
"Hufffftttt. Baiklah." ujar Ella pasrah.
Seketika wajah orang di hadapannya berubah senang. "Terimakasih Ell." ucapnya dengan sepenuh hati.
Ella berdiri dan melangkahkan kakinya. Hendak pergi ke tenda miliknya. Langkah kaki Ella terhenti saat dirinya sadar jika Vano masih duduk santai. Tidak mengikuti langkahnya.
"Cepat." ucap Ella. Tapi Vano seperti enggan beranjak dari duduknya. Masih menatap lurus ke depan. Sementara seorang kru yang berada di dekat Vano merasa bingung. Apa yang harus di lakukan. Mengingatkan Vano, atau diam saja.
"Lebih baik gue diam saja. Dari pada gue salah bicara. Bisa berabe. Toh sudah ada pawangnya." batinnya melihat Ella kembali ke tempat semula.
"Jika bukan karena pemotretan ini, gue ogah banget bersikap seperti ini." batin Ella merasa dongkol.
"Kenapa di sini jadi gue yang kayak berharap dekat sama dia. Padahal kan nggak gini rencana awal gue." batin Ella.
Kelihatannya stok kesabaran Ella mulai terkumpul kembali saat ini. Hanya saat ini. Ella tahu jika dirinya harus bersabar menghadapi Vano karena di sini melibatkan banyak orang.
Dan juga, Ella tidak mau jika pemotretan sampai gagal. Bukan karena tentang uang. Tapi lebih ke rasa solidaritas. Bisa saja Ella bersikap acuh dan tak ingin tahu. Tapi Ella bukan tipe perempuan seperti itu.
Jika Ella menolak Vano, itu artinya para kru harus mencari model pengganti baru. Atau harus menunda pemotretan sampai Jo sembuh.
Dan jika sampai pemotretan gagal, maka sudah dipastikan mereka akan terkena imbasnya. Dan Ella tidak ingin semuanya menjadi rumit.
Ella seperti mengerti apa yang di inginkan Vano. Dengan menahan rasa jengkel di hatinya, diulurkan tangannya pada Vano. "Berdiri Van. Keburu siang." ucap Ella lembut. (padahal itu hanya sandiwara)
Dengan tersenyum, Vano meraih tangan Ella dan berjalan beriringan bersama menuju tenda.
Sikap Vano membuat semua orang menggelengkan kepala. Jo yang juga melihatnya tak habis pikir. Seorang Vano yang terkenal dengan sikap dinginnya bisa juga bersikap seperti anak kecil yang merajuk karena tidak di belikan permen.
"Han, sebaiknya kamu keluar dulu." pinta Ella setelah dirinya dan Vano sampai di dalam tenda tempatnya. Tanpa berkata apapun, segera Hana keluar dari dalam tenda.
Vano duduk di kursi berhadapan dengan Ella. Meskipun Ella adalah model, tapi dia juga sangat mahir mengaplikasikan make-up ke wajah. Bahkan, orang yang mengajari Hana pertama kali mengenal make-up adalah Ella.
Dengan intens, Vano memandangi wajah Ella yang berada tepat di depannya. Sesekali Vano tersenyum sendiri. Dan menggoda Ella dengan gerakan nakal dari tangannya.
"Kalau kamu tidak bisa diam. Akan ku ikat tanganmu." ucap Ella saat tangan jahil Vano kembali menjahilinya dengan mengelus paha Ella.
Dengan sigap, Vano menarik tangannya dengan raut wajah tanpa bersalah. Dia malah tersenyum jahil pada Ella.
"Selesai." ucap Ella memandang wajah Vano.
"Apakah ketampananku bertambah." celetuk Vano dengan percaya diri.
__ADS_1
"Buka bajumu." suruh Ella.
Vano menyilangkan tangannya di depan dada. Membuat Ella menaikkan sebelah alisnya. "Jangan berpikir macam-macam Ell." ujar Vano dengan raut wajah melas.
Ella memukul keras badan Vano. "Cepat. Jangan buang-buang waktu." seru Ella dengan tersenyum samar.
Vano yang melihat senyum Ella pun berdiri dan mengecup pipi kiri Ella. Sontak Vano mendapat pelototan dari Ella. Vano hanya tersenyum simpul. Lagi-lagi Vano malah mencium singkat pipi kanan Ella.
"Van, kapan selesainya." geram Ella.
"Siap sayang kuhh." Vano mengangkat tangannya seperti memberi hormat lada atasan atau komandan.
Dengan telaten, Ella merapikan pakaian yang melekat di badan Vano. Sekejap Ella diam, seperti terhipnotis oleh penampilan Vano yang memakai pakaian berbalut jas untuk menikah.
Rahang tegasnya di penuhi buku halus yang terawat. Dada bidang yang kekar. Lengan yang nampak kuat.
Aaaahhhh,,,, Vano. Kamu tampak begitu hot...
Ella segera tersadar dan memalingkan wajahnya yang sudah merah karena malu dengan diri sendiri.
