
Mereka bertiga duduk di kursi empuk dan panjang di dalam ruangan Denis. "Itu tadi saudara elo. Lyra." tanya Ella.
"Iya." jawab Denis singkat.
"Kenapa nggak belajar di bangku kuliah. Malah di sini. Pasti bayarnya mahal?" tanya Ella dengan nada bercanda.
Denis menghembuskan nafas dengan kasar. "Mama yang menyuruh. Papa sempat melarang. Tapi mama beralasan karena balas budi." jelas Denis dengan ekspresi datar.
"Balas budi. Alasan klise." batin Ella mencibir.
"Elo nggak merasa terganggu." tanya Ella.
"Terkadang."
"Atau elo malah menikmati?" cecar Ella.
"Mana mungkin. Dia bukan Hana." elak Denis. Hana yang mendengar, hatinya terasa menghangat.
"Bisa saja." ucap Ella dengan nada terkesan tidak suka.
"Gue nggak suka sama saudara elo." ucap Ella to the point. Membuat Hana merasa was-was dengan reaksi Denis akan ucapan Ella.
Denis tertawa. "Memang elo mau kayak Viki. Jeruk makan jeruk." canda Denis, Hana tersenyum mendengarnya.
"Siallan." umpat Ella. "Gue jadi kangen sama Viki." cicit Ella.
Denis tahu betul bagaimana sifat Ella. Jika dia bilang tidak suka, maka dirinya memang tidak suka. Dan Denis tidak ingin bertanya alasan mengapa Ella tidak menyukai Lyra.
"Kalian berdua dari mana?" tanya Denis mengalihkan topik pembicaraan.
"Jalan-jalan." jawab Ella seenaknya.
"Sebentar." Denis berdiri dan mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas yang tersedia di dalam ruangannya.
"Ell, jangan." sergah Ella saat Denis memberikan minuman bersoda pada Ella. Denis yang tidak tahu jika Ella sedang hamil hanya memandang Hana dengan tatapan aneh, lucu dan bingung.
"Iya, gue tahu. Nggak akan gue minum aunty." ucap Ella.
"Ada apa sih?" Denis masih memegang dua minuman kaleng merasa bingung sendiri.
Hana mengambil minuman tersebut dari tangan Denis. "Ella nggak boleh minum seperti itu." ucap Hana.
"Kenapa, biasanya boleh." Denis kembali mendaratkan pantatnya di kursi.
Hana memandang ke arah Ella. Seperti sedang meminta persetujuan. Dan Ella mengangguk pelan. "Sebentar lagi kamu akan punya keponakan." ucap Hana pada Denis.
Denis malah memandang Hana dan Ella secara bergantian. Dan dengan raut wajah lucunya karena rasa bingung.
"Iya, keponakan. Kamu akan dipanggil uncle. Aku akan di panggil aunty." jelas Hana.
Denis langsung menatap ke arah Ella. Dan Ella, mengelus pelan perutnya yang masih rata. "Ka--kamu, hamil. Hamil, serius?" tanya Denis.
Ella mengangguk dan tersenyum. "Wooow,,,,," teriak Denis langsung berhembus memeluk Ella dengan erat.
Hana langsung berdiri dan memukul berkali-kali tubuh Denis dengan kuat. "Awww... Apa sih sayang. Nggak usah cemburu." ucap Denis mengelus bahunya yang dipukul Hana.
"Nggak cemburu." seru Hana. "Jangan memeluk terlalu erat. Nanti perut Ella kegencet." ucap Hana dengan mata melotot. Ella tertawa melihat Hana berkata "kegencet"
"Mana aku tahu." ucap Denis merasa bersalah. "Maaf kan uncle sayang." ucap Denis menatap ke arah perut Ella yang masih rata.
"Viki sudah tahu?" Ella menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Denis.
"Yess.. yesss... Gue tahu duluan." ucapnya dengan senang dan bangga.
"Kalian ini, ada-ada saja." ucap Ella menggelengkan kepala.
