
"Iblis. Kamu benar-benar wanita iblis. Aku bersumpah, akan membalas semua perbuatanmu. Iblis!!!!??" teriak Dian menggebu-gebu.
"Ini masih permulaan. Jika gembok di mulutmu belum terbuka, kamu lihat saja apa yang terjadi." Ella berdiri dari duduknya.
"Bawa dia kembali. Pastikan dia masih bernyawa sampai besok. Karena akan ada pertunjukkan selanjutnya yang pasti bakal lebih, dan lebih menarik untuk di nikmati."
"Wanita iblis. Bunuh saja saya. Jangan pernah kamu menyentuh mereka." teriaknya.
"Membunuhmu. Gampang." cibir Ella seraya menjentikkan jarinya.
"Tapi, tanpa kamu permainan menjadi tidak menarik. Ella tidak menyukai sesuatu yang tidak menarik." ucap Ella dengan mimik muka menggemaskan.
Bawahan Ella hanya diam dan melihat. Sebenarnya mereka ingin tersenyum melihat kebohongan Ella pada Dian. Tapi pastinya mereka menahan bibir mereka untuk tidak mengembang.
"Apa maumu iblis betina???!" seru Dian.
"Astaga. Kenapa masih bertanya sayang. Kamu pasti tahu apa yang Ella ingin-kan. Dan selama kamu tidak memberitahu siapa orang yang menyuruhmu, maka satu-persatu anak itu akan." Ella menaruh tangannya di leher. Menggerakkan tangannya ke kiri dan kanan. Dengan lidah menjulur. Yang berarti kematian.
"Tuhan akan membalasnya. Pasti. Orang-orang seperti kalian. Pasti tidak akan hidup tenang. Biadab??!!" teriak Dian sambil meronta-ronta, karena kedua tangannya di pegang bawahan Ella.
"Tapi kamu juga ikut andil. Karena semua ini terjadi karena ka-mu. Paham." ucap Ella.
Ella mengangkat tangan dan menggerakkan jarinya. Memberi isyarat pada bawahannya untuk membawa Dian kembali ke penjara.
"Siapa yang sangat tega mencuci otaknya. Gadis malang." batin Ella.
"Huuuh. Menjadi artis, ternyata tidak begitu sulit. Tapi memang perlu sedikit keahlian." gumam Ella.
"Bagaimana, apa aku harus mengepakkan sayapku. Dari model, kemudian jadi artis. Apa menurut kalian aku sudah pantas menjadi artis."
Bukannya menjawab, beberapa bawahan Ella malah tersenyum.
"Aku ingin istirahat di sini. Apa kamarku sudah di bersihkan?" tanya Ella.
"Sudah Nona, silahkan."
"Pastikan dia tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya."
"Baik Nona."
"Perketat penjagaan kalian. Aku merasakan ada sesuatu dengan kekuatan besar sedang mendekat."
"Baik Nona."
"Kalian juga harus lebih waspada dan meningkatkan keahlian kalian."
"Baik Non."
******
"Kepung. Jangan sampai mereka melarikan diri." perintah Vano pada bawahannya dan juga bawahan Ella yang kini sudah mengelilingi sebuah mobil.
__ADS_1
"Keluarkan mereka." ucap Vano dengan masih berdiri di depan mobilnya.
"Apa yang kalian inginkan." teriak Vera.
"Aaaa. Lepas." teriak seorang lelaki yang di seret dari dalam mobil.
"Kenapa sangat mudah. Dan juga,,," Vano dan Reza saling memandang.
"Ada yang tidak beres." ucap Vano pelan.
Seperti sudah di rencanakan. Orang tersebut mengendarai mobil ke tempat yang sepertinya sudah di perkirakan sebelumnya.
Dan juga, tidak ada perlawanan dari orang yang membawa Vera. Bahkan dia tidak membawa senjata sama sekali. Begitu sangat mudah di taklukkan.
Vano memberi isyarat pada semua orang yang ada di sana. Dan sepertinya mereka tahu isyarat yang di berikan oleh atasan mereka.
Tapi sayangnya mereka terlebih dahulu di serang. Ada beberapa timah panas yang menuju ke arah mereka. Sebagian dari bawahan Vano terluka.
Dan sebagian bisa menyelamatkan diri dengan berlindung di balik mobil. Suara peluru terus menghujani mereka.
Bahkan semua mobil kini sudah dalam keadaan tidak layak pakai. Semua ban kempes terkena peluru.
"Tuan." ucap Reza yang berada di samping Vano.
Vano mengangguk dan sedikit mengintip dari balik jendela mobil yang pecah. Dia mengambil pistol dari dalam jasnya.
Baku tembak pun tak terelakan lagi. Beberapa anak buah Vano juga ada yang terkena timah panas.
"Baik Tuan." Reza mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana?" tanya Vano.
"Mereka sudah ada di tempat masing-masing." ucap Reza.
"Sebentar lagi akan ada kejutan untuk kalian." ucap Vano dengan senyum menakutkan.
