
"Lakukan apapun yang kamu inginkan Ella. Lakukan." ucap Ella pada dirinya sendiri.
"Ngapain gue mesti pusing mikirin Vano. Terserah dia mau melakukan apa. Persetan dengan Vano." Ella memakai jaket dan helmnya kembali.
Tapi Ella sangat sadar, akan sangat sulit bagi dirinya untuk melakukan semua hal tanpa mempedulikan Vano. Dia seperti manusia bertentakel untuk Ella. Selalu melekat pada tubuh Ella. Di mana saja dan kapan saja dia inginkan.
Sungguh sangat merepotkan. Tapi sebenarnya Ella juga menikmati hal tersebut. Tidak munafik bagi Ella. Rasa cintanya untuk Vano masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah dan berkurang.
Meski Vano sudah melukai hatinya. Tapi entah kenapa, sepertinya Ella sangat sulit menghapus nama Vano di dalam hatinya.
Mencintai seseorang terlalu dalam memang sungguh merepotkan. Jika tidak kebahagiaan yang didapat maka kepedihan yang akan di dapat.
Ella mecoba menghubungi Egi sebelum kembali memacu sepeda motornya. "Nggak di angkat. Mungkin dia sibuk." ucap Ella saat beberapa kali dia mencoba menghubungi nomor Egi. Namun hasilnya selalu sama. Tetottt. Tidak di angkat.
*
*
Egi melampiaskan amarahnya di apartemen miliknya. Semua barang dia banting. Alhasil apartemennya tak ubah layaknya tempat penampungan barang rongsokan.
Egi meninggalkan rumah Ella. Dia langsung pergi ke apartemennya. Tidak ke perusahaannya. Karena dirinya sadar, jika sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Pergi bekerja bukan keputusan yang tepat. Di sinilah sekarang dia berada. Melampiaskan amarah yang sudah di tahannya sedari tadi. Semenjak dia melihat Vano dan Ella berciuman.
"Andai saja aku lebih dulu bertemu dengan Ella."
Egi memejamkan matanya. Masuk ke dalam kamar mandi. Dan menyalakan shower. Berharap dinginnya air dapat mendinginkan kepalanya.
Minum alkohol. Iya. Egi memang terbiasa minum. Dirinya termasuk peminum alkohol. Mabuk. Jangan di tanya. Dia tidak akan bisa mabuk. Karena dirinya selalu membatasi alkohol yang akan masuk ke dalam tubuhnya. Sehingga tidak sampai menyebabkan dia mabuk.
Pergi menemui wanita untuk melepaskan amarahnya dengan bermain di ranjang. Tidak. Egi bukan tipikal pemain seperti Vano. Dia hanya akan berhubungan dengan perempuan yang notabennya adalah kekasihnya.
Dan sampai saat ini, Egi hanya berhubungan intim dengan satu perempuan. Yaitu mantan kekasihnya. Itupun sudah lama terjadi. Sewaktu dirinya masih menempuh pendidikan di luar negeri.
"****." Egi meninju tembok di depannya, teringat bayangan Vano dan Ella menari-nari di benaknya.
"Aaa,aaa,aaa." berkali-kali Egi memukul tembok. Hingga tangannya terluka dan berdarah.
Sementara, ponselnya terus berdering. Seakan enggan melihat siapa yang menghubungi dirinya dan menulikan indra pendengarannya, Egi terduduk lemas di lantai. Dinginnya air ternyata mampu mendinginkan kepalanya yang sempat panas.
Ella lebih memilih pergi menemui Egi untuk membicarakan keterlibatannya sebagai model pengganti Vera dari pada menemui Vano.
"Jadi Tuan Egi tidak ada?" tanya Ella kembali, memastikan pada resepsionis di perusahaan Egi.
"Benar Nona. Tuan Egi belum datang." jelasnya.
"Kemana Egi. Apa dia ada pekerjaan di luar." ucap Ella pada dirinya sendiri.
"Maaf Nona, tadi asisten Tuan Egi juga menanyakan beliau." jelasnya saat mendengar perkataan Ella.
Ella memandang ke arah resepsionis dan tersenyum. "Padahal aku ingin membicarakan tentang pekerjaan." gumam Ella.
__ADS_1
"Maaf, bolehkah saya menumpang duduk. Sebentar saja." pinta Ella.
"Silahkan."
Ella berjalan ke sebuah kursi di sudut ruang. Diletakkan pantatnya pada kursi tersebut. Lalu dia mengeluarkan ponsel dan menyandarkan bahunya. "Apa gue ke perusahaan Vano saja." gumam Ella.
"Males banget. Ntar malah dianya kepedean." imbuh Ella.
"Nona Ella." sapa seseorang yang sedang berdiri di samping Ella.
Ella mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara. "Asisten Tuan Egi kan?" tanya Ella memastikan.
"Benar." jawabnya sembari duduk di kursi yang bersebelahan dengan Ella.
"Egi ke mana?"
"Saya kurang tahu Non. Saya sudah mencoba menghubungi. Tapi tidak ada jawaban."
