
Vano terbangun dari tidurnya. Merasakan nyeri pada pundaknya. Matanya berkedip memandang langit-langit kamar. Seolah sedang kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam.
"Ella." gumam Vano mencari keberadaan sang istri. Pandangannya menemukan sosok yang di carinya saat kepalanya menengok ke samping.
Vano melihat Ella tertidur dengan posisi meringkuk. "Pasti sangat tidak nyaman." batin Vano melihat sang istri tertidur.
Vano bangun dari tidurnya, ingin memindahkan Ella ke atas ranjang miliknya. Tapi sayangnya, masih ada selang infus yang terpasang di tangannya.
"Mengganggu sekali." gumam Vano, ingin sekali dirinya mencabut selang infus yang tertancap di dalam kulit punggung tangannya.
Tapi tidak mungkin, dirinya masih waras untuk melakukannya. Pasti darah akan menetes keluar jika dia mencabut selangnya. Dan itu artinya, dirinya akan kembali kehilangan darah.
Semakin lama pula Vano akan berada di rumah sakit. Padahal dirinya sangat tidak suka tidur di rumah sakit. Apalagi sebagai pasien.
Jika bukan karena desakan dan kemauan sang istri, pasti Vano sekarang tidak akan berada di sini. Karena sebelumnya, Vano juga sering mengalami hal seperti ini.
Dan dirinya akan di rawat oleh dokter pribadi. Tidak membutuhkan infus beserta selangnya. Dan pastinya akan membuat Vano nyaman bergerak.
Vano mendengus, padahal Ella juga sering melihat hal seperti ini. Bahkan Ella juga pernah tertembak. Tapi dia juga tidak di rawat di rumah sakit seperti dirinya.
Seketika Vano tersenyum. Mungkin Ella sangat mengkhawatirkan dirinya. Makanya dia membawa Vano datang ke sini.
Seorang perawat masuk, dia merasa kaget melihat Vano duduk di tepi ranjang dengan kaki menggantung. Seperti hendak turun dari ranjang tempat tidurnya.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sopan.
"Lepas selang ini." ucap Vano tanpa menatap ke arah perawan dengan mengulurkan lengannya.
"Maaf pak, saya tidak bisa. Sebelum dokter memberi izin." ucap perawat tersebut dengan sopan. Lagipula, mana berani dirinya dengan lancang melepas selang infus tanpa perintah dari dokter.
Mendengar suara berisik, perdebatan Vano dan perawat. Membuat Ella membuka mata. "Ada apa Van?" tanya Ella dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
"Aku ingin pulang." rajuk Vano seperti anak kecil.
Ella berjalan mendekati Vano. "Kamu yakin, sudah lebih baik?" tanya Ella masih cemas.
Vano mengangguk pelan. "Kita pulang ya, aku tidak betah berada di sini sayang." rengek Ella.
"Baiklah, sebentar." ujar Ella, membuat Vano tersenyum.
Ella mengeluarkan ponsel, dan menghubungi sang dokter. Temannya yang semalam merawat dan memeriksa Vano.
"Ini sus, dokter mau berbicara." ujar Ella, menyerahkan ponselnya pada perawat yang berdiri di dekatnya.
"Baik Dok." ucap perawat tersebut berbicara dengan sang dokter melalui ponsel.
"Ini bu, terimakasih." ucap perawat sembari menyerahkan kembali ponselnya pada Ella.
"Permisi pak, saya akan mencabut selang infusnya. Setelah ini, anda bisa pulang. Tapi sebelumnya, jangan lupa untuk menebus dahulu obatnya ya pak." ucap sang perawat sambil melepas selang infus yang tertancap di punggung telapak tangan milik Vano.
Ella memanggil bawahannya. Memberikan resep obat dari perawat tersebut. "Kami ambil obat di apotik. Setelah selesai, segera kemari." ucap Ella dengan memberikan sebuah kartu untuk membayar obat tersebut.
"Maaf." ucap Vano, membelai pipi sang istri.
"Untuk."
"Kenapa semalam tidak tidur di sampingku." Vano menepuk sisi ranjang yang sekarang dia duduki.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mengganggumu. Kamu sedang sakit." ucap Ella.
"Apa badanmu tidak pegal semua?" tanya Vano, mendapat gelengan kepala dari Ella.
*
*
*
"Jadi semalam Ella dan Vano tidak pulang?" tanya Lena pada pembantu di rumah Vano.
"Tidak Nona."
"Kemana mereka?"
"Tidak tahu Nona."
"Benarkah. Biasanya Ella akan menghubungi salah satu dari kalian." tanya Lena, sudah seperti seorang polisi yang sedang mencecar tersangka.
"Tidak Nona."
"Tidak Nona. Tidak Nona. Tidak Nona." Lena mengulang kembali perkataan pembantu tersebut.
"Apa hanya itu yang bisa kamu katakan. Tidak Nona." sungut Lena.
"Tidak berguna. Sana pergi." usir Lena dengan kasar, mengibaskan telapak tangannya.
"Dasar, tamu laknat. Tidak tahu diri." batin pembantu tersebut.
Padahal niatnya tinggal di rumah ini untuk merecoki hubungan Ella dan Vano. Tapi lihat sekarang, untuk bertemu Vano saja sangat sulit. Apalagi jika Ella ada di samping Vano.
