
"Mana Ella?" tanya Nyonya Risma melihat Vano datang sendirian, tanpa Ella. Perempuan yang resmi menjadi menantunya semalam.
"Kamu belum memberitahu Ella?" tebak sang mama melihat Vano hanya diam.
"Ckk,, kamu ini." omel sang mama.
"Percuma. Ponsel Ella mati." kata Vano saat Nyonya Risma hendak menghubungi Ella. Nyonya Risma hanya mendengus sebal pada putranya.
Bagaimana bisa Vano belum memberitahu Ella jika dirinya akan mendampingi Oma untuk berobat ke luar negeri.
Memang. Oma Yeti memang menyebalkan. Bagaimana bisa, dia hanya mau berobat jika Vano yang mengantar dan mendampinginya. Benar-benar orang tua licik
Dan tidak hanya itu, Oma Yeti di sarankan oleh dokter untuk berobat ke luar negeri. Sebuah Rumah Sakit yang sudah di sarankan oleh dokter yang menangani Oma Yeti di sini.
"Semuanya sudah beres. Tinggal berangkat." ucap Tuan Danto yang baru saja berbicara dengan dokter yang menangani Oma.
"Ada apa ma?" tanya Tuan Danto pada istrinya yang menatap tajam pada Vano.
"Tanya saja pada anakmu. Sepertinya dia lupa, jika sudah mempunyai istri." ucap Nyonya Risma kesal.
"Vano akan menghubungi Ella dan memberitahunya." ucap Vano saat mata elang sang papa memandangnya tajam.
Di dalam kamar hotel, Ella celingukan mencari Vano. "Kemana dia?" tanya Ella pada diri sendiri.
Ella duduk di tepi ranjang. "Gue pikir setelah menikah, semuanya bakal berubah. Gue akan hidup bahagia. Setiap hari tersenyum." air mata Ella menetes.
Ella mengambil ponselnya yang mati dan mengisi daya baterainya. Ella masuk ke dalam kamar mandi. Berendam di dalam bak. Memejamkan mata.
Tiba-tiba Ella tersenyum. "Viki." gumam Ella dengan mata terpejam. Memikirkan Viki yang dikiranya terkena ulat bulu.
Merasa tubuhnya sudah segar, Ella keluar dari bak mandi. Mengguyur seluruh badannya di bawah shower. Setelah dirasa selesai, Ella memakai handuk dan keluar dari kamar mandi.
Di ambilnya ponsel miliknya yang sedang di isi daya baterainya. Meski belum penuh, tapi setidaknya sudah bisa di gunakan.
"Cari di mana Vano." ucapnya menyuruh seseorang di seberang telepon.
Di dalam kamar, Ella menyibukkan diri. Hingga ada suara ketukan pintu. "Siapa. Tidak mungkin Vano. Lagi pula ngapain Vano pake mengetuk pintu segala." Ella berjalan dan membuka pintu.
"Masuk." ucap Ella. Ternyata yang datang adalah anak buahnya yang di tugaskan mencari keberadaan suaminya.
Ella duduk di kursi. Sementara anak buahnya berdiri di hadapan Ella. "Katakan. Semuanya."
"Tuan Vano saat ini berada di pesawat. Beliau sedang dalam perjalanan menuju ke luar negeri untuk menemani Nyonya Besar Yeti berobat. Tuan Vano bersama Nyonya Risma dan Tuan Danto. Dan juga asisten Nyonya Besar Yeti. Lena."
__ADS_1
"Kemungkinan, Tuan Danto dan Nyonya Risma hanya beberapa hari di sana. Sedangkan, Tuan Vano dan Nona Lena akan berada di sana sampai keadaan Oma membaik."
"Beliau hanya mau berobat jika Tuan Vano yang menemani dan menjaganya selama berada di sana."
Ella mengangkat tangannya. "Saya permisi dulu Nona." ucapnya.
"Vano." ucap Ella dengan nada bergetar.
Tidak lama, ponsel Ella berbunyi. "Vano." gumam Ella melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
@@@@
Halo
^^^Sayang, aku tadi mencarimu.^^^
^^^Tapi aku tidak menemukanmu.^^^
Heemmm
^^^Sayang,, kenapa wajahmu masam.^^^
^^^(Vano dengan jelas melihat wajah Ella.^^^
Ada apa
^^^Maaf sayang, aku tidak sempat^^^
^^^berpamitan denganmu.^^^
^^^Aku mengantar Oma berobat ke luar negeri.^^^
Iya, semoga Oma cepat sembuh.
