DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 172


__ADS_3

"Silahkan duduk." ucap seseorang lelaki yang berkirim kabar dengan Vano melalui email.


"Dia asisten saya." jelas Vano, saat orang tersebut memandang ke arah Ella.


Tentu saja mereka tidak mengenali istri Vano tersebut. Lantaran Ella memakai pakaian pria. Dan juga memakai wig pendek. Apalagi dirinya memakai jaket yang besar. Untuk menyembunyikan dua bongkahan besar di dadanya. Celana yang di pakainya juga celana komprang.


Terlihat Ella seperti seorang lelaki yang imut. Bahkan, sejak masih di markas, Vano tersenyum memandang ke arah istrinya. Bahkan Ella sempat kesal dengan Vano yang terus menggodanya. Ternyata Ella juga akan terlihat tampan berpenampilan sebagai lelaki.


"Bagaimana?" tanya orang tersebut pada Vano. Sebut saja namanya Alex.


"Berapa?" bukannya menjawab, Vano malah bertanya balik.


"Seperti yang sudah saya jelaskan di email." jawab Alex, saat Vano menanyakan harga dari barang tersebut.


"Apakah aku orang pertama?" tanya Vano santai.


"Pasti, tentu saja." jawab Alex tersenyum, menutupi sesuatu. Dan Ella bisa merasakannya. Vano dan Ella saling pandang. Keduanya mengisyaratkan sesuatu lewat mata mereka.


"Apa jaminannya, jika aku orang pertama." lanjut Vano.


"Jaminan, jaminan apa yang kau maksud. Kita hanya sekedar bertransaksi, tidak lebih." jelas Alex, terlihat gurat tidak suka di wajahnya saat Vano bertanya.


"Aku tidak suka, barang yang sudah ada di tanganku. Dimiliki orang lain." tegas Vano, membuat raut wajah Alex berubah.


"Aku tidak suka menjadi yang kedua." imbuh Vano.


Alex memandang ke arah anak buahnya, yang berdiri di sampingnya. Mereka seolah sedang saling mengatakan kalimat lewat mata mereka.


Ella menyenggol lengan Vano. Membuat Vano mengangguk. Mata Ella memandang ke atas. Penembak handal milik Ella ternyata sudah menguasai keadaan. Dan Ella yakin, jika Reza dan bawahannya di luar juga sama. Mereka pasti berhasil melumpuhkan musuh tanpa suara.


"Bos..." seru seorang lelaki masuk ke dalam dengan lebam di wajah dan nafas terengah-engah.


Seketika Alex dan bawahannya yang berada di dalam ruangan mengeluarkan pistol dan menodongkannya pada Vano dan Ella.


Vano dan Ella hanya tersenyum sinis, tidak beranjak dari tempat duduknya. Ella mengangkat tangannya. Menggerakkan jari jemarinya.


Seketika ada titik berwarna merah di tubuh Alex dan tiga bawahannya yang berada di dalam ruangan. Tepat di jantung mereka.


"Kalian." geram Alex, dirinya yakin jika bawahan Vano menggunakan senjata api yang lebih canggih dari miliknya. Karena itu, dia menurunkan pistol yang dia todongkan ke arah Vano dan Ella.


Ella berdiri, mengambil semua pistol mereka. Dengan santai mengeluarkan semua pelurunya. Ella tetap diam. Dirinya tidak mengeluarkan suara sama sekali.


Karena selama ini, semua mengenal Ella sebagai putri dari Haris Subagyo. Seorang model ternama yang cantik dan seksi. Pastinya lemah lembut.


Ella tidak pernah memakai namanya saat melakukan transaksi ilegal. Sampai detik ini, dirinya masih menggunakan nama papanya. Meskipun Tuan Haris bahkan tidak tahu menahu sebagian bisnis ilegal yang di jalankan putrinya.

__ADS_1


Setiap rekan bisnis ingin bertemu, dirinya selalu memerintahkan Paman Haki sebagai perwakilannya. Dan tentunya dia lagi-lagi membawa nama papanya.


Terkecuali bawahan Tuan Haris. Mereka semuanya tahu jika Ella melakukan bisnis ilegal tanpa sepengetahuan Tuan Haris. Tapi mereka memilih bungkam. Karena Ella lebih kejam dari Tuan Haris.


Mereka tidak ingin mencari masalah dengan atasan mereka.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Alex dengan nada tidak suka.


"Pada siapa kamu menjual obat ini. Hanya itu." jelas Vano.


Alex diam dan memandang pada Vano. Sepertinya ada yang sedang dia pikirkan. Kenapa Vano menanyakan hal tersebut pada dirinya.


"Apa alasan kamu menanyakan hal itu. Aku penjual, dan pastinya akan menjual pada pembeli yang siap membeli barangku. Sesuai harga yang sudah aku tetapkan."


"Bukankah sudah ku bilang." Vano berdiri menatap tajam pada Alex.


"Aku tidak suka menjadi yang kedua." ujar Vano tegas.


"Lantas apa yang akan kamu lakukan, jika aku memberitahumu, pada siapa aku menjualnya."


"Jangan berbelit. Katakan saja." sentak Vano dengan tangan menggebrak meja. Vano emosi karena Alex terlalu berbelit-belit. Seperti mengulur waktu.


Ella melangkah ke depan. Melihat keadaan mereka. Terutama kedua tangan mereka yang berada di bawah. Tidak terlihat karena terhalang meja.


"Heyyy..." seru Alex hendak menyerang Ella saat Ella mengambil ponsel dari tangannya.


