DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 69


__ADS_3

Seseorang masuk tanpa permisi saat Ibra dan yang lain sedang berbincang. Sontak membuat semua menoleh ke arah pintu yang terbuka.


"Maaf, saya tidak tahu jika ada tamu." ucap Deon.


Sejenak manik mata Deon menatap ke arah Ella, dia tersenyum miring melihat Ella berada di ruangan tersebut. "Dia, wanita milik Vano." batin Deon, teringat akan Vano yang telah menghancurkan usahanya dengan sangat mudah. Dan sekarang, dirinya harus bekerja keras mengembalikan kestabilan perusahaannya.


Dengan senyum di bibir, Deon mendekat ke arah mereka. Dan sepertinya Ibra tahu tujuan dari Deon. "Ada perlu apa Yon. Sekarang aku sedang ada tamu. Nanti saja kita bicara." ucap Ibra menyuruh Deon keluar.


Bukannya mendengarkan perkataan Ibra, Deon malah mendekat ke arah Ella. "Kamu, Mellanie. Kekasih dari Vano." tanya Deon berbasa-basi.


Elle hanya tersenyum, tanpa mengeluarkan kalimat dari dalam mulutnya. Ella memindai Deon dari atas hingga bawah. Kepalan tangan Deon tak luput dari penglihatan Ella. "Kelihatannya dia musuh Vano." batin Ella.


Ibra segera berdiri dan mengajak Deon keluar dari ruangannya. "Sebentar." ucap Ibra pada mereka bertiga.


"Siapa Ell. Gitu banget lihat ke elo." tanya Viki setelah Ibra dan Deon meninggalkan ruangan.


"Mungkin rivalnya Vano." jawab Denis.


"Gue tanya Ella. Elo tu kenapa sih, suka banget menjawab pertanyaan dari orang. Padahal itu bukan pertanyaan buat elo." ujar Viki kesal.


"Husss,,, kalian ini. Ini tempat orang." ucap Ella.


"Karena gue tahu jawabannya. Makanya gue jawab." timpal Denis sewot.


"Sudah diam." bentak Ella dengan nada pelan.


Sementara di luar ruangan. Ibra meminta Deon untuk meninggalkan perusahaannya.


"Jangan buat keributan. Lebih baik elo cabut." pinta Ibra pada Deon.


"Gue cuma mau kenalan. Nggak lebih." kilahnya.


"Gue tahu apa yang ada di otak elo." Ibra menunjuk ke kening Deon.


"Pantas Vano sangat menyukainya. Jika di lihat, ternyata dia sangat seksi dan menggoda." ucap Deon tersenyum menjijikkan.


"Sudah cukup elo berurusan dengan Vano."


"Kenapa. Memang apa yang harus gue takuti. Keluarga gue di luar negeri. Perusahaan gue, udah hampir hancur. Apa lagi." ujar Deon.


"Elo ingat. Elo senggol asistennya saja, dengan mudah Vano menghancurkan perusahaan elo. Apalagi wanitanya. Sebaiknya elo menjauh dari semua yang berhubungan dengan Vano." kata Ibra mengingatkan Deon.


"Kita lihat saja nanti."


"Jangan sampai elo menyesal. Vano bisa saja menghentikan nafas yang berhembus dari hidung elo."


"Melenyapkan nyawa orang. Mana berani dia." ucap Deon tertawa.


"Terserah. Gue sudah memperingatkan. Jika terjadi sesuatu sama elo, apalagi berhubungan dengan Vano. Jangan pernah cari gue."


Ibra kembali ke dalam ruangannya dan meninggalkan Deon sendiri. Deon melangkahkan kakinya meninggalkan perusahaan Ibra dengan tersenyum.


Sepertinya dia mempunyai rencana untuk membalas rasa sakit hatinya pada Vano.


"Ella. Jika gue bisa bawa dia bermain di ranjang, pasti Vano akan murka. Pasti dia akan kehilangan kendali. Dan gue, akan dengan mudah menghancurkannya." batin Deon sambil berjalan.


Setelah kembali ke ruangannya, Ibra melanjutkan pembicaraan dengan Ella dan Denis mengenai pemotretan yang akan di lakukan oleh Ella dan Jonathan.


"Terimakasih karena sudah datang ke tempat saya." ucap Ibra pada Ella dan yang lain setelah pembicaraan selesai.

__ADS_1


"Sama-sama." ucap mereka bersamaan.


"Maaf sebelumnya. Jika berkenan, bolehkan saya berbicara dengan Nona Ella. Berdua." ucap Ibra dengan sopan.


Ella menoleh ke arah Denis dan Viki, kemudian mengangguk. "Baiklah." ucapnya.


"Gue tunggu di parkiran." ucap Denis.


"Terimakasih." ujar Ibra.


"Ada apa?" tanya Ella langsung setelah Denis dan Viki meninggalkan ruangan.


"Apa kamu kenal dengan lelaki yang tadi. Deon." tanya Ibra.


"Nggak. Tapi pernah lihat. Diakan pengusaha juga. Pernah ketemu saat saya di ajak Vano ke sebuah acara." ucap Ella sembari mengingat-ingat.


"Kenapa?" tanya Ella.


"Dia sedang dalam keadaan yang tidak baik."


"Iya sih. Kalau nggak salah perusahaannya hampir hancur. Tapi, bukankah sekarang sedang berusaha bangkit lagi." tebak Ella.


"Saya baca di berita bisnis." jelas Ella saat Ibra memandang intens pada dirinya.


