
Ella keluar dari minimarket dengan menenteng kantong kresek berisi barang belanja di tangannya.
Pandangan matanya menyapu seluruh parkiran minimarket. "Mobil gue. Tadi gue parkir di sini." tunjuk Ella ke tempat parkir yang sekarang sudah kosong.
"Kemana. Kok nggak ada." Ella membuka tasnya.
"Ini kunci mobilnya. La terus. Mobil gue mana?" tanya Ella pada dirinya sendiri saat dia menemukan kunci mobilnya masih berada di dalam tas yang dia bawa.
"Apaan sih ini." gumam Ella merasa bingung karena mobilnya raib.
"Gue tinggal cuma sebentar. Iiissshhh. Siapa yang main-main sama gue." ujar Ella kesal sembari menghentakkan kakinya.
"Mobil kamu ada di tempat ku." ucap seseorang di belakang Ella.
Ella menoleh dan memicingkan sebelah matanya, melihat sosok yang sudah berada di belakangnya.
"Biar aku antar. Ke manapun kamu mau." ucapnya.
Ella hanya tersenyum hambar mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Vano.
Sebelumnya.………
Vano tersenyum usil saat melihat mobil Ella terparkir di depan sebuah minimarket. Dia menelpon seseorang dan segera turun dari dalam mobilnya.
"Bawa ke apartemen saya." perintahnya pada seseorang, saat sebuah mobil derek sampai di depan minimarket tersebut.
Apa ada yang berani menghalangi Vano. Jawabannya sudah pasti. Tidak ada. Beberapa orang hanya melihat saat mobil Ella di angkut menggunakan mobil derek.
Bahkan pihak minimarket yang melihat melalui CCTV pun hanya terdiam tanpa berani bertindak. Bahkan mereka juga tidak memberitahu hal tersebut pada pemilik mobil. Ella.
Karena setahu mereka, Vano dan Ella adalah pasangan kekasih. Dan mereka berfikir, mungkin saja Vano hendak memberi surprise pada Ella. Karena tidak mungkin pengusaha sekelas Vano mencuri mobil milik kekasihnya di sore hari. Dan di saksikan beberapa orang.
Kembali………
"Aku ingin pulang. Di mana mobilku?" tanya Ella dengan tenang.
Vano mendekat dan menyisihkan anak rambut yang menjuntai di wajah cantik Ella. "Ada di tempatku." bisik Vano.
Ella menggelengkan kepala melihat tindakan Vano yang seperti kurang kerjaan menurut Ella. "Sepertinya anda sedang tidak sibuk. Sehingga masih mempunyai waktu untuk mengusik kehidupanku." sindir Ella.
"Ups,, apa anda belum menemukan wanita pengganti. Untuk yang telah hilang." imbuh Ella dengan penekanan.
Ella mendorong tubuh Vano. Tetapi sepertinya satu mili pun tubuh Vano tidak geser dari tempatnya berdiri.
Tangan Vano dengan cepat merengkuh pinggang seksi Ella.
"Lepas." ucap Ella dengan nada rendah tapi penuh penekanan.
Ella mencoba melepaskan tangan Vano dari pinggangnya. "Di sini banyak orang Ell. Semua sedang memperhatikan kita." bisik Vano membelai rambut Ella serta menghirup wangi rambut Ella.
__ADS_1
"Ok. Lepaskan." Ella mencoba bersikap tenang.
Di rapikan pakaianya setelah ia terlepas dari tangan Vano. Pandangan mata Ella melirik ke kanan dan ke kiri. Di hirup nya oksigen yang bertebaran di hadapannya. "Sial, tadi sepi. Kenapa sekarang ramai." gumam Ella.
Ella melirik ke arah Vano. Merasa Vano tidak memperhatikannya, Ella segera melangkahkan kakinya.
"Tidak semudah itu sayang." Vano telah memegang lengan Ella sebelum perempuan itu menjauh dari jangkauannya.
"Tuan, saya sedang tergesa-gesa. Bisa anda tidak menghambat perjalanan saya." Ella tersenyum paksa pada Vano dengan menggerakkan tangannya yang berada di genggaman Vano. Seolah Ella tidak ingin Vano menyentuhnya.
"Ayo." Vano malah meletakkan tangannya di pundak Ella dan membawa Ella menuju mobilnya.
"Kamu.." geram Ella.
"Ell, sayang. Jangan sampai kita jadi pusat perhatian." Vano membuka pintu mobil. Mempersilahkan Ella untuk masuk.
Ella melirik tajam ke arah Vano. Dengan terpaksa dia masuk ke dalam mobil Vano.
Vano mendekat ke kursi tempat duduk Ella. Dia memakaikan sabuk pengaman di badan Ella. Dengan tenang, Ella hanya diam. Seolah tidak terusik sedikitpun dengan kelakuan Vano.
Cup..
Vano dengan singkat mencium pipi Ella. Telapak tangan Ella mengusap pipi yang baru saja di cium oleh Vano. Seolah ada kotoran yang menempel di pipinya.
