
Ternyata sejak tadi Nyonya Risma dan Tuan Danto melihat kelakuan Lena yang berusaha merayu Vano dari balik pintu.
Karena pintu kamar ruang rawat Oma Yeti sebagian terbuat dari kaca. Sehingga membuat keduanya melihat dengan jelas kejadian di dalam.
Nyonya Risma ingin masuk dan memaki Lena, serta menghentikan kelakuan bejatnya merayu putranya. Tapi di hentikan oleh Tuan Danto. "Biarkan dulu ma, kita lihat apa yang akan terjadi." ucap Tuan Danto memegang pundak sang istri yang sudah terbakar emosi. Mencoba menenangkan istrinya.
"Tapi ma, papa lihat." Nyonya Risma sudah tidak tahan melihat Lena berani meletakkan kepalanya di pundak Vano.
"Percaya sama papa. Kita lihat saja dulu." ucap Tuan Danto. "Apa mama nggak penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Papa. Bagaimana papa bisa setenang ini." geram Nyonya Risma tidak sabar.
"Papa hanya ingin melihat sikap dari Vano. Apa memang dia pantas mendapatkan maaf dari Ella, atau tidak."
"Tapi pa, bagaimana kalau Vano terbujuk dengan perkataan ****** itu. Mama tidak mau kehilangan Ella." ujar Nyonya Risma khawatir.
"Berarti mama tidak percaya dengan anak mama sendiri dong. Dan Vano. Dia tidak pantas mendapat kesempatan kedua dari Ella." ucap Tuan Danto dengan tenang.
"Bukan begitu pa, tapi...."
"Hussttt." Tuan Danto meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sang istri. Menyuruh Nyonya Risma untuk diam. "Kita diam saja disini dulu. Lihat ma." bisik Ruan Danto.
Bisa bayangkan bagaimana kesalnya Nyonya Risma terhadap Tuan Danto.
Nyonya Risma hanya khawatir jika Vano melakukan kesalahan lagi. Dirinya tidak ingin kehilangan menantu kesayangannya yang baru saja dinikahi oleh putranya.
Dan Tuan Danto, beliau ingin melihat sikap dan tindakan Vano. Karena Tuan Danto percaya jika sang putra sudah berubah. Beliau hanya ingin melihat, apa yang akan dilakukan Vano pada perempuan di depannya. Yang berani menggodanya, padahal mereka sedang berada di dalam ruang rawat Oma Yeti.
"Astaga papa. Anak kita bisa jadi seorang pembunuh." ucap Nyonya Risma melihat Vano mencekik leher Lena. Dan Lena sepertinya sudah kehabisan nafas.
"Papa." seru Nyonya Risma melihat sang suami malah tersenyum.
__ADS_1
"Lepas pa. Mama tidak mau putra kesayangan mama di penjara." Nyonya Risma menghentakkan tangan sang suami. Dan segera masuk ke dalam ruangan.
Beruntung, Oma Yeti tertidur sangat pulas. Karena baru saja meminum obat. Dan efek obat tersebut membuat pasien menjadi mengantuk. Supaya pasien bisa beristirahat total. Dan dapat istirahat dengan tenang.
"Kamu mau membunuhnya. Lepas." ucap Nyonya Risma yang baru masuk ke kamar rawat Oma Yeti. Dan langsung menarik tangan Vano dari leher Lena.
Lena terbaring di kursi dengan mata sayu dan nafas tersengal-sengal. Nampak warna merah bekas tangan Vano melingkar di leher asisten Oma Yeti tersebut.
"Jangan pernah mencoba mengulangi perbuatanmu lagi, jika tidak ingin nyawamu melayang." desis Vano dengan tatapan membunuh.
"******, jangan pernah menyamakan dirimu dengan perempuan terhormat seperti istriku." ucap Vano.
Vano memegang dagu Lena dan menengadahkan ke atas. "Jaga baik-baik nyawa yang dititipkan di tubuhmu. Jika tidak aku yang akan mengambilnya. Dengan senang hati." tubuh Lena bergetar hebat. Air matanya keluar dari sudut mata.
Vano meninggalkan ruang rawat Oma Yeti. Dirinya berpapasan dengan sang papa yang masih berdiri di ambang pintu.
Tuan Danto hanya menepuk pelan pundak Vano dan membiarkan sang putra pergi meninggalkan ruangan tanpa berkata ataupun bertanya apapun.
