DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 50


__ADS_3

"Maaf Tuan, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Reza.


Vano menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh, keluar dari mulut asistennya tersebut.


"Sewaktu di kantor, anda menolak berinteraksi dengan Imey. Padahal sebelumnya, anda...emmm."


Tatapan tajam dari Vano membuat mulut Reza seakan sulit terbuka. "Oh iya, Imey. Dari mana kamu ambil perempuan itu?" tanya Vano.


"Ambil. Maksudnya?"


Vano memejamkan matanya sebentar dan menatap ke arah Reza kembali.


"Oo,,, itu Tuan. Saya tidak tahu pastinya. Maksud saya, perusahaan mengadakan perekrutan karyawan baru untuk posisi sekertaris. Dan Imey, melamar. Dia sudah memasuki tahap seleksi. Dan lulus." jelas Reza.


"Apa Tuan tertarik dengan Imey?" tanya Reza hati-hati.


Vano mendekat ke arah Reza. Membuat Reza sedikit menundukkan kepala. "Sekarang di otak ku hanya ada satu wanita. Dan itu sudah membuatku pusing. Dan kau tahu siapa itu." ujar Vano.


Vano membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Reza yang masih tidak mengerti maksud perkataan atasannya tersebut. Seketika Reza tersadar dan segera berjalan cepat menuju ke arah Vano.


"Apa saya perlu mengganti sekertaris anda?"


Vano tiba-tiba berhenti mendengar perkataan Reza. Beruntung, kali ini Reza mengerem langkahnya dengan kecepatan yang akurat. Sehingga tidak terjadi benturan lagi di antara dua tubuh yang sama-sama berpeck-peck.


"Kenapa kamu harus menanyakan hal sepele padaku. Itu urusanmu." ujar Vano.


"Maaf." kata Reza.


"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Vano saat mereka sampai diparkiran. Reza terdiam memandang ke arah Vano.


"Kamu ke sini naik apa?" tanya Vano di samping mobilnya.


"Mobil." jawab Reza sembari menoleh ke arah di mana dia memarkirkan mobilnya.


"Lantas?"


"Maaf." Reza menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Tidak perlu. Kembalilah ke mobilmu." Vano melarang Reza saat dia hendak membantu Vano membuka pintu mobil.


"Baik Tuan." Reza mundur beberapa langkah.


"Ada apa dengan Tuan Vano. Sehari sudah dua kali dia menolak perempuan cantik." gumam Reza dengan tatapan mata masih melihat ke arah mobil Vano yang semakin menjauh.


"Sudahlah. Bukan urusanku juga. Lebih baik pulang. Lalu istirahat. Tidur. Siapa tahu mimpi manis. Mimpi ketemu sama author yang manis." ucap Reza sembari tersenyum.


Aduhhhh.... duh..duh.. author senyum-senyum sendiri nich. Baperrrrr.... 😚😚


*


*


Ella terbangun dan langsung melihat ke arah jam kecil yang terpajang di meja dekat ranjang nya. Dimana juga terdapat makanan dan minuman yang di sediakan Vano untuk dirinya.


"Tumben." gumam Ella melihat makanan tersebut.


Segera Ella bangun dan bergegas ke kamar mandi membersihkan badan. "Vano..." seru Ella merasa geram.

__ADS_1


Terdapat sisa cairan putih yang keluar dari dalam vag**a milik Ella. Dan tentunya cairan itu milik Vano.


"Dia memasukkannya" Ella menyentuh cairan tersebut untuk memastikannya.


"Damn it. Apa yang di inginkannya."


Segera Ella merendam badannya ke dalam bak mandi setelah membersihkan dahulu tubuhnya di bawah guyuran shower.


Ella memejamkan mata dan menghirup aroma wangi dari sabun yang dia tuangkan ke dalam bak mandi. Setelah merasa lebih baik, Ella membuka matanya.


"Astaga." Ella baru sadar jika sekarang dirinya berada di apartemen milik Vano. Segera ia keluar dari kamar mandi dan membuka almari.


"Ternyata masih sama." jari jemari Ella menyentuh setiap pakaian milik Ella yang tergantung rapi di dalam almari kamar Vano.


Tangan Ella berhenti di salah satu dress yang berwarna biru muda. Dengan panjang menjuntai sampai ujung kaki, dengan belah samping hingga betis bagian bawah. Di pandanginya baju tersebut setelah diambil dari dalam almari.


"Ini..." Ella teringat pertama kali dirinya datang ke apartemen milik Vano menggunakan dress panjang tersebut.


"Masih sama." Ella menatap dirinya di depan cermin menggunakan dress panjang tersebut.


Di bukanya laci milik Vano. Ella tersenyum, make up yang dia sengaja tinggalkan, masih tertata rapi di dalam. Di ambilnya beberapa make up tersebut untuk di poles kan ke wajahnya.


"Sentuhan terakhir." Ella menguncir rambutnya menjadi satu. Tanpa menyisakan anak rambut di wajahnya.