"Sorry, gue pamit pulang dulu. Nanti elo antar Hana pulang." ucap Ella pada Hana dan Denis.
"Kenapa?" tanya Denis.
"Elo dan Hana perlu bicara." ucap Ella. Denis seketika melihat ke arah Hana yang masih terdiam.
"Den, gue percaya sama elo." ucap Ella sebelum meninggalkan ruangan Denis.
Ella memeluk Hana sebelum meninggalkan ruangan Denis. "Jangan menjadi perempuan lemah. Jangan mudah ditindas. Karena gue nggak suka." bisik Ella, melepas pelukannya pada Hana.
Hana mengangguk dan tersenyum. "Gue nggak dipeluk?" tanya Denis dengan genit.
"Ogah." Ella tidak ingin ikut campur masalah mereka berdua. "Ell, biar sopir gue yang antar." tawar Denis.
__ADS_1
"Sudah ada Rio." sahur Hana.
"Sopir pilihan Tuan Vano." jelas Hana.
"Hati-hati." ucap Denis dan Hana bersamaan.
Di luar, Ella bertemu dengan sekertaris Denis. "Jangan sampai ada yang masuk. Sebelum mereka keluar sendiri dari dalam ruangan." pinta Ella.
"Baik Nyonya." sahutnya dengan sopan. Karena dia tahu siapa Ella. Istri dari pengusaha muda dan sukses. Vano Reyandli.
"Terimakasih." ucap Ella.
Di dalam ruangan, Denis segera berdiri dan mengunci pintu dari dalam. "Ada apa?" tanya Denis duduk di dekat Hana.
Tanpa berbicara, Hana mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Menunjukkan percakapannya dengan mama Denis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nyonya, kita kemana?" tanya Rio.
"Pulang. Aku capek." ucap Ella memejamkan mata di kursi belakang.
Meski Ella memejamkan mata, tapi dia tidak tertidur. Pembicaraannya dengan Hana di taman. Di tambah lagi ekspresi Hana membuat Ella merasa ada yang janggal.
"Apartemen." itulah sekarang yang ada di benak dan pikiran Ella.
Ella membuka matanya secara perlahan. Memandang ke arah Rio. "Apa gue ke apartemen terlebih dahulu." batin Ella.
"Tapi aku ngantuk banget. Badanku juga terasa capek." batin Ella. Padahal dia hanya beraktifitas yang tidak begitu menguras tenaga.
Mungkin karena kehamilannya, Ella mudah merasakan capek akhir-akhir ini. Dan dia juga cepat mengantuk.
Di dalam benak Ella masih terbesit dan mengganjal tentang ekspresi Hana yang berubah saat Ella mengajaknya pergi ke apartemen.
"Bangunkan aku ketika sudah sampai." Ella kembali memejamkan mata.
Dari kursi depan, Rio mencuri pandang dari kaca spion. Melihat Ella sedang tertidur. Rio tersenyum samar.
Ciiiiittt,,,,, Rio menghentikan mobilnya dengan mengerem mendadak. Membuat Ella membuka mata.
Beruntung Ella langsung menahan tubuhnya agar tidak terjengkal ke depan dengan menaruh tangannya di sandaran kursi depan.
"Ada apa?" tanya Ella. Tampak di depan ada dua orang lelaki dengan menggunakan penutup wajah. Menghadang laju mobil yang ditumpangi Ella.
Kedua lelaki yang berdiri di depan mobil Ella hanya berdiam diri. Seolah sedang menunggu penumpang di dalam mobil untuk keluar dengan sendirinya dari dalam mobil.
"Jangan keluar." ucap Ella saat tangan Rio sudah berada di handle pintu mobil. Ucapan Ella membuat Rio melepaskan tangannya. Dan kembali duduk dengan tenang di kursi.
Ella mengeluarkan ponsel. Menghubungi Vano. "Sayang, suruh bawahanmu datang ke tempatku sekarang." pinta Ella. Dan segera mematikan ponselnya.
