
Terjadilah olah raga panas di dalam pesawat. Meski awalnya Ella menolak ajakan suaminya. Tapi bukan Vano namanya jika gagal merayu sang istri. Apalagi tangan dan bibir Vano sudah mahir dalam memanjakan para perempuan.
Lagi pula mana tega Ella membiarkan sang suami menahan konatnya, di saat dirinya masih sanggup untuk memuaskan sang suami.
Ella juga tidak akan pernah menolak keinginan Vano untuk menyentuhnya. Ella takut jika Vano malah akan mencari kepuasan diluar. Karena dirinya terlalu pelit. Ella tidak ingin rumah tangganya bersama lelaki yang di cintanya hancur karena masalah tersebut.
Apalagi sekarang status mereka suami istri. Dan sudah sewajarnya Vano meminta haknya. Kapanpun, dimanapun.
Eiihhhh,,,, sewaktu belum sah menjadi suami istri saja Ella rela melakukan ***-*** dengan Vano. Jadi tidak ada alasan untuk Ella menolaknya.
Hingga akhirnya Ella tetap berada di pangkuan Vano. Mereka melakukannya dengan posisi duduk. Dan itu posisi pertama yang dipilih oleh mantan casanova tersebut.
Ketika mereka mendapatkan pelepasan yang pertama, Vano kembali mengajak Ella untuk mengulangnya. Keduanya berdiri. Dengan pandangan Ella mengarah ke jendela pesawat, dan Vano berada di belakang Ella.
Pandangan Ella tertuju pada hamparan awan yang terhampar luas. Tetapi matanya tidak bisa dengan tenang memandangi hamparan awan tersebut. Karena sang suami selalu memberi hentakan yang nikmat dari belakang.
Beruntungnya mereka melakukan di dalam pesawat yang sedang terbang di atas awan. Bayangkan saja jika mereka melakukan di mobil ataupun bus. Pasti akan heboh.
Lagi-lagi Vano meminta melakukannya lagi saat dirinya sudah mencapai puncak kenikmatan untuk yang kedua kali. Beruntung, tidak terjadi goncangan di pesawat karena ulah keduanya.
Hingga pelepasan yang ketiga, Vano melepaskan sang istri yang sudah terlihat lelah. Vano membiarkan Ella terlelap dalam tidurnya. Sementara dirinya membersihkan sisa cairan bekas percintaan mereka.
Ella terbaring di samping Vano. Nampak Ella terlihat lelah. Apalagi Vano tak tanggung-tanggung meminta jatah. Dirinya beralasan jika mereka belum pernah merasakan sensasi melakukan olah raga panas di dalam pesawat.
Vano mengambil selimut yang terletak di depannya. Menutup tubuh seksi sang istri. Dengan lembut dan pelan, Vano mengusap kening Ella yang berkeringat. Dirinya tidak ingin membangunkan belahan jiwanya. So sweet.
Sementara Ella tidur, Vano membuka laptop. Seperti biasanya, Vano memeriksa email yang masuk dari Reza. Meskipun beberapa hari dirinya menyerahkan masalah perusahaan pada Reza. Tapi dirinya tetap memantaunya.
Hingga mereka tiba di negara kelahiran mereka, tampak Ella masih terlelap dalam tidurnya. "Sayang, bangun. Sudah sampai." dengan pelan Vano membangunkan Ella.
"Sudah sampai." kata Ella dengan suara serak.
"Iya, bangun gih." Vano mencium kening sang istri. Ella bangun di bantu oleh Vano.
Dalam perjalanan menuju rumah, Ella dan Vano duduk di belakang. Dengan kepala Ella menyender di pundak Vano. Sementara tangan Vano mengelus pelan rambut Ella.
Di kursi depan ada Lena dan juga Reza yang duduk di belakang kemudi. Beberapa kali Reza mencuri pandang pada Tuannya dan juga Ella lewat kaca di dalam mobil yang tergantung di atasnya.
Reza tersenyum samar melihat kebahagiaan keduanya. Tidak dengan Lena yang menampakkan raut wajah masam.
__ADS_1
Bagaimana hati Lena tidak terbakar cemburu. Semenjak di dalam pesawat, Vano dan Ella selalu memamerkan kemesraan.
Apalagi Lena yakin jika keduanya memadu kasih di dalam pesawat. Melihat bagaimana keadaan Ella yang terlihat lelah. Lena sebagai perempuan dewasa pasti mengetahuinya.
Selama perjalanan menuju kediaman mereka, tidak ada percakapan dalam mobil. Bahkan Ella malah memejamkan mata di pundak Vano.
"Tuan, apa kita akan pulang ke rumah Tuan sendiri?" tanya Reza.
"Iya." jawab Vano singkat. Dirinya sudah tidak sabar menunjukkan pada istrinya rumah baru mereka.
Karena setelah menikah Vano belum sempat memberitahu Ella. Dikarenakan Oma Yeti sakit dan diharuskan melakukan pengobatan di luar negeri.