"Pikiran gue eror apa ya. Bisa-bisanya berpikir mesum hanya melihat Vano berdiri di depan gue." batin Ella.
"Ehkeemmm. Selesai. Kamu bisa tunggu di luar. Jangan lupa panggil Hana. Aku juga mau ganti pakaian. Dan merapikan rambut." ujar Ella.
Seperti seorang anak kecil yang di suruh mamanya, Vano begitu menuruti perintah Ella. Tidak lama Hana masuk. Tapi pastinya Vano juga ikut masuk.
Ella menatap tajam ke arah Vano tanpa mengeluarkan suara apapun. "Sudah Ell, biarkan saja. Kita harus cepat. Di luar semua sudah oke. Tinggal nunggu kalian." ujar Hana.
Vano duduk diam. Pandangan matanya bahkan tidak teralih sedikitpun dari Ella. Dari pantulan kaca di depannya, Ella merasa sedikit risih di perhatikan secara intens oleh Vano.
Apalagi sesekali Vano tersenyum. Dan mengerlingkan sebelah matanya saat dirinya sadar jika Ella juga melihatnya dai pantulan cermin.
Padahal, ini dulu yang Ella inginkan. Diperhatikan oleh Vano. Tapi entah kenapa semua sekarang terasa aneh. Dan Ella menjadi sedikit kikuk.
"Van, kamu keluar. Aku mau ganti baju." ucap Ella.
"Aku sudah melihat seluruh tubuh kamu sayang. Bahkan sampai yang tidak terjangkau, aku sudah menjangkaunya. Dan merasakannya." ucapnya santai.
"Sudahlah Ell. Biarkan." saran Hana.
Beruntung hanya ada Hana. Coba jika ada orang lain di dalam tenda. Mau di taruh di mana muka Ella.
__ADS_1
Seakan ludah Vano sangat sulit masuk ke dalam tenggorokan saat melihat Ella hanya memakai dalaman saja. Apalagi juniornya sudah sangat lama tidak di manjakan oleh lawan jenis.
Setelah bertekad ingin mengembalikan cinta Ella pada dirinya, Vano sangat membatasi dirinya untuk dekat dengan perempuan selain mamanya dan Ella.
Bahkan Vano juga tidak pernah lagi pergi ke klub hanya untuk sekedar melepas penat. Dia lebih sering menghabiskan waktu di apartemen. Dan pastinya akan di temani asisten setianya. Reza.
"Ell,, gue masuk." ucap seorang lelaki di luar tenda.
"Sebentar. Jangan masuk Den." teriak Ella dari dalam, karena dirinya masih memakai pakaian.
Setelah selesai, Ella pun mempersilahkan Denis untuk masuk. "Ada apa?" tanya Ella.
Tanpa menjawab pertanyaan Ella, Denis menyerahkan ponselnya pada Ella. "Viki." batin Ella.
"Bagaiman?" tanya Denis bingung.
Sejenak Ella terdiam. Apalagi ada Vano dan Hana di samping mereka. Ella memutuskan untuk mengetik sebuah kalimat di ponsel Denis, lalu menyerahkan ponselnya pada sang pemilik.
ELO BICARA SAMA JO. SURUH JO BERBOHONG. POKOKNYA JANGAN SAMPAI VIKI TAHU JIKA JO TERLUKA. NANTI MALAH DIA NYAMPERIN KE SINI. GUE TAKUT VIKI NGGAK BISA MENGENDALIKAN DIRI. HANCUR DUNIA MEREKA.
Denis membacanya, melihat pada Ella dan meninggalkan tenda tanpa bersuara apapun.
Ternyata Viki menyuruh Denis untuk merekam jalannya pemotretan Jo dan Ella. Dan menyuruh Denis langsung mengirimkan pada dirinya.
Hana dan Vano seketika merubah ekspresi wajah mereka. Benar sekali, keduanya merasakan rasa cemburu pada pasangan masing-masing.
(padahal gue pacarnya, kenapa nggak di kasih tahu apa yang terjadi. Apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa mesti ada rahasia. Apa dia nggak menganggap gue)
*****
"Gue harus bagaiman?" tanya Jo Denis.
"Gue juga pusing."
"Ella mana?"
"Di tenda, ada Hana dan Vano."
Ponsel Denis berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Raut wajah yang tadinya kusut, kini berubah cemerlang setelah membaca pesan yang ternyata pengirimnya adalah Ella.
Denis menyerahkan ponselnya pada Jo. Dan Jo pun mengangguk. "Baiklah. Biar gue yang ngomong sendiri sama Viki." ujar Jo.
__ADS_1
Ella menyuruh mereka untuk berbohong pada Viki jika pihak perusahaan yang mengadakan pemotretan tidak memperbolehkan adanya pengambilan atau perekaman foto selama masa pemotretan. Jika ada yang melarang, akan ada sanksi untuk si pelanggar.
"Semoga Viki percaya." ucap Denis penuh harap.