DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 04


__ADS_3

Denis melepaskan cekalan tangan Lyra dari lengannya. "Aku menginginkan perawatan." ucap Denis. Membuat semuanya melihat ke arahnya. Tapi tidak dengan Hana.


"Dan aku ingin, Nona Hana yang melayaniku." ucap Denis, tersenyum samar.


"Denisss!!!" geram Lyra, menghentakkan kakinya di lantai.


Nora tersenyum. "Baik Tuan. Ayo Han, kamu layani Tuan ini." ucap Nora. Mendapat tatapan horor dari Hana, tapi Nora malah mengangkat kedua bahunya. Dan berlalu meninggalkan mereka.


Nora sudah dapat menebak, apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi terlihat jika Lyra sangat tidak menyukai Hana berdekatan dengan Denis.


Membuat Nora ingin sekali membuat mood Lyra berantakan. "Entah apa tujuanmu datang ke sini. Tapi yang jelas, sekarang kamu harus bermain dengan kami." ucap Nora dalam hati, masih menatap Lyra dengan tatapan datar.


"Perawatan apa yang ingin anda lakukan Tuan?" tanya karyawan lain.


"Pijat." ucap Denis dengan enteng. Membuat Hana langsung mengangkat kepalanya. Pandangan mata Hana dan Denis bertatapan.


Segera Hana memutuskan pandangan mereka. "Sudah Han, cepat kamu layani. Memang kamu mau dipecat." ucap rekannya, melirik ke arah Lyra.


"Lihat nenek lampir. Matanya hampir keluar dari tempatnya." ucapnya, berbisik pada Nora. Membuat keduanya terkekeh pelan.


"Hana,,, ayo...!!" ucap Nora, sengaja membuat Hana dan Denis segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Huhhh,,, Baiklah. Silahkan Tuan." ucap Hana pasrah.


"Dennnn!!" ucap Lyra dengan manja.


"Bukankah aku sudah bilang. Kamu bisa pulang. Kunci mobil ada di tanganmu bukan." ucap Denis dingin, melangkahkan kakinya meninggalkan Lyra. Mengekor di belakang Hana.


"Aku akan bicara dengan tante Monic." seru Lyra. Membuat Denis dan Hana berhenti melangkahkan kaki.


"Bicaralah. Bicaralah apapun yang ingin kamu katakan." ujar Denis dengan tatapan menghunus pada Lyra.


Denis dan Hana menuju ruang perawatan eksklusif. Di mana hanya ada satu orang di dalamnya. Karena Denis beralasan ingin merasakan suasana senyaman mungkin.


"Astaga, mereka berdua. Hanya berdua di dalam ruangan. Emmmm..." ucap rekan kerja Hana, sembari menggoyangkan badan dengan ekspresi dibuat menggemaskan, menatap ke arah Denis dan Hana pergi.


"Entahlah. Apa yang akan terjadi. Laki-laki dewasa bersama perempuan dewasa. Berada dalam satu ruangan." timpal Nora, bersedekap dada. Dengan ekor mata melirik ke arah Lyra.


"Tuan tampan tadi mau melakukan pijat?" tanya karyawan salon yang berpapasan dengan Hana dan Denis dengan suara keras.


"Iya." jawab Nora.

__ADS_1


"Uluhhh.. pasti hot." ucapnya.


"Iyalah,,, Apalagi P-I-J-A-T. Pijat. Pasti copot baju tuh." sahut yang lain, dengan tangan sedang sibuk melayani pelanggan salon.


"Aaaa...!!" teriak beberapa karyawan salon dengan heboh.


Lyra menghentakkan kakinya dengan keras. Melihat ke semua karyawan salon dengan penuh amarah. Dan meninggalkan salon begitu saja.


"Heloo,,, kok pergi Nona. Antingnya belum ketemu lo!!" teriak karyawan salon.


Beruntung saat ini Virna sedang tidak berada di salon. Dan juga, hanya ada beberapa pelanggan. Karena salon hari ini lumayan sepi.


"Hey,,, kenapa kau kunci!!" seru Hana, saat dirinya dan Denis sudah berada di dalam ruang pijat.


"Aku tidak suka ada yang melihat bentuk tubuhku." ucapnya, melepaskan jas. Menggantungnya di gantungan yang memang sudah tersedia di dalam ruangan.


Melepaskan kancing kemejanya, mulai dari kedua lengannya. Hingga kancing bagian depan. Lalu Denis juga menggantungnya bersama dengan jas yang sebelumnya sudah tergantung.


"Hey...!!" seru Hana segera mencekal lengan Denis. Saat Denis hendak melepas ikat pinggang yang melingkar di pinggangnya.


"Apa yang kamu lakukan." ucap Hana, dengan kedua mata membulat.


Cup,,,,, Denis menyerang Hana dengan segera. Mencium dan ******* bibir seksi sang kekasih. Tangan kanan Denis memegang erat kedua pergelangan Hana. Mengangkatnya ke atas kepala.


