
Klekk,,,, indra pendengaran Ella menangkap ada yang sedang membuka pintu kamar. Sementara indra penciumannya mengendus wangi yang sangat familiar.
Bukannya bangun dan menyambut kedatangan Vano, Ella malah meneruskan tidurnya. Matanya masih berat untuk di buka. Rasa kantuk masih menghinggapinya. Karena Ella baru bisa benar-benar memejamkan mata sekitar jam empat subuh.
Pandangan mata Vano melihat ke arah meja. Makanan dan minuman yang masih utuh. Menandakan penghuni kamar belum menyentuhnya sama sekali.
Dengan pelan Vano duduk di tepi ranjang. Dengan penampilan yang benar-benar kacau. Vano meletakkan jas yang sedari tadi dia pegang. "Maaf."
Vano mengelus lembut pipi sang istri. "Kamu pasti sangat capek." ujar Vano yang melihat Ella masih pulas dalam tidurnya dan tidak terganggu dengan kehadirannya sedikitpun.
Vano mencium pelan pipi Ella. "Kamu begitu harum sayang. Seperti habis mandi saja." Vano terkekeh sendiri.
"Seandainya tadi malam aku berada disini, pasti sekarang kulitmu tidak akan semulus ini." Vano tersenyum dan mengecup lengan Ella.
Vano berjalan ke dalam kamar mandi dan membersihkan badan. Hanya dengan memakai boxer, Vano merebahkan diri di samping sang istri.
Tidak lama terdengar dengkuran halus dari Vano. Terlihat Vano begitu lelah. Entah apa yang terjadi di rumah sakit. Sehingga Vano terlihat begitu lelah. Bahkan pulang saat matahari sudah menampakkan sinarnya.
Beberapa jam kemudian Ella merasakan lapar pada perutnya. Memaksanya untuk membuka mata. Ella hanya memandang ke arah Vano tanpa ekspresi.
Bangun dengan pelan. Seolah takut membangunkan suaminya. Ella masuk ke dalam kamar mandi. Bukan untuk mandi, hanya mencuci muka dan menyikat gigi.
Tanpa make-up di wajahnya, Ella keluar dari kamar hotel dengan menggunakan jaket dan topi. Mungkin karena Ella sudah sangat merasakan lapar. Karena semalam Ella tidak makan sama sekali. Hanya minum air mineral beberapa teguk.
Dengan santai, Ella menuju restoran yang memang masih berada di hotel milik papanya. "Ini Non pesanannya." ucap seorang pelayang menaruh makanan yang sudah Ella lesan di atas meja.
Dengan lahap Ella memakan makanan yang tersaji di depannya. "Gila, apa semalam tenaga elo cukup terkuras." celetuk seseorang yang tiba-tiba duduk di kursi depan Ella.
Ella mendongakkan kepala. "Ngapain elo masih di sini?" tanya Ella sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Elo mau pamer jika elo pengantin." Viki melihat Ella masih menggunakan baju tidur setelan berbahan satin sedikit tebal.
"Yang terpenting gue nggak pakai lingeri."
"Gue lihat tadi suami elo baru masuk hotel. Penampilannya sungguh memalukan. Kacau. Dari mana dia." tanya Viki yang memang semalam dia menginap di salah satu kamar di hotel ini.
Dan tentunya gratis. Karena Viki meminta langsung pada Tuan Haris.
"Rumah sakit."
"Siapa yang sakit?"
"Oma Yeti."
"Beneran?"
"Tahu. Gue nggak ikut. Malas banget."
__ADS_1
"Dasar, elo sekarang cucunya. Ingat. Dosa elo."
"Lebih dosa lagi kalau gue ikut. Nanti dia marah lihat gue, terus anval." jawab Ella sambil meletakkan sendok di piringnya.
"Gila. Astaga. Elo benar-benar kelaparan. Semalam kan elo nggak di sentuh." celetuk Viki melihat piring Ella bersih, tak tersisa sedikitpun makanan di atasnya. Hingga air minumnya pun tandas. Masuk semua ke kerongkongan Ella.
"Awwww." seru Viki mendapat toyoran dari Ella.
"Gue tu bersyukur. Makanya gue nggak buang-buang makanan."
"Bilang aja laper."
"Kenapa?" tanya Viki melihat Ella malah melamun.
"Mau ngapain lagi ya." ucap Ella seperti sedang berpikir.
"Vano mana?"
"Tidur."
"Ya sudah, elo susul aja suami elo."
"Gue sudah nggak ngantuk."
Viki tertawa melihat Ella. "Kenapa elo, gila." celetuk Ella.
Ella malah berdiri dan meninggalkan Ella. "Lepas." Ella menyisihkan tangan Viki yang merangkul pundaknya.
Bukannya melepaskan rangkulan Ella, Viki malah berjalan di belakang Ella dan memegang kedua pundak Ella. Seperti anak kecil sedang bermain ular naga.