Tibalah mereka di rumah besar dan megah bak istana. Lena hanya diam dan bertanya dalam hati. Karena dirinya juga belum pernah datang ke rumah ini. Dan juga tidak tahu siapa pemiliknya.
"Kenapa Vano malah mampir ke sini. Bukannya pulang dan istirahat. Dikira badan ini nggak capek." batin Lena mendumal.
Vano hendak menggendong Ella, namun Ella terlebih dahulu membuka mata karena pergerakan kecil dari Vano.
"Apa sudah sampai?" tanya Ella dengan tangan berada di depan mulutnya. Menutupi mulutnya yang terbuka lebar karena menguap.
"Ayo keluar." ajak Vano dengan penuh cinta.
Vano merangkul pundak Ella. Membisikkan sesuatu di telinga Ella. "Rumah kita."bisik Vano. Seketika kepala Ella menoleh ke samping.
"Hadiah pernikahan kita." ucap Vano. Tapi Ella mengalihkan kembali pandangannya pada rumah di depannya.
"Dari siapa?" tanya Ella membuat Vano terkekeh pelan.
Vano memegang pundak sang istri. Membawa wajahnya untuk bertatapan dengannya. "Hadiah dariku. Untuk perempuan tercinta. Di rumah ini, kita akan hidup bahagia. Bersama anak-anak kita." ujar Vano penuh kelembutan.
"Makasih." Ella meneteskan air mata. Tidak terbesit sedikitpun di benak Ella jika Vano akan berubah seperti ini.
Lena melongo mendengar penuturan dari Vano. "Sial, beruntung sekali Ella." batin Lena menahan kesal, memandang betapa rumah di depannya sangat besar dan megah.
Bagi Ella, Vano tidak membawa perempuan di dalam rumah tangganya saja sudah membuat Ella begitu bahagia.
Tapi ternyata semua lebih dari bayangan Ella. Tuhan memberikan hadiah atas kesetiaan Ella.
Sikap Vano semakin membuat dirinya semakin mencintai mantan casanova tersebut. Kejutan-kejutan kecil. Hingga perlakuan manis dari Vano untuk Ella, membuat sang model selalu berucap syukur.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah menangis." Vano menghapus air mata Ella di pipi mulusnya. "Apa kamu tidak suka?" tanya Vano.
"Kita akan membeli rumah lagi. Sesuai yang kamu inginkan. Maaf, tidak bertanya dulu. Seperti apa rumah yang kamu inginkan." ucap Vano.
Vano mengira jika Ella menangis karena tidak menyukai rumah yang di belikan olehnya. Bahkan Vano tidak masalah jika mereka akan membeli rumah baru sesuai keinginan sang istri.
Bukannya berhenti menangis, air mata Ella malah semakin banyak yang meluncur bebas di pipinya. Apalagi mendengar kata MAAF dari Vano.
"Sudah, jika kamu tidak suka tinggal di sini. Kita akan tinggal di apartemen dulu." Vano mencoba menghentikan tangis sang istri.
"Kenapa?" tanya Vano ketika Ella malah menggeleng.
"Terimakasih. Aku suka rumahnya." Ella memeluk erat tubuh sang suami.
Vano tersenyum lega. Ternyata pikirannya salah. Vano memegang kepala Ella. Mencium dahi sang istri berkali-kali.
"Lebay." gumam Lena yang menyaksikan drama rumah tangga kecil Vano dan Ella. Mungkin Lena merasa iri. Pasti.
Jangan tanyakan bagaimana syetan di atas kepala Lena berputar-putar. Mencari cara menghancurkan kebahagiaan Ella.
Dan Reza, bibirnya tersenyum. Sekarang, dirinya sudah benar-benar ikhlas melepaskan Ella untuk Vano. Melihat betapa Vano memperlakukan Ella dengan penuh cinta.
Di samping mereka ada beberapa orang yang berdiri rapi. Terlihat mereka adalah pekerja di rumah baru milik pasangan pengantin tersebut.
Petugas keamanan. Tukang kebun. Pembantu. Dan sopir. Dan untuk masih-masing profesi, lebih dari satu orang.
Vano membawa Ella mendekat ke arah mereka. "Dia Ella. Istriku. Nyonya sekaligus ratu di rumah ini."
"Baik Tuan. Selamat datang Nyonya." ucap mereka serempak.
"Apapun yang dikatakan Nyonya kalian. Adalah peraturan yang harus kalian lakukan." ucap Vano tegas dengan tatapan dingin.
"Nyonya." Ella memandang Vano dengan dahi berkerut. "Terlalu tua. Panggil saja Nona." pinta Ella pada para pekerja di rumahnya.
"Tidak bisa. Mereka memanggil saya Tuan. Tidak mungkin mereka memanggil kamu Nona." ucap Vano tidak terima.
"Memang kamu anak saya. Hemmm." Vano mencubit pipi Ella.
"Baiklah." ucap Ella pasrah. "Tuan." imbuh Ella terkekeh.
__ADS_1
Keduanya berjalan beriringan dengan berpegangan tangan masuk ke dalam rumah. Sementara yang lain mengikuti mereka dari belakang.