"Aaaa....!!" seru Denis, saat Hana mengangkat lututnya. Dan mengenai pusaka milik Denis.


Segera Hana berlari keluar, saat tangannya terlepas dari cekalan Denis. Tapi tidak semudah itu. Dengan menahan rasa sakit, Denis segera memeluk erat tubuh Hana dari belakang.


"Sayang, akau kangen." ucap Denis, saat Hana berontak.


"Hey, kenapa?" tanya Denis, saat kedua pundak Hana bergetar naik turun. Menandakan jika Hana sedang menangis.


Masih menahan rasa sakit karena tendangan Hana, Denis memutar tubuh Hana. "Ada apa?" tanya Denis, melihat Hana menunduk sambil menangis.


"Aku memang sidah tidak perawan. Tapi jangan perlakukan aku seperti itu." ucap Hana dalam tangisnya.


"Astaga." Denis menggeleng pelan. "Bukan seperti itu sayang." segera Denis membawa Hana ke dalam pelukannya.


"Maaf, aku terlalu bersemangat. Aku memendam rasa rindu terlalu lama." ucap Denis. Melepas pelukannya, dan membawa Hana duduk di ranjang yang digunakan pelanggan salon untuk perawatan.


"Sebaiknya kamu segera keluar. Pasti sekarang Lyra sedang menunggu kamu." ucap Hana datar.

__ADS_1


Denis memeluk Hana. Sebenarnya Hana sedikit riskan saat Denis memeluknya, apalagi saat ini Denis tidak memakai baju.


"Sayang, aku minta maaf. Sungguh, aku hanya sedikit syok saat mendengar ceritamu. Bukan karena kamu kehilangan keperawananmu. Melainkan Vano yang telah melakukannya." ucap Denis, menaruh dagunya di pundak Hana.


"Maaf, membiarkanmu melewati hari-hari yang sulit seorang diri. Maaf, maaf. Bahkan seribu kata maaf dariku tidak bisa menebus kesalahanku." imbuh Denis, semakin mengeratkan pelukannya.


"Berikan aku satu kesempatan lagi. Aku mengakui, jika aku melakukan kesalahan. Maaf." cicit Denis lirih.


"Bagaimana dengan mama kamu?" tanya Hana, seolah mengingatkan persoalan utama dalam hubungan mereka.


"Aku akan berada di depanmu. Aku berjanji akan selalu melindungimu. Dan tentang mama, kita akan bersama mendapatkan restu darinya." ucap Denis dengan sungguh-sungguh.


Hana terkekeh pelan. Membuat Denis mengangkat dagunya dari pundak Hana. "Kamu yakin. Bukankah kamu selalu menuruti perkataan mamamu." ucap Hana pelan.


Denis masih terdiam. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh Hana. Jika kelemahan Denis berada pada sang mama.


"Mama mu tidak menyukaiku, bukan karena wajahku. Bukan karena sikap dan tingkahku. Juga bukan karena postur tubuhku. Tapi karena aku terlahir bukan dari keluarga kaya, seperti Lyra." ujar Hana tersenyum sinis.


Wajah Denis seperti tertampar. Karena apa yang dikatakan oleh Hana adalah sebuah kebenaran. Dan Denis, tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"Han,,," ucap Denis lirih, saat Hana turun dari ranjang.


"Saya akan melanjutkan pekerjaan saya. Jika anda tidak jadi melakukan perawatan, silahkan keluar. Mungkin akan ada pelanggan salon yang akan memakainya." ucap Hana dengan sopan.


"Han." Denis mencekal lengan Hana yang hendak melangkah pergi meninggalkan dirinya.


"Aku belum selesai bicara. Tunggu sebentar. Oke." pinta Denis.


Hana melepaskan cekalan tangan Denis. "Katakan." ucap Hana sambil bersedekap.


"Bukankah aku sudah bilang. Kita akan melakukan bersama, mendapatkan restu dari mama dan juga papa." ucap Denis.


"Apa kamu yakin? Kamu seharusnya sangat tahu sifat kedua orang tua kamu? Apa kamu akan mempunyai rasa sabar, untuk menanti restu mereka. Aku takutkan, kamu akan lelah. Dan meninggalkanku sendiri." cecar Hana.


"Han.." ucap Denis lirih.


"Satu lagi. Kesabaran setiap orang ada batasnya. Begitu juga dengan kesabaranku." imbuh Hana.


"Apa artinya kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Denis dengan wajah sedih.


"Cinta. Hufftt,,, aku akui, sampai saat ini belum ada yang bisa menggeser namamu di dalam hatiku. Namun, aku takut jika nama tersebut bukan di geser oleh orang lain. Melainkan hilang dengan sendirinya." ucap Hana dengan tegas.

__ADS_1


"Dan aku tidak akan membiarkan nama itu hilang. Sampai kapanpun." ucap Denis, dengan sorot mata tegas.


"Jangan cuma bicara omong kosong. Buktikan Tuan." ucap Hana, tersenyum masam.


__ADS_2