"Mereka siapa?" gumam Ella.
"Biar saya selesaikan Nyonya." ucap Rio.
"Dan kamu akan mati." sarkas Ella. Rio menatap Ella, terlihat Ella melihat ke arah lain. Rio segera mengikuti kemana arah pandangan mata Ella.
"Ternyata mereka tidak sendirian." batin Rio. Mengerti kenapa Ella berkata jika dia akan mati jika keluar.
Sehebat apapun dirinya, pasti tidak akan mampu untuk melawan mereka. Apalagi terlihat tiga mobil di sana. Sementara Rio dan Ella tidak tahu, apa yang ada di dalam mobil tersebut.
Ella kembali mengeluarkan ponsel. Dan menghubungi seseorang. "Datang ke lokasi yang aku kirim." ucap Ella.
Ella kembali melihat keluar mobil. Dengan duduk tenang di dalam mobil. Yang menjadi pertanyaan, kenapa mereka tidak menyerang. Apa yang mereka tunggu.
"Vano." gumam Ella segera menghubungi Vano.
"Halo Van, kamu jangan ke sini. Mereka mengincar kamu. Bukan aku." ucap Ella memperingatkan.
"Aku tidak peduli." ucap Vano di seberang telepon, dan langsung mematikan ponselnya.
Saat Ella menghubunginya, Vano hendak bersiap untuk bertemu dengan rekan kerjanya. Tapi karena penggilan telepon dari Ella, Vano menyuruh Reza untuk membatalkannya.
Segera Vano memerintahkan Reza, menyuruh anak buahnya ke tempat yang sudah Ella kirimkan. Di tengah perjalanan, Vano kembali mendapat telepon dari sang istri.
Ella memberitahu dirinya jika sasaran mereka adalah dirinya. Bukan Ella. Yang berarti, mereka adalah saingan bisnis dari Vano.
Karena Vano baru saja memenangkan tender besar. Dan pastinya itu yang menjadi pemicunya. Ada perusahaan yang tidak menyukai apa yang berhasil diraih olehnya.
"Ckk,,," Ella berdecak mendengar perkataan Vano. Yang mengabaikan perkataannya.
__ADS_1
"Nyonya." panggil Rio.
"Keluarlah dari pintu belakang. Turunlah, jangan sampai mereka tahu. Lumpuhkan keduanya." pinta Ella.
"Baik." Rio segera menjalankan perintah dari istri atasannya tersebut. Ella sedikit menyingkirkan badannya. Memberi tempat untuk Rio.
"Langsung tembak di area vital." ucap Ella dengan mata masih mengawasi keadaan di sekitar mobil mereka berhenti.
"Baik." Rio keluar dari mobil seperti kucing yang sedang mengendap ingin memangsa buruannya.
Di dalam mobil, Ella sudah memegang dua pistol di masing-masing tangan. "Kakak adalah anak mama dan papa yang hebat dan kuat." ucapnya memandang ke arah perutnya sembari tersenyum.
Dor,, dor,,
Dua tembakan Rio lesatkan tepat di masing-masing kepala lelaki yang berada di depan mobil. Membuat dua orang berbadan besar tersebut terjatuh ke aspal tanpa bernafas.
Segera Rio kembali ke dalam mobil. Tapi kali ini dia melewati pintu depan.
Ella tersenyum samar. Pancingannya berhasil. Orang yang berada di dalam mobil seketika keluar. Ditangan mereka masing-masing juga memegang pistol.
Rio melihat ke arah Ella. Rio mengernyitkan keningnya, dari mana Ella mendapat senjata. Apalagi pistol yang berada di tangan Ella, tidak di perjual belikan. Baik secara legal maupun ilegal.
Pandangan Rio beralih pada sekelompok orang yang berjalan ke arah mereka.
Dorr,, dorr,, dorr,,
Belum sampai mereka ke mobil yang ditumpangi Ella. Suara tembakan sudah melesat ke arah mereka. Menjadikan keadaan berbalik.
