
"Menurut papa kenapa keluarga Tuan Danto datang menemui kita?" tanya Nyonya Ane.
"Bagaiman papa bisa tahu ma."
"Papa. Tebak saja. Susah sekali."
"Memang kita sedang bermain. Kenapa harus di tebak."
"Pa. Mama serius."
Tuan Haris melepaskan kaca mata yang bertenger di pangkal hidungnya. Di letakkannya koran yang sempat beliau baca. "Kalau menurut mama, bagaimana?" tanyanya.
"Ck papa. Sukanya main lempar." ucap Nyonya Ane kesal.
"Kelihatannya mereka ingin membicarakan masalah Vano dan Ella."
"Memang mereka punya masalah ma?" tanya Tuan Haris, mencoba menggoda istrinya.
"Oke. Ralat. Hubungan Vano dan Ella." seru Nyonya Ane dengan kesal dan mata melotot.
"Papa juga berpikir ke arah itu ma. Tapi, mungkin karena tadi ada Nyonya Tiwi dan putranya. Kelihatannya mereka mengurungkan niatnya."
"Nyonya Tiwi dan putranya. Egi... iyakan pa, namanya Egi. Kelihatannya dia juga tertarik dengan Ella." tebak Nyonya Ane.
"Iya, papa juga melihatnya. Lagi pula tidak heran jika banyak yang suka sama anak kita ma."
"Iya lah pa, Ella kan cantik. Model lagi." ucap Nyonya Ane bangga pada sang putri semata wayangnya.
"Semua itu tergantung dari yang mencetak ma."
"Maksud papa?"
"Yang mencetak. Lihat saja. Bagaimana anaknya tidak menuruni gen nya." ucap Tuan Haris membetulkan duduknya dan kerah pakaiannya.
"Memang benar papa yang mencetak. Mama akui itu. Seribu persen. Tapi papa juga jangan lupa. Lihat juga tempat cetakannya." ujar Nyonya Ane tidak mau kalah.
"Dasar perempuan, tidak mau kalah." gumam Tuan Haris.
Mencetak. Cetakan. Mereka pikir Ella di buat seperti membuat batu bata. 😅😅
Maaf ya, soalnya author belum pernah mencetak.
Mencetak batu bata maksudnya. 😜😜
Hana yang hendak menuju dapur menghentikan langkahnya mendengar percakapan kedua orang tua Ella. Sebenarnya tidak ada niatan dari Hana untuk menguping pembicaraan dari kedua orang yang sudah menganggapnya seperti anak mereka.
Hana memang sudah di anggap seperti anak sendiri oleh kedua orang tua Ella. Tapi Hana tetap menjaga jarak dan pandai menempatkan diri. Dirinya sadar diri, siapa dirinya, dan siapa keluarga Ella.
Meski keluarga Ella memperlakukan Hana dengan baik, Hana selalu ingat perkataan sang ibu.
Hormati mereka, sayangi mereka. Tapi kamu juga harus tahu batasan. Jangan sampai kamu menggunakan kepercayaan yang mereka berikan pada kamu secara sembarangan. Dan jangan sampai mengecewakan keluarga Tuan Haris.
"Kemana Ella ma?"
"Tadi mama telpon, katanya di rumah teman." jawab Nyonya Ane.
Tuan Haris menyandarkan bahunya di kursi. "Sebenarnya, papa masih ragu dengan Vano ma." ucap Tuan Haris.
"Mama juga. Apalagi setelah orang suruhan papa menceritakan semuanya. Rasanya berat melepaskan putri kita satu-satunya pada lelaki seperti dia." ucap Nyonya Ane.
"Lebih baik gue balik ke kamar. Minumnya nanti saja. Nggak enak jika nanti malah ketahuan. Menguping. Mencuri dengar pembicaraan mereka. Gue akan mau terlihat lancang di mata mereka. Nggak. Gue nggak mau mereka berpikir macam-macam." batin Hana memutuskan untuk kembali ke dalam kamar.
Tapi terlambat Hana,,, 😁😁
Nyonya Ane melihat sekelebat tubuh Hana. "Han." seru Nyonya Ane memanggil dirinya.
__ADS_1
"Mampus. Gue kayak anak ayam kecebur air. Tolong siapapun, bantu angkat gue." batin Hana.
Dengan senyum yang di paksakan dan langkah yang sangat berat, Hana menghampiri keduanya.
"Maaf pa, ma. Sumpah. Hana nggak ada niat menguping sama sekali. Tadi Hana haus, terus Hana ingin ke dapur. Dan nggak sengaja mendengar pembicaraan mama sama papa. Benar." jelas Hana.
Pasti ada perasaan takut di hati Hana. Dia tidak ingin keluarga Ella berburuk sangka padanya. Apalagi selama ini mereka sudah sangat baik padanya, bahkan pada ibu dan adiknya juga.
Nyonya Ane menepuk kursi di sebelahnya. "Sini duduk." ucapnya.
Dengan gelisah Hana mengikuti arahan Nyonya Ane. "Bagaiman lukamu. Apa masih sakit?" tangan Nyonya Ane terulur membelai rambut Hana.
Hana masih terdiam. Ada rasa bingung di pikirannya. Mengapa tiba-tiba Nyonya Ane menanyakan luka yang ada pada tubuhnya.
"Kenapa diam?" tanya Nyonya Ane lagi.
Hana tersenyum simpul. "Sudah baikan ma. Rencananya besok Hana ingin pulang." ucap Hana.
"Tunggu sampai benar-benar sembuh." kata Tuan Haris.
"Iya benar, nanti malah berbahaya jika belum sembuh benar. Apalagi kalau ibu kamu sampai tahu." imbuh Nyonya Ane.
