
"Papa." ucap Ella lirih melihat siapa yang datang ke apartemennya. Dan langsung masuk. Padahal Ella sudah menguncinya.
Jo tersenyum miring. "Harisss." batin Jo.
Jo segera menghampiri Tuan Haris yang tengah duduk di kursi. "Tuan." sapanya ramah dengan mengulurkan tangan ingin bersalaman.
Tuan Haris hanya memandang tanpa ekspresi, tak ada niatan untuk menyambut uluran tangan dari Jo. "Khem.." beliau berdehem. Membuat dua orang yang berdiri di sampingnya bergerak maju.
"Apa-apaan kalian ini." seru Jo saat kedua bawahan Tuan Haris mencekal lengannya.
Jo melihat ke arah Ella. Tapi Ella hanya diam dengan tenang berdiri menyenderkan badannya ke tembok dengan tangan bersedekap.
"Lepas!!" teriak Jo meronta-ronta. Tapi percuma, itu malah akan menghabiskan tenaganya saja. Jo melihat ke arah Ella dengan mengeraskan kedua rahangnya.
"Perempuan iblis. Sama seperti bokap elo." sarkas Jo. Ella hanya tersenyum menanggapi ocehan Jo.
"Ternyata elo jebak gue. Bajingan." geram Jo mencoba berontak, dan ingin melepaskan diri dari dua bawahan Tuan Haris.
Di apartemen Vano, Viki terdiam. Pandangannya tetap menatap datar ke arah layar. Membuat Denis dan Hana merasa khawatir bercampur rasa takut.
"Vik,, elo nggak apa-apakan?" tanya Denis.
Viki masih seperti semula. Terdiam dengan tatapan datar mengarah pada layar di depannya. Di mana di layar menampakkan Ella dan yang lain.
Denis menggoyang pelan tubuh Viki. "Jangan bikin gue takut." ucap Denis karena Viki masih saja diam.
"Bawa gue ke sana." ucapnya tanpa ekspresi.
Hana menarik tangan Denis. Membawanya menjauh dari Viki. "Elo nggak ada niat untuk melepaskan Viki kan?" tanya Hana memastikan.
"Dennn." panggil Hana karena Denis tetap diam tanpa berkata apapun.
"Sepertinya kita memang harus melepaskan Viki." ucap Denis.
"Dennn.." seru Hana tidak setuju dengan ide Denis.
"Kita akan menyusul Vano ke apartemen Ella."
"Denis!!" geram Hana karena Denis tidak mendengarkannya.
"Tenang saja, lagi pula di sana sudah ada om Haris. Aku yakin, semua akan baik-baik saja." ucap Denis menenangkan Hana dan membawa Hana untuk menemui Viki kembali.
"Kamu yakin?" tanya Hana sembari berjalan. Denis diam tidak menjawab.
Dilepaskannya ikatan di tubuh Viki. "Tunggu." Denis mencekal lengan Viki, saat Viki bergegas ingin meninggalkan apartemen Ella.
"Kita pergi ke tempat dan tujuan yang sama. Sebaiknya kita pergi ke sana bersama-sama." ucap Denis.
Denis hanya takut jika Viki tidak bisa mengendalikan diri. Dirinya takut jika terjadi sesuatu di jalan saat Viki pergi ke apartemen Ella.
Karena pasti Viki akan menyetir dengan emosi yang meletup-letup. Entah emosi karena kebohongan Jo, atau Ella yang berpura-pura menggoda Jo.
Sebenarnya, Viki sendirilah yang datang ke apartemen Vano. Denis berbohong padanya jika Ella sedang berada di apartemen Vano dan bertengkar dengan Vano. Karena Denis tidak bisa membela Ella sendirian, Denis meminta Viki datang.
__ADS_1
Hingga Viki sampai, dan melangkahkan kaki ke dalam apartemen Vano, dengan segera Denis membius Viki dari belakang, menggunakan sapu tangan yang sudah di teteskan obat bius.