"Kalian." Lena berdiri dari duduknya, melihat kedatangan Ella dan Vano. Apalagi terlihat keduanya sedang tidak baik-baik saja.
"Kalian dari mana?" tanya Lena.
"Bikkk..." seru Ella memanggil pembantu di rumahnya. Mengacuhkan pertanyaan Lena.
"Bawakan makanan ke kamar kami. Suami saya sedang tidak enak badan." ucap Ella.
"Maaf Nyonya, makanan seperti apa untuk Tuan Vano?" tanya bibik, lantaran beliau mendengar jika majikannya sedang tidak enak badan.
"Sama saja seperti saya." ujar Ella. Karena Vano bukan sakit perut atau sakit parah lainnya, yang mengharuskan makan makanan lembut.
"Baik Nyonya." ucap Bibik, bergegas kembali ke dapur dan membuatkan makanan untuk kedua majikannya.
"Vano sakit?" tanya Lena.
Tapi lagi-lagi Vano maupun Ella tidak ada yang menjawab pertanyaan Lena. Bahkan keduanya meninggalkan Lena begitu saja. Seperti Lena tidak ada di sekitar mereka.
"Heyyy,,,, kalian budek." kesal Lena, karena Ella dan Vano malah berlalu meninggalkan dirinya dan berjalan menuju kamarnya.
"Sial. Mereka pikir aku makhluk tak kasat mata." dumal Lena.
"Vano sakit." gumam Lena tersenyum.
"Sakit apa." batin Lena.
__ADS_1
"Bodo. Bukankah ini berita baik. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini." ucap Lena. Sepertinya Lena berencana untuk membuat Vano terkesan pada dirinya.
"Minggir." bentak Lena pada pembantu yang sedang menyiapkan makanan untuk Vano dan Ella.
"Kalian, jangan ganggu saya. Mengerti." ucap Lena. Mulai mengambil beberapa bahan makanan, dan mencucinya.
"Maaf Non Lena, biar kami yang mengerjakan." ucapnya dengan sopan.
Takkkk... Terdengar suara pisau di letakkan di atas meja dengan keras. Lena memandang pembantu tersebut dengan tajam.
"Apa telinga kamu tuli. Saya akan membuatkan bubur untuk calon suami saya. Vano." ucap Lena.
"Tapi kata Nyonya Ella,,,,." ucapnya terhenti saat Lena memotong perkataannya.
"Ella itu perempuan manja. Mana tahu dia kalau orang sakit butuh makanan yang lembut dan halus untuk lambungnya." ucap Lena sok tahu.
"Sudah sana, jangan merecoki saya. Mengganggu." geram Lena.
Mau tidak mau mereka meninggalkan Lena sendirian di dapur.
"Bik, bagaimana ini?" tanya rekan kerjanya pada bibik.
"Sudah, biarkan saja dulu. Saya malas berdebat sama orang sepeti dia." ucap Bibik.
"Bagaimana makanan untuk Nyonya?"
"Ini saja, kamu antar ke atas." ucap Bibik. Karena pagi ini mereka sudah memasak makanan. Jadi tidak perlu repot untuk memasak terlebih dahulu.
"Ya sudah, aku antar dulu bik."
"Iya cepat sana. Kasihan nanti Tuan sama Nyonya, menunggu lama."
Di dalam kamar, Ella membersihkan badannya terlebih dahulu. Karena Vano sedang berbincang dengan Reza melalui ponsel. Dan terdengar keduanya membicarakan masalah pekerjaan di kantor.
"Masuk." teriak Vano saat terdengar ketukan pintu dari luar.
"Maaf Tuan, ini makanannya."
"Heeemmm." ucap Vano. Meneruskan kembali pembicaraannya dengan Reza.
Pembantu tersebut menaruh makanannya di atas meja. Sesekali melirik ke arah Vano yang sedang bertelanjang dada. Hanya memakai celana panjang. Terlihat jika pundak kiri Vano di perban.
Terdengar suara gemericik dari dalam kamar mandi. Menandakan Nyonya nya sedang membersihkan badannya.
"Permisi Tuan." ucapnya segera keluar, tapi tidak mendapat tanggapan apa-apa dari Vano. Hanya menatapnya sekilas.
"Astaga, pantas saja Nona Lena begitu menyukai Tuan." batinnya mengingat badan kekar dan perut kotak-kotak milik Vano. Di tambah lagi wajah Tuannya yang sempurna seperti pahatan.
Segera pembantu tersebut menggelengkan kepala. Mengembalikan kewarasannya.
"Tapi pundak Tuan kenapa ya." ucapnya lirih. Terlihat Vano seperti orang sehat, hanya saja di bagian pundaknya dibalut dengan perban.
"Pantas saja Nyonya bilang makanannya sama seperti dirinya." batinnya. Dia tersenyum mengingat Lena yang tengah sibuk membuat bubur di dapur.
Tiba-tiba badannya bergidik. "Hanya berdua dengan Tuan di dalam ruangan. Sangat menyeramkan. Lebih nyaman jika berdua dengan Nyonya." batinnya.
Segera dia pergi menuruni anak tangga dan melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1