DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 185


__ADS_3

"Jangan sampai nyawa mereka melayang. Mereka juga bawahanku." ucap Ella lirih, mengintip di balik rimbunnya dedaunan di depannya.


Ella dan keempat bawahannya hanya memakai pistol yang berisi obat bius. Ella bisa saja meminta mereka untuk menyerahkan Jo tanpa adanya pertempuran.


Dan itu artinya, Ella akan menampakkan dirinya. Dan pastinya Tuan Haris tidak akan pernah memberikan Jo pada Ella. Yang ada mereka malah akan bersitegang.


Oleh karena itu, Ella memilih jalan seperti ini. Mengambil Jo dengan cara menyerang seperti musuh yang hendak menyerbu markas lawan.


Sebelum ke sini, Ella dan keempatnya sudah mempelajari bangunan tersebut. Di mana dan kemana mereka akan melangkah. Karena Ella hanya akan bekerja dengan keterbatasan orang. Lima orang, itupun dengan dirinya.


Tidak lupa Ella mematikan akses komunikasi. Ella menyuruh seseorang untuk mengacau sinyal di rumah tersebut. Baik telepon rumah maupun telepon genggam, tidak akan bisa di gunakan.


"Ingat, kita hanya punya waktu delapan belas menit. Sebelum papa menyadari." ucap Ella mengingatkan. Karena akses komunikasi hanya di kacaukan dalam waktu tersebut.


Untuk CCTV yang terpasang, Ella juga sudah memikirkannya matang-matang. Ella tidak bisa memanipulasinya, karena waktu yang terbatas. Tapi setidaknya, akan aman jika Tuan Haris tidak memegang ponsel.


Dan untuk itu, Ella sudah menyuruh seseorang untuk sementara meletakkan ponsel papanya di tempat, yang mungkin Tuan Haris sendiri tidak akan pernah menebak jika ponselnya berada di tempat itu.


"Selama papa kebingungan mencari ponsel, selama itu kita akan melumpuhkan mereka." ucap Ella, menunggu seseorang untuk memberitahu dirinya. Jika ponsel Tuan Haris sudah aman.


Ponsel Ella bergetar. Sebuah pesan masuk dalam ponselnya. BERES NONA.


"Sekarang." ucap Ella. Dengan gerakan gesit keempatnya menyebar ke tempat yang sudah di tentukan. Masing-masing mempunyai tugas untuk melumpuhkan lawan.


Ditelinga masing-masing sudah terpasang seperti earphone untuk mempermudah kelimanya berkomunikasi.


"Serigala satu siap."


"Serigala dua, siap."


"Serigala tiga siap."


"Serigala empat siap."


Itulah kalimat yang Ella dengar di telinganya. "Mulai." ucap Ella yang sekarang sudah berada di atas pohon. Menyamarkan dirinya di antara daun yang lebat.


"Aaaaa..." seorang memegang tengkuknya dan terjatuh. Menandakan Ella sudah memulai penyerangan.


"Siaga...!!!!" teriak mereka.


"Musuh menyerang." seru mereka.


Di bawah terlihat penjaga rumah tersebut tampak panik. Mencari keberadaan dari mana serangan tersebut berasal.


Satu persatu dari mereka tampak terjatuh. Mereka seperti sekelompok domba tanpa penggembala. Ella tersenyum menyeringai. "Kelihatannya kalian harus banyak berlatih lagi." gumam Ella dengan tangan tetap membidik ke arah mereka.


Sementara Ella tetap menyerang dari depan. Satu rekannya di samping, begitu juga dengan satu rekannya yang lain.

__ADS_1


Sementara dua dari mereka menerobos ke dalam. Mengambil barang yang menjadi terget mereka.


"Padahal hanya lima orang, kalian sudah kocar-kacir." batin Ella melihat bawahannya yang sudah hilang konsentrasi.


Sepertinya, setelah ini Ella akan mengadakan pelatihan ekstra untuk bawahannya. Jika mereka masih seperti ini, pasti mereka akan mudah di kalahkan oleh musuh.


Ella terus mendengus dengan membidikkan senjata ke sasaran. Karena satupun tidak mengetahui keberadaan Ella. Sesekali lidahnya berdecak. Entahlah, mungkin ada perasaan kecewa saat melihat bawahannya dengan mudah dikalahkan olehnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Vano mendapatkan informasi keberadaan mobil yang di tumpangi oleh Ella. Dengan kecepatan tinggi, Vano melesat ke tempat tersebut. Diikuti oleh Reza di belakangnya bersama beberapa anak buahnya.


Vano berhenti di tengah hutan. Di mana mobil yang di carinya berada tepat di depannya. Tanpa berkata apapun, Vano membuka pintu mobil. Memeriksa ke dalam.


"****..." Vano hanya menemukan gaun Ella yang berwarna merah dengan high hellnya di dalam mobil tersebut.


Masih dengan setengah badan berada di dalam mobil. Vano memejamkan mata. Hidungnya mencari sesuatu dari dalam mobil yang bisa di jadikan petunjuk.


