya, Tuan." ucap pelayan dengan ramah dan sopan.


"Makasih mbak." kata Ella.


Sementara Ella, Nyonya Risma dan Tuan Danto ke atas menuju kamar Nyonya Risma, yang lainnya duduk di ruang tengah.


"Silahkan di minum" pelayan lainnya menyiapkan minuman untuk mereka.


"Maaf, saya tidak suka minuman seperti itu. Bisa buatkan yang lain. Jus alpukat jika ada." ucap Lena.


"Baik Nona. Maaf Nona Ella di buatkan minum apa?" pelayan tersebut mengarah pada Hana. Karena dia tahu jika Hana adalah asisten Ella.


"Ella nggak ribet kok. Mbak sajikan apa saja, pasti dia minum. Yang penting nggak beralkhohol. Itu saja, nggak usah di bawa kebelakang. Biar nanti Ella yang minum. Mubadzir."


Hana menyuruh pelayan untuk menurunkan kembali minuman untuk Lena yang akan di bawa ke belakang. Dan di ganti yang baru, hanya karena Lena tidak suka.


Pelayan memandang kembali Hana dan gelas berisi minuman di atas nampannya.


"Sudah turunkan saja. Jika Ella ke sini, apa pernah dia menolak sesuatu yang mbak sajikan." Pelayan tersebut menggeleng dan menurunkan kembali minuman tersebut ke meja.


"Mbak, nanti kalau ke sini lagi tolong bawakan tutup gelas sekalian. Untuk nutupin gelas Ella."


"Baik Non Hana." pelayan tersebut kembali lagi ke belakang untuk membuatkan minuman untuk Lena.


Reza tersenyum samar tatkala Hana berbicara, yang secara tidak langsung memuji atasannya tersebut. Reza juga melihat ke arah Lena. Tampak raut wajah yang kesal karena ucapan dari Hana.


"Udah miskin, jelek, belagu. Gue tahu jika elo nggak suka sama Ella. Parasit." batin Hana


"Mau ke mana Van?" tanya Oma saat melihat Vano bangun dari duduknya.


"Ke kamar" Vano menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


Di rumah Tuan Danto memang tersedia lift. Tapi kebanyakan dari penghuni rumah lebih memilih tangga. Dan mempergunakan lift hanya untuk keadaan tertentu. Atau saat ingin saja. Sama seperti di rumah Ella.

__ADS_1


Vano berdiri dan menyandarkan badannya di tembok dekat kamar kedua orang tuanya. Dia sengaja ingin bertemu dan berbicara dengan Ella.


"Tunggu." Vano segera mencekal lengan Ella saat Ella keluar dari kamar Nyonya Risma.


__ADS_2