Ternyata sebelum mengejar mobil yang membawa Vera, Vano sudah membagi ke dalam tiga kelompok.
Pertama, mereka yang pergi mengejar Vera. Kedua, tim pengintai. Ketiga, kelompok penyelamat.
Kelompok kedua berisikan penembak jitu. Mereka bergerak dengan sembunyi-sembunyi. Di dalam hutan. Yang berada di kanan kiri jalan. Dan sekarang mereka sudah mengepung tim lawan.
Kelompok ketiga akan menjadi kartu terakhir Vano, jika mereka sudah dalam keadaan terpojok dan pasti akan kalah. Maka mereka akan datang.
"Tuan." panggil Reza sembari menganggukkan kepala.
Vano berdiri dan.....doorrr.... dia menembak seorang lelaki yang membawa Vera pergi. "Untuk apa di biarkan hidup, jika tidak dibutuhkan." Vano tahu pasti jika lelaki yang baru saja di tembak olehnya hanyalah orang luar. Atau orang suruhan yang tidak tahu apapun.
"Bagaimana dengan paman Haki?"
"Beliau sedang dalam perjalanan menuju kemari Tuan."
__ADS_1
Paman Haki tidak ikut dalam penyergapan yang di lakukan oleh Vano. Karena ada hal penting yang dilakukan oleh beliau.
Vera maju ke depan, bersimpuh dan memeluk kaki Vano. "Lepaskan aku Van, apa kamu tidak punya sedikit,,,, saja rasa kasihan padaku. Ingat Van, aku dulu juga pernah menjadi wanitamu. Aku,,, aaakkkhhhh." teriak Vera saat tangan Vano mencengkeram kuat dagunya.
"Apa aku pernah mengundangmu. Kamu yang datang sendiri dan menawarkan diri. Ingat, aku membayarmu. Tidak ada hutang di antara kita." dengan kasar Vano mendorong tubuh Vera ke belakang.
"Tuan." ucap Paman Haki begitu sampai.
"Aku serahkan pada paman."
"Baik."
Vano dan Reza juga beberapa bawahan Vano yang tidak terluka berjalan menuju ke hutan. Sementara Vera akan kembali di masukkan ke RSJ.
"Kalian bawa mereka yang terluka ke rumahku. Aku sudah memanggil dokter. Untuk dia, kembalikan ke tempatnya." ucap Paman Haki dengan pandangan mata tajam mengarah ke Vera.
"Tuan, aku mohon. Lepaskan aku. Apapun perintahmu, akan aku lakukan. Apapun." ucap Vera memohon dengan suara menggoda.
"****** kecil. Singkirkan segera dari hadapanku." cibir Paman Haki dengan senyum mengejek.
"Kalau kalian mau, kalian bisa menikmatinya terlebih dahulu sebelum kalian kembalikan ke tempatnya." ujar Paman Haki.
Vera tercengang, dirinya tidak percaya dengan perkataan lelaki tua di hadapannya tersebut. Vera memandang ke semua orang di sekeliling dengan rasa takut.
"Maaf paman, aku takut terjangkit penyakit kelllamin."
"Dia bukan seleraku paman."
"Melihatnya saja ingin muntah. Apalagi menikmatinya."
Perkataan beberapa lelaki membuat Vera melotot dan berasa ingin marah. Tapi apalah daya. Dirinya tidak punya kekuatan sama sekali untuk melawan.
Di dalam hutan, beberapa orang sudah di lumpuhkan. Dan sebagian ada yang sudah tidak bernyawa.
"Apa yang kalian temukan." tanya Vano.
"Sama Tuan." jawab bawahan Vano dengan memakai cadar di wajahnya.
Seorang bawahan Vano menyeret seorang lelaki ke hadapan Vano. Menunjukkan tato kecil di lengannya. Ternyata mereka sama dengan beberapa orang yang pernah menyerang Reza dan anak buahnya saat berada di hutan. Yang juga artinya, pernah membahayakan nyawa Ella.
Vano memandang satu persatu tawanan. Lalu berbisik pada Reza.
"Baik Tuan." ucap Reza.
Vano meninggalkan hutan terlebih dahulu. Sekarang di pikirannya adalah Ella. Apalagi Ella sendirian berada di markasnya. Hanya ada beberapa bawahannya.
"Kita segera pergi ke markas Nona Ella. Sebagian di sini, selesaikan pekerjaan kalian. Bawa dia." Reza menunjuk salah satu lelaki yang di bisikkan Vano untuk di bawa ke markas mereka.
"Bawa dia ke markas kita. Kalian ikut denganku." pinta Reza setelah meninggalkan hutan.
Terdengar suara tembakan dari dalam hutan. Vano menginginkan tidak ada yang boleh hidup satu pun. Dan karena perintah dari Tuannya, semua tawanan di bunuh menggunakan timah panas di kepalanya.
__ADS_1
"Kita bawa ke hutan biasanya. Biarkan menjadi santapan hewan." ucapnya.