
Ella memandang satu persatu beberapa bawahannya yang tengah berdiri di depannya. Tak lama kemudian, ada beberapa bawahan Ella yang datang. Mereka juga tinggal di rumah paman Haki.
"Kalian semua tinggal di rumah paman Haki?" tanya Ella sambil duduk. Dengan Vano berdiri, menyenderkan badannya di tembok tepat belakang Ella.
Mata Vano juga selalu mengawasi pergerakan mereka. Vano takut jika penghianatnya ada di antara mereka. Bahkan tangan Vano masih memegang pistol. Yang siap kapan saja melesatkan bubuk mesiu dari dalamnya.
"Benar Nona." jawab mereka serempak. Tiga orang berpakaian misterius dengan penutup kepala, bahkan matanya juga tertutup dengan kacamata hitam masuk ke ruangan tempat Ella berada.
Sontak semuanya menoleh. Termasuk Vano. Dirinya juga penasaran dengan identitas tiga orang yang baru saja masuk. Bahkan tidak ada yang tahu mereka perempuan atau lelaki. Tangan mereka bahkan terbungkus sarung tangan yang tebal.
Ella hanya diam di tempat duduknya. Memandang ke arah mereka. Salah satu dari mereka mendekat. Membisikkan sesuatu pada Ella.
Seketika Ella berdiri. "Kenapa sampai gue nggak tahu." Ella memandang tajam ke arah orang tersebut. Dan dia hanya mundur satu langkah. Menundukkan kepala. Vano juga ikut siaga melihat Ella berdiri dari duduknya.
"Jangan pernah bermain-main dengan saya." Ella menodongkan pistolnya tepat di jantung orang tersebut. Tapi dia hanya diam dan menunduk.
Tiga orang dengan pakaian serba tertutup, mereka adalah tangan kanan Ella. Mereka mengatur keuangan dalam organisasi, hingga keamanan, dan juga kesehatan (dokter ).
Dorr,,, dorr,,, dorr Ella menembak tiga bawahannya yang tinggal di rumah paman Haki, tepat di salah satu kaki mereka.
Menurut laporan, tiga bawahan beserta satu yang di tembak Ella sebelum ke markas, mereka berempat menerima uang dalam jumlah besar dari luar.
Meskipun uang tersebut masuk ke dalam rekening yang baru mereka buat, namun tangan kanan Ella dapat mengetahuinya, dengan mudah.
Padahal Ella baru beberapa jam menghubungi, dan dia sudah dapat menemukan pengkhianatnya. Hebat bukan. Yapz,,, karena harus orang dengan kemampuan terbaik yang akan bekerja di bawah Ella.
Jika Ella mengetahui bawahannya tidak cakap dalam pekerjaan, saat itu juga mereka akan langsung di singkirkan. Tak ada tempat untuk orang tidak berotak di dalam organisasi Ella.
Pasti kalian bertanya-tanya, dari mana Ella mendapatkan uang untuk menjalankan organisasinya. Bahkan memberi uang untuk kehidupan seluruh bawahannya.
Ella meneruskan usaha ilegal milik Tuan Haris. Dan sekarang, usaha bisnis ilegal yang Ella jalankan sudah merambah ke berbagai bidang. Tentunya, Tuan Haris tidak mengetahuinya. Juga Vano, dia tidak mengetahuinya.
Ella terlalu pandai menyimpan rapat-rapat apa yang sudah dia pegang dalam genggamannya. Bahkan sekarang, bawahan Tuan Haris harus tunduk pada Ella. Karena dirinyalah yang mengambil alih kursi tertinggi di organisasi.
__ADS_1
Jika tidak, mereka harus hengkang dari organisasi. Hengkang dari organisasi berarti juga mati, karena mereka pasti akan menjadi sasaran musuh.
Tidak lama Reza datang dengan barang bukti baru. "Ini Nyonya, rekamannya sempat ada yang hilang beberapa menit. Tapi tenang saja, semua sudah bisa saya atasi." jelas Reza menyerahkan benda kecil pada Ella.
Salah satu tangan kanan Ella yang memakai pakaian serba tertutup mendekat pada Ella, menyerahkan selembar kertas pada Ella. Diremasnya kertas tersebut. "Van, bisa minta tolong." Ella menatap ke arah sang suami.
"Apapun." ucap Vano dengan lembut.
"Kirim anak buahmu untuk berjaga di sekitar markas ku. Bisa." ujar Ella.
Vano memandang Reza. Dengan cepat, Reza melaksanakan apa yang di katakan oleh istri dari Tuannya. "Tuan, sepertinya jika anda berbuat sedikit kesalahan. Pasti anda akan tersingkir dengan cepat. Kekuatan Nyonya tidak bisa di remehkan." batin Reza saat dirinya keluar dari markas milik Ella.