Ketakutan Denis yang lain adalah, apalagi jika Viki sudah sampai apartemen. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan di dilakukannya. Memaki dan marah pada Jo. Atau malah kecewa dengan rencana Ella.
Brakkkk..... pintu apartemen Ella terbuka secara paksa dari luar. Membuat semua orang di dalamnya terkejut.
Bughh,,,,,, Tanpa aba-aba, Vano langsung menghampiri Jo dan memukulnya dengan beringas. Tuan Haris berdiri dari duduknya.
Ella segera berlari dan memeluk tubuh Vano dari belakang. "Van,,, stop. Dia bisa mati. Van!!!" seru Ella karena Vano masih terap memukul wajah Jo.
Mendengar perkataan Ella, Vano menghentikan pukulannya. Berbalik menghadap kepada Ella.
"Kamu mengkhawatirkannya." ucap Vano.
"Tidak seperti itu, kamu salah paham." ucap Ella.
Vano memegang dagu Jo. "Kamu pikir seorang Vano Reyandli mau berbagi wanita dengan lelaki lain. Dalam mimpi pun tidak pernah." ucap Vano.
Vano memegang tangan Jo dan memelintirnya. Membuat Jo berteriak kesakitan. "Bukankah tangan ini, yang sudah berani menyentuh sesuatu yang tak seharusnya di sentuh." ucap Vano.
Tuan Haris memandang ke arah Ella dan mengangguk kecil. Ella seperti mengerti bahwa papanya memberikan isyarat pada dirinya.
"Bisa mati ni orang." batin Ella segera menyeret Vano untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Belum saatnya dia meninggalkan dunia ini." batin Ella sambil berjalan.
Sampai di dalam kamar, Vano menghempaskan tangan Ella yang sedang memegang lengannya. Vano berdiri membelakangi Ella.
Ella tahu jika saat ini Vano sedang kesal pada dirinya. Ella memeluk Vano dari belakang. "Aku tidak ingin dia mati dengan mudah sayang." ucap Ella menyakinkan Vano.
"Van,,, kamu tahukan apa maksudku sayang." rayu Ella.
Vano membalikkan badan. "Ganti pakaianmu." ucap Vano, tanpa menanggapi perkataan Ella.
Ella berjalan ke arah almari dan mengambil jaket. Dia lebih memilih mengikuti keinginan Vano. Dari pada nanti Vano semakin tidak bisa di kendalikannya. Vano mengikuti dari belakang. "Lihat." ucapnya.
"Vannn..." rajuk Ella saat jari Vano menyentuk salah satu bukit kembar yang sangat menonjol dan terlihat. "Iya aku ganti pakaian." ucap Ella cemberut, meletakkan kembali jaketnya.
"Lagi pula kenapa kamu memakai baju sekecil ini. Apa jangan-jangan ini menjadi semakin besar." Vano tersenyum jahil dan meremas dua bukit kembar mili Ella. Membuat si empunya melotot.
"Astaga, sampai tumpahkan." goda Vano.
"Vano." ucap Ella dengan nada tinggi. Namun Vano malah tertawa. Tapi Ella merasa lega, berarti Vano sudah todak marah lagi.
"Ini lagi." Vano mencubit paha Ella yang terekspos.
"Awww." jerit Ella. Padahal Vano mencubit dengan pelan dan lembut.
Hanya untuk menggoda Jo, Ella memakai tengtop yang sangat ketat. Memperlihatkan pusarnya. Bahkan dua buah bukit kembarnya seakan tidak cukup untuk berada di dalam semua. Alhasil bagian atasnya sampai tumpah.
Dan hotpen yang di pakai Ella lebih menyerupai jika Ella memakai dalaman. Hanya saja saat ini dirinya memakai kain tebal. Jika dalaman, hanya kain tips berbentuk segitiga.
"Cepat ganti, kita harus segera keluar. Di luar masih ada papa." ucap Vano.
__ADS_1
"Iya." dengan santai Ella menanggalkan pakaiannya di depan Vano. Mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda Vano.
