
Seperti janjinya, Ella benar-benar menjadikan kamar di apartemen Viki sebagai tempat percintaannya dengan sang kekasih.
Ella pasrah di bawah kungkungan badan kekar milik Vano. Dan sepertinya, Vano tidak akan melepaskannya. Tidak akan. Apalagi Vano sudah berpuasa lama.
Suara erangan bersahutan memenuhi ruang kamar yang biasanya Ella pakai jika dirinya berada di apartemen Viki.
Keringat membasahi kedua sejoli yang sedang bermain kuda-kudaan. Mereka seperti tidak peduli di mana mereka sekarang berada.
Vano menjatuhkan badannya di samping Ella setelah pelepasan. Ella berdiri dan mengambil tisu. Membersihkan cairan sisa percintaan mereka.
"Sini aku bantu." Vano juga mengambil tisu dan membantu Ella.
Ella tersenyum samar melihat Vano mengelap cairan mereka.
Vano memeluk Ella dari belakang. "Honey, lagi ya." ucap Vano.
"Lihat, dia masih on. Jatahnya masih kurang." Vano menggesek-gesekkan pusakanya di pantat Ella.
Ella membalikkan badan, menangkup kedua pipi Vano. "Sebentar lagi Viki akan pulang." Ella mencium bibir Vano.
Segera Vano menahan tengkuk Ella dan ******* bibir seksi milik sang model. Ella memukul-mukul dada Vano. Membuat Vano menghentikan ciumannya.
"Sayang, masa cuma sekali." rajuk Vano.
Ella membungkam mulut Vano menggunakan telapak tangannya. Sementara jari telunjuknya berada di bibirnya. Mengisyaratkan Vano untuk diam.
"Mereka datang." ucap Ella lirih. Membuat Vano menajamkan indra pendengarannya.
Vano menyingkirkan tangan Ella dari mulutnya. "Pengganggu. Datang di saat tak tepat." dengus Vano.
Ella mencubit gemas pinggang Vano. "Ini apartemen Viki." ucap Ella mengingatkan Vano.
"Sudah tahu." ucap Vano sebal.
Ella mendorong tubuh Vano. "Sudah sana. Bersihkan badan dulu. Biar aku menemui mereka dulu." ucap Ella.
"Kamu pakai baju dulu." suruh Vano.
Ella mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang toples. "Tidak perlu. Ini sudah cukup." Ella menggelung asal rambutnya ke atas. Memperlihatkan jejak permainan mereka.
Vano lagi-lagi memeluk Ella dari belakang. "Aku tidak rela mereka melihat kamu seperti ini sayang. Lihat. Kamu sangat menggoda." bujuk Vano supaya Ella memakai pakaiannya.
"Ada yang harus aku pastikan Van." ucap Ella lembut.
Ella yakin jika Vano mengetahui jika Viki, sahabatnya mempunyai kelainan. Tidak mungkin Vano tidak tahu. Karena Vano juga mengetahui jika Jo dalang di balik semua kisruh yang menimpa mereka.
Jika Vano menyelidiki Jo, pasti dia juga menemukan sesuatu tentang mereka. Tentang hubungan Viki dan Jo.
Pemikiran Ella tentang penyelidikan yang Vano lakukan tidak seperti yang ada di benaknya. Ella mengira jika Vano menyelidiki tentang Jo, dan menemukan fakta mengenai hubungan terlarang keduanya.
__ADS_1
Padahal Vano terlebih dulu mencari tahu tentang Viki, dan mendapat bonus tentang keterlibatan Jo.
"Tapi sayang,,, aku tidak rela,,"
"Husst... ini satu-satunya cara. Boleh ya. Please." Ella memasang tampang imut di hadapan Vano.
"Huhhh,,, aku bersihkan badan dulu. Jangan biarkan ada yang masuk ke kamar ini." ucap Vano.
Ella mengangkat kedua jempol tangannya. "Mana mungkin aku membiarkan mereka melihat ini. Bisa-bisa mereka tertarik. Aku tidak rela."
"Aiiiissshhhh,,,, aku normal Elll.... Jangan bicara seperti itu. Membuat ku merinding." Vano bergidik ngeri dan segera berlari ke kamar mandi.
"Lohh..." Ella melihat Vano kembali lagi.
Vano dengan cepat memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai. "Aku memakai pakaian di dalam kamar mandi saja. Cari aman." ucapnya membuat Ella tertawa.
Ella segera keluar dari kamar untuk menghampiri pemilik apartemen dan kekasihnya. Jo.
"Maaf menganggu." Ella menyenderkan badannya ke tembok dengan selimut melilit di tubuhnya.
Membuat Viki yang tengah berbaring beralaskan paha Jo sebagai bantalnya terkejut.
"Astaga.... elo." Viki melongo melihat penampilan Ella.
Glekkk.... Jo dengan susah payah menelan ludahnya.
"Kena kau." batin Ella melihat ekspresi Jo. Terlihat dengan jelas di mata Ella saat Jo menatap Ella dengan pandangan yang tidak biasa. Pandangan seorang lelaki normal yang melihat mangsa di depan mata.
"Dia sedang membersihkan badannya." ucap Ella masih dengan menyenderkan badannya di tembok.
