DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 52


__ADS_3

Ella duduk dengan tenang. Dengan Vano duduk di sampingnya, bersender di sofa. Sementara di kursi lainnya tampak Egi duduk dengan Viki. Dan Denis berdampingan dengan Hana.


Sementara orang tua mereka sudah menjalankan aktifitas masing-masing.


"Apa masih sakit?" tanya Egi dengan pandangan mata mengarah pada Hana.


Hana yang hendak membuka mulutnya mendadak terdiam karena jawaban dari Denis. "Sudah lebih baik." jawab Denis.


"Syukurlah." imbuh Egi.


"Bagaimana keluargamu. Apa mereka tahu?" tanya Egi lagi.


"Mereka tidak pelu tahu. Meraka akan bertambah khawatir. Lagi pula sudah tidak ada yang di khawatirkan. Semua bisa di atasi." lagi-lagi Denis yang menjawab semua pertanyaan dari Egi.


Membuat semua orang diam dan menatap aneh pada Denis. "Hebat. Sekarang asisten gue punya jubir. Pasti sebentar lagi minta kenaikan gaji nih." celetuk Ella.


"Apa!" Denis menatap ke arah Ella yang juga sedang menatap dirinya.


"Elo." cibir Ella.


"Berapa perbulannya Han?" canda Viki.


Hana terdiam. Dia memilih untuk diam dari pada menjawab setiap lontaran perkataan dari yang lainnya.


Diam adalah hal yang tepat. Yang dapat dia lakukan dari pada menjawab. Yang malah akan menjadi bahan untuk menggoda dirinya.


"Terserah gue." ujar Denis membuang muka.


"Gue salut sama elo. Calon pewaris perusahaan besar. Terus fotographer. Dan sekarang,," ucap Ella.


"Jubir." seru Ella dan Viki bersamaan sembari tertawa meledek Denis.


"Sialan." Denis melempar bantal kursi ke arah Viki.


"Uang elo masih kurang bung?" canda Ella.


"Han, lebih baik kamu kembali ke kamar. Istirahat saja. Di sini banyak virus." Denis menggandeng tangan Hana.


"Jangan kasar-kasar. Hana masih tersegel." seru Ella.


Sontak Hana dan Denis menghentikan langkahnya. Hana membalikkan badan dan melotot ke arah Ella sembari mengangkat tangannya yang terkepal sempurna.


Egi dan Vano melihat ke arah Ella dan tersenyum.


"Santai saja Han, manusia di samping elo sudah banyak jam ranjangnya. Eh maksudnya jam terbangnya." seru Viki menggoda keduanya.


Denis berjalan kembali ke arah Viki hendak berbuat sesuatu. Bisa-bisanya Viki berbicara seperti itu. Di depan Hana lagi. Uuuuu..... astagaaaaa.


Viki langsung berdiri dan lari sebelum Denis sampai di tempatnya. "Gue balik dulu." Viki menyambar pipi Ella dengan ciuman dan berlari ngibrit keluar.


Vano reflek mengambil bantal kursi di sampingnya dan melempar ke arah Viki. Tapi Viki malah tertawa karena bantal kursinya tidak sampai pada dirinya.


"Sudah sana. Jangan di masukin." ucap Ella menyuruh Denis kembali.


"Elll. Jangan mulai." geram Denis.


"Ihh,,, pikiran elo mesum. Jangan di masukin hati omongan Viki." ujar Ella sembari menjulurkan lidah ke arah Denis.


Denis mengacak pelan rambut Ella dan kembali menghampiri Hana yang masih berdiri.


"Kamu dekat sekali dengan mereka." ucap Egi setelah Hana dan Denis tidak terlihat.

__ADS_1


"Pastilah. Mereka teman SMA aku. Sampai sekarang." ujar Ella.


"Bagaiman Ell. Apa keputusan kamu?" tanya Egi.


"Dia tidak bisa." jawab Vano.


"Ternyata bukan hanya Hana saja yang punya jubir." sindir Egi.


"Bisa." kata Ella.


Vano memandang kecewa ke arah Ella. "Ell." ucap Vano lirih.


"Kapan?" tanya Ella.


"Jadwal pemotretannya akan aku kirim lewat email saja." jelas Egi.


"Bisa kita bicara berdua." pinta Vano pada Ella.


"Apa sih Van." ucap Ella merasa tidak ada yang perlu di bicarakan.


"Jangan memaksa." Egi ikut berdiri ketika Vano memegang lengan Ella dengan sedikit menariknya.


"Heh. Kau hanya patner kerja untukku." Vano tersenyum remeh.


"Tunggu sebentar." Ella menatap ke arah Egi.


Dia hanya tidak ingin terjadi perdebatan di rumahnya. Apalagi sampai ke duanya adu jotos. Bisa berabe.


"Cepat katakan." ucap Ella setelah mereka berada di ruang terpisah dari Egi.


"Aku tidak setuju."


"Apa hak mu."


"Astaga. Apa karena aku tidur di ranjang yang sama denganmu. Apa karena kita telah berbagi keringat. Lantas kita sepasang kekasih." sindir Ella.


"Jangan mencoba memancing emosiku."


"Aku sangat terharu. Akhirnya, Vano Reyandli mengakui ku sebagai kekasihnya. Ohh,,,, hatiku tersentuh." Ella memasang wajah imut dengan tangan menyatu di depan.


"Apa kemarin belum cukup."


"Kemarin. Bukankah kita sudah terbiasa melakukannya." ucap Ella.