"Ckkk, jangan aneh-aneh." Ella berjalan maju semakin mendekati Vano.
"Elll.." geram Vano saat tangan Ella menyentuh dada bidang milik Vano.
Ella tertawa kecil. Dia malah menempelkan dadanya ke tubuh Vano. Memegang dagu Vano. Dan menatap Vano dengan tatapan menggoda.
"Di luar ada papa. Cepat pakai bajumu." ucap Vano.
Ella benar-benar menggoda Vano. Karena dirinya tahu jika Vano tidak akan memakannya. Karena di luar ada papanya.
Vano membalikkan badan. Dirinya benar-benar tidak ingin melihat Ella. Lama-lama memandang Ella, bisa-bisa hasratnya langsung membumbung tinggi.
Apalagi kekasihnya hanya memakai bra dan ****** ***** yang menempel di tubuhnya.
Ella tertawa melihat Vano membalikkan badan. Seolah enggan untuk memandang ke arah dirinya. Tapi Ella mengerti kenapa Vano melakukan hal tersebut.
"Elll.." seru Vano, ketika dirinya sadar jika di kamar Ella terdapat CCTV yang terhubung dengan layar di apartemen Vano.
Vano segera berbalik dan memeluk erat tubuh Ella. "Van,,," Ella ingin melepaskan pelukan Vano. Karena dirinya terasa sesak.
"Diam Ell,, bukankah di sini terpasang CCTV." ucap Vano lirih.
"Astaga, Ella bodoh. Kenapa aku sampai lupa." gerutu Ella.
"Pakai bajumu. Soal CCTV, biar aku yang mengurusnya." Ella segera memakai bajunya.
Dan Vano, segera mengambil laptop milik Ella yang berada di atas meja. Jari jemarinya dengan lincah memainkan keyboardnya.
"Vano, ternyata dia juga jago bermain di dunia maya." batin Ella saat melihat Vano dengan mudah memasuki layar yang berada di dalam apartemennya.
Dan dengan mudah Vano menghapus semua video tersebut hingga tidak meninggalkan jejak. "Kenapa semua kamu hapus?" tanya Ella.
"Semua video memperlihatkan dirimu yang sedang menggoda Jo. Bagaimana jika video tersebut berada di tangan orang yang berpikiran jahat."
"Iya juga sih." ucap Ella sambil mengangguk kecil.
Di dalam mobil, Viki membuat Denis tidak konsentrasi menyetir. Dia selalu menyuruh Denis untuk menambah kecepatan. Padahal Denis sudah mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Dan Juga Hana, dia selalu berdebat dengan Viki.
"Denn....hati-hati." ucap Hana yang duduk di kursi belakang. Dirinya merasa takut. Karena Denis mengendarai dengan cepat.
"Biar gue yang nyetir." ucap Viki."
"Jangan!" seru Hana.
"Gue masih sayang nyawa. Gue belum mau mati." imbuh Hana.
"Kalian berdua,,, diamlah!!" teriak Denis meras kesal dengan keduanya. Karena sedari masuk mobil, mereka selalu berdebat. Keduanya sontak terdiam.
Sementara Reza, melihat pintu apartemen Ella terbuka. Segala pikiran negatif berkecamuk di dalam angannya. Dirinya takut jika Tuannya mengamuk.
Reza segera masuk ke apartemen Ella tanpa permisi. "Tuan." ucap Reza. Dia tidak menyangka jika Tuan Haris berada di dalam apartemen milik Ella.
__ADS_1
Manik mata Reza juga melihat, kedua tangan Jo di cekal oleh dua bawahan Tuan Haris. Wajah Jo yang babak belur membuatnya bertanya-tanya siapa pelukannya. "Apa mungkin Tuan Haris." batin Reza menduganya, apalagi dia tida melihat Vano.
"Tuan mu bersama dengan putriku." ucap Tuan Haris seakan mengerti jika Reza sedang mencari Vano.