"Baik."
"Bagaimana kuliah adikmu Han?" tanya Tuan Haris.
"Baik pa. Sebentar lagi mau wisuda pa." jelas Hana.
"Baguslah. Nanti Arik bisa kerja di perusahaan papa. Biar lebih enak. Nggak bingung cari kerja." kata Nyonya Ane.
"Kalau papa terserah Arik. Kalau dianya mau. Papa akan suruh dia mengikuti tes lebih dulu."
"Tes. Tapi pa.."
"Benar ma, Hana setuju dengan papa." ucap Hana.
Hana sependapat dengan Tuan Haris, karena pasti Arik akan mendapat perlakuan tidak mengenakkan jika karyawan tahu bahwa Arik bekerja di perusahaan karena kebaikan dari Tuan Haris.
"Sayang, mama mau tanya." Nyonya Ane memegang kedua telapak tangan Hana.
"Perasaan ku jadi sedikit aneh." batin Hana.
"Apa ma?"
"Ella dan Vano."
"Benarkan. Kenapa nanya soal mereka ke gue sih. Waduh, malah nanti salah jawab. Gimana nih. Ell elo ke mana. Pulang dong. Gue nggak mungkin bohong sama orang tua elo." batin Hana.
Ternyata benar dugaan Hana. Pasti kedua orang tua Ella akan bertanya padanya. Karena setahu mereka, Hana adalah orang yang paling dekat dengan Ella selain mereka.
Dan Hana, di hadapan kedua orang tua Ella. Dia seakan takut untuk berbohong. Tapi dia juga merasa tidak bisa menceritakan semuanya.
*****
Bunyi bel dari apartemen Egi menyadarkan Ella akan kegilaan yang baru saja dia lakukan. Menikmati kecupan di dahinya, oleh bibir basah dan kenyal dari lelaki tampan di hadapannya.
Ella membuka matanya yang sempat terpejam. Dan segera memundurkan duduknya. Begitu pun dengan Egi yang sudah bersiap untuk mencium bibir Ella, sedikit terkejut dan menjauh dari tempat duduk Ella.
Sementara, bel apartemen Egi masih terdengar. Menandakan orang yang hendak bertamu ke tempatnya masih berada di luar apartemen.
Seolah tidak mendengarkan bunyi apapun. Keduanya masih sibuk menguasai keadaan masing-masing. Menetralkan detak jantung dan deru nafas.
Terjadi kecanggungan di antara keduanya. Ella berpura-pura merapikan rambutnya yang panjang, indah terurai. Padahal rambut Ella masih rapi.
Egi yang bingung, segera berdiri dan mengambil air minum. Seketika tenggorokannya menjadi kering. Seperti gurun pasir yang tandus. Karena tidak teraliri air. Sama sekali.
__ADS_1
"Huftt. Benar-benar." Egi membuka kulkas dan meminum sebotol air minum sampai tandas.
Egi menutup kembali pintu kulkas dan bersandar di kulkas tersebut. Dirinya tersenyum-senyum sendiri. Jari jemarinya memegang pelan pada bibirnya. Teringat betapa berani dirinya mengecup dahi Ella.
"Padahal sedikit lagi. Sial, siapa yang membunyikan bel." gumam Egi merasa kesal dengan orang tersebut.
Egi tersadar jika tadi ada yang membunyikan bel apartemennya. "****." segera Egi melangkahkan kakinya.
"Ada tamu." ucap Ella sedikit gugup dan malu ketika Egi sudah berada di dekatnya.
"Iya. Kenapa?" Egi melihat pipi Ella tampak memerah.
"Anu,,, itu,,, gue, eh, saya, maksudnya, aku.. aku haus. Iya haus." ucap Ella spontan. Karena dirinya tidak tahu harus berbicara apa. Dan tatapan Ella mengarah ke tangan Egi yang memegang botol minum.
Egi tersenyum kaku saat menyadari dirinya masih memegang botol air yang sudah kosong, karena sudah dia minum tadi sewaktu di belakang.
"Sebentar." Egi segera berlari ke belakang lagi dan mengambilkan air minum untuk Ella.
Egi segera menyerahkan sebotol air minum dingin pada Ella. "Ini." ucapnya.
Ella mengambilnya. "Makasih." segera Ella meminumnya. Sama seperti Egi. Ella juga meminumnya sampai tidak tersisa setetes pun air di dalamnya.
Ting tong.....
(anggap saja bunyi bel apartemen Egi 🤭)
Egi masih berdiri di depan Ella dan memandang ke arah perempuan tersebut.
"Ada tamu." ucap Ella lirih dengan tangan menutup kembali botol minum yang sudah kosong.
"Hah, iya." Egi segera berlari ke pintu.
Mengintip dari lubang kecil di tengah pintu. Memastikan siapa yang hendak bertamu ke apartemennya. Tamu yang sudah membuyarkan semuanya.
"Astaga." ucap Egi setelah tahu siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya.
*****
Hana...oh Hana....
Kira-kira, apa yang akan Hana lakukan.
- pura-pura pingsan
- kebelet mau kebelakang
- lupa, pikun dong
- ………(teman-teman ada yang punya ide, isi di sini 😁)
Bantuin Hana..... Kasihan tuh si Hana.
Dan kamu. Iya kamu 😠
Kenapa datang ke apartemen Egi di waktu yang sangat sangat salah. Bikin author bete saja.
Sebenarnya siapa kamu.
Mungkin di sini teman-teman tahu.
Siapa yang datang ke apartemen Egi.
Kasih tahu author. Biar author pencet hidungnya 😠
Pengganggu....!!
__ADS_1