"Lakukan tugas kalian." suruh Ella pada ketiga orang yang berpakaian tertutup. Ella memberikan barang kecil dari tangan Reza pada salah satu dari mereka.
Ketiganya mengambil ponsel dari saku mereka. Tidak lama, ada lagi beberapa orang yang datang. Pakaian mereka sama seperti mereka. Tertutup dari atas hingga bawah.
Tapi kali ini pakaian mereka berwarna navy. Dengan sebuah tas di tenteng di kanan kiri tangan mereka.
"Kalian semua, ikuti setiap perkataan mereka!!" seru Ella, memerintahkan pada para bawahannya.
Keempat pengkhianat dibawa ke ruangan yang berbeda, entah apa yang akan di lalui oleh keempatnya. Hanya Ella yang tahu, karena hanya dia yang akan memutuskannya.
Ella dan Vano masuk ke dalam ruangan. Dimana ruangan tersebut adalah kamar untuk Ella saat dirinya berada di sini.
"Apa yang sebenarnya terjadi sayang?" tanya Vano sembari membantu Ella melepaskan jaket yang melekat pada tubuh sang istri.
"Apa Reza dan anak buahmu sudah berjaga di sekitar sini?" bukannya menjawab pertanyaan Vano, Ella malah balik bertanya pada suaminya. Memastikan markas dalam keadaan aman.
"Sudah." Vano mengikat rambut Ella menjadi satu.
"Astaga Ell." Vano melihat ada beberapa luka goresan dan lebam pada lengan milik Ella, dan juga leher.
Ella membuka almari kecil di pojokan kamar. Mengeluarkan kaos besar dan panjang dari dalamnya. Lebih seperti daster, saat kaos itu di kenakan pada tubuh Ella.
__ADS_1
"Sebentar Van, aku mau ganti baju dulu." ucap Ella.
"Ganti baju ya tinggal ganti." ucap Vano tersenyum.
Ella cemberut. "Aku tidak akan meminta jatah sekarang. Kamu pikir aku suami macam apa, mana tega aku menyentuhmu. Lihat saja keadaan tubuhmu." oceh Vano.
"Barang kali." celetuk Ella mulai menanggalkan kaos yang dia pakai dengan hati-hati, lantaran tangannya sedikit ngilu karena terbentur aspal.
Pengg,,,,,, Vano segera mengalihkan pandangannya. Niat ingin membantu sang istri melepas pakaian sirna seketika. Kepalanya seperti terbakar melihat dua buah gundukan di dada Ella. Seakan keduanya melambai ingin di sentuh dan di beri rasa nikmat.
Ella tersenyum samar melihat Vano mengalihkan pandangannya. "Cupu. Katanya tidak tergoda. Mana ada." sindir Ella.
"Cepat pakai Ell, jangan menyiksaku." geram Vano. Dimana sang istri malah seakan membiarkan dadanya yang hanya terbungkus bra lebih lama terpampang. Ella malah mendahulukan melepas celana yang ia pakai.
"Ell,,, cepat. Lihat pipimu. Semakin memerah." tegur Vano.
"Iya Tuan." jawab Ela.
"Selesai." ucap Ella setelah dirinya memakai kaos kebesaran tersebut.
"Masuk." teriak Ella. Masuklah seseorang dengan memakai pakaian tertutup yang berwarna navy ke kamar Ella, membawa tas kecil di tangannya.
Ella duduk di tepi ranjang. "Tunggu." seru Vano saat orang tersebut hendak menyentuh tangan Ella. Membuat dia berdiri dan mundur beberapa langkah.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Vano.
"Van, dia mau mengobati ku. Lebih baik kamu minggir dulu. Biarkan dia menyelesaikan tugasnya." jelas Ella.
"Tidak bisa Ell. Kita tidak tahu siapa dia" ujar Vano memandang sinis pada orang tersebut.
Astaga Vano, jika Ella tidak tahu siapa dia. Mana mungkin Ella menyuruhnya untuk memeriksa luka dan mengobati dirinya.
"Biar aku panggil dokter milikku. Dia pasti lebih hebat." kekeh Vano masih memandang tajam ke arah orang yang sedang berdiri di samping Ella.
__ADS_1
"Van, sudah ada dia. Dia orangku." ujar Ella.
"Tidak sayang. Akan aku panggilkan dokter perempuan ke sini." lagi-lagi Vano memandang tajam ke arah bawahan Ella yang tidak dia ketahui identitasnya.