"Selain Ella ada dua orang lagi di dalam mobil ini. Siapa mereka." batin Vano menarik badannya untuk keluar dari dalam mobil.


"Siapa pemilik mobil ini?" tanya Vano.


"Mobil ini di sewakan Tuan. Tanda pengenal yang di tinggalkan di tempat sewa mobil, tidak terdaftar di list pemerintah." jelas Reza.


"Bahkan CCTV yang berada di tempat sewa mobil, juga tidak bisa menangkap orang yang menyewa mobil ini." imbuh Reza yang memang sudah memeriksa kamera CCTV.


Namun Reza bisa melihat jika beberapa menit dari video di CCTV tersebut telah di hapus. Namun dengan cara yang pintar, sehingga tidak ada yang akan menyadarinya.


"Ella, dengan siapa kamu bekerjasama." batin Vano. Teringat saat di markas, dirinya melihat ada beberapa orang dengan pakaian tertutup.


Mereka tampak dengan patuh melaksanakan semua perintah Ella.


Bahkan saat penangkapan Morgan, Vano juga bekerjasama dengan mereka. Tapi Vano tetap tidak bisa menebak siapa mereka.


Sedikitpun mereka tidak mengeluarkan suara. Hanya daei baunya, Vano dapat mengingat mereka. Dan Vano yakin, jika Ella sekarang bersama dengan mereka.


"Apa perlu kita selidiki siapa mereka Tuan?" tanya Reza.


Sejenak Vano masih diam. "Tidak perlu." ucap Vano.


"Baik."


"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Reza, menunggu perintah dari atasannya tersebut.


"Pulang." jawab Vano singkat. Mampu membuat Reza langsung mengangkat kepalanya. Memandang heran ke arah atasannya tersebut.


"Pulang." gumam Reza, melihat Vano sudah masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Meninggalkan hutan tersebut.

__ADS_1


"Pulang. Huftt, gue pikir bakal ada sesuatu yang menarik. Padahal gue sudah siap banget menarik pelatuk." gumam Reza masuk ke dalam mobil. Menyusul mobil Vano yang telah dulu meninggalkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman Tuan Haris.


"Mama memang tidak tahu pa." sahut Nyonya Ane ketika sang suami terus menerus menanyakan keberadaan ponsel miliknya.


"Memang papa taruh mana tadi?" tanya Nyonya Ane. Tuan Haris diam sejenak. Mengingat lagi di mana terakhir dirinya meletakkan ponsel miliknya.


"Di meja makan. Saat kita kita makan, aku menaruhnya di samping tanganku." ucap Tuan Haris.


Seseorang di balik tembok tersenyum. "Maat Tuan." batinnya. Kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Lalu setelah itu?" cerca Nyonya Ane. Dirinya sedikit kesal karena sedari tadi suaminya menanyakan keberadaan ponsel miliknya padannya.


"Setelah makan, kita pergi keruang tengah. Iyakan."


"Iya, tapi mama lihat papa tidak memegang ponsel. Hanya membaca koran." jelas sang istri.


"Apa tadi ponselnya papa taruh di saku." tanya Nyonya Ane, memastikan.


"Papa lupa." jawab Tuan Haris.


"Pikun." celetuk Nyonya Ane.


"Kita hanya sebentar di ruang tengah. Lalu papa langsung ke ruang kerja." ucap Tuan Haris mengingat kembali ke mana dia pergi.


"Ada yang aneh." batin Tuan Haris. Mata Tuan Haris menyapu seluruh ruangan. Mencari sesuatu yang menurutnya janggal.


"Ada apa pa?" tanya Nyonya Ane yang melihat suaminya tiba-tiba terdiam.


"Tidak ada. Beritahu semua pembantu untuk ikut mencari ponsel papa." pinta Tuan Haris pada sang istri.


"Papa sih, ada-ada saja. Mereka kan juga punya pekerjaan masing-masing. Malah disuruh ikutan cari ponsel papa." ucap Nyonya Ane kesal.


"Iya pa, iya." imbuh sang istri saat Tuan Haris menatapnya.


Nyonya Ane menyuruh semua pembantu di rumah membantu untuk mencari keberadaan ponsel miliknya. Sementara Tuan Haris duduk manis di ruang tengah.


"Papa bagaimana sih, yang lain suruh nyari, eeehhh papa malah enak-enakan duduk di sini." sungut Nyonya Ane.


Tapi Tuan Haris hanya diam. Tidak menimpali perkataan dari sang istri. "Pa..." seru Nyonya Ane, karena suaminya hanya memandang ke arah dirinya.


"Sebentar lagi juga ketemu." jawabnya dengan intonasi rendah dan datar.


"Tadi heboh, sekarang sok santai. Aneh." sindir Nyonya Ane, ikut duduk di samping sang suami.

__ADS_1


Tuan Haris merasa ada yang sengaja mengambil ponselnya. Dan untuk itu, dirinya hanya bisa duduk tenang. Menunggu ponselnya kembali ke tangannya.


Beliau yakin jika ponselnya pasti akan dikembalikan. Dan beliau akan mencari tahu apa tujuannya.


__ADS_2