Sudah dulu ya Van. Aku capek.
@@@@@
Ella mematikan panggilan telepon dari Vano. Air mata Ella meluncur bebas di pipi. Entah kenapa dadanya terasa sesak.
"Dulu kau sibuk dengan para ****** mu. Sekarang, kau sibuk dengan Oma mu." ucap Ella mengusap air matanya.
Ella menyandarkan punggungnya di kursi. "Apa aku egois. Padahal aku sudah tahu jika Oma Yeti sedang membutuhkan Vano. Dia sedang terbaring sakit." ucap Ella dengan pandangan mata melihat ke langit-langit.
__ADS_1
Ella meringkuk di atas sofa. Air matanya keluar dari tempatnya. "Aku hanya ingin di manja. Diperhatikan. Di berikan kasih sayang." Ella memejamkan mata.
Teringat beberapa bulan terakhir sebelum Vano dan dirinya menikah. Bagaimana Vano selalu memberi perhatian pada dirinya. Selalu mengerti apa yang Ella mau.
Tapi setelah menikah, padahal baru beberapa jam mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Vano kembali menjauh dari Ella.
"Apa jalan ceritanya akan sama seperti dulu. Aku yang selalu menunggu dan menunggu. Aku yang selalu ingin di perhatikan, tapi diabaikan. Aku yang bertindak agresif, tapi tidak sekalipun mendapatkan tanggapan."
"Oooohhhh Ella....." Ella memejamkan mata dengan air mata keluar.
Ella duduk dan mengusap air mata di pipinya. "Jika seperti ini, pasti tidak akan aku batalkan kontrak kerja sama dengan beberapa klien." desahnya menyesal.
Ada beberapa perusahaan yang ingin menggunakan jasa Ella. Dan mereka akan menunggu setelah Ella melangsungkan acara pernikahannya.
Tetapi Ella menolak semuanya. Ella tidak ingin Vano merasa terabaikan karena dirinya memilih untuk segera bekerja dari pada menemaninya. Tapi sekarang, semuanya terbalik.
Ella tertawa hambar. "Kamu merasa kasihan jika suamimu akan kecewa. Sekarang apa yang kamu rasakan. Apa anda punya suami, Nona Ella." tanyanya pada diri sendiri.
Ingin sekali Ella mengambil ponsel dan menghubungi Hana. Tapi Ella merasa tidak enak hati. Karena Ella sudah mengatakan jika dirinya tidak akan mengambil pekerjaan selama dua minggu.
Dan selama itu, Hana boleh menikmatinya untuk bersantai dan beristirahat
Seketika Ella tersenyum. Entah apa yang ada dalam benaknya. Ella melihat jam yang berada di layar ponselnya. "Masih siang. Lebih baik berangkat sekarang." ucapnya.
Masih di dalam pesawat, Vano memikirkan Ella. "Apa yang terjadi dengan Ella." batin Vano.
"Mungkin Ella kecewa. Karena seharusnya hari ini kita pergi berdua. Tapi sejak tadi malam, kita malah tidak bertemu."
Vano menelpon Reza dan meminta jadwal pekerjaan Ella. Betapa kagetnya Vano saat dia mengetahui dari Reza, bahwa istrinya telah menolak beberapa klien yang menginginkan kerja sama dengannya.
Padahal mereka akan menunggu setelah acara pernikahannya selesai. "Bodoh sekali kamu Vano. Pantas saja jika Ella kecewa." gumamnya.
Vano tidak menduga bahwa ternyata Ella sudah menyiapkan diri untuk selalu bersamanya. Dan dengan bodohnya, Vano tidak mengetahuinya. Benar-benar tidak peka.
"Sabar sayang, aku akan sering mengunjungimu. Dan semoga sakit Oma segera membaik." batin Vano.
Vano kembali mencoba menghubungi Ella, tapi tidak diangkat. "Sayang, apa kamu benar-benar marah." gumam Vano.
Mata Vano melihat ke samping. Melihat keindahan alam dari atas, dari dalam pesawat. Tetapi, pikiran Vano tetap tidak bisa tenang.
Dia terus terbayang wajah Ella yang terlihat masam saat mereka melakukan VC tadi.
Eitsss,,, Ella mau kemana. Kox tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah senang. 🤔🤔
__ADS_1