DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM 71


__ADS_3

"Apa kamu terluka?" tanya Vano setelah berada di samping Ella.


Terlihat jelas raut wajah khawatir dari Vano saat bertanya pada Ella. "Syukurlah." Vano membawa Ella ke dalam pelukannya.


Ternyata tangan Reza yang sudah mencekal lengan dari Deon.


"Terluka. Lihat saja, dia begitu hebat. Hingga ujung rambutku saja tak berhasil di sentuhnya." ejek Ella dalam pelukan Vano, dengan pandangan mengarah ke Deon. Ella melepaskan pelukan dari Vano.


"Lepas babu brengsek." seru Deon.


"Dengan senang hati Tuan." Reza melepas cekalan tangannya di tambah dengan tendangan tepat di perut Deon. Membuat Deon meringis merasakan sakit.


Vano menatap sinis pada Deon. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku. Sementara Ella berada di samping Vano.


"Ini masalah saya Tuan. Biarkan saya yang menanganinya." Reza melepas jas yang melekat di tubuhnya.


Reza masih mengingat kenapa Vano menghancurkan perusahaan Deon. Itu semua karena dirinya. Karena Vano tidak tahan Deon selalu mengejek Reza dengan kalimat pedas yang keluar dari mulut Deon.


"Uhh." gumam Ella saat melihat Reza melepas jasnya. Vano terdiam dan melirik ke arah Ella.


"Anda hanya perlu melihat saja. Dia hanya seekor anak kucing." Reza menyingkap kemeja di lengannya. Dan membuka satu kancing baju bagian atas.


"Keren juga." gumam Ella terdengar oleh Vano.


Vano masih terdiam dan kembali melirik ke arah Ella. Tapi Ella tidak mempedulikannya. Ella masih menatap ke arah Reza.


Deon tertawa mendengar kalimat yang keluar dari mulut Reza. "Anjing penjaga seperti mu bisa apa." ejeknya.


"Babu. Cuih." imbuhnya dengan meludah ke samping.


Reza mengangkat tangan dan menggerakkan ke empat jarinya. Menyuruh Deon untuk menyerang dirinya.


"Babu." teriak Deon seraya menyerang Reza.


Awalnya Reza melakukan hal yang sama dengan Ella. Selalu menghindar dan menepis setiap serangan dari Deon. Hingga Deon terlihat kelelahan karena serangannya yang tidak teratur dan membabi buta karena sudah di kuasai amarah.


Saat itulah dengan mudah Reza menyerang Deon. Hanya perlu satu serangan, dan Deon sudah terkapar di atas aspal.


"Keren." seri Ella lirih.


Vano yang tidak tahan melihat dan mendengar Ella selalu memuji Reza langsung menarik lengan Ella. "Bawa dia ke markas. Biarkan dia tetap hidup, sampai aku sendiri yang akan menghentikan nafasnya." ucap Vano.


"Lepas." Ella menepis tangan Vano.


Vano tahu akan sulit membawa Ella. Dengan sekali gerakan, Vano mengangkat tubuh Ella layaknya karung yang di taruh di pundaknya.


"Wooooeeee. Apa-apaan ini." teriak Ella dengan tangan memukul bahu Vano. Tapi Vano menghiraukannya.


"Masuk" Vano menurunkan Ella di samping pintu mobil dan menyuruh Ella masuk ke dalam.


"Nggak." kekeh Ella.

__ADS_1


Tubuh Ella di dorong Vano ke dalam mobil. Kemudian Vano pun masuk dan duduk di depan kemudi.


"Pakai sabuk pengaman mu Ell." ucap Vano dengan lembut.


Ella malah membuang muka ke samping. Tangannya bersedekap di depan badannya. Mengacuhkan perkataan Vano.


"Sabar Vano. Sabar." batin Vano.


Vano mendekat ke arah Ella dan memakaikan sabuk pengaman di tubuh Ella. Tapi dia tidak lekas menarik badannya kembali.


Tangannya terulur membelai kepala Ella. "Aku kangen kamu sayang. Sangat." ucapnya lirih sambil menghirup aroma wangi sampo di rambut Ella.


"Kenapa denganku." batin Ella menoleh ke arah Vano.


"Ada apa sayang." ucap Vano dengan lembut.


Tanpa mengucapkan sepatah kalimat, Ella kembali mengalihkan pandangannya. Vano mencium singkat pipi Ella dan mulai menjalankan mobilnya.


Ella menyandarkan badannya di jok mobil. Matanya terpejam. "Kenapa tidak ada desiran apapun di hatiku. Tapi, aku merasa nyaman. Ada apa ini." batin Ella masih memejamkan kedua matanya.


"Apa kamu lelah Ell. Beristirahatlah. Akan aku bangunkan jika sudah sampai." Vano meraih tangan Ella dan menciumnya.


Ella membuka bola matanya, menarik tangannya dari genggaman Vano. "Hanya perasaan nyaman. Tapi tidak ada desiran apapun di hatiku. Sebenarnya, ada apa denganku." batin Ella merasa bingung.