"Oke. Mau berbicara apa?" tanya Ella.


Karena dia merasa bahwa persoalan Deon tidak ada hubungannya dengan dirinya. Sama sekali tidak ada.


"Soal kebangkrutan perusahaan Deon." ucap Ibra.


"Why?" tanya Ella.


"Kenapa kita harus berbicara soal itu. Saya,,, kamu. Ini soal apa. Tolong, berbicara di jalur kita saja." ucap Ella merasa pembicaraan mereka sangat tidak bermanfaat.


"Vano yang membuat perusahaan Deon hancur." ucap Ibra.


"Oke. Terus apa hubungannya dengan saya." ujar Ella.


Respon Ella setelah mendengar perkataan Ibra sangat tidak sesuai dengan dugaan Ibra. Membuat pengusaha muda tersebut termangu.


Ella berdiri dari duduknya. "Jika tidak ada yang di bicarakan, saya permisi dulu." ucap Ella.


"Tunggu." secara reflek, Ibra mencekal lengan Ella


"Maaf." Ibra segera melepaskan tangannya di lengan Ella.


"Vano yang sudah membuat perusahaan Deon hancur. Apa tidak ada sesuatu yang ingin anda ketahui?" tanya Ibra merasa bingung dengan sikap Ella yang biasa-biasa saja.


"Saya sudah bilang. Bicara di jalur kita saja. Saya model. Bukan pengusaha. Satu lagi. Soal perusahaan, itu urusan mereka. Saya, tidak ingin terlibat." ucap Ella.


"Anda juga pengusaha. Pasti tahu bagaiman cara kerja di dunia bisnis. Permisi." ucap Ella tenang.


"Tapi mungkin saja Deon membalas rasa sakitnya melalui anda Nona." ucap Ibra menghentikan langkah Ella.


Ella membalikkan badannya. Memandang Ibra dan tersenyum. "Berarti Tuan Deon akan bertambah lagi musuhnya." ucapnya.


"Titip salam untuk Tuan Deon. Bilang padanya, jangan salah dalam mencari musuh."


"Benar-benar. Lagi-lagi tidak bisa di anggap remeh." gumam Ibra saat Ella meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


"Semoga Deon tidak melakukan hal yang membuatnya menyesal telah dilahirkan." imbuhnya.


"Ada apa?" tanya Viki penasaran saat Ella masuk ke dalam mobil yang di tumpangi mereka.


"Nggak penting. Jalan." ucap Ella.


"Elo pikir gue supir." dengus Viki di balik kemudi.


"Anterin gue ke rumah paman Haki." pinta Ella.


"Mau latihan?" tanya Viki.


"Ikut." ucap Ella.


"Nggak. Gue mau ke salon." ucapnya dengan senyum merekah di bibirnya.


"Ini mobil gue." timpal Denis.


"Tahu. Kita antar Ella. Terus gue ke salon. Habis itu terserah elo." ucap Viki seperti tanpa dosa.


"Anjim benar kalian." sewot Denis.


Setelah mengantarkan Ella ke rumah paman Haki. Dan Viki ke salon, Denis melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Dia sudah ada janji dengan Hana. Tanpa sepengatahuan Ella. Karena Hana tidak ingin Ella tahu. Bisa di cengin habis-habisan jika Ella sampai tahu jika dirinya bertemu dengan Denis. Apalagi Hana masih belum memberikan kepastian untuk Denis.


Tanpa mereka sadari, mereka diikuti oleh sebuah mobil semenjak meninggalkan perusahaan Ibra. Karena saat di dalam mobil mereka selalu berbicara, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan sekitar. Apalagi keadaan jalanan memang sedang ramai.


Setelah Ella keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah Paman Haki, mobil penguntit tersebut juga berhenti tak jauh dari rumah Paman Haki.


"Paman, Ella pinjam mobil ya. Tadi Ella di antar Denis sama Viki." izin Ella setelah selesai latihan.


"Iya, bawa saja Non." ucap Paman Haki.


"Soal adiknya Vera, apa ada informasi darinya?" tanya Ella.


"Belum Non. Mulutnya masih terkunci rapat. Hanya umpatan yang keluar dari dalam mulutnya."


"Tapi Non tenang saja. Kita pasti bisa membuat dia berbicara. Paman juga yakin, ada seseorang di belakangnya." imbuh paman Haki. Ella diam menyimak perkataan dari paman Haki.


Bawahan paman Haki mendekat dan membisikkan sesuatu pada Paman Haki. Lantas paman Haki memandangnya dan mengangguk.


"Non, ikut saya sebentar." ajak Paman Haki.


Tanpa berkata ataupun bertanya, Ella mengekor di belakang Paman Haki. Mengikuti langkah Paman Haki.


****


Kira-kira siapa yang mengikuti mobil yang di kendarai Ella dan teman-temannya. Pasti kalian sudah bisa menebakkan, siapa penguntitnya. Author juga sudah tahu.


Pasti dia. Iya, dia,dia,dia,dia....


And,,,, paman Haki mau ngajak Ella ke mana.


Bikin othor kepo tingkat-tingkat saja 🙄🙄


Author mau ngucapin makasih. Makasih buat teman-teman yang selalu setia menunggu setiap episodenya.


Makasih yang sudah ngasih like ke karya othor.

__ADS_1


Makasih atas komen dari teman-teman.


Pokoknya makasih, makasih, makasih. 😘😘😘


__ADS_2