"Minum." Nyonya Risma menyodorkan sebotol air mineral pada Lena. Dengan tangan gemetar Lena mengambilnya.
Tuan Danto membiarkan istrinya untuk mengurus Lena. Karena tidak mungkin dirinya turun tangan hanya untuk masalah seperti ini.
Nafas Lena masih tersengal, dengan tangan memegang lehernya yang terasa sakit. "Terimakasih Nyonya." ucap Lena lirih dengan menyandarkan badannya ke kursi, karena dirinya masih sangat lemas dan syok dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Tidak perlu." ucap Nyonya Risma sinis. "Saya melakukan semuanya karena anak dan menantu saya. Bukan karena kamu.
"Kamu matipun saya tidak peduli. Asal kamu tidak mati karena anak saya." imbuhnya.
"Saya tidak mau anak saya menjadi seorang pembunuh dan masuk penjara. Dan saya juga tidak mau menantu saya akan bersedih karena suaminya di penjara." ucap Nyonya Risma tanpa memandang ke arah Lena.
Lena memejamkan mata. Mengatur kembali nafasnya yang hampir habis karena Vano.
__ADS_1
Lena kira Nyonya Risma menolongnya karena merasa simpati terhadap dirinya. Ternyata semua tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Lena. Kasihan sekali kamu Lena.
Nyonya, bagaimana jika anda tahu bahwa putra anda adalah seorang yang kejam dan bengis. Seseorang yang bisa dengan mudah menghabisi nyawa orang, yang merupakan musuh-musuhnya. Dan semua itu menurun dari sifat suami anda.
Ditambah lagi jika Nyonya Risma juga mengetahui bahwa menantu kesayangannya, yang di kenal dengan kelembutan dan kebaikan hatinya tak jauh berbeda dengan putranya.
Entahlah. Semoga saja Nyonya Risma tidak mengalami struk ringan saat mengetahuinya.
"Pergi ke kamar mandi di luar saja. Usapkan make-up ke leher kamu. Jangan sampai Oma melihatnya." kata Nyonya Risma.
"Cepat. Jangan banyak alasan." gertak Nyonya Risma melihat Lena masih duduk di kursi.
Dengan memegang lehernya dan berjalan pelan, Lena mengambil tasnya dan keluar dari ruangan Oma Yeti. "Jangan sampai Oma mengetahuinya. Kamu akan menanggung akibatnya. Jaga mulutmu jika kamu tidak mau lidahmu hilang." ancam Nyonya Risma.
Lena keluar dari ruangan Oma Yeti dengan berbagai pikiran berkecamuk di otaknya. Marah dan takut menjadi satu.
Dirinya tidak mungkin meminta tolong atau bercerita pada Oma Yeti. Terlebih dengan kondisi Oma Yeti yang seperti sekarang.
Jika sampai terjadi apa-apa dengan Oma Yeti, orang yang pertama di rugikan adalah dirinya. Bagaimana tidak, Lena belum mendapatkan apa-apa dari Oma Yeti.
Selama ini Oma Yeti selalu memberikan uang pada Lena. Dan Lena selalu menghabiskannya. "Gue harus mendapatkan sebagian dari harta Oma Yeti. Seandainya terjadi apa-apa dengan nenek tua itu, setidaknya gue sudah punya uang." gumam Lena.
"Apalagi keluarga Risma tidak pernah memperlakukan gue dengan baik." batin Lena. "Pasti gue akan di tendang dan akan jadi gembel."
Nyonya Risma segera masuk ke dalam kamar mandi yang berada di ruangan kamar rawat Nyonya Yeti. "Segarnya." ucap Nyonya Risma saat dirinya mengusapkan tangannya yang basah terkena air ke wajahnya.
******
Di salon, Ella berkali-kali menghubungi Vano. Namun tidak di angkat. Membuat Ella merasa kesal. "Kemana sih Vano. Tadi di suruh menghubungi jika sudah selesai. Sekarang di telepon tidak di angkat-angkat." omel Ella.
"Apa terjadi sesuatu dengan Oma." gumam Ella. "Jangan berpikir yang tidak-tidak Ell... Biar bagaimanapun dia nenek dari suami kamu." batin Ella.
__ADS_1
Ella duduk di kursi yang tersedia di depan salon. Di pegangnya ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Vano.
"Gue tunggu sebentar lagi. Jika Vano tetap tidak bisa di hubungi. Gue pergi sendiri saja. Salah sendiri tidak mengangkat panggilan teleponku."