"Atau jangan-jangan. Kemarin kau meninggalkanku karena sudah ada janji temu dengan kekasihmu yang lain. Ck ck ck." imbuh Ella dengan raut wajah pura-pura sedih.


"Ingin sekali rasanya menikmati hasil karya Tuhan yang lain. Pasti akan terasa menyenangkan." ujar Ella sembari membalikkan badan.


"Senang sekali membuat kamu kepanasan." batin Ella.


Tangan Vano dengan gesit menarik tubuh ramping Ella. Dengan satu tarikan, kini tubuh keduanya saling berdekatan. Sementara tangan kanan Vano mencengkeram dagu Ella. "Akan ku bunuh. Siapapun itu." ancamnya.


Vano melumaaat bibir seksi Ella. "Emmppphhh." Ella hendak berontak. Tapi kekuatannya tidak bisa mengalahkan tenaga Vano.


Vano memegang tengkuk Ella. Memperdalam lumattaannya. "Uuuhhh." mulut Ella terbuka saat tangan kiri Vano meremas pan**t Ella.


Membuat lidah Vano dengan leluasa menjelajah setiap sudut rongga mulut Ella. Tangan Ella berada di dada Vano. Mendorong tubuh Vano. Tapi sayang, Vano malah mengeratkan tubuhnya dengan tangan menekan pantat Ella.


Vano memandang ke belakang Ella. Di mana seseorang sedang berdiri di balik tembok. Menyaksikan keintiman mereka berdua.


Sengaja. Iya, benar. Vano sengaja melakukannya.

__ADS_1


Awalnya Vano hanya berniat berbicara pada Ella. Tapi sesuatu terbesit di otak liciknya saat manik matanya tanpa sengaja melihat bayangan seseorang di balik tembok. Mendengarkan pembicaraannya dengan Ella secara sengaja.


Vano menggiring tubuh Ella mendekat ke tembok. Yaps,, lagi-lagi Vano sengaja melakukan. Hanya berjarak beberapa centi saja dari mereka, Egi berdiri di balik tembok sampingnya.


"Van,, jangan gila." dengus Ella dengan nafas tersengal.


"Aku menyukainya." Vano lagi-lagi melummat bibir Ella setelah memberi tenggang waktu beberapa detik untuk Ella menarik nafas.


Kini tangan kiri Vano beralih ke paha Ella. Dengan sekuat tenaga, Ella mencoba menghalau tangan Vano. Karena Ella tahu ke mana arah tangan Vano akan bermuara.


Tapi.... Ahhhh.... Ella menggigit bibirnya saat Vano sengaja melepas lummatan di bibir Ella. Dan bersamaan dengan jarinya sudah bersarang di gowa milik Ella.


Spontan membuat Ella mencengkeram sisi tembok di sampingnya. Entah kenapa Ella seperti tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan Vano.


Pemain ulung. Dengan mudah Vano membuat Ella merasa lemas di sekujur tubuhnya. Tanpa memasukkan pusakanya ke dalam gowa milik Ella.


"Basah sayang." Vano mengeluarkan jarinya dan menjilat sambil memundurkan langkahnya. Membuatnya bisa melihat Egi di balik tembok.


"Wangi dan nikmat." Vano masih menjilat jarinya. Seolah ada sesuatu yang manis di jarinya. Sementara Ella masih menormalkan nafas dan jantungnya.


Lain halnya dengan Vano. Ella tidak melihat jika di sisi tembok sampingnya seseorang tengah berdiri dengan menahan amarah.


Tampak di matanya yang sudah memerah menahan amarah. Rahang yang mengeras. Dan kepalan di kedua tangan yang sempurna.


Vano tersenyum melihat rivalnya.


MENJAUHLAH. DIA MILIKKU. WANITAKU.


Itulah kalimat yang Vano siratkan dari pandangan matanya pada Egi.


"Ingat sayang. Ini, ini, dan semuanya adalah milikku." Vano menggerakkan tangannya dengan jari mengarah ke beberapa bagian tubuh Ella.


"Aaa... Vano." geram Ella saat Vano mencium bibirnya singkat bersamaan dengan kedua tangannya meremas bukit kembar Ella.


"Love you." Vano mengerlingkan sebelah matanya dan meninggalkan Ella.


Vano membenarkan kerah pakaiannya saat melewati Egi. Tangannya menepuk pelan pundak Egi. "Ku harap kau tahu tempatmu." bisik Vano.


Ella masih berdiri sembari memejamkan mata. Mengatur kembali nafasnya yang tersengal-sengal.


Dan Egi. Jangan tanyakan lagi. Niat hati ingin mendekati Ella malah melihat adegan yang membuat kepalanya terasa pecah. Tanpa berpamitan pada sang pemilik rumah, dia bergegas pergi meninggalkan kediaman Tuan Haris.


Di dalam mobil, bibir Vano tersenyum sempurna. Perjalanannya menuju perusahaan terasa sangat membahagiakan.


Ella masuk ke dalam kamar setelah melihat Egi sudah tidak ada lagi di rumahnya.


*****


Ternyata keinginan Ella untuk membuat Vano panas karena rasa cemburu tidak semudah yang Ella bayangkan.


Elllaaaa kuatkan hatimu. Rapatkan barisanmu.


Maju terus. Author akan di belakangmu.


Mendukungmu. Itu yang author bisa lakukan.


Karena, jika author masuk ke kehidupan Ella..


Author takut. Takut jatuh cinta pada Vano juga.


Karena keahliannya...

__ADS_1


aaawwwww...... 🤭🤭


maaf, pikiran author sedikit mecummmm...


__ADS_2