Ella tersenyum geli melihat dirinya di depan cermin. Pakaian hingga riasan. Bahkan cara menguncir rambut pun sama seperti pertama kali dirinya menginjakkan kaki di apartemen Vano.


"Biarkan saja." Ella memandang ke arah ranjang Vano yang tampak berantakan. Tidak ada niat sedikitpun dari Ella untuk merapikannya.


Segera Ella berjalan menuju ruang tamu. "Astaga." Ella menunduk dan memunguti satu persatu barangnya yang tercecer di lantai.


"Aaiissshhh. Banyak sekali panggilan tidak terjawab. Mama, Viki, Denis, Egi. Ahhh,,, semua karena Vano." gumam Ella meremas ponsel di tangannya.


Ella memegang perutnya yang terasa lapar. Dia teringat jika di meja dekat tempat tidur ada makanan yang sengaja di sediakan Vano.


"Dari pada kelaparan." Ella kembali masuk ke dalam kamar Vano.


Dengan cepat di masukkan beberapa sendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya. "Terlalu lama." Ella meneguk hingga tandas air putih di gelas.


"Maaf, aku tidak bisa menghabiskan kalian. Aku terburu-buru." Ella memandang sedih ke arah piring. Dimana masih tersisa banyak nasi dan sayur, juga lauk pauk.


"Sebelum Vano datang, aku harus cepat pergi. Pasti mama juga khawatir. Maaf ma." Ella segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Vano.


"Ini semua karena Vano. Benar-benar saraf. Bisa-bisanya tidak pakai pengaman. Bagaiman kalau, ahhh. Sudahlah."


"Dulu saja di ajak menikah nggak mau. Sekarang. Enak saja. Gue belum puas buat elo panas luar dalam." oceh Ella di balik kemudi.


Sesekali Ella memukul kemudi teringat apa yang di lakukan Vano padanya tadi sore. Tapi, sejurus kemudian, dia juga tersenyum. Mengingat Vano mengajaknya untuk menikah.


"Nggak. Gue nggak mau terburu-buru. Gue harus memastikan Vano benar-benar berubah, atau cuma berubah sesaat. Gue nggak mau berbagi ranjang. Bahkan suami. Nggak akan pernah."


*


*


"Menurut elo gimana. Gue ambil apa nggak?" tanya Ella pada Hana.


"Terserah elo sih Ell. Jika elo ambil artinya elo akan lebih sering bertemu keduanya." jelas Hana.

__ADS_1


Menjadi model pengganti untuk Vera, ingin sekali Ella menolak. Tapi di sisi lain, Ella juga ingin menerimanya. Entah apa yang ada di benak Ella. Atau lebih tepatnya, rencana yang akan Ella lakukan untuk membuat Vano panas.


"Tadi elo kemana?" tanya Hana.


"Hemm." Ella yang sedang tidak fokus langsung menatap ke arah Hana.


"Tadi semua cari kamu. Kamu kemana?" tanya Hana lagi.


Ella terdiam, menundukkan kepala dan memainkan jari kakinya. Hana membetulkan duduknya agar lebih nyaman. Dia yakin, ada sesuatu yang sedang menimpa Ella.


"Gimana pundak elo. Udah enakan?" tanya Ella mengalihkan topik pembicaraan.


"Meski lukanya dalam. Tapi bukan tempat yang fatal."


"Ya,, mereka cuma asal nembak. Yang penting kena." Keduanya lantas tertawa kecil bersama.


"Sekarang elo tahu kan. Gimana rasanya?"


"Tidak untuk kedua kali Ell. Gila. Gue hampir mati." ucap Hana.


"Hampir. Lagian ada babang Enis yang sigap." canda Ella.


"Nggak lucu tahu nggak." kata Hana berpura-pura ngambek.


"Gue restuin. Dia oke. Lelaki tulen." Ella mengerlingkan sebelah matanya pada Hana.


"Astaga. Bisa-bisanya." pipi Hana sudah mulai memerah karena malu.


"Neng ah, jangan jual mahal. Tapi jangan terlalu murah. Jatuhnya entar murahan." Ella mencubit gemas pipi Hana dan lari ngibrit keluar dari kamar Hana.


Hana tersenyum sambil mengelus pipinya yang terasa sakit karena ulah Ella. "Denis." gumam Hana sambil menutup bantal tepat di wajahnya dan tersenyum.


Ternyata Ella masih berdiri di balik pintu kamar Hana. "Murahan. Kayak gue." Ella tersenyum kecut mengingat betapa bodohnya dia.


*****


Nikah nggak, nikah nggak.


Ella mau ape nggak ye di ajak nikah ma kadal jantan.


Kalau menurut author sih, terima aja Ell.


Terima ajakan nikah dari Vano.


Jika Vano macam-macam. Potong saja. 😏


Maksudnya kakinya yang di potong.


Pasti teman-teman mikir yang ono kan yang di potong.


Janganlah,,, eman-eman.🤭🤭


Jika kakinya di potong, Vano kan nggak bisa


kemana- mana.


Betullll.....🤪🤪

__ADS_1


__ADS_2