Mata Jo tetap memandang dan memindai tubuh Ella. Pikiran kotornya membayangkan sesuatu yang ada di balik selimut yang di pegang Ella.
Apalagi leher jenjang Ella begitu menggoda. Meskipun ada beberapa tanda merah bekas percintaannya bertebaran dari leher hingga pundaknya. Membuat Jo semakin berpikir betapa manisnya rasa kulit dari sang model seksi tersebut.
"Selangkah saja kakimu masuk ke dalam kamar, selamanya kau tak akan bisa jalan." ancam Ella saat Viki hendak membuka pintu kamar di mana Vano berada di dalamnya.
"Galak sekali kau Tuan Putri." ucap Viki membalikkan badan dam melangkah kembali ke arah kursi.
"Ini apartemen gue. Bisa-bisanya elo ***-*** di sini." keluh Viki.
"Waooowwww Ellll....." seru Viki dengan geram.
"Nggak sengaja. Lagian elo sama Jo kan nggak ngaruh sama badan gue. Biasa saja kaliii." ucap Ella saat dirinya membenarkan kembali lilitan selimut pada tubuhnya yang baru saja melorot hingga menampakkan separuh lebih dua buah gunung kembar yang menempel di dadanya.
"Iya juga sih." ucap Viki sembari mendaratkan pantatnya di kursi empuk samping Jo.
"****." umpat Jo dalam hati.
"Ternyata dugaan ku benar. Kamu pantas menjadi aktor." batin Ella melihat Jo langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.
__ADS_1
Ella tersenyum. "Gue masuk dulu. Mau membersihkan diri. Lengket banget badan. Habis olah raga." Ella membalikkan badan. Berjalan dengan lenggok yang sangat menggoda.
"Kenapa dia bisa segila ini. Bermain di apartemenku. Dasar." gumam Viki.
Viki menatap Jo, terlihat jelas kening Jo keringat . "Ada apa sayang?" tanya Viki dengan lembut, mengusap keringat di kening Jo.
"Tidak ada. Hanya haus." Jo menampil tangan Viki di keningnya.
Viki mencium pipi Jo. "Sebentar, akan aku ambilkan minum." ucap Viki segera pergi ke dapur.
Jo melonggarkan bajunya. Membuka dua kancing baju bagian atas. Badannya terasa panas saat melihat Ella yang begitu menggoda di matanya. "Shittt, dia benar-benar seksi." umpat Jo lirih dengan wajah masam.
"Bagaimana?" tanya Vano berada di depan cermin merapikan penampilannya.
Ella berjalan mendekat ke arah Vano. Memeluk Vano dari belakang. Vano tersenyum samar memperhatikan sang kekasih dari pantulan cermin.
Ella membelai dada bidang Vano dari belakang. "Tidak ada satu lelaki normal yang bisa menolak pesona Mellanie." Ella berlalu meninggalkan Vano yang tengah menatapnya.
Ella masuk ke dalam kamar mandi. Tapi sebelum dia menutup pintunya, dia menyembulkan sedikit kepalanya dan menatap Vano yang juga sedang menatapnya.
Tidak lupa Ella menggoda Vano dengan mengerlingkan sebelah matanya. Dan memajukan sedikit bibirnya, seperti ingin mencium.
Vano sontak menggelengkan kepala dengan tangan bersedekap. Ella segera menutup pintunya dan menguncinya dari dalam tatkala kaki Vano hendak melangkah menghampiri dirinya.
"Astaga." gumam Vano.
"Jo." batin Vano teringat perkataan Ella. Senyum remeh ditunjukkan oleh Vano.
Vano menatap ke arah pintu kamar mandi. "Iiiiissshhh. Kenapa pikiranku jadi mesum." Vano menggelengkan kepala dan segera pergi.
Ingin sekali Vano melihat raut wajah Jo yang tegang karena terprovokasi sang kekasih.
"Vano." gumam Viki saat melihat Vano keluar dari kamar.
Dengan santai tanpa beban, Vano duduk di kursi yang berseberangan dengan Jo dan Viki. Vano tersenyum palsu dengan mata memandang ke arah Jo.
"Padahal ini apartemen gue. Tempat gue. Kenapa gue yang jadi kayak tamu." batin Viki merasa canggung dengan kehadiran Vano. Sementara Vano tampak duduk tenang.
Vano tersenyum miring melihat Jo. Apalagi dengan kancing terbuka dua di atas. "Apa pendingin di apartemen mu rusak?" sindir Vano menatap ke arah Jo.
Viki mengikuti ke mana arah pandangan mata Vano.
Sebelum Viki membuka mulutnya, Jo terlebih dulu menanggapi perkataan Vano. "Kami baru sampai. Udara di luar sangat panas." kilah Jo.
Ternyata Jo lebih hebat berakting dari pada aktor.
Aiiiisshhhh benar-benar penipu ulung.
Tapi,,, bagaimana Jo dapat berhubungan dengan Viki. Benar-benar membuat penasaran. Apalagi sudah jelas jika Jo tertarik dan tergoda saat Ella mencoba memancing dirinya.
__ADS_1
Jo,,,, kamu sedang berhadapan dengan singa betina sekaligus raja singa. Ella dan Vano.