Suasana hening selama perjalan. Hanya beberapa kali Vano bertanya pada Ella, dan Ella menjawab seperlunya saja..


Tepat di depan rumah Tuan Haris, Vano menghentikan mobilnya. Dia segera keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Ella.


"Salam untuk kedua orang tua kamu Ell. Maaf, aku ada urusan. Tidak bisa mampir. Lain kali pasti aku akan datang ke rumahmu." Vano mencium dahi Ella.


Lagi-lagi perlakuan hangat dari Vano membuat Ella merasa bingung sendiri. "Aku pamit Ell. Kamu masuk ke dalam sana." ucap Vano.


Ella melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya. Tangan Ella memegang pagar besi di depannya, tapi Ella berhenti sesaat dan menoleh ke belakang.


Mendapati Vano masih berdiri di samping mobilnya dan memandang ke arah dirinya dengan senyum manis di bibirnya.


"Hati-hati." ucap Ella. Vano mengangguk dan tersenyum. Hanya sepenggal kalimat yang keluar dari mulur Ella, sudah membuat Vano merasa senang.


"Silahkan Non." ucap satpam rumah sembari membuka pintu pagar dari dalam.


Sampai teras rumah, Ella kembali membalikkan badan. Memastikan keberadaan Vano. Ternyata mobil Vano baru saja melaju meninggalkan depan rumahnya.


Ella masuk ke dalam ruamh dengan berbagai macam pikiran karena kelakuan Vano.


Vano, selama ini tidak pernah membukakan pintu mobil untuk Ella. Biasanya setelah mengantar Ella, Vano akan langsung pergi meninggalkan Ella.


Tapi kali ini, Vano membukakan pintu mobil untuk Ella. Menunggu Ella memasuki rumah, barulah dia melajukan mobilnya kembali.


Dan juga beberapa hari ini, Vano selalu bersikap lembut terhadap Ella.


"Sayang,, Ell." tegur Nyonya Ane mendapati putrinya berjalan dengan pelan tetapi seperti sedang melamun.

__ADS_1


"Ada apa sayang?" tanya sang mama khawatir.


"Bisa Ella berbicara dengan mama." pinta Ella.


"Baiklah. Tapi sekarang kamu bersihkan badan kamu. Lihat. Kotor." sang mama menyentuh pakaian Ella.


"Kita bicara setelah makan malam. Supaya lebih enak. Sana, kamu bersihkan badan dulu. Mama mau kebelakang, bantu mbok siapkan makan malam."


"Iya ma."


"Ada apa dengan kamu nak." gumam Nyonya Ane memandang Ella yang tengah berjalan menaiki anak tangga.


"Semoga semuanya baik-baik saja." imbuhnya.


Dengan kecepatan tinggi Vano melajukan mobilnya menuju ke markas. Rasanya Vano sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Deon.


"Bos, Tuan sudah datang." ucap seseorang yang baru saja mendekat pada Reza.


"Tuan." ucap semuanya sembari sedikit menundukkan kepala.


Deon yang sudah terkapar di lantai dengan nafas tersengal menatap penuh benci pada Vano.


Vano melepas kancing jasnya dan mendekat ke arah Deon. Berjongkok untuk lebih dekat dengan musuhnya tersebut.


"Aaaa,,, emmmm...." tangan Vano berada di leher Deon.


"Manusia bodoh seperti dirimu memang selayaknya di lenyapkan." desis Vano melepaskan tangannya dari leher Deon.


Ingin rasanya Deon menyerang Vano. Tapi sekarang, bergerak saja dia sudah tak mampu. Jika menyesal, semua sudah terlambat.


Vano mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku jasnya. "Kau tahu. Sudah lama aku tidak memakainya." Vano memainkan pisau dengan lihai di tangannya.


"Dudukkan dia di kursi." perintah Vano pada anak buahnya.


Tangan kanan Vano mencengkeram dan menarik rambut Deon ke belakang. Dan satunya lagi memainkan pisau di wajah Deon.


"Lepaskan aku." lirih Deon.


"Apa. Ulangi." pinta Vano.


"Lepaskan aku." ulangnya meminta permohonan pada Vano.


"Lepas." Vano tersenyum menakutkan.


"Dengan senang hati. Akan kulepaskan nyawamu dari tubuhmu ini."


"Aaaaa...." teriak Deon dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya saat pisau Vano menancap di salah satu mata Deon.


"Karena mata itu sudah melihat dengan tatapan menjijikkan pada wanita milik Vano." Vano mendorong Deon ke lantai. Mengusap darah di pisaunya dengan sapu tangan yang baru saja di berikan anak buahnya.


Deon menggerang kesakitan. Saat ini dirinya sudah tidak memiliki kemampuan apapun. Jika tadi dia masih sanggup berbicara, meski lirih. Sekarang, nafasnya pun sudah hampir habis.

__ADS_1


"Urus sisanya. Pasti binatang buas di hutan akan menyukai dagingnya." ucap Vano meninggalkan markas di susul Reza mengikuti di belakangnya.


__ADS_2