
"Ternyata dugaanku benar. Perusahan orang tua Lyra sedang bermasalah. Dia pikir bisa membodohiku." ucap Tuan Bara tersenyum penuh arti.
"Apa Denis tahu?" tanya Tuan Bara.
"Kelihatannya sudah Tuan." jelasnya.
"Anak itu memang bisa dibanggakan. Sekarang kita santai saja. Kita lihat, apa yang akan dilakukan oleh Denis." ucap Tuan Bara.
"Baik Tuan."
"Bagaimana dengan perempuan bernama Hana?" tanya Tuan Bara.
"Beliau sekarang bekerja di sebuah salon. Dia menolak saat Tuan Haris menawarinya bekerja di perusahaan milik beliau. Bahkan dia juga menolak, saat Nyonya Ane akan membuatkan tempat kecantikan. Di mana Nona Hana yang akan menjadi pemilik sekaligus mengelolanya." jelasnya.
"Ada yang lain?" tanya Tuan Bara.
"Tidak ada Tuan. Dia perempuan baik dan pekerja keras. Selain dengan Tuan Denis, dia belum pernah berhubungan dengan lelaki lain. Dan dia juga dalam perlindungan Tuan Haris. Beliau sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri."
Tuan Bara tersenyum penuh arti. Mengibaskan telapak tangannya. Membuat bawahannya tersenut segera meninggalkan ruangan milik beliau.
Nyonya Monic menemani Lyra di ruang tamu. Menunggu kedatangan Denis. "Sebaiknya kalian segera tidur. Denis tidak akan pulang malam ini." ucap Tuan Bara, meninggalkan keduanya.
"Astaga, kenapa tante lupa. Malam ini Denis menghadiri acara rutin setiap tahun. Yang dihadiri para pebisnis muda." ucap Nyonya Monic, terlihat menyesal saat memandang ke arah Lyra.
Lyra tersenyum. "Tidak apa-apa tante. Namanya juga lupa." ucap Lyra berpura-pura, meskipun sebenarnya hatinya sangat dongkol.
"Kenapa gue nggak tahu soal ini. Sial." umpat Lyra dalam hati. Padahal dirinya bekerja di samping Denis. Tapi memang dari kemarin, dirinya mengajukan libur. Dan Denis dengan senang hati menyetujuinya.
"Ya sudah, tante tinggal dulu ya. Mau menyusul om kamu." Nyonya Monic meninggalkan Lyra yang masih tersenyum sembari memandang ke arahnya.
"Brengsek." umpat Lyra lirih. Sepeninggal Nyonya Monic, Lyra mengeluarkan wajah aslinya.
__ADS_1
"Lagian kenapa nenek-nenek itu bisa lupa. Jika putranya menghadiri acara sepenting itu." kesal Lyra.
Jika Lyra mengetahuinya, pasti dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Pasti dia akan ikut dengan Denis. Dengan begitu, secara tidak langsung, Denis memperkenalkan pada masyarakat umum. Jika dirinya adalah calon Nyonya muda di keluarga Subara.
"Pasti Denis sengaja melakukannya." ucap Lyra, menghempaskan badannya ke sofa empuk di ruang tamu. Raut wajahnya masih terlihat kesal karena hal ini.
"Sia-sia gue nunggu sedari tadi. Tidak berguna. Percuma." Lyra berdiri, tangannya sudah memegang vas bunga. Bersiap melemparkannya.
"Iiiiihhhh." geram Lyra, meletakkan kembali vas tersebut di atas meja dengan kesal.
Lyra mengelus pelan dadanya. "Sabar Lyra, jangan sampai semua yang sudah kamu lakukan sejauh ini terbuang sia-sia. Ingat. Harta. Harta keluarga Subara yang menggunung sudah ada di depan mata. Ingat." tegas Lyra dengan suara lirih.
Tanpa Lyra sadari, ada seorang di balik tembok yang merekam semua sikap dan tingkah Lyra setelah Nyonya Monic meninggalkannya.
"Perempuan sombong dan tamak seperti kamu. Tidak pantas masuk ke dalam keluarga Subara." geram kepala pelayan di rumah Denis.