Vano hanya terdiam melihat tindakan dari Ella. Di sepanjang perjalanan, di dalam mobil tampak hening. Tidak ada satu ucapan yang keluar dari mulut keduanya.
Sesekali Vano melirik ke arah Ella. Biasanya, saat di dalam mobil. Ella selalu berbicara dan bertanya pada Vano. Ella selalu bergelayut manja pada Vano. Padahal Vano selalu acuh akan semua perkataan dan tindakan Ella. Tapi Ella tidak peduli.
"Ekhem,," Vano berdehem. Mencoba membuat Ella mengeluarkan suaranya.
Tapi mustahil. Suara manja yang selalu Vano dengar, kini tidak terdengar lagi. "Elll...emm." ucap Vano.
Suara dering ponsel Ella menghentikan perkataan yang ingin Vano keluarkan dari dalam mulutnya.
"Halo. Ada apa?" tanya Ella dengan seseorang di balik telepon.
…………
"Oo,, nanti saja. Kita bicarakan. Nanti aku telepon balik." Ella mematikan panggilan telepon dan mengembalikkan ponselnya ke dalam tas.
Vano melirik ke arah Ella. Mencoba untuk mencuri dengar dengan siapa Ella berbicara di sambungan teleponnya. Bertanya secara langsung. Tidak. Gengsi Vano lebih besar dari segalanya.
Mobil Vano berhenti setelah sampai di parkiran apartemen tempat tinggalnya. Ella pun segera keluar dan berjalan menuju ke tempat mobilnya berada.
"Tunggu Ell." Vano memegang tangan Ella yang sudah membuka handle pintu mobil.
"Kita ke dalam. Kita perlu bicara." ajak Vano.
Ella menutup kembali pintu mobil yang sempat terbuka meskipun sedikit. "Tuan Muda. Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Ella dengan bersedekap.
__ADS_1
"Tidak di sini Ell." ucap Vano.
"Sabar Van, sabar. Elo harus bisa mendapatkan Ella kembali. Dia milik elo. Selamanya." batin Vano menekan amarahnya yang hendak muncul karena penolakan dari Ella.
Vano. Dengan sifatnya yang angkuh dan mempunyai kekuasaan, membuat dirinya sulit membedakan antara cinta dan nafsu. Entah apa yang di inginkan Vano pada sosok Ella.
Cinta,,, atau yang lainnya. Hanya Vano sendiri yang mengetahuinya. Huh,,, author saja juga bingung dengan tingkah Vano.
"Aku bisa jalan sendiri." Ella melepaskan tangan Vano dari pergelangan tangannya. Meninggalkan Vano yang masih terdiam di samping mobilnya. Segera Vano tersadar dan mengikuti Ella.
"Gue penasaran. Apa yang mau elo lakuin." batin Ella.
Ella mengikuti ajakan Vano untuk masuk ke apartemennya karena rasa penasaran Ella. Dirinya sangat ingin tahu apa yang akan dilakukan Vano terhadapnya. Karena biasanya, Vano akan mengajak dan mengurungnya di dalam kamar hanya untuk memuaskan hasratnya di atas ranjang.
Ella berhenti tepat di depan pintu apartemen Vano. "Kenapa tidak masuk?" tanya Vano.
"Siapa tahu sandinya telah berubah." ujar Ella.
Vano memasukkan beberapa nomor di pintu apartemennya. "Masih sama. Tidak ada yang berubah." ucap Vano membuka pintu.
Vano masuk ke dalam diikuti Ella dari belakang. "Sebentar, aku ambilkan minum." Vano meninggalkan Ella di ruang tamu.
"Biasanya juga langsung main ajak masuk ke dalam kamar. Apa yang sedang elo mainkan Van." batin Ella.
Ella duduk di ruang tamu dengan memainkan ponsel di tangannya. "Ini. Minumlah." Vano meletakkan segelas air berwarna merah di depan Ella.
"Aman." ujar Vano saat melihat pandangan mata Ella mengarah ke segelas air minum di depannya.
"Tidak perlu memberikan sesuatu di air minum itu, jika aku menginginkanmu. Bukankah kita sudah sering melakukannya." tanpa rasa malu, Vano mengerlingkan sebelah matanya pada Ella dan meminum segelas air di tangannya sampai tandas.
"Langsung saja. Apa yang ingin kamu katakan." tanya Ella dengan sinis.
"Sabar Van." batin Vano menekan egonya kembali.
Vano meletakkan gelas di meja dan beringsut mendekat ke arah Ella.
"Love you." Vano memeluk Ella dari samping dengan meletakkan kepalanya di pundak Ella.
Setelah beberapa tahun menjalin hubungan, baru kali ini Ella mendengar Vano mengatakan cinta pada Ella.
*****
Ella,,,,, pleaseeee..... jangan Ella, jangan.
Jangan luluh hanya karena kata love you.
Author nggak rela semudah itu Vano mendapatkan maaf dari kamu.
Teman-teman, bantu author. Bilang sama Ella. Jangan semudah itu menerima Vano lagi.
__ADS_1
Gemezzzzzz.....