Ella melihat ke arah ponselnya. Ternyata Alex sedang menelpon seseorang. Dan Ella yakin, dia adalah pembeli dari racun yang di jual oleh Alex.


Ella tetap menyalakan ponsel Alex yang terhubung dengan seseorang. Menaruhnya di atas meja. Membiarkan dia mendengar semua apa yang ingin dia dengar.


Dan ternyata, Ella telah menyambungkan perangkat yang ada di ponsel Alex, dengan perangkat komputer di markasnya. Seseorang menggerakkan jarinya dengan lincah di atas keyboard. Mencari tahu siapa yang ada di ujung ponsel tersebut.


Ponsel Ella berdering. Setelah mendengar jika dia sudah menemukan target, Ella segera mematikan ponsel milik Alex, mengembalikan pada Alex.


Ella melempar ponsel tersebut. Segera Alex menangkapnya. Tapi ponselnya tidak bisa menyala seperti sedia kala. "Kenapa dengan ponselku." bentak Alex memandang ke arah Ella.


Vano memanggil anak buahnya di depan. Segera mereka masuk. "Amankan mereka." perintah Vano.


"Terimakasih Tuan Alex, atas kerjasamanya." ucap Vano tersenyum misterius. Membuat Alex kebingungan.


Kenapa Vano meninggalkan dirinya, padahal dia belum memberitahu apapun pada Vano. Dan untuk apa Vano berterimakasih.


Alex beserta bawahannya di ikat di dalam ruangan. Tentunya, mereka masih di jaga oleh beberapa anak buah Vano. Sementara para penembak milik Ella, mengikuti kemana Ella pergi.


Dan Vano meminta Reza memperketat keamanan markasnya dan juga markas milik Ella. Vano juga meminta Reza mengirim beberapa anak buahnya ke tempat yang sudah Vano sebutkan.

__ADS_1


*


*


*


"Kamu sangat cantik sayang." ucap Denis saat menjemput Hana dirumahnya.


"Ibu sedang menghadiri kumpulan ibu-ibu RT. Tapi tenang saja, aku sudah izin pada beliau." jelas Hana.


Keduanya berangkat ke tempat acara dengan senyum merekah di bibir mereka. Acara makan malam tidak di laksanakan di rumah keluarga Denis.


Tapi di sebuah gedung, di pusat kota. Dimana ada sebuah restoran di dalamnya.


"Tidak usah gugup." Denis menggenggam telapak tangan Hana yang sangat dingin seperti es.


"Oke." Hana mencoba mengatur nafasnya menetralkan perasaan gugup yang menderanya.


Dengan langkah anggun dan pasti, Hana berjalan di samping Denis. Tangannya melingkar dan memegang lengan kokoh milik sang kekasih.


"Ma." sapa Denis pada sang mama. Langsung sang mama membalikkan badan, mendengar suara putranya memanggil dirinya.


"Denis." ucap mama Denis. Tampak senyum di bibir mama Denis merekah. Tapi Hana sangat tahu, jika senyum tersebut adalah senyum palsu. Apalagi beliau memandang Hana dengan tatapan lembut. Mustahil bukan.


"Dia, siapa?" tanya mama Denis. Berpura-pura belum mengenal Hana. Padahal setiap hari beliau selalu mengirimkan pesan tertulis dari aplikasi berwarna hijau yang selalu membuat hati Hana teriris.


Bahkan beliau juga pernah mengirimi Hana beberapa gambar foto perempuan cantik. Dan tentunya mereka adalah putri dari orang terpandang dan pasti bergelimang harta.


Hana tersenyum, sembari menguatkan dirinya. Dia selalu teringat perkataan Ella. Bahwa dalam suatu hubungan, pasti akan ada kendala atau masalah.


Hana tidak memperkenalkan dirinya. Dan dia sengaja melakukannya. Bersama dengan Ella, dan menemani Ella menghadiri acara atau pertemuan penting. Membuat Hana belajar bagaimana Ella berbicara dan menghadapi orang yang tidak menyukai dirinya.


"Semoga gue bisa Ell." batin Hana, menunggu Denis membuka mulutnya. Dan mengenalkan dirinya pada mamanya.


"Kenalkan ma. Dia Hana. Kekasih Denis." ucap Denis dengan tersenyum senang. Seolah dia bangga memiliki Hana di sampingnya. Sebagai kekasihnya.


"Akhirnya." batin Hana lega. Denis sendiri yang memperkenalkan dirinya pada mamanya.


"Hana tante. Kekasihnya Denis." ucap Hana setelah Denis memperkenalkannya, Hana mengulurkan tangannya. Bermaksud ingin bersalaman dengan mama Denis.


Mama Denis tersenyum begitu lembut. Beliau menyambut uluran tangan dari Hana. "Kamu kekasihnya putra saya." ujarnya.


"Iya tante." kata Hana. Baiklah, Hana akan mengikuti permainan mamanya Denis. Bukankah mereka masih baru saja saling mengenal. Tidaka masalah. Hana akan memulainya sekarang.


Hana selalu teringat perkataan Ella, saat dirinya di hadapkan dengan seseorang yang tidak menyukai dirinya.

__ADS_1


ANGKAT DAGUMU. PERLIHATKAN SENYUMMU. JANGAN BIARKAN ORANG YANG TIDAK MENYUKAIMU AKAN SEMAKIN MENGUASAI DIRIMU DAN MEMPERMAINKANMU.


__ADS_2