DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 155


__ADS_3

Sampai di dalam kamar, Vano melihat Ella sudah tertidur pulas di bawah selimut. Dengan pelan, Vano mengikuti sang istri. Merebahkan badannya di bawah selimut.


Dipandangnya wajah Ella yang sedang terlelap. Tampak cantik. Vano memiringkan badannya. Dirinya tersenyum menatap wajah sang istri.


"Kamu anugerah terbesar dalam hidupku sayang. Dan semoga, Tuhan segera memberikan kepercayaan pada kita untuk memiliki buah hati." Vano memejamkan matanya.


Pagi hari, Ella bangun terlebih dulu. Seketika senyumnya mengembang, melihat wajah tampan milik Vano berada tepat di depannya.


Seakan semua rasa sakit yang pernah Vano torehkan di hatinya lenyap dengan perlakuan yang di berikan Vano padanya saat ini.


Dengan pelan ditinggalkannya ranjang tempatnya tidur bersama suami tercinta semalam. Ella teringat bisikan sang mama di telinganya, sebelum beliau meninggalkan rumahnya semalam.


SEKARANG STATUSMU SEBAGAI ISTRI. KAMU HARUS MELAKUKAN TUGASMU SEBAGAI SEORANG ISTRI. TAPI KAMU JUGA HARUS SELALU MEMPERHATIKAN PENAMPILANMU. SEMUA HARUS SEIMBANG SAYANG. JANGAN BIARKAN SUAMI KAMU MENCARI RASA NYAMAN PADA PEREMPUAN LAIN.


Ella hanya mencuci mukanya. Dan segera turun ke bawah, dengan masih memakai baju tidur. Tentunya pakaian tidur yang sopan. Bukan lingeri seksi, atau pakaian minim.


"Pagi." sapa Ella pada beberapa pembantu yang tengah sibuk di dapur.


"Nyonya, selamat pagi." mereka memberi jalan pada Ella.


"Masak apa bik?" tanya Ella.


"Sebenarnya bibik bingung Non,,, eh Nyonya. Maaf." bibik sedikit masih kaku memanggil Nyonya. Lantaran Ella masih terlalu muda untuk panggilan tersebut.


"Biasakan ya bik, memanggil saya Nyonya. Juga dengan yang lain." ucap Ella dengan sopan.


"Baik Nya." ucap mereka serempak.


"Nanti kalau Vano dengar, bisa bahaya." Ella tersenyum manis.


"Oh iya. Untuk kamar ku dan Vano. Kalian bisa membersihkan jika sudah ku panggil." ucap Ella mengingatkan.


"Baik Nya."


"Bik, sebaiknya masak nasi goreng saja. Jangan terlalu pedas. Jangan lupa kasih sayuran ya bik. Maaf, saya belum bisa membantu." ucap Ella.


"Iya Nya. Tidak apa-apa."


"Saya belum bisa masak." ucap Ella berterus terang.


"Ternyata Nyonya baik ya. Aku kira dia sedikit sombong." ucap salah satu pembantu Ella, saat Ella sudah kembali ke kamar setelah memberitahu pada mereka.


"Iya, padahal dia model terkenal. Anak orang kaya." timpal yang lain.


"Husss,,,, kalian ini. Cepat kerja." tegur bibik sebagai pembantu paling tua di antara mereka.


Sementara Lena masih tidur nyenyak di dalam kamar. Seakan tubuhnya enggan untuk beranjak dari ranjang. Atau mungkin, dirinya merasa nyaman tidur pada kasur empuk.

__ADS_1


Ella masuk ke dalam kamar, menyiapkan pakaian kerja untuk Vano. Setelahnya, dirinya membersihkan badan. Tidak lupa, Ella juga mengisi bak kamar mandi dengan air hangat.


Setelah selesai merias diri. Ella membangunkan suaminya. "Kamu sudah rapi, mau kemana?" tanya Vano, disahut suara tawa dari Ella.


"Sekarang tidak kemana-mana. Nanti aku mau menemui Hana." ucap Ella dengan lembut.


"Ayo, bangun. Bukankan kamu harus bekerja. Jangan sampai kamu bangkrut." Ella mencubit gemas pipi Vano.


"Jika sampai kamu bangkrut. Harta kamu habis. Aku dengan senang akan meninggalkan kamu." ancam Ella dengan raut wajah lucu.


"Baik Nyonya." Vano duduk, mengangkat tangannya seakan sedang hormat pada atasannya.


"Aku akan cari uang yang banyak. Biar istriku senang." ujar Vano, Ella tertawa mendengar perkataan Vano.


Segera Vano masuk ke dalam kamar mandi. Sampai di dalam, Vano tersenyum. Melihat semuanya sudah siap.


Vano keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Vano tersenyum melihat Ella membersihkan ranjang milik mereka.


Mata Vano menangkap pakaian yang terletak di atas nakas. Vano tersenyum, dirinya memakai pakaian sendiri. Sepertinya sengaja membiarkan Ella yang tengah fokus membersihkan tempat tidurnya.


"Kenapa tidak dari dulu saja aku menikahi mu sayang." batin Vano merasa menyesal, berkali-kali menolak ajakan Ella untuk menikah dengan alasan belum siap.