"Apa sih Vikkkk..." seru Ella saat Viki menghentikan langkahnya dengan menarik kedua pundak Ella ke belakang.
"Elo mau ke mana?" tanya Viki. Ella mengangkat kedua bahunya tanpa dirinya juga tidak tahu.
"Ckkkk." Viki menggenggam tangan Ella dan membawanya ke taman belakang yang ada di hotel.
"Non Ella, Viki." gumam Reza yang tanpa sengaja melihat mereka berdua berjalan bergandengan tangan.
"Kemana Tuan." batinnya.
Reza melihat sekeliling. Dan ternyata lorong tersebut sangat sepi. Reza bernafas lega. Setidaknya tidak ada yang melihat istri tuannya bergandengan tangan dengan sahabatnya.
Reza sudah mengetahui jika Viki penyuka sesama. Tapi tidak dengan orang lain. Pasti mereka akan menggunjing Ella jika mereka melihatnya.
Di dalam kamar, Vano menggerakkan tangannya. Mencoba mencari keberadaan istrinya yang tadi tidur di sampingnya.
"Ell,, sayang." seru Vano tak mendapati sosok Ella di sampingnya. Di lihatnya kamar mandi yang hening. Tidak ada suara gemericik dari dalamnya.
__ADS_1
Vano menyibakkan selimut di badannya. Mencoba mencari Ella, mantan kekasihnya yang semalam telah resmi menjadi istrinya.
Vano mengambil ponselnya yang tengah di colokkan ke cas. Niat ingin menghubungi sang istri. Namun terurungkan karena melihat ponsel Ella tergeletak di atas nakas.
Vano mengambil ponsel Ella dan melihatnya. Ternyata ponsel Ella mati. "Apa sudah mati dari semalam. Pantas saja." batin Vano, mengira bahwa ponsel milik Ella telah mati sejak malam tadi.
Vano menuju ke kamar mandi. Membersihkan badan. Diambilnya ponsel miliknya yang sudah terisi baterai penuh. "Kemana kamu sayang. Sejak tadi malam bahkan kita belum berbicara sepatah katapun." ucap Vano.
Vano berniat mencari Ella di sekitar hotel. Dirinya yakin jika Ella masih berada di sekitar hotel. "Vano." panggil seorang perempuan mendekat kepadanya.
Vano menoleh ke arah sumber suara. "Di mana Ella?" tanyanya membuat Hana bingung.
Hana menggelengkan kepala. "Bukankah seharusnya Ella bersama denganmu?" tanya Hana.
"Ckk,,, Aku bertanya, kenapa kau malah balik tanya." seru Vano geram dan meninggalkan Hana. Karena Vano bisa menebak jika Hana tidak mengetahui keberadaan Vano.
"Hana, bodoh." batin Hana. Sebenarnya, setelah Hana melihat Vano, ingin rasanya Hana menghindar. Tapi entah kenapa dirinya malah mendekat dan dengan berani memanggilnya.
"Hana, apa yang kamu lakukan. Apa yang kamu pikirkan dalam otak kecilmu." ucap Hana lirih.
Dari arah lain, Reza melihat Vano. "Pasti Tuan sedang mencari Non Ella." dengan langkah terburu, Reza hendak menghampiri Vano. Memberitahukan keberadaan Ella.
"Tuan,,," perkataan Reza terhenti saat ponsel milik Vano berdering.
"Halo." Vano memejamkan mata. Seolah dirinya sedang berada dalam kesulitan.
"Baiklah." Vano mematikan panggilan telepon dari seseorang.
"Ckkk,,, kenapa harus seperti ini." gerak Vano.
"Tuan,,," perkataan Reza terhenti kembali karena Vano membuka mulutnya.
"Kita ke rumah sakit." ucapnya, berjalan mendahului Reza. Membuat Reza tidak jadi memberitahu Vano keberadaan Ella.
Ella dan Viki tengah berbaring di atas rumput taman belakang hotel. "Elo yakin amankan?" tanya Ella.
"Aman. Lagian tenang saja, elokan belum mandi." ucap Viki terkekeh.
"Gue takut nanti ada ulat di sekitar sini. Bentol-bentol gue."
"Ya ela Elll,,, masa elo takut sama ulat." Viki mulai menggaruk lehernya.
Ella segera duduk dan memperhatikan Viki. "Pasti, pasti elo kena ulat bulu." Ella segera berdiri dan lari dengan tertawa dan berteriak. Beruntung sekitar mereka tampak sepi. Tidak ada siapapun yang akan melihat Ella berlari seperti anak kecil.
Viki duduk dan tersenyum melihat Ella. Ternyata Viki hanya berpura-pura. Dirinya hanya ingin sahabatnya tersenyum. Melupakan rasa sedih yang sedang dia rasakan.
"Aku yakin, di dalam kamar pasti kamu tertawa. Berpikir jika aku terkena ulat bulu." ucap Viki lirih membayangkan Ella.
__ADS_1