Beliau tersenyum setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. "Dengan ini, aku harap hati Nyonya Monic terbuka. Lyra tidak seperti apa yang terlihat di hadapannya. Dia sama sekali tidak pantas bersanding dengan Tuan Muda Denis." ucapnya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hana mengangguk. "Iya bu, ini kesempatan terakhir yang akan Hana berikan pada Denis. Jika mamanya Denis tetap tidak bisa menerima Hana. Hana akan mundur dan mencoba ikhlas." ucap Hana ikhlas.
"Benar. Meskipun kalian berdua saling mencintai, jangan lupa. Bahwa restu dari kedua orang tua sangat berarti." jelas Bu Ningsih.
Beliau hanya tidak ingin jika Hana dan Denis menikah tanpa restu dari kedua orang tua Denis. Bu Ningsih tidak bisa membayangkan. Bagaimana kehidupan yang akan dijalani sang putri ke depannya.
"Iya bu, Hana mengerti dan paham. Karena tanpa restu kari mereka, pernikahan kami pasti tidak akan berjalan dengan baik." ucap Hana.
Hana sangat tahu sifat dari Nyonya Monic. Belum menjadi menantunya saja, Nyonya Monic terus menerornya dengan ucapannya lewat pesan tertulis yang menyakitkan hati Hana.
Bagaimana jika Hana dan Denis menikah. Dan itu terjadi tanpa restu dari kedua orang tua Denis. Pasti setelah menikah, Nyonya Monic akan bertambah menyebalkan.
__ADS_1
Dan yang Hana takutkan. Nyonya Monic akan menyerang ibu dan adiknya juga. Meskipun sampai detik ini, keluarga Hana yang lainnya belum mendapatkan ancaman dari Nyonya Monic.
Sebenarnya Hana bisa meminta tolong pada Nyonya Ane. Tapi dia tidak melakukannya. Hana tidak ingin semakin di rendahkan oleh keluarga Denis.
"Apapun keputusan kamu, ibu akan mendukung. Asal, masuk akal. Dan tidak membuat kamu terluka di kemudian hari. Sungguh, ibu tidak akan rido. Jika nanti melihat kamu sengsara dan sakit hati." tutur bu Ningsih.
Hana memeluk sang ibu. "Iya bu, Hana juga mengerti. Lagi pula, Hana tidak bercita-cita untuk hidup dengan tekanan batin." canda Hana.
"Kamu itu." bu Ningsih menepuk pelan pundak Hana.
Bu Ningsih mengurai pelukannya. "Arik sudah menghubungi kamu?" tanya bu Ningsih.
"Sudah, tapi katanya dia tidak jadi pulang besok. Reza mengajaknya untuk langsung meninjau perusahaan Vano di luar negeri." jelas Hana.
"Ibu senang, Arik akhirnya bisa membantu di perusahaan Tuan Vano. Setidaknya dia bisa meringankan beban Reza. Sebelum Non Ella kembali." ucap Bu Ningsih.
Saat hendak tidur, ponsel Hana berbunyi. Sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponselnya. Awalnya Hana tersenyum saat melihat dan membaca siap pengirim pesan tersebut.
Denis tidak hanya mengiriminya pesan tertulis. Tapi juga mengiriminya beberapa foto. Dimana dirinya sedang berada di pertemuan tersebut.
Duduk sendiri. Berteman dengan makanan dan segelas minuman berwarna merah. Kemudian Denis juga mengiriminya foto Viki bersama seorang perempuan.
Bukan foto Viki dengan seorang perempuan yang membuat Hana tertawa. Melainkan tulisan dari Denis, untuk melengkapi foto tersebut.
TEBAK.. BAGAIMANA REAKSI SANG PEREMPUAN.. SAAT DIA TAHU, ***** VIKI TIDAK BISA BERDIRI MESKI DIA TELANJANG.
Hana menggelengkan kepalanya dan tertawa saat membaca pesan dari Denis. Karena memang keduanya belum mengetahui, jika sahabat mereka sudah lurus.
Hana meletakkan kembali ponselnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tapi, lagi-lagi ponsel miliknya berbunyi.
Tanpa bangun dari tidurnya, tangan Hana meraih ponsel yang sudah dia letakkan di atas meja dekat tempat tidurnya.
__ADS_1
"Pasti Denis lagi." gumam Hana menyalakan ponselnya.
Senyum yang sempat terukir sempurna seketika lenyap, saat melihat siapa yang sudah mengiriminya pesan tertulis. Kening Hana mengerut membaca pesan tersebut.