Beberapa mobil berhenti di samping mobil yang di tumpangi oleh Ella. Menjadi tameng untuk Ella. Segera Rio keluar dan bergabung bersama mereka.
Tapi tidak dengan Ella. Dirinya masih di dalam mobil. Dengan pandangan mata masih mengamati sekitar mereka. "Ada apa ini?" gumam Ella bertanya pada dirinya sendiri.
Ella merasa masih ada yang mengamati dirinya. Dilihatnya mobil milik sanga suami berhenti di sisi mobil Ella. "Sayang, kamu baik-baik saja." Vano masuk ke dalam mobil milik Ella.
"Van." ucap Ella, segera Vano memeluk sang istri. Melihat Ella dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tahu, masih ada yang mengamati kita dari jauh." ucap Vano. Seperti mengetahui apa yang ada di benak Ella.
Ting.. ponsel Ella berbunyi. Segera Ella mengambil dan melihatnya. Tertera nama dengan ID X2 di ponsel Ella.
BURUNG YANG TERLEPAS AKAN MASUK KE SARANG.
Ella tersenyum. "Siapa?" tanya Vano. Karena dia juga membaca pesan tersebut.
"Bawahanku." ucap Ella.
"Mereka masih aktif?" tanya Vano, mengerti siapa yang di maksud oleh sang istri.
"Masih, biasanya mereka akan menjadi orang bayaran untuk melakukan sesuatu. Tapi mereka akan selalu siap, jika aku membutuhkan mereka kapanpun."
"Siapa mereka?" tanya Ella.
"Biar Reza yang menyelesaikannya." jawab Vano.
Vano dan Ella keluar dari mobil, ketika keadaan sudah tenang. Dan musuh sudah kalah telak. "Cari tahu segera." perintah Vano.
"Baik Tuan." jawab Reza.
"Nyonya." sapa Reza tersenyum. Sementara Rio, tampak sinis dengan ekor mata melirik ke arah Reza. Ella hanya tersenyum menanggapi sapaan dari Reza.
"Kita pulang." ajak Vano.
"Lohh." ujar Ella, karena saat ini seharusnya Vano masih bekerja.
"Aku pemilik perusahaan." ucap Vano dengan sombong. "Selesaikan semuanya." ucap Vano memandang ke arah Reza.
Ella dan Vano masuk ke dalam mobil. Dengan Rio berada di kursi depan. Menjadi sopir mereka. "Bagaimana?" tanya Vano mengelus lembut rambut Ella.
"Lena, aku melepaskannya." ucap Ella terkekeh pelan.
"Dasar. Nakal. Bagaimana kalau dia stres?" tanya Vano mencium ujung kepal Ella. Karena sebenarnya, Vano sudah tahu apa yang terjadi pada Lena. Dan pastinya Vano mengetahuinya dari Rio.
Ella mendongakkan kepala dan tersenyum manis. Dengan cepat, Vano menyambar bibir ranum milik sang istri.
Glekk,,,, Rio menahan nafasnya. Dia fokus menatap ke depan. Ruangan mobil yang awalnya sejuk karena AC, kini berubah jadi panas.
"Van." ucap Ella manja setelah Vano melepas tautan bibir mereka. Mendorong pelan tubuh sang suami kebelakang. Ella membulatkan matanya dan melirik ke arah Rio. Seolah memberi isyarat pada Vano
"Dia tidak melihat." ucap Vano cuek. Vano pikir Rio tidak punya mata.
__ADS_1
Ting.... Ponsel Ella kembali berbunyi. Ada pesan bergambar dan video yang dikirim oleh bawahannya. Ella tersenyum jahat melihat isi dari video tersebut.
Lena. Dia tampak seperti orang linglung. Tanpa berkata apapun, dia masuk ke dalam rumahnya sendiri. Di mana di dalamnya ada seorang perempuan paruh baya. Yakni ibu dari Lena.