"Tampannya..." puji Ella saat Vano sudah memakai pakaian. Tinggal memakai jas dan dasinya.


"Sini, aku bantu." Ella mengambil dasi dari tangan Vano.


"Tidak apa-apa. Kamu istriku. Bukan pembantu. Lagi pula sudah ada pembantu. Mereka aku bayar, kamu tidak perlu merasa bersalah."


"Terimakasih." ucap Ella.


Ella berniat akan mengikuti les memasak. Dirinya benar-benar ingin menjadi seorang istri yang bisa membuat suaminya bangga. Karena memiliki istri seperti dirinya.


Ella dan Vano turun melewati tangga. Keduanya sekarang berada di meja makan. "Makasih bik." ucap Ella saat bibik hendak meninggalkan meja makan.


Keduanya diam dan menikmati sarapan. Hanya terdengar suara denting sendok yang bersentuhan dengan piring.


"Sayang, kamu jadi bertemu Hana." tanya Vano pada Ella saat keduanya sudah berada di teras rumah.


"Nanti, agak siang. Sekalian mau ngatur jadwal pekerjaan." jelas Ella.


Vano memang tetap mengizinkan Ella bekerja. Dirinya yakin jika sang istri bisa mengatur waktu dengan baik. Lagi pula, tidak mungkin Vano menyuruh Ella berhenti dari dunia model. Karena itu adalah hobi Ella, yang sudah dilakukannya sebelum mereka menikah.


Vano tidak ingin terlalu mengekang Ella. Vano juga berpikir, pasti Ella juga akan bosan jika tidak ada aktifitas. Apalagi jika dirinya sedang bekerja.


Yang pasti, peraturan Vano tetap sama seperti dulu. Jika Ella tetap ingin menjalani hobinya sebagai model. Ella tidak boleh berinteraksi dengan lelaki. Dan juga Ella harus menyeleksi dan memilih secara teliti gaun atau baju yang akan dikenakannya.


"Baiklah. Hati-hati ya." ujar Vano.

__ADS_1


Ella mencium punggung tangan dari suaminya. Setelahnya, Vano mencium dahi sang istri. "Hati-hati. Semangat." kata Ella saat Vano sudah masuk ke dalam mobil, dengan jendela mobil masih terbuka.


Begitu mobil Vano keluar dari gerbang rumah, Ella kembali masuk ke dalam.


"Bik, Lena belum bangun?" tanya Ella karena sampai saat ini belum melihat kehadiran Lena.


"Tidak tahu Nya, apa perlu bibik bangunkan." tawar Bibik.


"Nggak usah. Biarkan saja."


"Nya, ada yang ingin bibik sampaikan." ucap Bibik saat Ella hendak meninggalkan beliau.


Bibik menoleh ke sekitar mereka. Seperti sedang melihat keadaan. Merasa aman, bibik baru membuka mulutnya. "Nyonya sebaiknya berhati-hati dengan Non Lena. Bibik hanya merasa, dia perempuan yang kurang baik." ucap Bibik dengan hati-hati.


Ella tersenyum. Ella dapat menangkap dari ekspresi wajah Bibik. Jika bibik melihat sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.


"Tenang saja. Ella ini buaya. Dan dia kadal. Buntung lagi." ucap Ella lirih sambil tersenyum.


Bibik merasa lega, karena ternyata majikannya percaya dengan perkataannya. Bahkan Ella tidak marah saat di ingatkan olehnya.


"Bik, bagaimana?" tanya seorang pembantu yang baru saja menghampiri bibik.


"Beres. Kelihatannya Nyonya sudah tahu, jika dia perempuan ular." ucap Bibik.


"Lihat, bahkan sampai sekarang saja dia masih ngorok di dalam kamar. Benar-benar tamu laknat." omel pembantu Ella.


"Biarkan saja. Nyonya bilang begitu." ucap Bibik mengikuti perkataan majikannya.


Sekitar satu jam, Ella keluar dari kamarnya. Dia langsung mencari pembantu di rumahnya.


"Bik..." seru Ella.


"Iya Nya."


"Ella mau keluar. Tolong suruh seseorang bersihkan kamar Ella jika bibik masih repot."


"Baik Nya."


"Nanti tidak perlu siapkan makan. Siang saya akan makan bersama teman. Mungkin malam saya dan Vano tidak akan makan di rumah." jelas Ella.


"Nanti akan saya hubungi jika saya berubah pikiran." imbuh Ella.


"Baik Nya. Maaf, bagaimana dengan Nona Lena?" tanyanya dengan hati-hati, lantaran sampai saat ini Lena belum bangun.


Ella melihat ke arah kamar Lena. "Bibik coba lihat. Dia masih bernafas apa nggak. Jika ternyata masih bernafas, biarkan saja dia menikmati tidurnya. Dan,,,, terserah dia mau ngapain." jelas Ella.


"Satu lagi. Jangan biarkan Lena masuk ke dalam kamarku. Vano tidak suka ada orang asing masuk ke dalam kamar kami." ingat Ella.

__ADS_1


__ADS_2