"Sama." ujar Ella.
"Padahal hari ini ada klien penting yang harus Tuan temui."
"Mungkin Nyonya Tiwi tahu?"
"Maaf Non, saya tidak berani bertanya pada beliau. Takut beliau khawatir."
"Lalu?"
"Saya akan coba mencarinya dahulu. Jika sampai nanti sore tidak ada kabar, terpaksa saya bertanya pada Nyonya Tiwi."
"...." pertanyaan Ella membuatnya bingung untuk menjawab.
"Maksudnya, selain di rumah Nyonya Tiwi. Biasanya Egi pergi ke mana?"
"Emm. Beliau punya beberapa apartemen. Dan kebetulan saya tadi sudah ke beberapa apartemennya. Tapi tidak ada. Tinggal satu apartemen yang belum saya datangi. Dan semoga, Tuan Egi ada di sana." jelasnya panjang lebar.
"Ya sudah. Ayo. Aku juga khawatir. Tadi dia juga meninggalkan rumahku tanpa berpamitan." ucap Ella.
Berpamitan. Aduh Elll,,, kepalanya saja sudah hampir meledak melihat kamu dan Vano berciuman. Mana kepikiran untuk pamit.
"Ayo. Berangkat." seru Ella saat sang asisten hanya diam melihat Ella sambil berdiri.
Dari belakang mereka berjalan seseorang wanita cantik. "Maaf Tuan, klien dari CV Permata menunggu di ruang pertemuan." ucap perempuan tersebut. Yakni sekertaris Egi.
"Ya sudah. Kamu temuin mereka. Biar Egi, saya yang cari." Ella melihat ke arah asisten tersebut nampak bingung.
"Oke. Sana."
"Terimakasih Nona." ucapnya.
"Tunggu." teriak Ella menghentikan langkah mereka.
__ADS_1
"Alamatnya." ucap Ella.
Asisten tersebut tersenyum canggung dan memberitahu alamat apartemen Egi pada Ella.
"Terimakasih Nona."
Tanpa menjawab, Ella melambaikan tangannya dan meninggalkan perusahaan Egi.
"Benar inikan." Ella berdiri di depan pintu apartemen yang di yakini milik Egi.
Beberapa kali Ella membunyikan bel apartemen tersebut. Tapi hasilnya tetap nihil. Ella mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Egi. Dan ternyata sama saja. Masih belum ada jawaban dari pemilik ponsel.
"Ini orang ke mana sih. Kayak jelangkung saja. Tiba-tiba hilang." Ella masih mencoba menghubungi nomor Egi.
"Aaa... Serius nih." Ella memegang dadanya karena terkejut. Dia menempelkan telinganya di pintu. Mendengar ada bunyi yang aneh dari dalam apartemen.
"Gue yakin, suaranya dari dalam. Apa ya." pikir Ella kembali menempelkan telinganya ke pintu. Berharap dapat mendengarkan sesuatu.
"Aaa..." tubuh Ella terhuyung ke depan saat pintu di buka dari dalam oleh pemilik apartemen.
Beberapa detik pandangan mata Ella dan Egi bertemu. Ella sadar jika penampilan Egi sangat amat berantakan.
Dengan pelan Ella maju ke depan. Memberanikan diri menyentuh tubuh Egi. "Basah." gumam Ella.
Egi hanya diam tidak bereaksi sama sekali. Pandangan matanya tetap terkunci pada sosok perempuan cantik di depannya.
Pandangan Ella beralih ke belakang Egi. Ella hanya melirik sebentar ke arah Egi, lantas melihat kekacauan di apartemen Egi. Sementara Egi masih tetap memandang Ella dengan tatapan sayu.
"Gue datang di waktu yang salah." batin Ella melihat keadaan Egi.
Ingin sekali Ella membalikkan badan dan keluar dari apartemen Egi. Tapi dirinya sudah terlanjur masuk. "Kelihatannya dia sedang dalam masalah." batin Ella.
Karen Ella tidak tahu masalah apa yang bisa menyebabkan seorang Egi yang biasanya terlihat tenang bisa seperti sekarang ini. Sangat kacau.
"Kamu sendiri?" tanya Ella dengan hati-hati.
Pandangan mata Ella mengaksen setiap sudut yang tertangkap matanya. Dirinya takut jika di dalam masih ada orang lain selain Egi. Bisa jadi kekasih Egi. Pikir Ella.
Egi menjawab pertanyaan Ella dengan mengangguk pelan. "Gue,, apa yang harus gue lakuin. Tuhan, kenapa hari ini apes banget gue." batin Ella.
*****
Egi seperti itu juga gara-gara elo Ell...
Meski elo nggak salah. Karena Vano yang memaksa ciuman itu.
Tapi tetap saja. Elo ikut andil.
Tanggung jawab elo El.
*****
__ADS_1
Sesungguhnya manusia akan berubah karena dua hal.
Pikirannya yang terbuka.. atau.. Hatinya yang terluka.